
Ntah kenapa setelah melihat perut Stella yang besar dan perkembangan janin didalam sana begitu tak wajar membuat Nyonya Corlie sampai tak tidur. Ia terus memandangi Stella yang sebenarnya juga tak terlelap dan hanya pura-pura saja.
Ini sudah dini hari tapi Nyonya Corlie masih melamun di samping Stella yang berbaring membelakangi wanita itu. Pikiran Stella melayang dan begitu juga Nyonya Corlie.
Sesekali ia tampak menangis mengusap air matanya lalu kembali menahan kesesakan. Saat Stella tidur kembali ia tak bisa memejamkan mata sedikitpun. Rasa cemas dan takutnya masih terasa walau sudah memperingatkan Stella.
"Kenapa Mommy sangat sedih? Apa yang terjadi sebenarnya?"
Batin Stella terus bertanya-tanya. Ia masih membisu hanya mendengar suara isakan Nyonya Corlie yang terdengar begitu parau dan sangat dalam.
Stella merasakan jika suara ini begitu terdengar putus asa dan merindukan seseorang. Tetapi, seperti tak mungkin dan tak ada harapan untuk bisa bertemu.
"K..kenapa masih saja?" lirih Nyonya Corlie meremas dadanya. Ia sudah berusaha melupakan hal ini selama bertahun-tahun bahkan rela melepas semua hidupnya hanya demi keluar dari sebuah kehancuran hati dan pikirannya.
Tapi, kenapa? Kenapa rasanya masih saja sangat sakit bahkan aku tak bisa menahannya?
Mendengar tangisan Nyonya Corlie yang semakin sendu dan teriris. Stella ingin sekali berbalik merengkuh tubuh wanita itu agar membiarkan rasa sakitnya terbagi.
"Aku.. Aku sudah tak ingin kembali. Aku.. Aku tak ingin itu terulang lagi. Dan biarkan putriku bahagia. H..hanya itu." suara bergetar Nyonya Corlie sampai meremas selimut Stella yang terasa di tarik.
Mendengar ucapan prau Nyonya Corlie, Stella jadi semakin kebingungan. Tangannya terkepal kala menduga jika Mommynya tengah membahas tentang Tuan Rowan yang sudah lama tiada dan ntah apa kabarnya sekarang.
"S..Setidaknya cukup..cukup aku saja. Jangan.. Jangan putriku. Hiks! Hanya aku saja."
"Mom!"
Lirih Stella sudah tak tahan mendengar tangisan Mommynya. Mendengar hal itu Nyonya Clorie segera menghapus air matanya dengan wajah sembab di sembunyikan.
"S..Stella. m..maaf Mommy membangunkan-mu."
"Kenapa menangis?" tanya Stella beringsut duduk dengan tatapan sendunya pada Nyonya Corlie yang tampak menggeleng.
"Tidak ada. Kau.. Kau tidur saja. Mommy.."
"Mom!" lirih Stella menahan lengan Nyonya Corlie yang ingin bangkit dari tempat tidurnya. Wanita ini terlihat masih sesenggukan dan terluka dalam.
"S..Stella! Tidurlah. Ini sudah malam. Hm?"
"Mommy masih mencintai pria brengsek itu?" tanya Stella dengan suara geram bercampur marah. Pandangannya juga terkesan dingin.
"Kenapa? Mom! Mommy tak perlu takut padanya. Dia sudah tak ada lagi dan Mommy jangan merindukan pria seperti itu. Dia tak pantas untuk wanita sepertimu. Mom!" imbuh Stella dengan intonasi memohon.
Mendengar hal itu bibir Nyonya Corlie bergetar dengan mata berair ia menunduk mengusap tetesan air bening itu di pipinya.
"Mommy bisa bahagia tanpa dia. Aku bahkan menyesal lahir dari benih menjijikan itu."
"S..Stella sudah.." lirih Nyonya Corlie tak bisa mendengar makian Stella yang sebenarnya berbeda dengan apa yang terjadi. Benih seseorang yang ia maki itu sangatlah berarti baginya.
"Mom! selama ini dia menyiksa kita. Mommy masih saja mau bersamanya. Mommy tak bisa seperti ini dan.."
"Cukup!" tegas Nyonya Clorie membuat Stella bungkam. Wajah tertegun gadis muda ini tak bisa di hindarkan hingga Nyonya Corlie mengambil nafas dalam.
"Stella! Mommy mohon jangan membahas hal ini lagi. Ya?" pinta Nyonya Corlie mengusap surai kecoklatan pendek milik Stella dengan lembut.
Stella hanya diam memandangi Nyonya Corlie dengan tatapan tak bisa.
"Mommy menangis karna apa?"
"Tak ada. hanya saja Mommy takut kehilanganmu. Hanya itu." jawab Nyonya Corlie kembali menguasai dirinya.
Tak mau membuat tekanan besar bagi Nyonya Clorie akhirnya Stella mengangguk untuk memahaminya.
"Mommy akan kembali ke kamar. Kau tidurlah. Ini sudah dini hari. Sayang!"
"Mommy juga." balas Stella memandangi Nyonya Clorie yang keluar dari pintu kamar.
Sudah dua kali wanita itu keluar dari kamar dan nyatanya Nyonya Clorie tengah tertekan.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa? Mommy seakan-akan merindukan seseorang dan dia juga tak mau bertemu. Kata-katanya sangat ambigu." gumam Stella sampai berfikir keras membuatnya sangat lelah.
Tak ingin berfikir sendirian. Stella akhirnya mulai merindukan seseorang. Ia mengambil ponsel yang ada di dalam Tas sekolah yang ada di dekat meja tak jauh dari ranjang.
Yang ia cari adalah Kontak seorang pria yang memang hanya itu yang ada disini bersama Kontak Mommynya.
" Apa Nyamuk ini sedang tidur?!" gumam Stella langsung membuat panggilan. Dadanya terasa bergemuruh saat menunggu sambungan ini terhubung tapi nyatanya Ponsel Xavier tak aktif.
"Yang benar saja?!"
Stella kecewa mendengar suara operator yang menjawab. Ia kembali mencoba beberapa kali hingga Stella melempar ponselnya di atas ranjang karna jawaban itu masih sama.
Wajah Stella berubah masam dan terlihat hambar. Ia mengumpati Xavier dengan rasa kesal yang sangat menyala-nyala.
"Hanya sebentar saja apa salahnya? Ini juga belum terlalu larut."
Kesal Stella dengan rasa panas yang membakar di dadanya. Pikiran Stella jadi melayang ke arah lain padahal sebelumnya Stella tak pernah berfikir ke sisi itu.
"Apa dia bersama wanita lain sampai melupakan panggilanku? Atau jangan-jangan dia .. Aaaaa kenapa jadi begini?!" umpat Stella mengacak rambutnya frustasi.
Stella dengan pelan duduk di samping ranjang dengan baju hamil Mini-mous yang ia sukai. Siapa lagi kalau bukan Xavier yang memilihnya.
Lama duduk dengan rasa panas di dadanya. Stella sesekali melihat ponsel yang masih tergorok na'as di atas ranjang. Tak ada panggilan masuk sama sekali membuat Stella membuang nafas kasar.
"Jadi, pekerjaannya lebih penting dariku?!" lirih Stella meremas pinggiran Daster hamilnya. Namun, ia segera tersentak kala ada yang meniup telinganya dari belakang.
Stella hanya menepisnya lalu menatap ke arah pintu jendela yang sudah memperlihatkan rimbunan salju gugur dari pohon-pohon di sekitar rumah.
"Pasti dia bersenang-senang di luar sana. Dia pikir aku tak bisa, aku bisa mengabaikannya. Memangnya dia siapa? Hanya pria sok sibuk."
"Aku memang sibuk!"
Stella terperanjat kaget segera ingin berteriak tapi tangan besar dan kekar itu segera membekap mulutnya dengan mata biru Stella melebar.
"Ehmmm!!" geram Stella menatap terkejut sosok yang tadi ia umpat sudah ada disini. Dari mana dia masuk? Tanpa suara langkah kaki dan deritan ranjang yang di lewati, dia sudah naik dan bersandar dengan angkuh.
"Ehmm!!"
Ia memakai Jaket hitam dan kaos lengan pendek warna senada. Stelan Xavier kali ini memang sangat misterius dan membuat Stella terpesona setiap saat.
Melihat Stella yang melamun dengan pandangan dalam padanya, Xavier segera melipat tangan di depan dada dengan angkuh dan kaki bertopang tindih.
"Suamimu ini memang sangat Tampan. Jangan terlalu berlebihan. Sayang!"
"K..kau.. " gugup Stella segera memalingkan wajah ke arah lain. Ia sudah menduga jika jiwa angkuh dan narsis Xavier belum hilang sampai kapan-pun. Tapi, itu hanya akan terjadi hanya di hadapannya saja.
"Keangkuhannya memang abadi."
"Kau bicara tentangku?"
"Tidak. Aku bicara tentang pintu dan lantai." ketus Stella melirik tajam Xavier yang hanya menarik senyum tipis nyaris tak terlihat.
Ia segera menarik lengan Stella hingga bersandar ke dada bidangnya. Xavier merasakan jika Stella tengah dalam tanda tanya.
"Ada apa?"
"Apanya?" tanya Stella mengadah menatap wajah dingin tampan Xavier yang merapikan bagian poni di dahi Stella. Tangannya beralih membelit pinggul Stella yang mulai berisi dan membuatnya ketagihan untuk terus meremasnya.
"Apa yang membuat kau sampai tak tidur?"
"Emm.. Ada sedikit tapi aku rasa itu tak perlu. Lagi pula hanya masalah kecil."
"Aku ingin tahu." tegas Xavier mendesak Stella untuk mengatakannya. Walau tanpa bicara-pun Xavier bisa mencari tahu sendiri tapi ia ingin mendengar dari mulut wanita ini.
"Kau yakin?"
"Hm."
__ADS_1
Stella langsung menghela nafas dalam. Ia memposisikan kepalanya dengan benar di dada Xavier seraya memainkan kancing jaket Xavier yang menyiapkan indra pendengarnya.
"Mommy terkejut saat melihat perkembangan perutku. Tiba-tiba saja wajahnya pucat dan mengatakan hal aneh dan menurutku agak membingungkan."
"Lalu?"
"Mommy seakan-akan menahan sesuatu. Dia terlihat begitu takut sesuatu terjadi padaku bahkan, dia selalu melarang untuk jangan pergi dari Kota ini. Tadi, Mommy menangis dan meracau seperti merindukan seseorang tapi anehnya dia bicara soal aku. Dia bilang tak mau hal itu terjadi padaku. Hal yang mana aku bingung. Vee!"
Mendengar cerita Stella yang begitu serius menghadirkan kebungkaman Xavier. Matanya menatap lurus kedepan dengan guratan yang sulit Stella pahami.
"Vee!"
"Mommy-mu orang mana?" tanya Xavier beralih mengusap perut Stella. Ia membelai lembut tetapi ekspresi wajah masih datar dan tetap setiap mendengar.
"Ntahlah. Mommy tak pernah cerita. apalagi dulu hubungan kami tak sebaik ini."
"Umur Mommymu berapa?"
"Memangnya kenapa?" tanya Stella menyipitkan matanya. Tatapan yang begitu menghakimi dan penuh selidik membuat Xavier segera menarik hidung mungil itu segera.
"Veee!!"
"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Bocah!" ketus Xavier tahu apa yang ada di otak sempit Stella. Ia melepas tarikannya sampai hidung mancung mungil itu merah seperti dulu saat ia melakukannya.
"Pantas aku berfikir begitu. Mommyku wanita yang cantik, Umurnya juga baru 35."
Jawab Stella seraya mengusap hidungnya yang nyeri. Xavier diam sejenak menatap Stella yang cemberut masam melihat batang hidungnya sendiri dengan susah payah.
Mata biru Stella tak mungkin di turuni dari mata Ayahnya yang menurut data dari Zion sudah tiada di tangan Stella sendiri. Mata wanita paruh baya itu juga coklat dan kecantikan Stella di dapat dari sosok itu.
Tapi jelas, tak mungkin darah murni Stella di dapat dari Tuan Rowan dan manusia biasa seperti Nyonya Clorie.
Ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi. Ayah Stella bukanlah Tuan Rowan atau Nyonya Clorie bukanlah wanita biasa dan punya Ras berbeda dari mereka?
Melihat Xavier yang diam cukup lama. Stella segera memfokuskan matanya pada wajah tampan Xavier yang segera sadar.
"Apa?"
"Kau sedang apa?"
"Tidak ada." jawab Xavier seperti biasa membuat Stella jengkel.
"Kau ini sangat menyebalkan. Perutku sudah besar dan tak mungkin aku pergi ke Sekolah dengan membawa bunjulan sebesar ini. Kau memang sengaja atau apa?"
"Tenang saja. Kau tak akan kembali kesana." gumam Xavier membaringkan Stella kembali untuk tidur. Stella menurut walau dahinya berlipat samar.
"Maksudmu?"
"Kau hanya perlu membuat laporan Magang dan ikut ujian sendiri. Tak perlu datang lagi kesana." jelas Xavier menyelimuti Stella lalu ikut berbaring menjadikan lengannya bantalan kepala Stella.
Stella menela'ah penjelasan Xavier barusan. Ia mulai mengerti dan menyipitkan matanya.
"Aku magang dimana?"
Senyum licik Xavier muncul memeggang dagu lancip Stella dengan jemari kekarnya. Hal itu tentu Stella sangat memahami dan tak asing lagi dengan otak Mesum Xavier.
"Kau ada di Perusahaan-ku!"
"Vee!! Aku hanya ingin bekerja. Bukan yang aneh-aneh." dengus Stella tak bisa membayangkan harus pergi ke sana lagi dan menemani Xavier yang selalu tak bisa fokus jika ia sudah ada.
Mendengar itu Xavier hanya diam tak mau menanggapi apapun. Yang jelas, ia sudah menyelesaikan semua masalah sebelum Stella memikirkannya.
Lama mereka saling bicara sampai Stella tertidur di pelukan kekar itu. Xavier hanya diam memikirkan tentang penjelasan Stella tadi sampai ada suara barang jatuh dari dekat jendela Stella.
Tiba-tiba saja Xavier mencium aroma keberadaan manusia di luar sana. Deritan salju di pijak dengan hati-hati dan suara hembusan nafas dingin masih terdengar di indra tajam Xavier.
"Beraninya kau menguntit ISTRIKU." geram Xavier dengan mata berubah merah. Ia dengan cepat menjentikan jarinya ke udara hingga Jendela berubah hitam dan ada Ratusan Kelelawar yang berterbangan dari luar sana hanya bisa didengar Xavier.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..