
Mentari yang tadi bersinar sudah di gantikan oleh Rembulan yang kali ini terlihat indah. Untuk pertama kalinya banyak taburan Bintang di atas langit sana seakan malam ini mereka tengah bahagia.
Bahkan, dengan teganya memberi kilauan berlian yang begitu bebas di hamparan gelap itu tanpa memperdulikan seorang wanita cantik dengan rambut pendek sebahu itu semakin tenggelam dalam lamunannya.
Netra biru itu terus menatap iri pada gemerlap bintang yang mengolok kesunyian yang ia rasakan sekarang. Bahkan, ia tak lagi merasakan hawa dingin karna tubuh moleknya hanya dibaluti Gaun tidur tipis dengan tali kecil di kedua bahu putihnya.
Alhasil pesona seorang Stella langsung menguar bahkan kesan seksi bak Peri surgawi itu melekat kuat padanya.
"Kapan dia akan mengerti?" gumam Stella mengambil nafas dalam. Saat mendapat panggilan misterius itu Stella jadi sadar jika hubungannya dan Xavier itu belum ada ikatan apapun.
Mereka masih berjalan di atas permukaan air yang bisa kapan saja akan tenggelam jika ada ombak menghadang. Genggaman tangan itu tak kuat tanpa ada ikatan yang pasti.
"Apa dia memang tak ada niatan untuk serius denganku? Apalagi dia selalu menganggap urusan apapun itu tak perlu memberitahuku."
Lirih Stella meremas jemari lentiknya. Setelah beberapa saat Stella mulai tersentak kala merasa ada yang sedari tadi memandangnya. Nyatanya itu Dokter Ryker yang berdiri di depan Taman di bawah Balkon Stella.
"K..kau.."
Stella tersentak segera menutupi bagian dadanya. Dokter Ryker tak semesum itu sampai menikmati pemandangan indah ini. Ia hanya melihat wajah Stella yang tampak tengah bermasalah.
"Pakailah sesuatu yang hangat!"
"A.. Sejak kapan kau disitu?" tanya Stella bersembunyi di balik Pagar Balkon. Dokter Ryker hanya mengulum senyum memalingkan wajahnya ke arah Pagar Taman.
"Sejak kau berbicara sendiri seperti seorang Pantomim."
"Kau bilang apaa??" suara tak suka Stella yang melotot mendengar ucapan Dokter Ryker barusan.
"Mau jalan-jalan ke Pantai?" tawar Dokter Ryker membuat Stella terdiam cukup lama. Ia menoleh kebelakang dimana Baby Ester tadi sudah tidur setelah meminum Asi.
Apa tak masalah? bagaimana jika Xavier marah lagi dan mengacaukan segalanya?
Stella sungguh khawatir. Tapi, ia juga butuh teman untuk bercerita seperti ini karna Nyonya Clorie tak akan paham dengan perasaanya sekarang.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama akhirnya Stella masuk ke kamar mengambil Mantel hangatnya. Ia tak lupa menutup Balkon kembali lalu melihat putranya yang masih nyenyak di atas ranjang.
"Baby! Tidurlah yang nyenyak. Mommy keluar dulu. Hm?" bisik Stella melihat Baby Ester di dalam Keranjang Bayi.
Setelah memastikan si kecil itu aman dari bahaya apapun, barulah Stella keluar kamar. Langkahnya terburu-buru karna tak mau mengundang kehebohan disini.
Setelah beberapa lama akhirnya ia telah keluar dimana Dokter Ryker sudah ada di pintu samping Villa. Melihat kedatangan Stella wajah Pria berkacamata itu langsung menghangat.
"Aku kira kau tak akan turun!"
"Ayo!" ajak Stella mendahului Dokter Ryker untuk berjalan ke arah pantai. Ia tak lewat di depan karna ada para Penjaga Villa yang akan memperburuk suasana kala melihatnya bersama Dokter Ryker.
Disepanjang jalan menuju arah Pantai Stella hanya diam mengeratkan Mantelnya. Angin dingin ini berhembus membuat rambut Stella berkibar indahnya jantung Dokter Ryker yang berjalan di belakangnya.
"Apa lukamu sudah sembuh?"
"Belum!"
"Ha? Lalu kenapa kau mengajakku kesini? Lebih baik kau istirahat. Tuan Dokter!" jawab Stella menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap wajah agak pucat Dokter Ryker yang tersenyum kecil.
"Baru kali ini ada yang perduli padaku." gumam Dokter Ryker membuat Stella diam cukup lama. Pandangannya mulai terlihat sulit karna tak biasanya Dokter Ryker bersikap sendu dan tak ceria begini.
"Kau yang pertama menanyakan kabarku!"
__ADS_1
"Maaf." gumam Stella tahu jika Dokter Ryker tak punya orang tua. Pasti rasanya sangat sedih kala menghilang dalam kehidupan duniawi secara paksa.
"Kenapa minta maaf?"
"Aku membuatmu mengingat hal buruk." jawab Stella penuh sesal. Dokter Ryker menggeleng berjalan mendahului Stella yang beralih mengikutinya dari belakang.
"Tidak. Justru aku menemukan hal baru saat melihatmu."
"Ayolah. Jangan mencari masalah lagi. Tuan Dokter!" bantah Stella yang menjaga jarak dengan Dokter Ryker. Alhasil ucapan Stella barusan membuat Dokter Ryker terdiam menghentikan langkahnya di bibir Pantai.
"Apa Master melukaimu lagi?"
"Tidak." jawab Stella berdiri di samping Dokter Ryker hanya berjarak satu lengan saja. Keduanya sama-sama menatap ke arah lautan gelap ini dengan sangat dalam.
"Kenapa kau tadi melamun? Ada hal yang salah?"
"Emm. Tidak!" jawab Stella lagi tapi Dokter Ryker tahu jika Stella pasti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Master lagi-lagi menyakitimu."
"Tidak juga. hanya saja aku tak paham dengan cara pikirnya." jawab Stella menghela nafas berat. Ia juga tengah bingung mau bagaimana lagi hidupnya berjalan.
Keluarga Xavier tak menerima kehadirannya dan selalu ingin menghabisi. Dulu ia kira ini akan mudah tapi lama-kelamaan mulai terasa mustahil.
"Master punya sudut pandangnya sendiri."
"Yah. Tapi aku sering merasa tak sejalan dengannya." gumam Stella dengan suara rendah. Dokter Ryker terdiam sesaat lalu menatap wajah cantik Stella yang bimbang.
"Kau mencintainya?"
"Apa begitu terlihat?" tanya Stella dengan senyum kaku. Jelas ia tak terlalu memperdulikan pernyataan Cinta itu tapi jauh dari lubuk hati Stella ia memang sangat susah mengerti.
"Aku tak tahu apa Perasaanya padaku? Dia memang mengajak untuk memulai bersama tapi bukan berarti dia serius-kan?" tanya Stella tetapi Dokter Ryker hanya diam. Dunia Percintaan memang sangat rumit.
"Bagaimana dengan Bayi kalian?"
"Dia memang tak terlihat bersemangat dan serius. Tapi, aku masih yakin Xavier menyayangi Putraku." gumam Stella tak meragukan hal itu.
"Stella! Aku sudah lama bersama Master dan dia selalu tak punya hal yang harus di perjuangkan kecuali nama Keluarga dan Kekuasaan. Dia Monster yang sangat mengerikan jika menyangkut tentang Kedudukan di Elbrano."
"Maksudmu?" tanya Stella tapi Dokter Ryker terlihat sangat berat dan rumit mengatakan hal ini.
"Kau punya sesuatu yang Keluarga Elbrano inginkan untuk menyembuhkan Yang Mulia Lucius."
"Darahku?"
Dokter Ryker mengangguk. Stella jadi terdiam karna merasa jika Xavier dulu juga menginginkan darahnya.
"Kau harus berhati-hati. Jaga dirimu dan bayimu karna kalian berdua adalah Pion yang sangat berharga." tegas Dokter Ryker serius. Tatapannya mengartikan kecemasan pada Stella apalagi saat Tuan Attacus datang bersama Nyonya Matgretta dulu ke Villa. Pasti ada yang tengah di rencanakan oleh para iblis itu sekarang.
"Terimakasih. Aku akan berhati-hati."
"Yah. Apapun itu kau harus melindungi dirimu sendiri. Aku tak sekuat itu bisa membawamu pergi. Stella!" gumam Dokter Ryker yang tak bisa membebaskan Stella dari Neraka yang selalu berubah-rubah ini.
Mendengar hal itu Stella tak terlalu memikirkannya. Ia juga masih nyaman disini dan belum ingin untuk pergi lagi. Ia terlalu sayang dengan dunia ini tapi Stella malas mengakui jika ia mulai ketergantungan dengan Xavier.
"Jaga saja dirimu baik-baik. Aku tak mau melihat seorang Dokter yang tak bisa menyembuhkan dirinya sendiri."
__ADS_1
"Kau menyindirku?" sinis Dokter Ryker menaikan satu alisnya menatap Stella yang terkekeh kecil menepuk bahu Dokter Ryker yang ikut tersenyum karnanya.
"Yah. Nyatanya kau paham juga."
"Ouuhss.. Kau mulai mengeluarkan jurusmu."
Sontak keduanya langsung tertawa dengan bebas tanpa memperdulikan sesosok Pria yang sudah di lahap bara api di kejahuan sana.
Bunga yang tadi ia bawa dan rangkai dengan sulit digenggaman tangan kekarnya seketika mengkerut bahkan langsung terbakar menjadi abu.
Wajahnya mengeras dengan sorot mata abu mengigil hebat menatap tak berkedip pada dua Mahluk yang tengah bercanda tawa di bibir pantai sana tanpa memperdulikan ada satu jiwa yang tengah tak baik-baik saja.
Sakit dan panas sesak bercampur muak mengaduk-aduk batinnya.
Zion yang baru saja turun dari Mobil terdiam kala melihat pemandangan ini. Ia menunduk karna merasakan jika tanah ini mulai terasa panas untuk di pijaki.
"M..Master!"
Lirih Zion takut dan gemetar. Ia memejamkan matanya tak ingin melihat hal yang mengerikan dari kemaren tepi sedetik kemudian ia tersentak kala Xavier merampas kunci Mobil di tangan Zion lalu masuk ke dalam Mobilnya.
Besi baja mewah itu melaju dengan sangat kencang ke luar dari Pekarangan Villa sampai terdengar ke arah Stella.
Sontak Stella sadar jika Xavier sudah kembali dan tampaknya tengah ada masalah.
"Astaga! Dia.."
"Aku akan mengejarnya!" gumam Dokter Ryker tapi Stella menahan lengannya.
"Jangan! Dalam keadaan seperti itu dia akan membunuhmu."
"Tapi, bisa saja Master berfikir yang tidak-tidak." jawab Dokter Ryker tapi Stella segera berlari kecil ke arah Zion yang menatap hampa ke arah lampu Mobil mewah yang sudah hilang di depan sana.
"Ziooon!!"
Suara Stella membuat Zion diam. Ia tak menoleh sama sekali karna merasakan sakit hati dari Masternya.
"Zion! Ada apa? dimana Mastermu?"
"Untuk apa kau bertanya padaku." ketus Zion melayangkan pandangan tak sukanya pada Stella dan Dokter Ryker lalu melangkah pergi ke dalam Villa.
Stella terdiam. Ia melihat ada abu yang berserakan di dekat Pagar dan itu terlihat baru saja disini.
"Ini.."
Gumam Stella tak mengerti. Ia beralih menatap ke arah Villa dimana Kakek Le-Yang tampak membawa satu tangkai bunga dan begitu juga para Pelayan yang lain.
Tatapan mereka sangat kecewa pada Stella yang merasa di tusuk berbagai duri di dadanya.
"Kalian.."
Efika sudah pergi lebih dulu diikuti yang lainnya. Hal itu sontak membuat Stella terkejut dan merasa sakit di dadanya. Ini bukan sakit untuknya tapi ia mulai merasakan sesuatu dari Xavier.
"B..Bunga.. dan.."
Apa Xavier yang melakukan ini? Dan lilin juga?
Batin Stella menutup mulutnya ke arah Taman yang tiba-tiba sudah menyalakan Lilin di setiap Pagarnya. Aroma harum Bunga mawar dan Gardenia ini membuat suasana hangat yang telah buyar di laksanakan.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..