
Hari ini adalah masa dimana pengaturan Kelompok kelas di mulai. Para Ketua OSIS sibuk menginstruksi hal apa-apa saja yang nanti di lakukan saat Petinggi Perusahaan datang ke Sekolah dan bagaimana mereka menyikapinya.
Kelas Bisnis yang menjadi fokus utama sampai terus berada di ruangan karena ada himbauan dari Majelis Guru terutama Wali Kelas yang berkoar-koar di depan sana.
"Saya harap nanti kalian benar-benar bisa menjaga nama baik. Sekolah!"
"Baik Mrssss!!!!"
Jawab mereka serempak tetapi. Wanita paruh baya berkacamata ala profesor dengan tubuh gempal dan mata ganas itu tampak menatap penuh selidik ke arah sosok wanita yang tengah duduk di area paling belakang.
Semua anggota kelas termasuk Devano yang duduk di samping Audrey juga ikut melihat kebelakang hingga ia tahu Stella kembali menyita perhatian.
"Kau yang diam seperti mayat disanaaa!!"
Panggilan itu tertuju pada Stella yang tetap duduk menegakkan tubuhnya dengan tatapan datar seperti biasa.
Mrs Emma menyipitkan matanya. Ia belum percaya jika Stella benar-benar serius kembali ke Sekolah walau tak bisa di pungkiri saat pertama masuk kemaren Stella tak membuat masalah apapun.
"Kau mendengar ku?? Kenapa tak bicaraa?"
"Cih." ketus Audrey menatap sinis Stella yang di teriaki Mrs Emma. Jelas Wali kelas mereka ini sangat arogan dan juga tak suka pada Stella yang selalu membuat masalah di kelas.
Melihat itu Devano diam. Ia ingin sekali membela dan menyahut suara kasar Mrs Emma tapi apalah dayanya yang di kekang Audrey.
"Kau dengar tidaak?? Atau telingamu sudah tuli karena terbiasa tak datang ke Kelas!"
"Wooooo!!!!"
Sorak mereka pada Stella yang mengepalkan tangannya di bawah meja. Sumpah demi apapun jika bukan karena keadaan dan harapan, ia sudah lama melempar Kursi ini ke depan sana.
"Kau dengar Tidaaak??"
"Aku mendengar mu. Mrs!!" tegas Stella masih dengan intonasi datar tapi sangatlah penuh aura. Tatapannya lurus ke depan seakan tak ada orang lain di dalam kelas ini.
Melihat Stella yang tak berkata kasar seperti dulu. Mrs Emma jadi terkekeh sinis, ia tak percaya jika wanita liar seperti Stella bisa berubah secepat itu.
"Memangnya aku mengatakan apa? Jangan hanya bisa menjawab tetapi kau.."
"Kau mengatakan pada kami jika harus berperilaku yang sopan dan bisa menjaga nama baik Sekolah ketika para Petinggi Perusahaan itu datang." jelas Stella bisa mengatakan segalanya dengan gamblang dan ringan membuat mereka semua saling pandang heran.
Kenapa bisa? Biasanya Stella tidur di kelas bahkan mengacuhkan Guru bimbingan yang mengajar.
Bukan hanya anggota kelas, tetapi Mrs Emma juga ikut tersentak. Ia menatap lama Stella yang tak merubah raut wajahnya sama sekali.
Hal itu semakin membuat Devano merasa senang dan juga lega Stella tak di permalukan seperti dulu.
"Kau belajar dari siapa? Tiba-tiba saja otakmu lancar."
__ADS_1
"Mommyku!" jawab Stella memperlurus pertanyaan Mrs Emma yang seketika malu sendiri dengan Ketua OSIS yang berdiri di belakangnya.
"Ehmm. Baik! Kalian persiapkan Kelas ini dan semua anggota agar bisa menjalankan Protokol kinerja. Perusahaan yang datang ini bukan Perusahaan kelas menengah tapi sudah di tingkat Master. Paham?"
"Paham. Mrsss!!" jawab mereka juga penasaran. Sebenarnya siapa yang akan datang hingga semua penjuru Sekolah sampai tergesa-gesa mempersiapkan penyambutan sampai tak boleh ada satu kekurangan-pun.
"Memangnya Perusahaan dari mana? Mrs!" tanya Audrey bingung. Saat rona malu Mrs Emma muncul mereka jadi tambah penasaran seakan-akan yang datang adalah Anggota Kerajaan.
Sementara Stella. Ia mulai merasa tak nyaman dengan perutnya. Rasa mual itu kembali melanda kala ada teman sebangkunya yang menyemprotkan Parfum beraroma menyengat membuat gejolak di perutnya.
"Yang datang adalah Pangeran Tampan dunia Fantasi."
"Mrs! Beritahu kamii!!" pinta mereka kala Mrs Emma benar-benar merona. Jika respon wanita paruh baya ini begitu berlebihan maka pasti Pria itu benar-benar sangat Tampan.
"Baik! Dia adalah Presdir muda di usia 28 Tahun sudah mendirikan Perusahaan yang sangat akrab dan terkenal ke seluruh penjuru Dunia. Sifatnya memang arogan, dingin dan angkuh tapi Tubuh dan wajahnya.. kalian tak boleh bersikap nakal." jelas Mrs Emma sampai sebegitu kagumnya padahal ia sendiri terlihat menggelikan.
"Siapaa? Mrs!!!"
"Presdir dari Perusahaan besar EM.."
"Permisi. Mrs!!" suara Stella menyela ucapan Mrs Emma yang terdiam kala melihat Stella sudah pucat pasih berdiri dari tempat duduknya.
Keringat dingin itu keluar seakan tengah menahan sesuatu.
"Kau mulai lagi? Ada saja kelakuanmu untuk merusak suasana Kelas ini."
"Dia memang punya seribu alasan. Cih!"
"Iya. Mrs! Pasti dia mencari cara untuk menggoda Presdir itu, apalagi kau bilang dia sangat Tampan." timpal Audrey mengkomproi. Ia mendapat sikutan dari Devano yang tampak tak suka tapi Audrey hanya masa bodoh dengan wajah juteknya.
"Teruslah membelanya."
"Aku tak membelanya. Lihat dimana kau sekarang." bantah Devano dengan suara kecil tapi membuat wajah Audrey semakin malas dan geram.
Ia sudah tak ingin bertanya lagi tetapi salah satu temannya di bangku belakang langsung mengajukan pertanyaan.
"Mrs! Siapa Presdirnya?"
"Yaah. Kami ingin tahuu!!"
Mrs Emma mengambil nafas dalam memperbaiki letak kacamatanya. Ia masih saja merasa malu membayangkan wajah Tampan sosok tak tersentuh ini.
"Untuk pertama kalinya dalam Sejarah. Perusahaan EMC mau menerima Surat Undangan ke Sekolah Kita!!!"
"Apaaaa???"
Mereka sontak terkejut bahkan tak percaya jika Perusahaan bergengsi itu mau turun ke sini. Audrey sampai tersedak air liurnya sendiri kala membayangkan betapa Tampan dan sempurnanya sosok yang sedari tadi Mrs Emma kagumi.
__ADS_1
"I..Itu Presdir X..Xavi.
"Yahh. Ituu!!!" jawab Mrs Emma terpekik girang dsn mereka semua langsung mengibas wajah karena kepanasan.
Suasana kelas mulai ricuh karena sibuk meneliti penampilan, khususnya para Siswi yang terlihat pucat dan segera merias wajah.
Melihat itu Mrs Emma jadi pusing. ia sudah tak bisa mengontrol Siswi-Siswi di kelas lain yang sangat histeris kala tahu Presdir Tampan itu akan kesini. Mereka seakan bermimpi padahal itu sangat tak mungkin sebelumnya.
Setelah beberapa lama. Keriuhan mulai muncul dari arah luar dimana deru semua Siswa dan Siswi Sekolah berlari turun ke lantai bawah. Mereka berteriak seakan bertemu dengan Idola yang selama ini tak bisa di temui.
"I..itu.. Itu pasti sudah datang!!"
"Kaliaan jangan berlarian!!" cegah Mrs Emma kala seluruh Siswi di kelas ini tak lagi perduli hingga keluar melewatinya. Tak mau ketinggalan Mrs Emma akhirnya ikut mengejar tak memperdulikan Citranya.
Melihat itu Devano dan teman-temannya menghela nafas dalam. Mereka cukup penasaran tapi tak seheroik para wanita ini.
Sementara Stella. Ia baru saja selesai mencuci wajah dan menormalkan kembali hawa mual di perutnya. Dengan pelan ia menyusuri dinding berjalan kembali ke arah kelas.
Wajahnya masih pucat pertanda keadaan belum sepenuhnya stabil. Tapi, jika tak di paksakan ia akan di curigai.
"Kenapa terdengar sangat ramai?" gumam Stella menyeringit kala mendengar suara kerumunan di bawah sana. Ia yang tak enak badan dan merasa malas turun ke bawah hanya bisa kembali melanjutkan langkah ke Kelas.
Satu langkah lagi Stella ingin masuk ke Kelas tapi dengan tiba-tiba Devano juga keluar hingga mereka nyaris bertabrakan. Untung Stella segera mundur berpegangan ke dinding di sampingnya.
"Kauu..."
Devano gugup kala Stella sudah ada di hadapannya. 3 teman Devano yang tadi ada di belakang sampai saling pandang menaikan bahu heran.
"K..kau sakit? Wa..wajahmu pucat." gumam Devano kikuk kala Stella hanya memandangnya datar sangat berbeda dengan dulu.
"Stella! Kau.."
Ucapan Devano terhenti kala Stella hanya membatu melewatinya kembali masuk ke dalam kelas. Hal itu membuat Devano nyeri dan sakit hati.
"Sudahlah! Untuk apa kau kembali mengurusi Mahluk satu itu."
"Benar. Dev! Ayo turun, abaikan dia!"
Ajak teman-teman Devano yang menariknya pergi keluar. Stella yang mendengar mereka pergi segera menghela nafas lega dan mengusap perutnya.
Tiba-tiba saja si kecil ini Rewel padahal sebelumnya Stella masih nyaman tak begitu lemas.
"Heyy! Bekerja samalah sebentar lagi, jangan membuat ku dalam masalah." gumam Stella mengusap perutnya yang sudah berisi. Ia menutupi itu dengan Almamater yang ia pakai hingga tersembunyi.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1