
Tatapan cemas itu terlihat meruak ke arah ranjang seorang Pria tua yang tampak terus memuntahkan cairan hitam itu. Wajahnya sangat pucat bahkan tak sanggup untuk duduk di atas ranjangnya.
Bagaimana tidak? Saat badai semalam menerpa. Mereka terkejut kala ada sambaran petir yang menghantam bagian ruangan Kakek Lucius yang tak bisa menghindar karna saat itu luka di tubuhnya kembali kambuh.
Kulit keriputnya semakin berkerut bahkan hampir mengelupas. Tentu hal ini membuat Apollo yang tengah dilanda kekhawatiran itu semakin tak tenang.
"Kondisi Yang Mulia akan semakin memburuk jika tak mendapat darah murni itu secepatnya." gumam Apollo mengigit kuku panjang miliknya. Telinga runcing dan hidung lancip kedepan itu tampak merah pertanda ia sangat panik.
Melihat hal itu Tuan Atticus dan Nyonya Margretta langsung mengambil nafas dalam. Mereka sudah tak tahu bagaimana caranya membuat Xavier menyerahkan wanita itu apalagi saat datang kesana keduanya yakin jika aroma darah itu memang sangat murni.
"Kami sudah mengingatkan Prince! Aku yakin dia hanya menjebak wanita itu."
"Tidak!" tegas Apollo berbalik hingga mata bulat lebar dan kepala botak tak ada rambut itu tampak sangat marah.
Jubah Hitam yang ia pakai terasa mengibarkan hawa tak bersahabat dan sangat paham apa yang terjadi pada Xavier sekarang.
"Maksudmu? Apollo?"
"Dia sudah terperdaya oleh Pesona wanita itu."
"Tidak mungkin." bantah Nyonya Margretta karna ia tahu jika Xavier tak pernah begitu serius dengan yang namanya wanita. Spesies secantik Linnea saja bisa ia tepis dan abaikan bertahun-tahun dan seberapa cantik wanita yang membuat putranya itu setunduk itu?
"Putraku itu sangat tak mudah di taklukan. Dia pasti punya rencana tersendiri."
"Aku tahu segalanya!" desis Apollo dengan lidah panjangnya terjulur melelehkan lendir. Gigi kecil tajam seperti Piranha itu menggeliat geram melihat Nyonya Margretta masih saja membela Xavier.
"Dia ingin melawan Keluarga ini. Dia ingin membunuh Yang Mulia Lucius."
"Kauu.."
Prankk..
Suara kaca di kamar ini langsung pecah beriringan dengan dorongan angin yang bergejolak menjatuhkan barang-barang di dalam kamar. Nyonya Margretta dan yang lainnya langsung menunduk kala melihat tatapan murka Kakek Lucius yang muak dengan perdebatan panas ini.
"Enyahlah dari ruangan inii!!!"
"M..Maaf Yang Mulia!" jawab mereka semua dengan suara bergetar. Apollo menatap sendu wajah keras dan arogan Kakek Lucius yang tampak semakin menahan sakit yang berketerusan.
Kulit keriput itu semakin terkelupas dan rambut Kakek Lucius perlahan-lahan mulai rontok dan seperti sudah kembali ke bentuk-bentuknya semula. Kekuatannya juga terus melemah sampai tak bisa keluar menahan panasnya Mentari yang membuatnya terbakar.
Hanya Vampir yang memiliki kekuatan tinggilah yang bisa menjelma menjadi manusia dan beraktifitas seakan tak ada perbedaan. Mereka bisa menyamarkan diri tapi Kakek Lucius mulai berangsur untuk pudar dan binasa.
"Yang Mulia! aku sangat khawatir atas keadaanmu."
Kakek Lucius hanya diam. Ia menatap langit-langit hitam ruangan ini dengan menahan rasa panas di dadanya. Ia tahu Xavier memang tak main-main bahkan sangat serius dengan berani membiarkan Bayi itu lahir.
"Dia adalah harapanku!"
"Aku tahu Yang Mulia! Secepatnya kau harus mendesak Prince untuk memberikan darah murni itu padamu. Dan setelah itu kita bisa melantik kedudukan Prince secepatnya." jelas Apollo memberikan saran. Ia adalah Peramal milik Keluarga Elbrano yang sedari dulu mena'ati apapun yang diberikan Apollo. Secara langsung dan nyata, Apollo sudah membuktikan ramalannya dengan keadaan Adik Tuan Attacus yang dulu ia katakan sudah mengkhianati Keluarga Elbrano.
__ADS_1
Dan nyatanya benar. Dia sudah membuat hal yang sangat di benci Kakek Lucius sampai menghukumnya dengan sangat berat.
"Dia mengikuti jalan Pria sialan itu!"
"Yang Mulia! aku bisa menjamin jika Wanita itu sampai hidup dengan Prince maka mereka akan membantai Klan kita."
Seketika kepalan Kakek Lucius menguat. Hal itu tak akan pernah terjadi karna ia akan mencari cara apapun agar Xavier kembali ke Keluarga ini.
"Dia dan bayi itu harus jadi milik ELBRANO."
"Benar. Yang Mulia! Kita bisa menerima anggota baru yang pasti akan semakin menambah kejayaanmu."
Kakek Lucius menyeringai licik. Ia tahu apa yang harus di lakukan tapi tunggu saja tanggal mainnya. Akan ia buat Xavier tunduk kembali dan menyerahkan wanita itu padanya.
"Buat hidupnya sangat menderita! Awasi terus sampai ada cela!"
"Baiik!"
........
Ntah karna Jera atau was-was akan sesuatu hal buruk terjadi pada Putranya, Stella sama sekali tak mengizinkan Xavier tinggal sendirian dengan Bayi mungil tampan itu.
Ia terus mengawasi bahkan tak mempercayakan sedikit-pun Xavier yang masih saja belum mundur untuk mendekati anaknya. Padahal, saat dekat Xavier hanya akan berbuat yang aneh-aneh bahkan tak masuk diakal.
"Mau apa lagi?" ketus Stella yang menatap tajam Xavier di sampingnya. Ia tengah menyusui si mungil yang begitu kuat minum Asi sampai Stella terkadang merasa kewalahan tapi ia senang anaknya sangat sehat.
Sementara Xavier. Ia tiba-tiba menjadi seorang pemalas dan tak lagi ingat dengan pekerjaannya, bukan karna Bayi itu tapi Stella yang terus mengawasinya.
"Kau ini sebenarnya mau apa? Vee!" tanya Stella kala Xavier selalu melarangnya untuk menggendong si kecil ini. Jelas Stella sangat kesal dan terselip rasa marah yang sangat besar.
"Dia bisa menguras tenaga mu!"
"Dia putraku! Jika tak memberinya Asi lalu dia akan tumbuh dengan apa? Vee!" tanya Stella masih dengan intonasi rendahnya.
Netra abu dingin Xavier menatap tajam Mahluk mungil yang tengah asik dengan Dot pabriknya itu. Wajah tampan seakan tak berdosa tapi sudut bibirnya tampak terangkat melihat Xavier sedari tadi di marahi Mommynya.
"Licik!"
"Siapa?" tanya Stella tapi Xavier hanya diam. Jelas jika disini hanya ada dirinya dan bayi ini. Tak mungkin Xavier mengatai dirinya sendiri?
"Saat denganku dia berani menghisap kekuatanku!"
"Jangan aneh-aneh. Tak mungkin dia sudah punya kekuatan seperti itu." bantah Stella tak percaya. Mendengar pembelaan yang Stella ajukan, senyuman si kecil itu semakin lebar seakan mengejek Xavier yang selalu di salahkan.
Sejak dalam kandungan Bayi ini sudah sangat licik dan tak berperikemanusiaan. Dia akan menunjukan hawa kehadirannya kala Stella sudah tak sadar, itu karnanya Stella hanya menganggapnya Malaikat padahal ada iblis di balik wajah Tampan bening ini.
Melihat hawa dingin diantara Xavier dan Putranya. Akhirnya Stella menghela nafas meraih tangan Xavier untuk ia genggam hangat.
"Nama Baby siapa?"
__ADS_1
"Apa perlu?" tanya Xavier berintonasi datar. Ia sama sekali tak berniat memberinya nama karna jujur Xavier sendiri tak siap dengan kehadiran si kecil ini.
"Sangat. SANGAT perlu. Paham?"
"Aku tak tahu." jawab Xavier dengan entengnya. Mendengar itu raut wajah Stella langsung berubah datar.
"Tak tahu?"
"Hm."
"Dokter Rykeeer!!!" panggil Stella membuat Xavier mengeras dengan mata melebar.
"Dokteer!! Tolong beri nama pu.. Eemm!!" Mulut Stella langsung di bungkam Xavier dengan ciuman rapat yang menekan bibirnya kuat sampai membuat Stella bergumam.
"Ehmmm!!!" pekik Stella tertahan kala Xavier mengigit bibirnya agak kasar sampai menarik tatapan tajam dari Malaikat di gendongan Stella.
Tangan Stella segera mendorong Xavier yang melepas gigitannya dengan tatapan puas dan sangat mengintimidasi.
"Ada Baby disini dan kau.."
"Katakan lagi!" titah Xavier sangat emosian. Jelas jika rasa panas itu sedari tadi Xavier tahan dan baru lepas sekarang. Itu-pun belum sepenuhnya.
"Kalau tak suka aku bergantung padanya. Maka jangan mengabaikan hal kecil tentang Bayi kita."
"Dia tak perlu nama!"
"Terserah. Kalau begitu aku akan.."
"Chester!" Sela Xavier masih dingin tak memalingkan pandangannya pada Stella yang termenggu diam.
"Ulangi!"
"Chester Patriack Elbrano!" tegas Xavier dengan berkharisma mengatakan Nama itu. Stella diam karna merasa kali ini Xavier serius dengan nama itu. Terbukti dengan netra abunya yang begitu dalam memandang Stella.
"Nama belakang itu.."
"Jika kau tak suka, tak perlu di pakai." jawab Xavier mengutamakan kesenagan Stella.
Mendengar jawaban Xavier akhirnya Stella membuang nafas ringan untuk mengurangi beban di dadanya.
"Tak apa. Lagi pula kau juga menyandang nama itu. Asal jangan tabiat Keluargamu yang dia turuti."
"Kau benci?" tanya Xavier mencari kebenaran dari mata biru Laut Stella. Apa yang terjadi jika Stella tahu Ayahnya adalah Paman Xavier dan apa dia akan membenci Xavier atau tak mau mengakui Ayahnya?
"Sangat! Aku sangat membencinya karna mereka sudah memanfaatkanmu." desis Stella membuat sudut bibir Xavier tertarik kecil. Ia menautkan keningnya dengan Stella yang takut jika nanti Baby Ester akan di incar mereka.
"Vee! Kau boleh tak menjagaku tapi utamakan Putra kita. Hm?"
"Kalau bisa dua kenapa harus satu?!" desis Xavier mengecup kening Stella. Ia tahu ini tak mudah tapi jika mengorbankan nyawanya sekali-pun akan ia lakukan.
__ADS_1
...
Vote and Like Sayang