YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Mulai Curiga


__ADS_3

Sesuai konsep yang pertama Xavier usung sekarang mereka sudah dalam Perjalanan menuju Kota Melbron. Pesawat pribadi milik Xavier sudah terbang stabil dimana Pilot yang sudah biasa membawa Benda mahal ini mendaki awan dan langit biru maupun hitam.


Walaupun suasana mendung dengan langit tanpa bintang yang tampak kesepian, laju Pesawat masih dalam pengontrolan.


Para Staf Pesawat yang bertugas sedari tadi sibuk memastikan jalur yang aman dan Pramugari juga tengah menanyai para bawahan Xavier yang sudah duduk di kursi masing-masing.


Mereka tengah mengawal Stella yang sedari tadi tidur di kursi Pesawat yang memang di desain khusus untuk bepergian jauh.


Kursinya bisa di ubah menjadi tempat berbaring dimana peggangan lengan itu bisa dijadikan penyangga. Sangat nyaman dan empuk di lengkapi selimut penghangat.


Sementara Nyonya Clorie hanya diam duduk tak jauh dari Stella. Ia memandangi putrinya yang tengah tertidur nyenyak sedari di Rumah Sakit tadi.


"Nyonya!"


Ia tersadar kala ada Pramugari Pesawat yang menyapanya dengan wajah ramah. Wanita Bule asli ini tersenyum dengan gestur elegan berdiri di dekatnya.


"Apa Nyonya butuh sesuatu?"


"Tidak!"


Jawab Nyonya Clorie dengan suara datar. Wanita itu hanya bisa diam mengangguk lalu kembali kebelakang.


Hal itu di lihat oleh Zion dan Xavier yang baru saja keluar dari ruangan khusus pertemuan penting di belakang. Interaksi Nyonya Clorie memang sedari tadi sangat tak baik. Ia ikut tetapi sama sekali tak mau menyapa Stella atau Xavier.


"Master! Kau butuh sesuatu?"


"Bawakan bubur dan Salad sayur!" Titah Xavier seraya melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah 7 Jam Stella tidur sampai sekarang belum mau di bangunkan.


Waktu makannya hampir terlewat dan tak bisa di biarkan begitu saja.


Tak ingin bertanya dua kali. Zion segera mendekati Pramugari di belakang sana mengatakan tentang permintaan Masternya.


Suasana Pesawat sangat hening hanya membiarkan suara Mesin yang menderu samar karna berbenturan dengan angin. Jika mereka jangan di tanya. Xavier tak membiarkan suara bising itu menganggu Boneka Saljunya yang tengah beristirahat.


"Master!"


Para bawahan berdiri kala Xavier melewati mereka. Dengan kharisma yang mendominasi. Xavier mengibaskan tangannya dengan isyarat untuk pergi dari area ini.


Tentu mereka mengerti dan pergi ke ruang di belakang membiarkan seorang Pramugari membawa Nampan saji berisi pesanan Xavier yang masih berdiri tak jauh dari Stella.


"Ini Master!"


"Pergilah!" titah Xavier seraya mengambil Nampan itu. Ia berjalan mendekat tak menggubris keberadaan Nyonya Clorie yang hanya menatap lurus kedepan tanpa menghiraukan Xavier.


"Kalian selalu pandai membolak-balikan hati manusia."

__ADS_1


Batin Nyonya Clorie sangat tahu jika Xavier hanya ingin mengambil kepercayaan Stella. Saat mengingat bagaimana cerita Stella soal anak itu, Nyonya Clorie sangat tak percaya bahkan tak mau menerima kehadiran Xavier. Ia pergi itu hanya demi posisi Stella yang masih terpengaruh Xavier.


Lihatlah. Bagaimana sekarang dia benar-benar menguasai hati Putriku?! Kelicikan kalian tak pernah aku lupakan.


Batin Nyonya Clorie muak kala melihat Xavier duduk di samping Kursi yang sudah datar. Nampan itu ia letakan di atas meja di dekatnya lalu menatap lembut wajah damai Stella.


"Hey!" bisik Xavier mengusap pipi lembut Stella agar bangun. Ia sedikit menyibak selimut mengguncang halus lengan Stella yang masih di perban tipis.


"Bangunlah! Nanti kau bisa tidur lagi." ucap Xavier kembali menepuk kecil pipi Stella. Karna gangguan halus ini tentu Stella menggeliat tapi ia tak membuka mata. Hanya posisi tangan yang berubah naik ke atas paha Xavier yang menghela nafas dalam.


"Bangun!"


"Ehmm.. 5 menit." gumam Stella dengan suara parau yang masih malas membuka mata. Ia kembali menarik selimut menutupi diri sampai hanya puncak kepalanya yang terlihat.


Tahu ini akan terjadi. Xavier segera menyusupkan tangannya di sela Selimut mencari hidung mungil ini. Saat sudah ketemu, dengan pelan Xavier memencetnya hingga suara garang Stella mulai terdengar.


"Lepaasss!!!" kesal Stella menyibak selimut dengan mata sayu terbuka berat. Ia menepis tangan jari Xavier yang memencet hidungnya yang merah karna perpaduan kulit putih Stella sangatlah bersih dan semuanya terlihat jelas.


"Bangun!"


"Aku mau tidur. Tiduuur!!" rengek Stella tak mampu menahan rasa kantuk di matanya. Ia memang sering merasa ngantuk terlalu berlebihan sampai dimana tempat Stella selalu menyempatkan waktu untuk tidur.


"Hanya sebentar."


"Tidur. Tiduur!" gumam Stella kembali memejamkan matanya. Alhasil Xavier tak bisa memaksa Stella untuk bangun.


"Vee.." lirih Stella masih enggan membuka mata. Ia memang meracau dan mengomel tak jelas tapi mulutnya masih terbuka dan ide Xavier tidaklah buruk.


"Cukup buka mulut dan kunyah. Paham?"


"Ehmm." gumam Stella mengangguk saja. Xavier menggeleng jengah lalu mengambil Mangkuk bubur di atas Nampan tadi dan merasakan Mangkuk ini masih hangat.


Tapi, Xavier tak sungkan untuk meniupnya terlebih dahulu dan baru menyuapi Stella yang awalnya tak merespon tapi Xavier membuat mulutnya bergerak stabil.


Sesekali Xavier tampak mengulum senyum geli yang samar terlihat tetapi Nyonya Corlie bisa menangkap dari sudut matanya.


Dari raut wajah dan gestur Pria itu memang seperti sangat mencintai Stella. Tapi, hal yang sama juga pernah ia alami. Bahkan, rasanya masih belum percaya jika dia mengkhianati Cinta mereka.


Tak ingin Xavier melakukan hal yang sangat ia benci. Nyonya Clorie berdiri lalu mendekat dengan wajah datarnya.


"Aku akan melakukannya!"


"Aku bisa." jawab Xavier tetap menyuapi Stella yang tak menyadari sikap dingin Ibu Mertua dan Menantu ini. Ia masih terkurung dalam suasana tidurnya yang terlalu nyenyak.


Tanpa banyak bicara lagi. Nyonya Clorie mengambil alih mangkuk di tangan Xavier yang terdiam kala kesabarannya kembali di uji oleh dua wanita keras kepala.

__ADS_1


"Aku MOMMYNYA!" tekan Nyonya Clorie masih tak percaya.


Xavier menghela nafas dalam. Ia tak bergerak dari tempat duduknya bahkan beralih mengambil piring salad.


Dengan wajah sama-sama datar Xavier menyuapi Stella yang juga menerimanya. Tanpa di sadari tangan Stella meraba-raba bagian perut Xavier untuk mencari liukan otot-otot keras yang biasa ia peggang.


"Vee.. Emm!"


Tanpa menunggu lagi. Xavier memasukan tangan Stella ke sela Kaos yang ia pakai membiarkan jemari lentik itu mencari mainan pengantar tidur di perutnya.


Dan tentu saja tak butuh waktu lama, Stella sudah tenang dan asik dengan kegiatannya sendiri.


Melihat hal itu Nyonya Clorie langsung membuang muka. Nyatanya hubungan Xavier dan Stella sudah sejauh ini bahkan ikatan keduanya sangat kuat.


Dreett..


Ponsel Xavier menyala menghentikan tangannya yang tadi ingin mengangkat Garpu. Xavier meletakan benda di tangannya ke atas Nampan lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Ada Nomor tanpa nama dan akhirannya angka 20. Tanpa berfikir lagi Xavier langsung mematikannya dan kembali melanjutkan kegiatan manis ini.


Tentu Nyonya Clorie melihat Nomor itu. Ia yakin jika Xavier tak hanya memiliki satu wanita tapi begitu banyak. Logikanya, apakah seorang pria Tampan, kaya raya dan sangat berkharisma seperti Xavier bisa di acuhkan wanita?


"Akan ku buktikan pada Putriku jika kau punya wanita lain di belakangnya."


Batin Nyonya Clorie tak mau Stella terjebak dengan dunia seperti yang ia alami. Cukup ia dan jangan sampai Stella juga.


....


Sementara di dalam Mobil mewah yang tengah melaju stabil untuk pulang ke Kediaman itu tampaklah seorang wanita yang tengah membanting Ponselnya kuat ke lantai Mobil.


Deru nafasnya memburu dan sangat muak dengan ketidak pedulian Xavier padanya. Beberapa minggu ini ia melakukan semuanya dengan baik bahkan ia sudah mendapatkan banyak pujian dari para Kolega Bisnis EMC.


Tapi, sedikit-pun Pria itu tak pernah bertanya atau mengangkat panggilannya.


"Siaall!! Dia ini mau apa? Aku sudah melakukan segalanya tapi lihat apa yang dia perbuat padaku!!!" geram Linnea menggertakan giginya penuh emosi.


Asistennya hanya diam tetapi sudah mencari tahu apa yang di lakukan Xavier ke Kota Borneo.


"Nona! Presdir melakukan kunjungan ke Sekolah Staten Island. Dia memilih satu Murid untuk magang di Perusahaan EMC."


Linnea terdiam sesat. Dengan raut wajah masih dalam keadaan emosi otaknya berfikir cukup jernih.


Selama ini kau tak pernah mau mengambil Program seperti itu dan sekarang kau sampai tak pulang karna itu. Pasti ada yang kau rencanakan dan sembunyikan dariku Patriack. Pasti.


Batin Linnea semakin curiga. Xavier jadi berubah beberapa bulan ini seakan pria itu memprioritaskan sesuatu hal selain Pekerjaannya seperti biasa.

__ADS_1


"Vote and Like Sayang..


__ADS_2