YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Tak rela!


__ADS_3

Suasana seketika hening. Mereka diam tak berani dan lebih tepatnya merasa mulai ragu untuk mempertanyakan hal yang seharusnya tak mereka buru sampai mempermalukan martabat seseorang seperti ini.


Apalagi melihat raut penyesalan dan sepertinya Stella juga tak menginginkan hal itu. Ada unsur paksaan di dalam tatapan nanar yang ia lempar ke semua orang.


Tetapi, di tambah pernyataan Xavier yang tak ada raut main-main dari wajah Tampan tegasnya yang terlihat sangat serius sampai Stella-pun sudah berkaca-kaca karna merasa jika ini terlalu spontan dan mengharukan baginya.


"P..Presdir!"


"Apa kehidupan semua orang harus kalian kejar. Ha?" geram Xavier seraya membenamkan wajah Stella ke dadanya. Ia mengusap kepala wanita ini meredakan rasa sesak yang tengah menggerogotinya.


"Kalian ingin tahu bagaimana dia bisa menjadi Istriku dan di kepala kalian berputar pertanyaan menjijikan dimana dia datang ke Perusahaanku karna bantuan. Begitu?"


"V..Vee sudah." gumam Stella tak tahan lagi. Ia tak mau mengungkit soal hal itu yang penting ia sudah mengatakan apa yang menjadi bebannya selama ini.


"Tak semuanya bisa kalian makan mentah. Bagaimanapun dia dan masa lalunya itu bukan urusan kalian. Dan ingat ini di kepala kalian!"


"V..Vee." gumam Stella bergetar pasalnya semua orang disini sudah hampir pingsan menahan hawa intimidasi dari Xavier.


"Sekali lagi kalian menekan ISTRIKU. Kalian juga BERHADAPAN DENGANKU." imbuh Xavier menahan emosi.


Ia mengiring Stella pergi ke arah Mobil dimana setiap langkahnya sudah bebas menapak karna mereka mundur tak lagi membuat keributan.


Tofer yang melihat Masternya yang sudah membawa Stella ke Mobil pribadinya seketika ia menghela nafas lega. Ia tadi cemas jika lagi-lagi Nonanya terkena masalah tapi nyatanya hari ini semuanya sudah di perjelas sejantan itu oleh Masternya.


"Setidaknya tak akan ada yang mengusik Nona lagi." gumam Tofer membukakan pintu untuk Nyonya Clorie yang masih sesekali memandangi Stella dari kejahuan.


Wajahnya terlihat kembali tenang seraya sesekali mengusap air matanya.


"Nyonya!"


"Terimakasih." jawab Nyonya Clorie masuk ke dalam Mobil. Mereka pergi lebih dulu dari kawasan Dapartemen Pemerintahan ini meninggalkan Stella dengan Xavier yang cukup emosi di dalam Mobil sana.


"Mereka pikir tubuhnya terlalu sempurna. Itu lebih menjijikan dari segumpal bangkai." maki Xavier tak suka melihat hal seperti itu. Apalagi tadi mereka sangat lancang membahas hal yang bisa saja membuat Stella kembali mengalami Trauma yang kuat dikerumuni orang sebanyak itu.


"Dan kau! Aku sudah bilang-kan? Aku bisa membantumu. Kau tak perlu datang ke tempat ini." decah Xavier menyimpan kedongkolan tapi saat melihat Stella menangis ia segera membuang nafas kasar.


Dadanya jadi terasa sempit karna mendengar isakan halus sini. Alhasil Xavier tak cukup kuat memarahinya hingga langsung mengambil tisu di dekat kursi lalu menarik dagu Stella agar mengadah menatapnya.


Mata sembab dan hidung mungil merah ini membuat Xavier tak bisa tahan melihatnya.


"Jangan menangis lagi."


"V..Vee hiks." isak Stella merasa jika Xavier terlalu membuatnya ingin menangis. Padahal jelas jika mengatakan hal seberani itu maka akan berdampak pada Perusahaan dan pandangan semua orang pada Citranya. Tapi, Xavier tak perduli ha itu membuat Stella merasa bersalah.

__ADS_1


"Mereka tak akan menganggumu lagi. Jika itu terjadi aku tak akan bicara lagi. Ester juga akan menghabisinya. Sayang!"


"J..Jangan begitu. Aku..aku hanya cemas jika P..Perusahaanmu terkena imbasnya. Mereka.. Mereka bisa saja meragukan Usahamu dan.."


"Aku tak perduli." jawab Xavier mengusap pipi Stella yang basah. Ia menarik kepala Stella agar bersandar ke dadanya seraya menggenggam jemari lentik itu di pahanya.


"V..Vee."


"Jangan memikirkan hal itu. Tak ada dampaknya bagiku. Hm?"


Xavier menenagkan Stella yang memejamkan matanya. Nafas sendat itu masih terdengar dengan genggaman keduanya menguat. Stella diam mengendalikan dirinya dibawah kenyamanan dan rasa aman yang Xavier berikan padanya.


Tak lama setelahnya Asisten Zion datang mengetuk Jendela Mobil dari luar. Alhasil Xavier terdiam sejenak melirik Stella dari ekor matanya.


"Sayang!"


"Apa?" gumam Stella tanpa membuka matanya.


"Aku ada urusan sebentar di luar. Kau tunggu disini!" ujar Xavier membuat Stella segera mengangkat kepalanya dari dada bidang ternyaman itu.


"Cepat kembali!"


"Hm. Hanya sebentar." gumam Xavier keluar dari Mobil. Asisten Zion tampak bersemangat menjalankan tugas yang tadi ia berikan sampai agak menjauh dari Mobil.


"Master!"


Asisten Zion mengangguki itu. Ia sudah mendapat pesan dari Kakek Le-Yang bawah semuanya susah siap tapi hanya menunggu suasana saja.


"Ini sudah tepat. Master! Mereka juga sudah menunggu."


"Kau urus saja." jawab Xavier tapi matanya menangkap seseorang yang masih berdiri di depan Pintu Utama Gedung di samping sana. Ia tampak tak berkedip memandang wajah Stella yang terlihat dari sela Kaca Jendela yang terbuka setengah.


Stella yang ada di Mobil tak begitu memperhatikan. Ia terlihat sesekali mengusap matanya yang sudah sayu dan sembab.


Berbeda dengan Stella yang tak menghiraukan apapun. Xavier justru tak terima, ia sangat muak jika banyak Pria yang begitu menginginkan Istrinya.


"Aku tak ingin melihatnya disini lagi!"


"Maksudmu? Ma.."


Ucapan Asisten Zion tak selesai kala ia melihat dari kaca Mobil Jenderal Petron masih ada di tempat tadi. Pantas wajah Tampan Masternya langsung mengeras seperti itu.


"Master!"

__ADS_1


"Bila perlu lenyapkan!"


"Master! Jika Istrimu dengar maka dia akan marah besar." peringat Asisten Zion tak mau ada masalah lagi.


Seketika Xavier membuang nafas kasar. Jika Stella setuju untuk tinggal di sebuah tempat yang jauh dari yang namanya Dunia Manusia maka akan ia lakukan apapun agar wanita itu tak keluar seperti ini.


"Master! Kau.."


"Aku tak ingin tahu. Yang jelas aku tak ingin dia disini." Tekan Xavier pada Asisten Zion yang lagi-lagi diterpa masalah hati.


Sepertinya ia harus memindah Tugaskan Pria itu di luar Kota ini.


"Dia kambuh lagi." guman Asisten Zion menghela nafas berat. Ia masuk ke Mobil dimana Xavier sengaja membuka jendela agak lebar lalu melayangkan kecupan kilasnya ke bibir Stella hingga Jenderal Petron yang melihat dari kejahuan sana langsung membuang muka masuk ke dalam Gedung kembali.


Seketika seringaian Xavier meruak. Walau itu bukan kelasnya tapi ia tak suka jika Stella sampai sedekat itu hingga ingin bertukaran Nomor Ponsel.


"Vee!"


"Hm? Aku belum melupakan kesalahanmu hari ini." gumam Xavier menatap tajam Stella yang tampak membuka tutup matanya dengan sayu dan beberapa kali menguap.


"Stella!"


"Apa?" gumam Stella setengah menguap menyandarkan kepalanya ke kursi Mobil. Melihat Stella mengacuhkannya sontak Xavier langsung merubah wajahnya masam menatap lurus kedepan dengan satu kaki bertopang tindih dan berkharisma.


"Vee!"


"Jangan bicara denganku." gumam Xavier membuang wajah kesalnya. Ia beralih memainkan Ponsel padahal lirikan ekor matanya memantau Stella yang sudah terlihat susah menjaga kesadarannya.


"V..Vee!"


Stella diam tak lagi melirihkan kata apapun. Ia merasa kantuk itu datang begitu kuat sampai tak bisa menahan untuk tidur bersandar seperti ini.


Alhasil saat Mobil ini mulai melaju stabil Stella tak memakai Sabuk pengaman atau bantalan apapun. Kepalanya hampir saja mau membentur kaca jendela tapi beruntung tangan Xavier cepat menahannya.


"Kauu..."


"Vee. Emm!" gumam Stella beralih meletakan kepalanya ke paha Xavier dengan kedua kaki terjuntai ke bawah.


Xavier tak bisa memarahi kecerobohan Stella hingga hanya pasrah memperbaiki posisi tidurnya. Saat menatap wajah damai ini sudut bibir Xavier tertarik pelit.


Tidurlah. Simpan air matamu untuk nanti. Hm?


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2