YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Berbalik arah!


__ADS_3

Mentari yang tadi berangsur tenggelam di ufuk barat sana sekarang sudah berganti dengan kilau rembulan yang naik ke atas langit memimpin hamparan gelap itu.


Gemerlap bintang terasa ramai ikut membuat suasana menjadi hangat dan damai. Tentu hal itu sama sekali tak berpengaruh bagi sosok pria yang tampak duduk bersandar di kursi Mobil yang membawanya kembali ke arah Villa.


Wajahnya terlihat begitu datar dan tak menghiraukan apapun yang ada di sekitarnya. Zion yang tengah menyetir hanya sesekali melihat dari kaca spion dimana Xavier tengah sibuk memeriksa ponselnya.


"Bagaimana dengan Kontrak kerja Perusahaan Gelbren. Master! Dia terus menanyakan apa Perusahaan menerima Proposal pengajuannya?!"


Xavier menghela nafas tampak mempertimbangkan hal itu. Perusahaan Elbrano Microsoft Corporation atau EMC adalah  berpusat di Redmond, yang mengembangkan, membuat, memberi lisensi, dan mendukung berbagai produk dan jasa terkait dengan komputer. Microsoft merupakan pembuat perangkat lunak terbesar di dunia menurut berbagai ahli analisis Bisnis. Microsoft juga merupakan salah satu  Perusahaan yang berpeluang besar menguasai pasar Bisnis.


Apalagi Xavier adalah sorotan dan ia merasa harus benar-benar mengambil langkah pasti untuk menangani Perusahaan-Perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya.


"Perusahaan mereka tidaklah buruk. Rancangan yang mereka berikan dan hasil presentasi kemaren cukup mengesankan. Master!"


"Hm. Aku serahkan padamu!" jawab Xavier tak ingin membahas hal itu. Ia tengah berfokus pada Proyek besar mereka yang ingin menciptakan Revolusi besar di era Teknologi. Xavier ingin berinovasi dengan membuat Software baru yang lebih mumpuni.


Tetapi. Ia terkendala akan beberapa hal dan itu yang membuat Xavier berfikir keras terus-menerus.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka memasuki Pagar Villa yang sudah di buka oleh dua penjaga. Mereka membungkuk membiarkan Mobil merek Buggati Duvo itu masuk ke arah Garasi yang telah terbuka otomatis.


Para penjaga Villa yang lain hanya diam bagai patung dengan kepala tertunduk melihat Xavier yang keluar dari Mobilnya.


"Jangan menggangguku" titah Xavier yang di angguki Zion. Ia melangkah angkuh membelah para bawahannya masuk ke pintu masuk Villa dengan lampu yang kembali menyapa wajah tampannya.


Tas kerja yang ia peggang tertenteng ringan dengan satu tangan membuka kuncian dasi di lehernya. Ia melirik ke arah jam yang sudah menunjukan pukul 2 dini-hari.


"Master!"


Efika mendekat membawakan Nampan berisi cangkir teh seperti biasa. Xavier hanya menatapnya datar seraya mengambilnya lalu pergi ke tangga atas tanpa ada ucapan apapun.


"Apa Stella sudah siap?" gumam Efika agak mengintip tapi saat mendengar detakan sepatu ke arah dalam ia segera kembali ke dapur.


Nyatanya Zion yang tengah berjalan langsung ke arah ruangan kerjanya dengan membawa tumpukan Dokumen perusahaan.


Sementara di atas sana. Lagi-lagi langkah Xavier terhenti di pertengahan lantai. Ia agak ragu melihat ke arah kamar sebelahnya karna penasaran apa yang dilakukan Boneka salju itu.


"Kau sedang apa?"


Xavier menoleh hingga wajah datarnya kembali membeku melihat Stella yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Kenapa kau disitu?"

__ADS_1


"Aku?" tanya Stella tetapi Xavier hanya diam merasa heran. Ada yang aneh dengan penampilan Stella malam ini.


Balutan Gaun merah maron yang begitu tipis dan minim. Dua tali kecil di atas bahu putih nan mulus itu menahan beban dua gundukan sintal nan sekang Stella tengah menyembul keluar.


"Ehmm."


Xavier berdehem mengalihkan pandangannya. Ia menghela nafas dengan wajah terlihat merah dan agak gelisah. Ia akui tubuh Stella benar-benar membuatnya panas dingin.


Berbeda dengan Xavier yang tampak bersikap cuek seakan tak berminat. Stella justru sengaja sedikit membusungkan dadanya membuat Xavier menelan ludah berat dan membeku.


"Kali ini aku akan menjebakmu."


Batin Stella sedari tadi mengumpulkan keberaniannya untuk mendapatkan tempat di sini agar ia bisa bebas.


"Kau pasti lelah. Bukan?"


Stella mendekat mengulur jemari lentiknya mengambil alih gelas yang ada di tangan Xavier. Tetapi, ia sedikit mengusap jempol kekar itu dengan tatapan yang sangat berbisa.


Hal itu spontan membuat Xavier merasa tersengat dengan segera mencengkram dagu Stella yang diam.


Tatapan Xavier begitu mengintimidasi dan sangat membuatnya gugup.


Melihat ketidak percayaan Xavier. Stella menipiskan bibirnya dengan perlahan mengusap lengan kekar Xavier yang mencengkram dagunya dengan kuat.


"Lepaskan dulu!" pinta Stella menahan tekanan di dagunya. Xavier melepasnya dengan kasar dan wajah mengeras yang tak suka di permainkan.


"Cih. Kau pikir aku tertipu dengan KELICIKANMU ini?"


"Tidak. Aku rasa kau lebih licik dariku." jawab Stella mengusap dagunya yang terasa nyeri. Ada bekas cengkraman jari Xavier di sana membuktikan jika pria ini sangat berbahaya.


Xavier hanya memberikan senyum culas dan merendahkan Stella yang menahan emosi di ubun-ubunnya.


"Kau pikir aku akan tahan terus melawanmu. Hm?"


"Benarkah?" tanya Xavier menatap sinis Stella yang mengangguk. Satu tangannya yang terulur bebas mengusap bahu Xavier yang masih di lapisi Jas.


Tatapan begitu menggoda dan aura pemikat yang sangat kuat. Xavier merasa tubuhnya mulai tak berdaya akan pesona wanita ini.


"Yah. Kau begitu gagah dan sangat tampan. Aku tak sanggup melewatkan kesempatan emas ini." ucap Stella dengan jemari beralih membelai leher kokoh jantan Xavier. Ia terbawa suasana mengagumi postur rahang dan bentuk wajah yang begitu beracun.


Jakun Xavier naik turun kala Stella beralih mengusap tengkuknya. merasakan deru nafas Xavier mulai tak stabil Stella berusaha agar memberanikan diri untuk bertindak nekat begini.

__ADS_1


"Kulitmu dingin!" bisik Stella kala jarak mereka begitu tipis. Tangan kekar Xavier spontan menarik pinggang seksi Stella yang segera merapat ke tubuhnya.


Stella sangat lemas kala merasakan ada benda keras yang menekan bagian perutnya. Tatapan Xavier yang terlihat sangat ingin membuat keberanian Stella ciut.


"Kau..."


Xavier langsung menyambar bibir merah muda segar Stella yang tak sempat melanjutkan kalimatnya. Ia beralih mencengkram bahu Xavier yang sangat berhasrat dan liar mencumbu bibirnya.


"T..tidak.. Aku.. Aku tak bisa melanjutkannya."


Batin Stella ingin mendorong bahu Xavier tetapi tubuhnya sudah benar-benar masuk dalam pelukan erat pria ini.


Tas yang di peggang Xavier jatuh dengan hampa ke atas lantai karna sang empu sekarang sudah hanyut dalam hasrat kejantanannya.


"Ehmm!"


Stella mengerang kala ciuman ini begitu menuntut. Kedua tangan Xavier tak bisa diam menjelajahi bagian belakang sana seraya mengiring Stella masuk ke dalam kamar.


Stella berusaha menurunkan kedua tangan Xavier yang meremas bokongnya tapi Xavier beralih menekan tengkuk Stella untuk memperdalam belitan lidahnya.


Shiit. Aku..aku akan gila karna ini!!


Jeritan batin Stella merasa mulai sulit untuk sadar. Ia wanita normal dan merasa sangat terbawa akan buaian Xavier.


Lama-kelamaan Stella mulai lupa dengan rencananya. Gelas yang ia peggang jatuh ke lantai beriringan dengan tubuhnya yang di iring jatuh ke ranjang empuk ini.


Ciuman brutal itu tak terlepas sama sekali. Bahkan, Stella mampu mengimbangi belitan lidah Xavier yang benar-benar menemukan lawan main yang cocok.


"V..Veee akhmm!!"


Xavier terdiam mendengar erangan Stella. Wajah keduanya sama-sama merah padam dengan tatapan terbuka saling mendamba satu sama lain.


"Vee.. Siapa?" serak Xavier tetapi Stella sudah mabuk. Ia kembali meraih tengkuk Xavier untuk melanjutkan pergumulan panas mereka.


Stella benar-benar lupa akan tujuan dan rencananya tadi sore dan terlihat sangat-sangat menikmatinya.


Ntahlah. Mungkin lain kali akan ia coba hal yang lebih nekat lagi.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2