
Keributan besar itu terjadi di Kediaman Panthson. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja Kediaman mereka di datangi oleh para Aparat Kepolisian dan semua ini sangat mengejutkan bagi Nyonya Brillier berdebat dengan Jenderal Petron yang menunjukan surat penangkapan Tuan Panthson karna telah bekerjasama dengan Direktur Luther melakukan Penipuan besar-besaran serta telah ikut serta dalam rencana pencemaran nama baik pada Stella.
Mereka tak bisa lagi karna semua bukti sudah terkumpul jelas bahkan tak ada cela sama sekali untuk menghindar.
"Dimana Suamimu? Nyonya!"
"Aku tak tahu apa tujuanmu dan dari mana mendapatkan surat-surat tak berguna ini???"
Nyonya Brillier begitu cemas. Mereka bisa saja menghilang dari sini tapi sialnya Xavier telah memagari area Kediaman dan bahkan semalam mereka mengalami hal serangan membunuh dari Remaja laki-laki itu.
Terbukti dengan separuh bangunan yang terlihat roboh apalagi tanah disini juga retak. Jenderal Petron yang sedari tadi merasa cukup heran hanya menyimpan pertanyaan di benaknya.
Dan lagi wajah Nyonya Brillier tampak pucat dengan kulit begitu dingin terasa dari hawanya. Ia sudah seperti mayat hidup yang terlihat tak bertenaga.
"Nyonya! Jangan sampai kami menggunakan cara yang tak terhormat."
"Kau bisa apa? Jangan berani-beraninya mengusik Keluargaku atau.."
"Bawa dia!" titah Jenderal Petron pada bawahan yang sudah mengepung Kediaman. Sebagian dari mereka juga melakukan investigasi dengan menyusuri area beberapa hektar ini sampai menemukan hal-hal yang cukup mengherankan.
Banyak Bangunan yang rusak dan tak sedikit keretakan tanah yang terlihat gersang bahkan rerumputan di lapangan ini sudah tak layak hidup menguning kering.
"Apa hanya disini terjadi Badai Panas?"
"Cuaca semalam baik-baik saja."
Gumam mereka sampai berpikir keras. Namun, semuanya segera berkumpul kala dua kaki tangan Jenderal Petron sudah menyeret Nyonya Brillier ke dalam Mobil tahanan.
Jelas wanita itu memberontak. Tapi, ia tak lagi punya tenaga. Yang ia butuhkan sekarang adalah darah manusia tapi tak mungkin ia mengigit Pria-pria bertubuh kekar dan kasar ini sedangkan dayanya tak sekuat itu.
Bahkan, kekuatannya sudah tak bisa untuk menyamarkan diri dari siapapun.
"Masuk!!"
"A..aku.. Aku tak salah. Aku tak salaaah!!!" jerit histeris Nyonya Brillier kala di dorong masuk ke dalam Mobil.
Ia benar-benar mengumpati rencana mereka yang berkali-kali gagal apalagi sekarang keberadaan Tuan Panthson sudah tak tahu dimana setelah penyerangan semalam dan Linnea juga sudah tak ambil pusing dengan mereka.
"Lepaskan akuu!!! Aku tak bersalaah!!!"
"Kau dan Suamimu harus bertanggung jawab!" tegas mereka menjaga di kiri kanan Mobil menunggu Jenderal Petron yang melakukan Tugas terakhirnya di Kota ini.
Setelah itu ia di pindahkan ke luar Negara ntah karna apa ia tak tahu. Sangat tiba-tiba dan tak terduga sama sekali.
__ADS_1
.....
Di tempat yang berbeda Stella tengah menjadi orang linglung kala tiba-tiba saja Xavier menggendongnya keluar Mobil dengan keadaan mata di tutup sehelai kain padahal ia belum mau bangun.
"Vee!" gumam Stella serak karna ia masih dalam Mode bangun tidur tapi sudah di gendong keluar.
Xavier tak menjawab atau bersuara. Ia berjalan beberapa langkah lalu berhenti dan perasaan Stella mulai tak stabil.
Ia merasakan banyak mata menatapnya dan ada hawa sendu dari sepasang mata yang tengah memandangnya dari arah teras Villa.
"Vee! Jangan aneh-aneh lagi. Sayang!" rengek Stella mau membuka kain penutup di matanya tapi tubuhnya sudah tak bisa di gerakan.
Alhasil Stella mengumpati Xavier yang hanya diam masih membisu seakan tak mau menjelaskan apapun.
"Vee!!"
"Hm."
"Ini dimana? Kenapa di tutup-tutup seperti ini? Kau mau membawaku ke Jurang. Ha?" gerutu Stella begitu cerewet. Semua ini sangatlah mirip dengan Nyonya Clorie bahkan sikap manja dan menggemaskan itu juga sama.
"Kau tak merasakan sedang dimana?"
"Buka kainnya maka aku akan tahu." ketus Stella masih ingin tidur. Karna melihat Stella yang tak sabaran akhirnya Xavier menurunkan Stella hati-hati dan tentu tubuh Stella sudah bisa di gerakan kembali.
"Aku mau tidur."
"Tadi sudah." gumam Xavier merapikan rambut Stella yang berantakan tapi tak mengurangi pesonanya. Stella memberikan raut masamnya lalu menatap bunga-bunga yang dulu ia tanam sudah mekar dalam waktu yang begitu cepat.
"Kau menutup mataku hanya karna ingin menunjukan Bunga-bunga yang kemaren sudah ku lihat?!"
"Menurutmu?!" Xavier menarik satu alisnya dengan bibir sensual menipis samar. Sontak Stella langsung mendengus menyandarkan keningnya ke dada keras Xavier yang dibaluti Kemeja dan Jas gagah ini.
"Vee! Aku mengantuuk. Aku mau tidur!!" gumam Stella sangat susah untuk melupakan mimpinya tadi. Matanya terlihat masih sayu dan berat membuat Xavier diam dan suasana juga hening.
Stella terus merengek untuk di bawa tidur padahal baru bangun dan biasanya tak selama itu untuk tidur siangnya.
"Tiduuur!!! Aku mau tiduur!!"
"Kau tak mau melihat seseorang?" tanya Xavier mengusap wajah Stella agar lebih segar tapi lagi-lagi itu tak mempan. Mata Stella terus mengerijab sayu dengan kedua tangan memeluk pinggang Xavier membelakangi arah Villa.
Para penjaga disini hanya diam bagaikan patung termasuk Asisten Zion yang menunduk pada seorang Pria Dewasa seumuran Nyonya Clorie tengah berdiri di depan teras Villa memeggang sebuket Bunga Gardenia dengan mata berkaca-kaca menatap Stella yang masih belum sadar.
"Vee! Tidur."
__ADS_1
"Lihat di ..."
"Tiduur!! Mau Tiduur!" rengek Stella benar-benar merasa pusing dan ia hanya mau tidur. Alhasil Xavier langsung meraba perut Stella di hadapan beberapa orang di belakang sana.
Wajah Xavier seketika mematung kosong beralih menatap wajah pucat Stella yang tampak masih mendesaknya untuk menemani tidur.
"Baiklah. Aku bisa tidur sendiri!!" ketus Stella menarik dirinya dari Xavier lalu berbalik pergi berjalan gontai dengan mata sayu-sayu menatap kedepan.
Pandangannya sedikit kabur melihat ada Efika dan Kakek Le-Yang tapi ada sesosok Pria Dewasa dari Xavier yang tengah berdiri tepat di jalan masuk.
"Beri aku jalan!!" gumam Stella tak begitu menghiraukan Sosok ini tapi kakinya yang bergerak asal tiba-tiba saja tersandung Heelsnya sendiri dan alhasil Stella terhuyung ke belakang.
"Vee!!!" pekik Stella tapi tangannya sudah di tarik seseorang hingga langsung masuk dalam pelukan hangat ini.
Mata Stella yang tadi terbuka kecil sekarang sudah terbelalak kala melihat Sesosok Pria berwajah tegas dengan mata biru dan ada tai lalat di bagian rahangnya. Untuk sesaat Stella menyelami manik biru berair ini. ia menemukan rasa rindu dan kasih sayang yang membuncah didalam galaksi yang tengah memandangnya sendu dan damai.
Pahatan yang Tampan dengan bibir tipis tapi terlihat awet Muda. Stella sampai merasa jika ia tengah ditatap penuh rindu oleh orang terdekat.
"K..Kau.."
"Hati-hati." gumamnya begitu lembut dan tegas menyimpan kecemasan. Stella spontan mengangguk hingga tubuhnya langsung di ambil alih oleh lengan posesif seseorang.
"Jangan terlalu dekat dengannya."
"V..Vee! Itu.." Stella bergumam tak mengalihkan pandangannya dari Sosok gagah ini. Pria yang terlihat seperti Kakak Xavier dan hanya beda beberapa tahun saja.
Wajah malas Xavier muncul. Ia berencana ingin membuat Suasana yang membahagiakan tapi melihat Pria tua bangka ini begitu tak bisa menahan hawa kerinduannya Xavier jadi harus menelan rasa kesal.
"Kau ingin tidurkan? Ayo!"
"T..tapi dia.."
"Hanya pendatang baru." tegas Xavier menyelipkan nada ketus ingin membawa Stella tapi Pria di hadapannya tak tinggal diam langsung menarik Stella dari pelukan Xavier dan sontak wajah Xavier berubah mengeras.
"Kauu!!!"
"Ikutlah denganku!" gumamnya lalu menepuk bahu Stella hingga menghilang bersamanya. Sontak Xavier langsung panas karna ini tak sesuai rencananya.
"Tua bangka sialan itu memang tak tahu Terimakasih!!" umpat Xavier membuat semua Pelayan dan para penjaga tertunduk tak berani menghadapi kemarahan Masternya.
Berbeda dengan Xavier yang terlihat marah. Ester yang nyatanya tadi tengah menyiram bunga-bunga Mommynya di belakang Villa terlihat acuh.
Ia memilih diam tapi ada rasa senang kala melihat saingan Daddynya semakin banyak. Tentu dendamnya sedikit terbalaskan.
__ADS_1
Vote and Like Sayang