YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Kembali Pulang!


__ADS_3

Kegelapan ini semakin terasa pekat dan nyata. Langit yang hitam melukiskan kilatan petir dan suara angin yang menderu kencang.


Sekuat tenaga ia berlari dengan isak tangis masih terdengar mengalun beriringan dengan suara Kelelawar yang tengah mengejar dari arah belakang.


Takut, panik dan cemas bercampur aduk menjadi satu. Ia hanya bisa berdo'a semoga Dokter Ryker baik-baik saja dan ia akan segera keluar dari Hutan gelap ini.


Namun. Ada banyak suara yang memanggil di arah belakang, Stella menutup kedua telinganya tak ingin melihat ke belakang dan terus melangkah cepat sampai tubuhnya mengigil hebat.


"*Kau tak akan bisa pergiii!!!"


"Kembalilah pada Tuanmuu*!!!"


"Pergilah bajingaaan!!!" teriak Stella sejadi-jadinya meringsek masuk ke area paling gelap dan menerobos apa saja yang ada di hadapannya.


Semakin Stella melangkah maju kakinya terasa begitu berat tetapi, Stella memaksakan dan terus mencoba maju mengabaikan suara-suara misterius itu.


Kilatan cahaya yang terus menyambar dari atas sana menenggelamkan Stella dalam rasa takut yang nyata. Ntah kenapa ia merasa tempat ini begitu menyeramkan? Ia dengan jelas merasakan banyak pasang mata yang tengah memandangnya dengan tatapan begitu marah dan ingin menyeretnya kembali.


Tetapi. Tak ada yang bisa mendekat seakan takut lenyap seperti kawanan sebelumnya.


"Kembaliiiii!!!!"


"Jangan menganggu bayikuuu!!!!" teriak Stella masih berlari maju hingga dentuman di atas sana membuat angin menderu keras ke arah tubuh Stella yang terpental kuat ke arah depan.


Bruaagg...


Ia jatuh ke tumpukan salju yang tiba-tiba saja ada menenggelamkan tubuh Stella dalam kebekuan. Suara dentuman keras dan kilatan cahaya dari langit yang tadi terdengar jelas tak lagi Stella rasakan.


"P..perutku." desis Stella mencengkram perutnya yang terasa sakit. Ia berusaha bangkit dari tumpukan serbuk putih ini lalu melihat tempat di sekitarnya.


Dahi Stella menyeringit kala melihat Hutan yang berbeda dari sebelumnya. Sebuah jalan kecil yang terus dituruni salju dan ada Gerbang tua yang sangat Stella kenal.


"I..ini.."


Yah. Ini adalah tempat dimana ia tinggal dan terbukti dengan suasana salju yang tak pernah usai dan hutan gelap tapi tak sepekat yang sebelumnya.


Sadar jika ia sudah pulang. Stella dengan binaran bahagia segera berlari ke arah Gerbang yang di terangi lentera sayu malam ini.


"Mommyy!!!"


Teriak Stella benar-benar sangat senang. Antara sedih bercampur rasa cemas dan kerinduan akan sosok wanita yang sudah membuatnya berjuang sejauh ini.


Cuaca beku yang biasa kembali Stella alami. Ia hanya memakai kemeja lengan panjang dan Rok jeans pendek sepaha. Walau dingin menjalar Stella tetap berlari masuk ke area pemukiman.

__ADS_1


Ada beberapa pria yang tengah memakai pakaian dingin tebal tengah memperbaiki Lentera di dekat jalan Bayangan tubuh Stella dari kejahuan membuat 2 pria itu saling pandang.


"Itu.."


"Stella!!!" sambar sesosok pria bertubuh agak besar dan jambang yang tebal menebak jika itu adalah Stella.


Dia adalah Tuan Bonat suaminya Nyonya Herley yang selama ini membantu mencari keberadaan Stella yang hilang bak di telan bumi.


Mendengar namanya di sebut. Stell terhenti di dekat Tuan Bonat dan pria kurus di sampingnya.


"K..kau.."


"Cepat!! Cepat kau pulaang!!" ajak Tuan Bonat bergegas menarik lengan Stella untuk kembali ke rumahnya.


Karna tak tahu apapun Stella hanya mengikut hingga akhirnya mereka bisa melihat Rumah kayu sederhana Stella yang tampak begitu sunyi. Hanya suara Wings si anjing kecil yang biasa menggonggong di malam hari terdengar keras.


"Herleey!! Herleyy buka pintunyaa!!"


Panggil Tuan Bonat antara senang dan terharu akhirnya Stella pulang setelah berbulan-bulan lamanya.


Stella yang bingung hanya bisa menunggu sampai pintu terbuka memperlihatkan Wanita paruh baya yang melebarkan mata melihat Stella.


"S..Stella.. Kau.."


"M..Mommy! Mommyku dimana? dia dimana?"


"Nak! Cepat ke kamarmu!" pinta Nyonya Herley sudah berkaca-kaca memeggang lengan suaminya.


Tanpa bertanya lagi. Stella segera berlari ke kamarnya dengan membuka gagang pintu cepat.


Deegg...


Jantung Stella seakan terhenti. Tubuhnya mematung kaku dengan air mata yang tadi ia bendung seketika turun. Sekujur tubuh Stella mendingin segera membekap mulutnya melihat sosok yang terbaring dengan keadaan tubuh sudah kurus di atas ranjang kecil ini.


A..apa yang terjadi? Kenapa seperti ini? A..aku..aku hanya bermimpi? Dia..


"Pola makannya sudah tak teratur."


Nyonya Herley berdiri di belakang Stella yang sudah lemas bersandar ke daun pintu. Ia sangat merasa bersalah dan benci dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini.


"Dia hanya bertanya. Kapan kau pulang? Kapan putrinya kembali? Hanya itu."


Mendengar jawaban Nyonya Herley. Tangis Stella semakin tak terbendung. Ia membekap mulutnya sendiri menahan isakan yang akan keras terdengar.

__ADS_1


"Dia sering pingsan saat tahu kau belum kembali. Dia sangat mencemaskan mu sampai-sampai terus mencoba keluar mencari sendiri padahal tubuhnya tengah tak sehat."


"M..Mommy hiks." isak Stella akhirnya lepas. Ia perlahan melangkah mendekati ranjang dengan deritan kayu ikut mengalun pilu.


Wajah pucat dan tirus wanita ini sangat membuat hati Stella sakit dan terluka. Dulu Nyonya Corlie begitu cantik dengan wajah pas dan seksi. Tapi, sekarang wanita cantik ini sudah lemah dan hanya bisa terpejam rapat tunggu ajal tiba.


"M..Mommy!" lirih Stella bergetar duduk di samping tempat tidur. Tangannya mengigil memeggang tangan Nyonya Corlie yang di infus dan begitu terasa panas.


K..Kenapa? Kenapa kau begitu keras kepala? Aku..aku sudah banyak menyakiti hatimu. Mom! Seharusnya kau tak begini. Aku.. Aku hanya membuatmu malu dan terluka.


Batin Stella menyesali semua sikap dingin dan kasarnya pada Nyonya Corlie. Ia terisak sampai air matanya jatuh ke tangan mulus sang Mommy yang terasa kenal dengan genggaman ini.


"S..Stella.."


"M..Mommy! Mommy. Hiks!" isak Stella dengan cepat berhambur memeluk Nyonya Corlie yang telah membuka matanya. Netra coklat itu mengigil berair dengan tatapan kosong seakan ini adalah mimpi.


"I..Ini.."


Nyonya Corlie menoleh ke arah Nyonya Herley dan Tuan Bonat yang mengangguk seakan menjawab tanda tanya yang ada di benak Nyonya Corlie.


"S..Stella!! Stella kau.. kau kembali? Kau kembali. Nak?"


"Mommy hiks! Mommy!!" isak Stella hanya bisa menangis mengeratkan pelukannya. Begitu juga Nyonya Corlie yang menangis haru dan tak percaya Stella akan kembali padanya.


"S..Stellaa!! Kau kembali!! Kau kembali. padakuu!"


"I..iya. Aku... Aku tak akan meninggalkanmu lagi aku.. aku tak mau." jawab Stella langsung mendapat kecupan hangat di seluruh wajahnya dari Nyonya Corlie yang sangat-sangat merindukan sang putri.


"N..Nak! M..maafkan Mommy! Maaf, jika.. Jika Mommy membuatmu sakit hati. Mommy.. Mommy janji tak akan me.."


"Tidak.. Kau tak salah. Jangan minta maaf." jawab Stella menggeleng mengecup tangan Nyonya Corlie yang memeggang pipinya.


Hal itu baru pertama kali terjadi dalam seumur hidup. Kedekatan ini terasa begitu nyata dan tak pernah terjadi sebelumnya.


"S..Stella!"


"Mom! Stella janji akan terus disini, maafkan Stella yang selama ini membuat Mommy terluka dan.."


Nyonya Corlie menggeleng kembali memeluk erat Stella dengan tangisan yang sama-sama terdengar. Keduanya hanya bisa saling memeluk dan berjanji untuk tak menyakiti satu sama lain dan selalu bersama.


"Akhirnya. mereka bertemu. Suamiku!" gumam Nyonya Herley ikut menangis haru di pelukan Tuan Bonat yang juga lega. Setidaknya keadaan sudah tenang dan kembali stabil.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2