
Setelah menepis berbagai problema di Media tadi akhirnya Stella tak ingin ambil pusing. Ia kembali fokus pada Pekerjaannya dimana Sekertaris Grach tengah kebingungan bagaimana cara memposisikan Stella di ruangan yang berbeda padahal Presdirnya meminta untuk satu ruangan dengannya saja.
Tetapi, Stella menolak keras hal itu pada Sekertaris Grach dengan alasan tak pantas satu ruangan dengan Presdir mereka. Jelas ia hanya Siswi Magang disini.
"Tolonglah. Aku ingin punya tempat sendiri. Di ruangan mu juga tak masalah, aku janji tak akan mengganggumu."
"Nona! Bukan ini masalahnya." gumam Sekertaris Grach memijat pelipisnya pusing. Ia tak berani membantah perintah Presdirnya tapi Stella juga tak ingin ke sana.
Bukan tanpa alasan Stella tak mau. Jelas jika ia satu ruangan dengan Xavier maka pria itu tak akan fokus pada Pekerjaannya dan bahkan Stella juga akan terkena imbasnya.
"Presdir menginginkan Nona untuk ke ruangannya. Dan.."
"Aku mohon!" pinta Stella menggenggam lembut tangan Wanita yang lebih dewasa darinya ini. Sepasang netra biru polos dan mengiba dengan sangat hangat membuat hati Sekertaris Grach meleleh.
"Ayolah. Aku hanya 1 bulan lagi disini. Setelah itu aku pergi, apa tak bisa membantuku selama itu?"
"B..Baiklah!" jawab Sekertaris Grach membuat Stella tersenyum penuh kegembiraan seakan terbebas dari belenggu yang sudah menjerat kakinya selama ini.
Berbeda dengan Sekertaris Grach yang justru merasa Dunianya akan segera berakhir. Ntah hubungan apa yang tengah ada diantara Stella dan Xavier ia juga tak tahu dan yang pasti ini buruk untuknya, pikir Sekertaris Grach kiranya begitu.
"Mejaku disini,ya?" tanya Stella kala ada satu Meja yang kosong di dekat Meja kerja Sekertaris Grach. Dan sepertinya ini tempat perundingan antara Staf.
Tak mendapat jawaban langsung dari Sekertaris Grach membuat Stella langsung memandangnya. Wajah pucat kosong Sekertaris Grach mendapat tepukan ringan oleh Stella di bahunya.
"N..Nona!"
"Presdir tak akan memarahi atau melukaimu." gumam Stella tahu kecemasan wanita ini.
"Nona! Ini perintah Presdir, bisa-bisa nyawaku melayang bahkan.."
"Jika dia berani melukaimu sedikit saja. Katakan padaku secepatnya. PAHAM?" tanya Stella berani. Hal itu sontak membuat Sekertaris Grach menelan ludah tapi ia masib ragu-ragu karna selama ini tak ada yang berani kala sudah di depan Presdirnya termasuk Nona Linnea.
"Jika dia berani melukaimu. Dia harus melakukannya juga padaku. Karna aku yang memaksamu melakukannya."
"Baiklah. Nona! Aku berharap itu tak terjadi." gumam Sekertaris Grach mengambil nafas dalam seraya mengibas wajahnya dengan selembar kertas yang ada di atas Meja.
"Terimakasih! Sekarang apa yang harus ku kerjakan?"
"Belum ada perintah dari Presdir. Nona!"
"Kenapa harus menunggu Perintahnya. Biasanya Perusahaan sebesar ini pasti punya banyak pekerjaan-kan? Kalau aku bisa maka akan ku kerjakan." jawab Stella ingin melakukan sesuatu disini. Ia tak mau mendapat hasil yang tak memuaskan apalagi bukan jerih payah darinya.
Melihat sikap kekeh dan keras kepala Stella memantik rasa kagum Sekertaris Grach tapi juga sangat mencemaskan keberanian ini.
"Kalau Nona memaksa, baiklah! Di atas mejaku ada Berkas dari Perusahaan yang ingin bekerjasama dengan kita. Silahkan Nona lihat apakah cocok atau ada yang perlu di bicarakan."
"Yang ini?" tanya Stella mengangkat Map merah yang ada di bawah tumpukan kertas diatasnya.
"Iya. Nona! Kalau sudah selesai, kau tinggal beritahu aku."
Stella mengangguk membuka Map itu dengan hati-hati melihat isinya. Ia tampak serius sampai membuat Sekertaris Grach menghela nafas ringan lalu meninggalkan Stella dari dalam ruangan.
"Ntah bagaimana aku memberi tahu Presdir tentang ini?!" gumam Sekertaris Grach memijat pelipisnya. Ia melangkah ke arah Ruangan khusus Presdir yang hanya berjarak satu belokan dari lorong ruangannya.
Didepan sana sudah tampak Asisten Zion yang tengah sibuk berbicara dengan seseorang. Ia mendekat tetapi agak ragu untuk masuk.
"Yah. Kau urus saja seperti yang diinginkan Presdir!" ucap Zion seraya mematikan panggilan lalu menatap Asisten Grach yang tampak diam.
"Ada apa?"
"Tuan! Nona Stella tak ingin ke ruangan Presdir. Dia menetap di Ruangan ku." jawab Sekertaris Grach membuat Zion kembali berkacak pinggang.
Setelah membuat Media dan Kota ini Gempar sepasang Mahluk teraneh di muka bumi ini kembali membuat kepalanya pusing.
"Katakan jika ini perintah Presdir!"
__ADS_1
"Nona tetap menolak. Saya sudah berusaha meyakinkannya bahkan sedikit memaksa tapi masih saja tak bisa."
Mendengar hal itu Zion langsung mengusap wajahnya kasar. Ia terlihat menimbang-nimbang satu keputusan.
"Aku akan bicara pada Presdir. Kau tunggu disini!"
"Terimakasih. Tuan!" jawab Sekertaris Grach setidaknya lega membiarkan Asisten Zion masuk kedalam ruangan luas ini.
Desain elegannya membuat sesosok Pria dengan hawa keberadaan yang kuat itu semakin terlihat mendominasi.
"Master!"
"Hm."
Xavier masih fokus pada layar Laptopnya. Terlihat jelas jika ia tengah sibuk dengan lembaran-lembaran kertas diatas meja dan bagaimana kelanjutan Proyek besar EMC dan keadaan Perusahaan-Perusahaan cabang di beberapa Negara.
"Kau hubungi Direktur Perusahaan Cabang. Aku akan mengadakan Pertemuan."
"Waktunya? Master!"
"Sekarang!" jawab Xavier tengah melihat ada masalah yang harua segera diselesaikan.
"Baiklah!"
"Ada apa?" tanya Xavier tanpa memandang Zion yang menjalankan tugasnya.
"Nona tak ingin pindah ke Ruangan ini."
Jawaban Zion langsung menghentikan tangan Xavier yang tadi membolak-balikan kertas di mejanya. Seketika wajah Tampan itu mengeras dan terkesan beku.
"Nona kekeh ingin di Ruangan Sekertaris Grach. Master!"
Xavier diam sejenak lalu melihat Jam dipergelangan tangannya. Sebentar lagi waktunya makan siang dan wanita ini masih saja menguji kesabarannya.
"Aku rasa Nona sudah tetap dengan keputusannya dan.."
Nah, ini sangat sesuai ramalan yang sudah ia duga tadinya. Pekerjaan ini akan kembali menumpuk di kepalanya sementara sang Master tengah merayu Cinta sejatinya.
"Urus sampai Pekerjaanku selesai."
"Lagi dan lagi." gumam Zion agak mengumpat membuat langkah Xavier terhenti di dekat pintu.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"A.. Tidak.. Tidak, Master! Aku terlalu bersemangat sampai mulutku sulit dikontrol." jawab Zion memberi wajah optimis padahal batinnya menangis.
Tanpa belas kasihan sama sekali Xavier keluar dari ruangan ini melewati Sekertaris Grach yang lega karna Xavier tak meliriknya pertanda ini aman.
Ia hanya memandangi Pria berjuta pesona itu sampai menghilang dari netranya.
Xavier bukannya tak tahu tapi ia tak ingin mengusik Sekertaris Grach yang pasti sudah berusaha membujuk Boneka Salju miliknya.
Kala sudah sampai di depan Ruangan Sekertaris Grach, tanpa bersuara sama sekali Pintu itu tiba-tiba terbuka hingga netra Xavier di perlihatkan dengan tampak belakang Stella yang terlihat menggiurkan berdiri membelakangi pintu masih tahan dengan posisi ini.
"Emm.. Aku sudah menemukannya." gumam Stella tanpa melihat ke arah pintu. Ia pikir itu Sekertaris Grach yang kembali ke Ruangan.
"Disini kesepakatannya agak ambigu. Sepertinya mereka hanya ingin memanipulasi Perusahaan EMC."
"Benarkah?"
Sontak Stella langsung terkejut kala ada dua lengan kekar yang membelit perutnya dari belakang. Ia tersadar jika ini adalah Nyamuk Pencemburunya.
"Kau.."
"Ntah kenapa Sekertaris ku satu ini sangat rajin sampai mau melewatkan Jam makan siangnya." gumam Xavier menopang dagu ke bahu Stella yang seketika mengambil nafas dalam.
__ADS_1
"Presdir ku yang terhormat. Sekertaris mu ini sangat rajin dan berbakat, jadi jangan terlalu perhatian. Hm?"
"Aku suka orang yang rajin dan berbakat."
"Tapi, bukan berarti Presdir menyelinap ke Ruangan Sekertaris nya lalu berbuat Cabul seperti INI."
Tekan Stella menurunkan satu tangan Xavier yang tadi sudah turun mengelus pahanya. Ia perlahan berbalik masih dengan jarak yang sama mengadah menatap Xavier yang beralih mengurungnya dipinggir meja.
"Mohon untuk tak melanggar aturan Perusahaan. Presdir!"
"Itu tak berlaku untukku." desis Xavier mengikuti permainan Bawahan dan Atasan ini. Keduanya saling pandang begitu dalam hingga sedetik kemudian Stella langsung tertawa kecil karna geli akan semua ini.
"Vee!"
"Hm?"
"Ayolah. Aku ingin bekerja. Kembalilah ke Ruangan mu?"
"Siapa? Vee! Apa Suamimu?" tanya Xavier pura-pura tak tahu. Tatapan datarnya menyipit pada Stella seakan begitu menyelidik.
Mendengar itu antara senang dan kegelian Stella sampai mengulum senyum. Ntah kenapa Xavier seperti mencoba memperbaiki sesuatu dari sikapnya.
"Bukan."
"Lalu?"
"Dia ..."
Stella menjeda kalimatnya dengan wajah yang terlihat ingin melakukan sesuatu yang membuat Xavier menyipitkan matanya.
"Diaa?"
"Dia Pamanku!"
Seketika raut wajah Xavier berubah dengan sangat cepat. Stella berusaha menahan tawa melihat amukan yang sebentar lagi akan meledak dari wajah datar Xavier yang menggeram kesal.
"Kauu.."
"Vee itu Pamanku! Dia sangat jelek dan Pemarah. Umur kami terpaut jauh tapi dia tetap kekeh untuk menikahiku. Presdir!" jawab Stella sesekali agak menunduk kala Xavier sudah menatapnya dengan api yang menyala-nyala.
"Jelek?"
"Iya."
"Pemarah?"
"Ehm." Stella mengangguk tapi ia sudah bersiap untuk lepas dari sini. Kala Xavier sudah ingin menyambar bibirnya Stella langsung menunduk cepat meloloskan diri dari kungkungan lengan kekar itu.
"Bweeee.. Dasar Tua Bangka!!" ketus Stella menjulurkan Lidahnya mengejek Xavier yang sudah terbakar api keangkuhan.
"Shiit."
"Uncle Vee!!" ejek Stella sampai terpekik lari kala melihat Xavier sudah ingin mengejarnya.
Stella lari ke Lift khusus Presdir berdo'a agar benda ini cepat membawanya ke bawah. Ia berkeringat dingin kala melihat Xavier sudah melesat ke arah sini dengan kilatan cahaya merah langsung masuk kedalam Lift yang spontan tertutup rapat.
"Curaaaang!!!"
Teriak Stella kala Xavier masuk dengan kekuatannya. Jelas ia tak bisa menghentikan perputaran waktu yang begitu cepat ini.
Hal itu tentu di lihat oleh seorang wanita paruh baya yang tadi langsung ingin menemui Xavier dan meminta penjelasan atas apa yang terjadi. Tapi, tak ia sangka ada sosok wanita yang selama ini mereka incar tapi tak kunjung di dapatkan karna perlindungan Prince Elbrano itu ada disini.
"Kau nyatanya benar-benat serius dengan wanita itu." desisnya mengepal dengan kuat. Rona mata berubah menghitam dan sangat ingin membunuh Stella.
Amarahnya berkobar nyata kala Xavier sudah membuat Keputusan yang besar. Apalagi, amarah Kakek Lucius di Kediaman sana membuatnya datang kesini karna ada yang hilang di Perpustakaan besar Keluarga Elbrano.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..