YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Hidup bagai di Neraka!


__ADS_3

Kali ini Zion benar-benar kelimpungan. Ia tak bisa mengerti apa yang di inginkan Xavier sampai tiba di Perusahaan mempermasalahkan semua yang sudah di susun dengan baik kemaren.


Bagaimana tak pusing? Xavier menemukan kesalahan sekecil biji beras bahkan lebih kecil lagi dari sebutir debu. Ia terus marah-marah tak jelas sampai meminta kembali menyusun Desain Proyek sampai benar-benar Sempurna.


"Master! kau sendiri yang mengatakan Dokumen itu sudah bisa di jalankan."


"Lalu kau pikir ini apa?" tanya Xavier melempar Dokumen di tangannya ke atas lantai dengan kasar. Kepalanya sudah pusing dan hanya rasa gelisah dan selalu panas menyelubungi tubuhnya.


Melihat itu Zion diam. Ia juga kasihan melihat Rekan-rekan kerja yang lain sampai ketakutan kala Xavier marah-marah di ruangan Meeting. Padahal, rencananya hari ini mereka hanya tinggal meninjau bahan-bahan yang akan di gunakan dalam Membangun sebuah Multi Software yang di rencanakan.


"Aku tak mau tahu! 10 menit dari sekarang SELESAIKAN TUGAS INI!!"


"Baik Master!" jawab Zion pasrah mengambil Dokumen yang jatuh ke lantai tadi lalu keluar ruangan kerja Xavier.


Di luar sana sudah ada Tuan Horneo dan Mr Franzer yang tampak gelisah dan pucat menghadap ke arah Zion.


"Bagaimana? Tuan!"


"Master tak menerimanya." jawab Zion membuat mereka tercekat. Wajah putus asa itu datang dan sangat kental meruak karna mereka tak tahu lagi harus melakukan apa.


"Kenapa tiba-tiba begini? Seluruh rancangan dan rencana itu sudah matang. Dimana letak permasalahannya?" Tuan Horneo panik.


"Master tak menyukai Desainnya." gumam Zion memijat pelipis yang terasa nyeri. Apalagi dua pria paruh baya ini memang sudah mengkerahkan kemampuan mereka tapi tak di sangka masih saja salah.


"Apa yang harus kami lakukan? Tuan!"


"Yah. Tuan tahu sendiri jika di Meeting kali itu semuanya sudah di setujui." timpal Mr Franzer putus asa. Jika di ulang lagi mereka tak mungkin sanggup jika menyelesaikan dalam waktu singkat sesuai dugaannya.


Mendengar itu Zion menghela nafas dalam. Ia tahu bukan ini masalah yang menjadi pemicu amarah Masternya. Sejak kepergian Stella semalam pria itu jadi sangat-sangat aneh.


"Kalian periksa kembali. lakukan yang terbaik sebisa mungkin dan berikan padaku! Aku akan berusaha bicara pada. Master!"


"Terimakasih. Tuan! kami sangat berharap jika kami tak melakukan kesalahan."


"Aku mengerti. pergilah!" pinta Zion dan diangguki keduanya. Mereka melangkah pergi ke arah Lift untuk pergi ke lantai bawah.


Saat Lift umum itu terbuka. Tampaklah sesosok wanita berstelan kemeja wanita bisnis dengan tampilan begitu berkelas. Kali ini ia melenggang bersama Asistennya yang berkulit lebih eksotis.


Melihat kedatangan Linnea. Zion segera mengumpat kasar. Ini bukan waktu yang tepat tapi kenapa mereka semua seakan mendukung bencana terjadi?!


"Kau kenapa?"


"Nona!" sapa Zion lada Linnea yang menatapnya sinis.


"Kau tak suka aku datang?"


"Bukan begitu. Tapi, Master tengah tak bisa di ganggu." jawab Zion masih penuh hormat. Linnea hanya melenggang tak perduli masuk keruangan Xavier dengan percaya diri.


"Sayaaang!"


Sapa Linnea berdiri di ambang pintu. Asistennya tak berani masuk karna dari sini saja ia bisa merasakan aura tak biasa dari dalam sana. Tentu ia sangat takut jika berhadapan dengan sosok gagah itu.


Sementara Xavier. ia tak menggubris Linnea karna otaknya sekarang tengah kacau dan kusut. Dadanya panas dan selalu tak fokus pada apapun.


"Sayang! Aku datang membawa kabar baik untukmu."


Xavier menegakkan tubuhnya menatap tajam Linnea yang merasa kali ini pandangan Xavier benar-benar tak ingin di ganggu.


"S..Sayang! Kau.."


"ZIOOOONNN!!!"


Bentakan Xavier membuat Zion menerobos masuk membuat Linnea cukup terkejut. Ia sampai jantungan dengan dada berdegup kencang menahan aura intimidasi dari pria ini.

__ADS_1


"M...master!"


"Bawa dia keluar!" titah Xavier sudah menahan amarah melihat wajah Linnea yang sudah lama memupuk rasa geram di dalam dirinya.


"Patriack! Apa-apaan ini?"


"Nona! Sebaiknya keluar dulu." gumam Zion tak mau ada masalah besar lagi. Tapi, bukan Linnea namanya kalau menurut pada perintah orang lain.


"Tidak! Aku datang kesini bukan untuk bermain-main. Aku datang sebagai rekan kerja."


"Nona. Mohon keluar!" tegas Zion membuka pintu ruangan. Linnea tak menggubris hal itu bahkan ia mendekat ke meja Xavier yang tengah kacau dan sulit mengendalikan dirinya.


"Aku membawa proposal dari Perusahaan! Mommy mu sudah setuju jika aku bekerja sama dengan Perusahaan mu. Jadi, kau tak berhak mengusirku."


"Nona!" gumam Zion pucat kala melihat wajah dingin Xavier sudah membekukan ruangan ini. Ia tak sanggup lagi jika Bencana semalam akan terulang lagi.


Melihat Xavier yang menatapnya dengan gejolak amarah Linnea jadi takut tapi ia kekeh untuk tetap disini.


"Aku ingin disini!"


"Master!" lirih Zion kala melihat Xavier berdiri mengambil Jasnya di atas kursi. Lalu melangkah pergi melewati Linnea yang syok akan apa yang Xavier lakukan.


"Kau.. Kau mau kemana??"


Xavier tak menjawab. Asisten Linnea yang tadi di luar sampai menunduk tak berani menatap Xavier yang melangkah ke arah Lift khusus untuknya di ikuti Zion dari belakang.


"Sialaan!! Kenapa jadi begini??" umpat Linnea dari depan pintu melihat Xavier sudah di bawa Lift ke Lobby bawah.


Tak ingin diam saja. Linnea segera menelfon Mommy-nya agar bisa memberi rencana selanjutnya.


"Mom!"


"Ada apa lagi. Ha?"


"Jangan pancing amarahnya. Kau bersikap saja seperti rencana pertama."


"Tapii.. "


"Nea! Ingat, untuk menundukan Pria seperti itu kau harus masuk dalam dunianya. MENGERTI?"


"Baiklah.,


Linnea menghela nafas dalam dan pasrah. ia mematikan sambungan lalu kembali melangkah ke arah Lift biasa. Ia harus berbicara dengan Administrasi Perusahaan ini dan Dewan Direksi segera.


.................


Sementara Xavier. Ia sudah sampai ke Lobby khusus untuknya dimana Zion sudah bergegas mengambil Mobil tetapi, saat melihat Mobil itu Xavier merasa sangat lelah padahal masih siang.


"Master!"


"Hm."


Xavier masuk ke Mobil yang sudah di buka Zion yang segera menutupnya. Ia juga kembali duduk ke kursi kemudi menjalankan Mobil Stabil ke area depan Perusahaan.


Dua penjaga di depan sana membungkuk membiarkan mereka keluar meninggalkan Bangunan tinggi dan megah Perusahaan EMC.


"Master! Kau ingin kemana?" tanya Zion kala melihat Xavier menyandarkan tubuhnya ke kursi Mobil dengan mata menatap ke area luar jendela.


Xavier seakan tak mendengar pertanyaan Zion karna pikirannya sudah berkelana ke seluruh dimensi. Wajahnya tampak masih datar dan beku.


"Master! Kau masih ada jadwal menghadiri Pertemuan penting dengan Dewan Direksi malam ini. Belum lagi, Undangan Pesta dari Mr Lemoner yang sampai kemaren."


"Aku tak pergi!" jawab Xavier seraya memijat pelipisnya yang berdenyut. Baru kali ini ia merasakan kelelahan yang begitu berat sampai tidur-pun tak bisa mengobatinya.

__ADS_1


Lirikan mata Xavier beralih ke kursi samping tempat ia duduk. Biasanya sosok bermulut pedas itu selalu bertingkah aneh dan terkesan berisik, tapi sekarang rasanya sangat sepi dan kosong.


Lama Xavier diam tak memperdulikan kemeriahan Kota sampai kekosongan ini tetap ada ketika sudah mau memasuki Jembatan menuju Hutan Villa.


Baru pertama kali dalam sejarah hidupnya Xavier pulang siang padahal selama ini sebelum mentari berganti bulan bahkan sampai esok hari ia selalu beraktifitas padat di luar.


"Master! Aku akan mencansel jadwal hari ini. Master bisa istirahat dengan benar."


"Hm."


Xavier hanya acuh memejamkan matanya hingga Mobil ini sudah sampai di area jalan Villa. Suara deru ombak stabil di pantai sana terdengar sebagai pertanda yang jelas.


Para Penjaga Villa terperanjat melihat Mobil Masternya datang padahal ini masing siang. Mereka saling pandang tapi tetap membungkukkan tubuhnya ketika benda mewah ini sudah masuk ke Pagar Villa.


Kakek Le-Yang dan Efika berlari keluar dan cukup terkejut akan hal ini. Tapi, ia masih berusaha bersikap normal saat Xavier sudah keluar dari Mobil.


"Master!"


Xavier seperti biasa hanya melewati mereka masuk ke dalam Villa. Efika yang tak membawa nampan gelas seperti biasa jadi takut di marahi Pria ini.


"Master! Maaf, saya kira anda tak akan pulang sesiang ini. Jadi.."


Kalimat Efika tercekat kala Xavier terhenti di dekat lantai utama di dekat anak tangga bawah. Lirikan mata tajam itu menghunus ke arah ruang santai dimana tak ada lagi Vas bunga yang kemaren Stella letakan di sana.


Tahu akan tatapan dingin Xavier. Efika segera mendekat dengan niat ingin menjelaskan.


"Sesuai perintah anda. Master! Semua barang-barang Nona Stella sudah di buang dari Villa."


"Kau buang?"


Efika terperanjat kala Xavier berbalik menatap membunuh ke arahnya. Hal itu seakan mencekik leher Efika yang memucat di tempat begitu juga dengan yang lain.


"M..Master!"


"BERANI KAU MEMBUANGNYAA!!!"


Praannkk..


Kaca Jendela Villa sampai pecah karna tekanan kuat dari suara keras Xavier yang membuat Efika gemetar. Kakek Le-Yang jadi ikut pucat berdiri di samping Zion yang tak mengerti.


"M..Master!"


"Kau mulai berani. Hm?" geram Xavier mengepalkan tangannya membuat Efika mencekik dirinya sendiri. Hal itu membuat mereka syok dengan Zion yang segera mendekat.


"M..Master uhuukk.. A..ampun.."


Mata Xavier mengigil hebat meluapkan amarahnya. Ia tak perduli harus membunuh siapa hari ini tapi jelas ia hanya ingin membunuh seseorang.


"Kalian lara wanita hanya akan membuat hidupku MENDERITA." geram Xavier semakin menguatkan kepalannya membuat Efika sudah pucat dengan mata terbelalak jatuh ke lantai dingin ini.


"ENYAHLAH DARI PIKIRKANKUU!!!"


Geram Xavier menghempaskan tangannya membuat tubuh Efika terpental ke arah kaca yang tadi pecah.


Keadaan kembali mengancam bahkan bisa saja Xavier akan membantai habis seluruh manusia disini hanya karna frustasi dengan apa yang dia rasakan sekarang.


Deru nafas Xavier naik turun. Ia hanya ingin menghancurkan sesuatu agar rasa sesak dan aneh di tubuhnya bisa hilang dan ia akan kembali seperti biasanya.


Zion yang melihat itu hanya bisa diam. Baru setengah hari wanita itu pergi tapi Masternya sudah membuat mereka tersiksa bagai Neraka.


"Tuan! S..saya mohon, kembalikan Nona Stella! Kami tak kuat seperti ini terus." lirih Kakek Le-Yang kasihan melihat para pekerja disini. Dari malam itu mereka selalu merasa akan di habisi dengan kejam padahal saat ada Stella, pria ini akan banyak bersikap aneh.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2