
Formasi pasukan Penyegelan itu sudah terlihat sempurna. Langit gelap yang saling berebut menguarkan suara kerasnya mengelilingi Xavier yang sudah di belenggu dengan Light Tajam milik Kakek Lucius yang hanya menatap datar hal itu.
Sangat di sayangkan karna Penerus satu-satunya Keluarga ini lebih memilih untuk kehilangan separuh kekuatannya hanya demi Bangsa Manusia.
Marah dan kepedihan itu bertambah. Bagaimana tidak? Salah satu putranya juga telah melakukan kesalahan yang sama dan sekarang di susul oleh Xavier yang begitu ia harapkan mampu membawa Masa Keemasan Elbrano semakin memuncak nantinya.
Namun, apa yang telah di pilih Xavier benar-benar tak bisa di Tolerir, bahkan berani meragukan Klannya sendiri.
"Yang Mulia!"
Nyonya Margretta menunduk dengan lutut menyentuh lantai. Masih bertahan dari kekuatan besar yang ingin memenjarakan Xavier untuk selama-lamanya itu.
"Yang Mulia! Jika kau mengurung Putraku aku tak masalah tapi bagaimana dengan Keluarga ini?!" pertanyaan Nyonya Margaretta tapi jelas Kakek Lucius sudah memikirkan ini sebelumnya.
Wajah tenang menyimpan malapetaka itu benar-benar sulit mereka tebak arah maksudnya.
"Dia mengambil langkah begitu besar. Tapi aku tak akan membiarkannya jatuh terlalu dalam."
"Maksudmu? Yang Mulia!" imbuh Tuan Attacus ikut membungkuk.
Kakek Lucius melirik ke arah Eliem yang tadi setia ada di dekatnya. Pria berkepala Plontos dengan mata menghitam itu terlihat tunduk padanya.
"Cari wanita itu!"
"Baik. Yang Mulia!"
Elliem mengangguk membawa Connor bersamanya. Sedangkan Apollo, ia terlihat menatap puas ke arah lubang besar di dinding ini mempertontonkan eksekusi Putra Mahkota angkuh itu.
Kakek Lucius melesat cepat ke arah 3 Mahluk yang tadinya membentuk Formasi penyegelan. Mereka semua tunduk tetapi tak bergerak dengan gulungan angin semakin kuat.
Netra tajam Kakek Lucius melihat Xavier yang tampak memejamkan matanya dengan tubuh berdiri gagah di bawah intimidasi langit yang tengah menekan kepalanya agar menunduk tapi Xavier tak sudi melakukannya.
"Kau berubah pikiran?" tanya Kakek Lucius masih bertopang pada Tongkat emas di tangannya. Ia semakin menekan ujung Tongkat itu ke Asap gelap yang ia pijaki membuat sudut bibir Xavier mengalirkan darah hitam tapi tak ada raut kesakitan di wajah Tampan ini.
Bahkan mata Xavier masih terpejam ntah merenungi kesalahan atau ia sudah pasrah untuk di kurung selama-lamanya.
"Apa kau menyesal?"
Tanya Kakek Lucius lagi menunggu tetapi jawaban Xavier masih mengedepankan kebisuan. Ia seakan menuli tak mendengar atau melihat semua ini.
"Baik! Tapi, sebelum itu kau harus merasakan hukuman dunia ini." desis Kakek Lucius dengan sekali hentakan di ujung tongkatnya Light yang tadi membelenggu Xavier seketika langsung mengerat bahkan berubah tajam.
"Sebentar lagi."
Batin Xavier menahan segalanya. Darah di mulutnya terus mengalir tetapi matanya belum terbuka. Hanya kedua tangan Xavier yang saling mengepal menahan semua ini.
"Patriackk!! Berhentilah melawan Yang Muliaa!!!"
Linnea di seberang sana yang menjerit karna tak sanggup melihat Xavier di kurung dalam jurang kegelapan tanpa cahaya itu. Ia tak ingin hal itu terjadi.
"Patriaack!!! Mundurlaah!!"
"Kau tak mendengarnya?" tanya Kakek Lucius menatap wajah dingin Xavier yang begitu keras kepala menerima semua ini.
"Dia menjerit untukmu dan kau selama ini tak pernah menoleh sama sekali padanya. Kau sangat merugi. Prince!"
"Yang Muliaa!! Aku mohon jangan Kurung diaa!!"
__ADS_1
"Yah! Ini semua karna wanita itu, dia meracuni pikiran Putrakuu!!" timpal Nyonya Margretta saling membalas dengan Linnea dalam situasi Badai seperti ini.
"Bahkan semua orang tahu jika dia hanya memanfaatkan-mu." gumam Kakek Lucius masih berat hati melakukan ini.
Tak lama setelahnya Xavier membuka mata dingin penuh obsesi itu. Ia tampak kekeh dan tak suka dengan pembicaraan Mahluk sialan ini.
"Kau menyesal?"
"Tidak sama sekali." lugas Xavier saling pandang membunuh dengan Kakek Lucius yang seketika menegakkan wajahnya.
Lagi dan lagi saat Tongkat itu di hentakan maka Xavier akan merasakan jiwanya seakan di tarik dari raga Manusia ini. Ia mulai susah bernafas karna perlahan-lahan semua Fisik manusia yang ia gunakan akan terserap ke luar.
"Apa yang kau cari darinya? KENAPA KAU BEGITU MENGORBANKAN HIDUPMU???"
"Mahluk menjijikan sepertimu. TAK AKAN PERNAH MENGERTI." tekan Xavier menjawab bentakan Kakek Lucius yang langsung mengangkat tangannya mengarah ke dada Xavier yang langsung terasa di belah oleh sesuatu.
"BUKA!"
Titahnya hingga langit luas ini kembali menggulung hebat. Garis putih yang ada di atas Xavier tadi langsung mengeluarkan cahaya diiringi petir yang menyambar dengan keras bahkan menyengat tubuh Xavier yang benar-benar di buat mati rasa.
Tuan Attacus merasa aneh. Jelas Xavier punya kekuatan yang bisa mengoyak Formasi ini lalu kenapa ia diam saja? Bahkan, senjata aslinya tak di panggil sama sekali.
Ratusan Kelelawar yang tadi memenuhi langit langsung mengelilingi Xavier dengan mata merah berkilat tajam.
Suaranya sangat berisik beriringan dengan cahaya kuning keluar dari inti Formasi yang tadi berkilau terang melahap tubuh Xavier yang seketika merasakan sakit yang luar biasa.
"S..Stella!!" geram Xavier dengan urat tangan dan urat hitam di lehernya semakin menjalar di arah rahangnya.
Cahaya emas ini seakan benar-benar menarik jiwa Xavier dari raga Manusia ini membuat bayang-bayang wujud aslinya langsung samar-samar terlihat.
"Kau terlalu na'if!!! Renungkan kesalahan fatal mu ini sampai Jiwamu benar-benar bersih dan tak tercemar seperti ini."
Kala Formasi ini terbuka sempurna, Cahaya ini langsing berubah menjadi semburan api membuat Linnea syok begitu juga mereka yang menyaksikan ini.
"D..dia.. benar-benar sudah gila." umpat Linnea sangat sakit melihat Xavier sampai melawan kehendak Kakeknya hanya demi memperjuangkan wanita itu.
Sementara Kakek Lucius. Ia sudah memejamkan matanya bersiap untuk menyegel Xavier untuk yang terakhir kalinya.
"DIA KEMBALI ATAS KEHENDAK DARI PIMPINAN TERTINGGI ALAM SEMESTA. AKU KEMBALIKAN DIA DENGAN KEADAAN YANG SAMA TANPA ADA BAKAT APAPUN!!!!"
Duaaarrr..
Ledakan besar terjadi dari arah Formasi segitiga itu membuat Para bawahan Kakek Lucius yang tadi tengah menahan Simbol itu langsung terhempas kuat bahkan mereka terbakar dengan api yang tadi membakar Xavier.
"A..apa yang terjadi?" gumam Linnea mencoba untuk menghindar kala puing-puing Bangunan yang tadi rubuh seketika terlempar bebas akan getaran ledakan itu.
Pasukan Athas yang tadi menyaksikan Penyegelan Xavier juga ikut terbakar mengelilingi kegelapan ini. Suara Kelelawar memekik hebat berterbangan kesemua arah tak beraturan seakan menjauh dari pusat ledakan.
Kakek Lucius ikut membuat jarak karna ia merasa jika ada sesuatu yang tak beres disini.
"Xavier!!! Kau.."
Kakek Lucius terdiam kala Api yang tadi menyala perlahan redup memperlihatkan tubuh kekar Xavier yang tak lagi memakai atasan kemejanya. Hanya celana kerja tadi dengan raga atletis yang di jalari urat hitam di dada bidang sampai ke rahang tegasnya.
Separuh wajahnya sudah menyerupai Tengkorak dengan satu mata di sebelah kiri berubah merah menyala. Tangannya sudah memeggang Sebilah Pedang di jalari kilat merah dengan pusaran angin berpusat di kaki Xavier.
"Princee!!!"
__ADS_1
Tunduk mereka karna ini adalah Separuh wujud kemuliaan Xavier yang pasti telah menggunakan Kekuatannya untuk membuka sesuatu.
Dia merubah hawa tubuhnya menjadi dingin. Separuh wujud Kemuliaan dengan Pedang Ranah Pembantaian. Ini...
Mata Kakek Lucius langsung melebar kala tahu apa yang baru saja Xavier lakukan.
"BERANINYA KAUUUU..."
Suara kerasnya menggelegar hingga membuat tekanan kuat ke semua penjuru tapi Xavier sudah menghilang dari area tempat ia berdiri tadi.
"SIALAAAN!!! DIA MELEPASKANNYA!! BAWA DIA KEMBALI PADAKUU!!"
"Baik. Yang Mulia!,
.....
Di Villa sana semua orang telah dilanda ketakutan yang sangat hebat. Bagaimana tidak? Mereka sampai tak bisa berkata-kata kala Baby Caster sudah di dikerumuni Mahluk-mahluk mengerikan itu dengan kondisi lautan yang sama seperti kala Stella melahirkan dulu.
Mereka semua menggulung area di sekitar Baby Caster yang benar-benar merubah mentari menjadi bulan merah darah yang kembali di kelilingi oleh Kelelawar bertaring itu.
"Tuan! Bagaimana dengan Tuan kecil?" panik Efika yang sangat takut terjadi sesuatu pada Baby Ester.
Zion yang tadi di tugaskan Xavier untuk kesini hanya bisa diam dengan Dokter Ryker yang menangani Nyonya Clorie di depan teras Villa.
Nyatanya wanita ini pingsan kala melihat banyaknya Mayat-mayat hidup yang mengelilingi Villa bahkan sampai mengambil Baby Ester dati pelukannya. Lebih tepatnya bayi itu menghilang kala tadi ia sembunyikan di kamar.
"Dia baik-baik saja?"
"Yah. dia hanya syok." gumam Dokter Ryker beralih kembali melihat ke arah Pantai. Bangunan Villa sampai ingin roboh karna menahan hewan membunuh dari para Mayat ini tapi tetap saja mereka tak bisa menyerang Villa karna terkurung dalam benteng air yang tadi menelan Baby Eater.
Zion hanya bisa berharap jika Badai ini harua berlalu dengan cepat kalau tidak Pertikaian di Dimensi ini akan sampai terasa di dunia nyata Manusia.
"Dimana Stella?"
"Yang harus kita fokuskan itu adalah Tuan kecil." tegas Zion tak ingin beralih pandangan. Ia sudah berkeringat dingin begitu juga para Penjaga dan pelayan yang berlindung di balik dinding kokoh Villa.
"Aku harus mencarinya. Bisa saja dia dalam bahaya."
"Fokus pada Tuan kecil." desis Zion lagi tak ingin meninggalkan tempat ini. Tetapi, Dokter Ryker sudah tak sabar untuk menunggu.
"Aku akan kesana sendiri. Kau awasi disini!"
"Tapi.."
"Katakan!" desak Dokter Ryker seakan ada yang tengah mengintimidasinya. Melihat kegelisahan ini Zion terdiam dengan tatapan menyipit.
"Ada apa?"
"Ada yang ingin datang pada Stella. Mereka anak buah Yang Mulia Lucius dan cepat katakan padaku!!" geram Dokter Ryker bak kesetanan kala melihat Pasukan Arthas yang di kirim tadi terus tak bisa menyebar.
"Kau ..."
"ZION! TAK ADA WAKTU LAGI." desak Dokter Ryker sangat panik membuat Zion diam.
"Perusahaan!"
Jawab Zion dan tubuh Dokter Ryker langsung menghilang. Melihat itu Zion diam, ia jelas melihat Dokter Ryker sangat panik dan apa Stella baik-baik saja?
__ADS_1
...
Vote and Like Sayang