YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Rencana terlaksana!


__ADS_3

Kerumunan para Media yang tadi tengah fokus memotret area Perusahaan yang seperti biasa cukup ramai tapi tak padat dan berdesakan. Pihak keamanan sangat ketat menutup Pintu Gerbang besar ini tetapi mereka segera bergerak karna mendapat perintah dari atasannya.


"Tolong pergi dari area Perusahaan!!" tegas mereka berdiri dengan gagah.


"Kami ingin bertemu Presdir!!"


"Yaah!!! Bagaimana tentang Pernikahannya dengan Nona Muda Phantson?"


Tanya mereka begitu penasaran dan sangat memburu berita itu. Para penjaga yang tampak hanya memandang wajah datar itu tak menggubrisnya sama sekali.


Yang jelas, para Media ini harus pergi sebelum Mobil Presdirnya datang kesini dan akan membuat nyawa mereka dalam keadaan terancam.


"Itu bukan urusan kalian! Cepat pergi dari sini!!"


"Kami.."


"Atau kami akan menggunakan cara kasar!!" balas para Penjaga sana sudah memeggang Pistol di tangannya.


Sontak hal itu membuat bulu kuduk mereka merinding segera bergegas pergi kembali masuk ke Mobil yang tadi menunggu dengan wajah pucat. Mereka tahu jika orang-orang dari Perusahaan EMC tak akan bisa di tekan oleh hukum.


Saat para Serangga pencari informasi itu pergi maka terlihatlah dari jalur yang berbeda Mobil Xavier memasuki wilayah Perusahaan. Tak ada yang berani keluar atau menghentikan Mobilnya karna jelas peringatan tadi akan kembali menghantui mereka.


Para penjaga yang melihat hal itu segera membuka Gerbang besar Perusahaan langsung berbaris memberi salam patuh dan hormat pada baja besi ini.


"Presdir!" sapa mereka membungkukkan setengah badan.


Tanpa berhenti sama sekali Mobil yang di kemudikan Zion itu dengan angkuh melewati jalur Lobby khusus Xavier yang ada di belakang tak berdekatan dengan Lobby utama Perusahaan.


Bangunan megah nan menjulang tinggi berkilau mewah ini menjadi saksi bisu bagaimana jayanya EMC berkembang dan terus melampaui kejayaan siapapun.


"Master!"


Gumam Zion kala sudah melihat Linnea sudah berdiri di dekat Lift untuk masuk. Tatapan mata coklat keemasannya terlihat menghakimi ke arah Mobil yang Zion berhentikan di tempat biasa.


Xavier tak langsung turun. Ia sangat malas menghadapi Parasit satu ini tapi demi informasi yang sudah ia tugaskan pada Stella maka akan ia lakukan.


"Patriack!!"


Linnea melangkah arogan ke arah pintu Mobil didekat Xavier tapi sayangnya Pria bernetra abu itu memilih keluar dari pintu satunya.


Jalas ini memantik amarah yang sedari tadi berkobar membakar jiwa dan raga Linnea yang sudah membara habis.


"Kau kemana saja?" tanya Linnea kembali menghadang langkah Xavier di samping sana. Dress sepaha dengan manik berlian dibagian dada itu membuat tampilannya semakin mahal apalagi gaun ini berbentuk kemban dan ada kain tipis yang membentuk Jas dibahu Linnea.


"Kau kemana dan apa saja yang kau lakukan??"


"Bukankah aku sudah menjawab pesan mu? Nona!" sambar Zion berdiri di belakang Linnea yang langsung menatapnya dengan marah.


"Dia tak mungkin kesana lagi! Aku tahu karna kami akan MENIKAH!!!"


"Master yang mengatakannya padaku dan aku yang menemaninya. Apa aku salah?" desis Zion mulai kehabisan kesabaran.

__ADS_1


Linnea langsung berbalik kembali menatap iba Xavier yang sangat ia harapkan untuk menjawab tidak. Hatinya sangat sakit membayangkan bagaimana bergairahnya momen itu.


"Sayang! Kau tak benar-benar melakukannya dan kau masih mencintaiku-kan?"


"Misimu!" gumam Xavier dingin justru membahas yang lain. Tatapannya sangat datar seakan tak mengambil pusing dan serius pemberontakan Linnea barusan.


"Aku sudah dapatkan." jawab Linnea dengan nada sinis.


"Hm."


"Dan jika kau tak mau melangsungkan Pernikahan ini maka aku tak akan sudi memberikannya padamu."


Desis Linnea tapi seketika tercekik karna merasa ada yang mencengkram lehernya dengan kuat. Ia memucat kala raut wajah Xavier sudah tak bersahabat bahkan begitu mengintimidasi.


"K..kau.."


"Tanpamu aku juga bisa mengambilnya." tekan Xavier menciptakan rona merah di leher Linnea seakan baru saja dijerat rantai dengan sangat kasar.


Linnea terus memberontak tapi tak bisa bergerak. Kekuatannya tak sebanding dengan Xavier yang sama sekali tak berniat melepaskan Linnea bahkan ia sudah mengeluarkan hawa membunuh pertanda tak lagi perduli.


"L..Lepa..ss.."


"Kau ingin melawanku?!" tanya Xavier menghakimi. Linnea menggeleng dengan susah payah disertai darah hitam yang keluar dari hidungnya.


Seringaian iblis Xavier muncul menghempaskan tangannya sampai Linnea terpental membentur dinding Lobby.


"Linnea!!!"


Nyonya Brillier berlari mendekati Putrinya sementara Nyonya Margretta masih diam di tempat. Melihat keadaan Linnea pastinya Xavier tengah marah besar.


"Linnea! Apa yang dia lakukan padamu?"


Linnea tak bisa menjawab. Kerongkongannya masih terasa panas dan darah di hidungnya terus mengalir. Melihat hal itu Nyonya Brillier langsung berbalik menatap murka wajah dingin Xavier yang bahkan dengan angkuh tak memandang mereka.


"Kau sudah MELEWATI BATAS MUUU!!!"


"M..Mom!" lirih Linnea berusaha mencegah Mommynya untuk tak menyulut amarah Xavier.


"KELUARGA KAMI SUDAH MENYAMBUTMU DENGAN HORMAT. TAPI, SELAMA BERTAHUN-TAHUN KAU TAK MEMPERLAKUKAN PUTRIKU DENGAN BAIK."


"Nyonya!" lirih Nyonya Margretta cemas jika Nyonya Brillier menghentikan Pernikahan ini.


"Dan kauu! Kau Ibunya dan seharusnya kau mengendalikan Putramu!! Tetapi tidak, kau justru dikendalikan olehnya."


"Jaga bicaramu. Brillier!!" geram Nyonya Margretta merasa terhina. Jelas Xavier tak bisa di kendalikan begitu saja karna otak Elbrano ada padanya dan kekuasaan di tangan Yang Mulia Lucius.


"Apaa?? Bukankah kau sama sekali tak memperdulikan Pernikahan ini??"


"Jika aku tak perduli. Aku tak akan menerima Putrimu di Kediamanku." desis Nyonya Margretta tapi justru membuat suasana ini semakin panas.


Melihat itu Xavier segera masuk kedalam Lift meninggalkan dua Mahluk yang tengah beradu ego dan keangkuhan.

__ADS_1


"Master! Apa tak masalah jika mereka bertengkar?"


"Tak ada masalah untukku." jawab Xavier tapi itu terdengar licik. Zion bergidik ngeri karna ia yakin Masternya selalu memanfaatkan kesempatan sekecil apapun.


"Master! Apa kau.."


"Anggota di Gedung IT sudah mengurusnya."


Setelah beberapa lama pintu Lift terbuka memperlihatkan seorang gadis belia dengan tubuh dibaluti stelan seorang Sekertaris seperti biasa.


Rok Span membalut bokong dan paha seksinya sampai ke pertengahan paha dengan kemeja lengan panjang berpita kecil di bagian leher jenjang putihnya.


Rambut pendek itu diurai dengan riasan natural tetapi terkesan muda dan sangat energik. Ia benar-benar merubah penampilannya tak lagi liar tapi elegan dan berkelas.


Mata biru laut indah itu tengah menyorot layar Ponselnya. Bagaimana tidak? Ia menyaksikan ada Siaran langsung dari arah bawa pertengkaran antara Ibu Mertua yang tengah mengungkap aibnya masing-masing.


"Kenapa bisa begini?" gumam Stella yang tadi baru datar dan langsung ke lantai atas tapi ia sudah disambut dengan Notifikasi sengit di Ponselnya.


Ia tak menyadari keberadaan Xavier yang menatap penuh selidik penampilan Stella hari ini. Jelas ia tak ingin Calon Istrinya menjadi pusat perhatian para lelaki bahkan sering mendapat goda'an.


"Ehmm."


Xavier berdehem membuat Stella menoleh tetapi ia kembali melihat ke layar Ponsel seakan tak kenal. Tapi, sedetik kemudian Stella baru sadar jika itu adalah Nyamuk Pencemburunya.


"Astaga!" sentak Stella kembali menatap Xavier yang sudah berwajah se-beku kutub utara. Kedua netranya begitu menghakimi Stella yang hanya memberi cengiran kuda.


"Maaf. Vee! Aku lupa."


Sontak jawaban Stella lagi-lagi membuat dada Xavier terasa di bongkem. Baru kali ini ada wanita yang seakan tak mengenal bahkan seperti tak berminat padanya. Cih, wanita ini benar-benar sesuatu.


"Vee! Kau.."


Xavier sudah melangkah gontai masuk ke Ruangannya meninggalkan Zion dan Stella yang saling pandang.


"Bukan salahku!" gumam Stella menaikan bahunya karna tatapan Zion terkesan menyudutkan.


"Apa yang kau lihat sampai melupakan Master?"


"Tidak lupa. Hanya sedikit tak sadar." jawab Stella seraya mendekati Zion lalu menunjukan layar Ponselnya.


Seketika Zion terkejut melihat pertengkaran Nyonya Brillier dan Nyonya Margretta tadi disiarkan oleh berbagai Media dan menjadi perbincangan hangat saat ini.


"Apa Master mu tahu?"


"Tahu apanya? Pasti Master yang merencanakan ini. Pantas saja dia menyuruhku membubarkan Media di depan tapi memasang Kamera di dekat Lobby. Ini memang gila." umpat Zion tak menyadari itu.


Mendengar umpatan Zion tentu Stella menyeringit heran. Apa Xavier sampai sekejam itu mengadu-domba Keluarganya? Apa Tujuan sebenarnya?


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2