YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Menyulut kemarahan!


__ADS_3

Jeritan kuat Stella begitu terdengar sangat takut meringkuk ke sudut pagar tak memperdulikan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Wajah wanita itu terlihat sangat pucat bahkan mengalir darah di hidung Stella yang menangis mengusir sosok yang mengerumuninya di dalam benak sana.


"T..toloong!!!! Pergiii!!! Pergiii!!!"


"Apa yang terjadi padanya?" gumam para Penjaga yang tadi sangat syok melihat Stella seperti di kejar-kejar sesuatu sampai menubruk punggung kekar Xavier yang tampak terdiam sejenak.


Stella menatap mereka dengan pandangan begitu takut dan seperti melihat sesuatu yang mengguncang batinnya.


"P..pergi. Hiks! Pergiii!!!"


"Stella! Stella ini .. Ini aku." jawab Efika yang berusaha mendekat tapi Stella merapat ke pagar seakan melihat semua orang sebagai Monster.


"Pergiii!!! Pergiiii.. Kau.. Kauu.."


"Stella! Sadarlah!" pinta Efika merasa sangat cemas. Apalagi darah yang mengalir di hidung Stella bertambah banyak membuat Xavier mengeraskan wajah tampannya.


Ia mendekat tapi Stella langsung berteriak histeris menjahuinya.


"Jangaan!!! Pergiii!! Pergiii!!!"


Teriak Stella melempar ranting-ranting di sampingnya agar Xavier menjauh. Di dalam benaknya yang mendekat ini adalah sesosok mahluk yang begitu menyeramkan dengan separuh wajah seperti tengkorak dan semuanya mayat berdiri memandanginya.


"Master! Bagaimana ini?"


"Menjauh!" titah Xavier membuat Efika segera menjauh dari Stella. Zion juga mundur bersama para penjaga yang mulai merasa merinding kala udara disekitar sini begitu sangat dingin dan menusuk.


Suasana gelap yang begitu pekat membuat Stella tak bisa menahan rasa takutnya sampai ingin lari rapi Xavier segera menarik lengannya.


"Lepaaaas!!!! Pergiii!!! Pergiii!!!"


Teriak Stella memukul-mukul lengan kekar Xavier yang mencium ada aroma lain di sekitar tubuh Stella.


"Kau mendengarku?"


"Pergiii!!! P..Pergiii hiks." isak Stella sudah lemas tak mampu lagi berteriak dan ini sangat membahayakan bagi Jiwa dan Raga Stella yang mulai terkurung dalam rasa takut di dalam benaknya.


Xavier segera menutup mata Stella dengan tangannya dan spontan hembusan angin ini terasa cukup kencang menerpa tubuh Stella yang langsung jatuh lemas di pelukan Xavier yang sigap menahannya.


"Stella!" gumam Efika benar-benar cemas kala melihat Stella sepucat kapas.


Deru nafas wanita ini memburu dengan tubuh mengigil membuktikan betapa besar rasa takut yang tengah di alaminya.


"Ambilkan air!"


"Baik. Tuan!" jawab Efika pada Zion yang segera mendekat melihat Stella tampak lemas dengan maya yang sayu-sayu terbuka dan nyaris setengah sadar.


"P..pergi.."


"Buka matamu dengan benar!" pinta Xavier mengusap pipi dingin Stella yang merasa hangat kala telapak tangan kekar Xavier mengusap keringat di wajahnya.


Mata Stella yang tadi sayu sekarang mulai terbuka sempurna dan ia tampak syok melihat wajah Xavier dan spontan langsung mendorong tubuh Xavier menjauh.


Tatapannya berubah kembali waspada beringsut mundur.


"K..kau.."


"Kau kenapa?" tanya Zion menyeringit kala Stella seakan memandang mereka seperti Monster.


Saat tangan Xavier ingin memeggang betisnya Stella langsung menghindar membuat mereka semua merasa heran sekaligus gugup.


Apa yang terjadi sebenarnya?


Seakan merasa terancam. Stella dengan cepat berdiri dengan kaki lemahnya yang tak bisa menopang kuat hingga jatuh kembali.

__ADS_1


Tetapi. Ia sama sekali tak mau di dekati siapapun termasuk Xavier yang ia tatap dengan penuh rasa waspada dan takut.


"M..Mommy!"


Gumam Stella mencoba bersembunyi di balik pagar menghindar dari mereka semua. Hal itu tentu membuat Xavier merasa sangat nyeri seakan ada batu besar yang tengah menimpa rongga dadanya.


Ia kembali berdiri dengan raut wajah membeku dan terlihat sangat kelam. Bahkan, aura yang dikibarkan Xavier mulai membuat mereka sulit untuk bernafas hingga mundur ke arah teras Villa.


Stella masih menekuk tubuhnya tampak tak nyaman dengan semua ini. Ia merasa begitu takut bahkan sangat takut.


"M..Mommy!" gumam Stella bergetar menyembunyikan wajahnya dari tekukan lutut yang sudah tampak kotor dan basah.


Xavier mendekat ke arah pagar. Ia meredam gejolak murka di jiwanya karna menenagkan Stella lebih penting saat ini.


Merasa ada yang berdiri di dekatnya. Stella langsung sigap ingin lari tapi tiba-tiba tubuhnya kaku tak bisa bergerak.


Matanya mengigil menatap Xavier yang berjongkok di dekatnya.


"K..kau.. Kau.."


"Apa yang kau lihat dariku?" tanya Xavier menyelami manik biru laut Stella yang tampak melihat wujud Vampir Xavier yang sebenarnya.


Itu terlihat sangat menakutkan dan tempat ini tak seperti apa yang ia lihat dengan kedua bola matanya.


"K..kau.. I..ini.."


"Dengar!"


"I..ini.. Ini.. tidak.. Aku..aku ingin pulang! Pulang.. Aku.."


Stella kembali ketakutan menggeleng keras tak ingin disini. Hal itu membuat Xavier segera menangkup wajah cantik ini dalam kurungan kedua telapak tangan kekarnya.


"Tatap aku!"


"K..kau..."


"V..Vee.."


"Hm. Ini aku!" jawab Xavier langsung membawa Stella dalam dekapan ternyaman darinya. Belitan tangan Xavier menghadirkan rasa aman dan hangat bagi Stella yang mencengkram punggung Xavier kuat menahan rasa takut di tubuhnya.


Rasa dingin di kulit Stella perlahan dinetralkan Xavier yang tahu apa yang terjadi pada wanita ini.


"V..Vee.."


"Tenanglah. Tak akan ada yang bisa mengusikmu. Hm?" Xavier mengusap kepala Stella yang memejamkan matanya. Ia tak berani melihat ke arah kegelapan sana termasuk menghindari suara gelombang air laut yang tadi mau menelannya.


"A..aku..aku takut."


"Hm."


Xavier segera menggendong Stella yang kekeh melingkarkan kakinya ke pinggang Xavier seperti koala. Wajah wanita ini terbenam ke ceruk lehernya tak mau melihat apapun.


Efika yang tadi mematung membawa nampan gelas air putih hanya mundur membiarkan Masternya masuk membawa Stella ke arah tangga menuju kamar atas.


"Ntah apa yang akan terjadi nanti?!" gumam Kakek Le-Yang pada Efika yang mengangguk. Dari respon Masternya tadi mereka selamat karna ada Stella yang masih dalam pengaruh sesuatu.


Tapi. Jika wanita itu tak ada disini maka mereka akan menyaksikan sesuatu yang akan mengerikan nantinya.


.......


Sementara di dalam kamar sana. Stella masih enggan untuk berbaring dan tak mau turun dari pangkuan Xavier yang membiarkan seperti ini untuk sejenak.


Ia duduk di tepi ranjang mengusap surai pendek Stella yang masih tampak belum bisa menguasai dirinya dengan baik.


Bahkan deru nafasnya masih terasa sedikit sendat dengan cengkraman ke bahu Xavier terasa semakin kuat.

__ADS_1


"V..Ve..."


"Tatap aku!"


"T..tapi.."


Xavier dengan lembut menarik dagu Stella untuk bersitatap dengannya. Darah di hidung Stella masih mengalir dan ini adalah serangan jiwa yang telah di lakukan seseorang bahkan lebih.


Tentu jiwa membunuh Xavier bergejolak hebat tapi ia tak mau membuat Stella semakin takut.


"K...kau.."


"Sejak kapan kau berubah menjadi penakut. Hm?" tanya Xavier tak memutus kontak matanya dengan satu tangan perlahan mengusap wajah Stella dengan asap hitam yang keluar dari sela jemari Xavier.


Stella terperanjat hebat merasa ia di tarik kembali ke permukaan dan tubuhnya yang tadi terasa lemas dan begitu mengigil perlahan membaik dan bisa bernafas dengan normal.


"K..kau.."


"Buka mulutmu!" titah Xavier mencengkram kedua pipi Stella ringan hingga mulut wanita ini terbuka.


Xavier sedikit lega kala tak ada tanda racun atau hal yang mematikan selain Ilusi Jiwa ini. Setidaknya Stella hanya di buat merasa takut yang begitu besar dan akan sulit keluar jika tidak Xavier yang menepisnya.


"K..kau.. Itu.. Kenapa?"


"Akan ku jelaskan nanti. Sekarang, ganti bajumu dan tidur!"


"Tidak! disini.. Disini aneh, aku..aku melihat Villa ini sudah tua dan banyak mayat-mayat bergelantungan dan kau.. "


Kalimat Stella terjeda kala melihat wajah Xavier yang hanya diam mendengarkannya. Visual ini sangat berbeda dengan apa ia lihat saat itu.


"Kau terlihat seperti..."


"Seperti?" tanya Xavier ingin mendengarnya. Apa saat melihat wujud aslinya Stella akan kabur seperti tadi? Apa wanita ini akan pergi melihat hal yang lebih menyeramkan dari itu nantinya?


Tapi. Tak ada yang bisa melihat wujud Vampir Xavier tanpa disetujui kecuali orang-orang yang memiliki aliran yang sama dengannya.


Anehnya, Stella bisa dan pantas jika respon Stella begini?


"Seperti apa?"


Stella memejamkan matanya. Ia tak ingin melihat hal itu lagi karna ia tak terbiasa dan belum pernah mengalami hal seperti ini.


"Kau takut?"


"Kenapa tadi lautnya begitu menggila? Bulannya merah dan banyak mahluk-mahluk aneh berterbangan di atas langit. Apa yang terjadi padaku?" tanya Stella ingin tahu. Pasalnya ia merasa itu sangat nyata tapi yang ia lihat sekarang tak sama dengan yang terjadi kala itu.


"Jangan keluar tanpa memberitahuku!"


"Tapi.."


Stella berhenti bicara kala tatapan tegas Xavier menundukan egonya. Ntah kenapa semakin kesini ia merasa Xavier berbeda.


"Aku tak rela jika Makananku di usik orang lain."


Seketika Stella langsung bangkit dari paha Xavier lalu pergi ke kamar mandi. Pintu ia tutup keras dan itu membuktikan Stella sudah baik-baik saja dan dia kembali sadar sepenuhnya.


Wajah lembut Xavier yang di tunjukan pada Stella tadi seketika berubah cepat. Kepalan tangan Xavier menguat dengan mata berkilat merah pekat.


"Kalian memang sudah mulai BERANI." geram Xavier langsung mengibaskan tangannya ke arah Balkon kamar yang dengan tirai yang berguncang karnanya.


Xavier menjaga Villa ini agar tetap stabil karna guncangan laut sana akan menggila karna balasan yang berkalilipat yang akan menyakitkan darinya.


Benar saja. Terbukti dengan suara ombak yang bergemuruh hanya bisa di dengar oleh Xavier. Suara jeritan dan teriakan dari Mahluk yang sudah lama tak keluar di dalam lautan sana begitu nyaring seperti pekikan ribuan Kelelawar yang berterbangan.


........

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2