YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Aku mencintaimu!


__ADS_3

Setelah melakukan Drama yang menggelikan di Perusahaan tadi akhirnya Xavier membawa Stella untuk makan. Walau Xavier ingin menyiapkan ruangan untuk Stella makan tapi nyatanya wanita itu ingin Makan di luar dan seperti biasa yang terjadi adalah Kemauan Stella selalu diprioritaskan olehnya.


Seperti sekarang. Stella ingin makan di nuansa Pantai dengan suasana tenang tak ada keramaian dan kesibukan Kota.


Ia ingin makan seraya melihat Biota-biota laut yang tengah hidup dan terlihat bergerombol terlihat sangat indah.


Dan sekarang ia tengah berjalan dengan kedua mata tertutup dan satu tangannya digenggam lembut oleh Xavier yang mengiringnya ke suatu Tempat.


"Vee! Kau jangan aneh-aneh."


"Ikut saja." gumam Xavier mengiring langkah Stella dengan hati-hati. Suara deru angin berhembus mengibas wajah mereka dengan suara riak air terasa jelas.


Benarkah Xavier akan memenuhi keinginannya padahal Stella tak serius mengatakannya?!


"Vee! Aku hanya bercanda tadi. Kau bisa membawaku ke tempat Makan apapun. Tak harus yang seperti itu."


"Diamlah!" jawab Xavier terus mengiring Stella hingga pendengaran tajam wanita itu langsung menangkap ada suara-suara aneh di bawah tempat dimana kakinya berpijak.


"Vee! Ayolah. Kau jangan membuatku takut."


"Saat aku sudah menyuruh membuka mata. Maka langsung buka. Hm?"


Stella mengangguk hanya menurut hingga langkahnya terhenti kala Xavier tak lagi menariknya. Ia diam menunggu apa yang dilakukan Pria ini tapi seketika ia menyeringit kala Xavier melepas genggaman.


"V..Vee!" Stella mencoba mencari keberadaan Xavier tapi tak membuka matanya. Ia meraba hampa tempat di depannya.


"Vee! Kau dimana? Kau.."


"Buka!"


Suara Xavier terdengar halus membuat Stella segera membuka matanya. Sontak matanya melebar kosong kala melihat Xavier tengah berjongkok di hadapannya dengan satu tangan memeggang Kotak Cincin dan satunya lagi menggenggam Buket bunga Gardenia yang terlihat indah.


Mata Stella sampai tak berkedip seakan jika ia melakukan itu maka semua ini akan hilang. Mimpi indah ini akan membuatnya terbangun hampa.


"V..Vee!"


"Maukah kau menikah denganku?" tanya Xavier agak kaku bersikap romantis seperti ini karna ide Zion dulu masih ia tekuni.


Stella membekap mulutnya melihat jika mereka ada di Jembatan Kayu keras yang melintas seperti membelah Pantai ini.


Ada lilitan bunga di setiap Peggangan Jembatan didukung dengan rona air laut yang biru jernih menampakan Biota-biota laut saling mengejar bersama Lumba-lumba yang seperti berpasangan tengah berbaris di tepi Jembatan melihat Stella dengan tatapan yang hangat.


"V..Vee kau.."


"Kau mau jadi Istriku?" tanya Xavier lagi-lagi mengucapkannya. Mata itu untuk pertama kalinya terlihat sangat sendu dan begitu dalam tak seperti biasanya.


Sampai-sampai Stella merasa yang berjongkok di hadapannya ini adalah Pria yang berbeda. Bahkan, begitu merasa terharu Stella sampai berkaca-kaca menatap Cincin berlian putih di kotak itu dan wajah Tampan Xavier yang serius.

__ADS_1


"A..aku.."


"Cepatlah. Aku pegal." rutuk Xavier tak menghilangkan sikap menyebalkan itu. Stella tersenyum simpul mengusap air matanya yang jatuh sampai tak tahan untuk membendung isakan.


"V..Vee kau.. Kau kenapa se..secepat ini? Dan.."


"Ku pikir kau akan bahagia nyatanya menangis." gumam Xavier kembali berdiri. Ia memberikan Buket bunga di tangannya pada Stella yang dengan senang hati tapi masih terlihat menahan perasaanya.


"Aku..aku hanya merasa tak menyangka. Pria sepertimu bisa membuat hal seperti ini."


"Butuh kesabaran merangkainya." gumam Xavier mengusap pipi Stella dengan jempol tangannya yang menghapus kristal bening ini.


Stella mencium aroma harum rangkaian Bunga-bunga di tangannya kemudian langsung memeluk Xavier yang hanya setia dengan wajah datar tapi hangat itu.


"Terimakasih! Maafkan aku karna malam itu aku .."


"Aku tak ingin membahas orang lain disini." tegas Xavier membelai surai pendek Stella lembut. Jelas wajahnya langsung berubah kala pembicaraan akan kembali pada Dokter Ryker.


"Vee! Aku tak ada perasaan apapun selain dekat dalam artian Pertemanan. Aku tak menyimpan Perasaan apapun padanya."


"Dia itu hanya ingin menjauhkan mu dariku." desis Xavier tapi Stella menggeleng.


"Saat itu dia ingin menjelaskannya padamu. Vee! Aku melarangnya karna takut kau berbuat hal yang buruk lagi."


"Kau tahu apa kelemahan mu?" tanya Xavier memegang dagu Stella dengan jarinya. Kotak cincin itu kembali ia simpan di dalam saku celananya karna Stella masih belum sadar menjawab.


"Apa?"


"Kadang aku berfikir. Jika nanti aku tak ada siapa yang akan menundukan sikap keras kepalamu dan hati Boneka ini?!"


"Vee! Kenapa bicara begitu?" gumam Stella merasa sangat resah. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa kehangatan dan keberadaan Pria ini? Apa ia akan sanggup atau tidak Stella takut membayangkannya.


"Stella! Jika bisa memilih mana yang harus pergi lebih dulu maka aku memilih pergi mendahului mu."


"Sudahlah! Bicaramu mulai tak logis." umpat Stella menepuk dada bidang Xavier pertanda ia tak suka.


"Tak logis apanya?"


"Aku manusia biasa dan kau Bangsa Vampir. Secara logika yang harus pergi itu AKU.. Karna umurku tak sepanjang kau dan.."


"Aku tak akan membiarkannya." jawab Xavier tegas dan sangat berkomitmen. Ia menangkup kedua pipi Stella yang masih menatap Xavier dengan rasa kesal.


"Kau harua berumur panjang dariku. Menyenangkan melihat kau menangisi ku dari pada aku yang melihatmu pergi."


"Kau ini menyebalkaan!!" geram Stella memukul bahu Xavier yang mengulum senyum samar. Ia menarik pinggang Stella untuk merapat padanya.


"Aku jujur. Lagi pula aku tak sanggup hidup lama-lama denganmu."

__ADS_1


"Oh yaah?? Lalu untuk apa kau menyiapkan ini. Ha?? Upacara Perpisahan?" ketus Stella membuang muka ke arah lautan luas ini.


Ia masih memeluk erat Buket yang tadi Xavier berikan seraya menikmati pandangan area Pantai. Bisa-bisanya Xavier menyiapkan tempat seindah ini untuknya.


"Stella!"


"Hm? Jika membahas tentang itu lagi aku tak mau bicara denganmu dan.."


"Terimakasih." imbuh Xavier terdengar sangat dalam. Stella hanya bisa tersenyum dengan air mata lagi-lagi berderai. Ia tak menatap Xavier kara jelas hatinya akan kacau melihat mata abu itu.


"Jembatan ini kau pasang apa sampai begitu kokoh? Dan juga tak berayun? Apa kau.."


"Maafkan aku!"


"Lihat itu sangat tinggi bukan?" tanya Stella berusaha tak mendengar kalimat Xavier barusan. Ia menunjuk ke arah batu besar di bibir pantai Kota sepi pengunjung ini.


Ia sesekali mengusap air matanya karna perasaanya langsung tak enak sekarang. Melihat Stella yang juga sudah mulai merasakan itu Xavier langsung memeluknya dengan erat.


"V..Vee! Ikan-ikan ini.."


"Aku mencintaimu!"


Bisik Xavier membuat Stella meneggang. Tubuhnya kaku seakan-akan jiwanya tengah meresapi kalimat barusan yang terdengar tulus di bibir Xavier.


Matanya selalu berair meremas Buket Bunga di tangannya. Namun, saat Stella ingin berbalik memeluk Xavier tiba-tiba saja Xavier merasakan sakit di bagian dadanya.


"V..Vee!" lirih Stella melihat bagian leher Xavier menjalar urat hitam yang mengakar jelas.


"K..kau.. Kau apa yang terjadi? Apa?"


"Shitt! Dia benar-benar marah."


Batin Xavier menahan rasa menusuk di bagian jantungnya. Stella semakin kelut dan panik memeggang leher Xavier yang meremas pinggir pagar jembatan kuat masih tak ingin membuat Stella cemas.


"V..Vee! Kau.. Kau kenapa?"


"Kembalilah ke Perusahaan. Tofer sudah menunggumu." jawab Xavier mengusap kepala Stella yang menggeleng tetapi Xavier sudah melepas belitan tangannya.


"V..Vee.. Vee kau.."


"Pergilah! Aku masih ada pekerjaan. Sayang!" gumam Xavier mengecup lama pelipis Stella yang masih kekeh tapi Tofer sudah berlari kecil kesini.


"T..tidak. Kau.. Kau kenapa? Ada apa?"


"Urus pekerjaanmu. aku akan kembali untuk memeriksanya." jawab Xavier mengalirkan kekuatannya ke pagar ini untuk menahan guncangan area disini.


Ia tetap menjaga suasana tetap seperti biasa padahal semua Biota laut dan Lumba-lumba tadi sudah berenang menjauh.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2