
Mata tajam menghitam sepenuhnya dengan Asap pekat membawa angkara murka yang mengelilingi Tubuh tegap yang tengah menatap marah pada Xavier yang masih bertahan di tempat.
Deru angin semakin menggila bahkan Jendela ruangan ini sampai terpental ke arah Xavier yang dengan mudah menepisnya.
Amarah Kakek Lucius semakin menjadi-jadi kala tatapan Xavier sama sekali tak ada guratan penyesalan atau takut. Pandangan netra abu ini terkesan dingin seakan ia tak melakukan kesalahan apapun.
"Kau sangat MENGECEWAKAN KU." geram Kakek Lucius mengepalkan tangannya hingga lantai dibawah kaki Xavier langsung retak dengan rasa sakit di dadanya semakin menjadi-jadi.
Jelas kekuatan Xavier tak menyamai Kakek Lucius tapi jiwa besar dan beraninya tak bisa di tepis siapapun.
"KAU MENGECEWAKAN HARAPAN KUUU!!!"
Braakk..
Pintu yang tadi ada di belakang Xavier sampai terlepas langsung menghantam ke arah Xavier yang dengan cepat meringankan massa tubuhnya melayang di udara dengan kharisma ikut menyertai kakinya menendang benda itu ke arah luar tepatn nya hampir mengenai wajah Nyonya Margaretta yang memucat.
Melihat hal itu Linnea benar-benar kagum. Dalam kondisi tubuh yang jelas mengalami rasa sakit yang luar biasa, Xavier masih bisa mengontrol gerakannya.
"Masih Angkuh." desis Kakek Lucius langsung menghentakkan kakinya ke lantai hitam ini hingga Asap yang tadi memutari tubuhnya langsung menyerang Xavier.
Ruangan ini bergetar seakan ingin terjadi gempa yang dahyat karna lesatan Asap hitam itu sebenarnya adalah mata pisau yang sangat tajam bahkan bisa mengikis udara yang dilewatinya.
"Patriaack!!!" teriak Linnea melihat Xavier yang menghadang tanpa ingin mengelak.
Tetapi, Xavier segera melepas kepalan tangannya tadi yang seketika mengeluarkan kilatan merah seperti sabetan pedang menebas ke arah gumpalan hitam itu hingga menimbulkan ledakan di area luar Kediaman.
Wajah Xavier begitu tak tertebak bahkan ia seperti tak tergesa-gesa padahal Pasukan Arthas milik Kakek Lucius tengah menyerang tempat Putranya.
"Kauu..."
"Sudah?!" tanya Xavier dengan pandangan misterius. Matanya menyimpan banyak amarah tapi sudah dibekukan dengan sesuatu yang lebih mendominasi.
"Kau bicara seakan kau sudah tak ingin hidup di alam ini lagi. Dimana wibawa dan Prinsip Elbrano yang ku TANAMKAN PADAMU. HAAA??"
"Masih ada." jawab Xavier tegas dengan tubuh tetap tegap berdiri dan wajah yang pucat masih bersikeras menatap angkuh Kakek Lucius yang sangat membenci Pandangan ini.
"Kakek! Aku tak melupakan jerih paya mu menjadikanku seperti ini. Aku sangat menghormatimu."
"Masih berani kau bicara seperti itu sedangkan kau sudah menjatuhkan harga diri Yang Muliaa!!" sambar Apollo dengan mata berapi-api menyimpan api yang tengah berkobar.
Tatapan dingin Xavier beralih pada Apollo si Cenayang Keluarganya ini. Wajah Apollo tampak mulai pucat kala melihat sudut bibir Xavier tertarik misterius dan ia merasakan jelas jika kakinya juga tak kuat menahan hawa membunuh Xavier.
"K..kau.."
__ADS_1
"Kakek!" panggil Xavier tapi pandangannya tak beralih dari Apollo yang merasa di intimidasi.
"Apa kau tak merasakan sesuatu pada Mahluk MENJIJIKAN INI."
"XAVIEEERR!!!" Bentak Kakek Lucius langsung mengarahkan tangannya ke arah Xavier dengan kepalan yang seakan meremas jantung pria itu.
Dan benar. Xavier lagi-lagi merasakan dadanya di tusuk sangat dalam bahkan jantungnya sudah berpacu begitu cepat seakan ingin meledak.
Linnea melihat itu sampai terdiam karna jelas Xavier begitu tersiksa tapi tetap berdiri disini. Betapa sakitnya kala Wujud manusianya akan dihancurkan oleh Kakek Lucius yang memeggang kuasa akan Perwujudan Xavier yang dulu bersumpah akan Membawakan Darah murni itu pada Yang Mulia Lucius.
"J..Jantungku akan meledak."
Batin Xavier masih bertahan. Jika seperti ini terus maka ia tak punya banyak waktu untuk menyudahi semua ini.
"Berani kau bicara seperti itu pada APOLLO!!"
"Karna dia hanya memanfaatkan mu." desis Xavier membuat Apollo terkejut.
"Kau bicara omong kosong!!!"
"Takut?" geram Xavier sudah terlihat sangat ingin mencabik Apollo yang gemetar segera menghadap Kakek Lucius yang masih diam di tempat.
"Yang Mulia! Dia ingin menunda waktu karna akan memanggil pasukannya kesini."
Tubuh Apollo tersengat aliran listrik yang sangat kuat dari Xavier yang tadi sengaja menyerang dari belakang Kakek Lucius agar bisa mengenai Apollo yang sejatinya tak bisa melawannya.
"Y..Yang Mulliaa!!" geraman Apollo membuat Kakek Lucius yang tadi memijaki kepulan asap hitam di bawah kakinya di atas sana segera mengeraskan wajah.
"Kau memang sudah tak tertolong."
"Aku tak butuh pertolonganmu." desis Xavier beralih menghempaskan tangannya ke arah dinding di sampingnya hingga kilatan merah bercahaya tajam itu menyambar ke arah Kakek Lucius yang segera mengibaskan Jubah hitamnya.
Seiring dengan kibasan angin itu ternyata membawa Connor dan Eliem yang menyemburkan Tinta hitamnya ke arah Xavier sebagai balasan serangan mematikan ini.
Cairan panas itu melayang cepat tapi kalah cepat dari pergerakan Xavier yang sudah menghilang dari tempatnya tapi muncul di belakang Connor yang terkejut.
"Princee!!"
"Enyahlah!" geram Xavier menendang punggung Connor ke arah Apollo yang seketika masih belum bisa bergerak karna sengatan Xavier tadi melumpuhkan separuh sistem tubuhnya.
"Yang Muliaa!!" teriak Apollo kala Connor didesak untuk menyemburkan cairan hitam kental panas itu ke arahnya hingga lagi dan lagi Apollo mendapat siksaan yang sangat mengkhawatirkan.
Melihat Xavier yang tampak hanya mengincar Apollo, Kakek Lucius langsung diam. Ia tahu watak Xavier yang selama ini begitu keras tapi tak pernah membangkang padanya.
__ADS_1
"Kau tak mengingat ucapanku dulu. Prince!" tegas Kakek Lucius dengan mata masih menatap lurus kedepan.
"Manusia itu sangat pandai memanipulasi. Jangan seperti Pamanmu tapi kau juga menuruti langkahnya. Kau ingin sepertinya juga?" imbuhnya dengan kalimat menakutkan.
Raut wajah Xavier tak berubah seakan ia sudah siap akan konsekuensi apapun.
"Kau tak akan bisa hidup dalam kepercayaan ku lagi dan Wujud manusia mu akan lenyap."
"Manusia yang kau maksud bukanlah ISTRIKU!" Jawab Xavier begitu sangat keras kepala membuat helaan nafas Kakek Lucius tercipta. Tongkat itu tiba-tiba muncul di tangannya pertanda ini sudah sangat serius.
Langit gelap diatas sana sudah menurunkan Banyak Mahluk-mahluk mengerikan seperti Bangsa Vampir dari Utara yang di panggil oleh Kakek Lucius mengepung area langit Kediaman dan Xavier tahu jika ini akan kembali di lakukan padanya.
"Jika kau menyesali ini. Maka, katakan padaku sekarang. Aku akan memaafkan mu."
"Jawabanku masih sama." tegas Xavier tak gentar dengan Formasi pengurungan yang di bentuk di langit sana. Bahkan, kilatan petir itu mulai saling bersahutan mengguncang Kediaman Elbrano yang sudah di kurung oleh Dimensi Bangsa mereka agar tak merusak Dimensi manusia.
"Kau yakin?"
"Hm."
Gumam Xavier hingga Kakek Lucius langsung menghentakkan ujung Tongkatnya ke pusaran Asap di bawah kakinya hingga gulungan langit hitam di luar sana mulai bergejolak bagai Tornado yang murka mendatangi Xavier yang merasa tubuhnya di tarik keluar.
"DENGAN INI. AKU MEMUTUSKAN UNTUK MENGURUNGMUU!!!"
Suara Kakek Lucius menggelegar seiring dengan kilatan putih melesat ke arah Xavier yang dihempaskan ke arah dinding Kediaman yang langsung roboh berkeping dengan suara berisik Kelelawar memenuhi area langit.
"D..dia.." gumam Linnea sangat tak percaya. Begitu juga Nyonya Margretta dan Tuan Attacus yang tengah menahan getaran tempat ini tapi mata mereka memandang ke arah langit yang sudah membawa Xavier ke arah pusaran angin yang tengah dibuat oleh Ratusan Mahluk Tengkorak yang membentuk Formasi segitiga dengan Simbol Api di bagian tengahnya.
.....
Di tempat yang berbeda. Stella tengah di jaga oleh Tofer yang sedari tadi tak meninggalkannya di ruangan Xavier. Jelas Tofer mengurung Stella di Perusahaan karna hanya ini tempat yang bisa menjauhkan Stella dari dua bencana itu.
"Apa Mastermu belum juga kembali?" tanya Stella yang sedari tadi menatap ke arah luar dibatasi dinding kaca di ruangan Xavier.
Tiba-tiba saja langit dilumuri awan gelap bahkan sepertinya akan terjadi Hujan dan badai membuat perasaanya tak enak.
Tangan Stella dingin dan pikiran serta hatinya kacau balau. Perasaan takut bahkan tak tenang ini membuatnya selalu ingin pulang tapi Tofer menolak dengan tegas.
"Vee! Aku mohon kau jangan menakuti ku." gumam Stella memeluk erat Buket yang tadi Xavier berikan padanya. Ia hanya bisa memandang ke arah luar padahal jiwanya tengah ingin lepas mencari pria itu.
...
Vote and Like Sayang..
__ADS_1