YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Bukti Transaksi


__ADS_3

Mobil yang tadi melaju cukup cepat sampai tepat di dekat jalan yang paling bertepatan di seberang sebuah Perusahaan Grounmedia yang tampak masih ramai. Terlihat rombongan Wartawan yang tadi menyerbu area Perusahaan tampak berkumpul di depan Gerbang sana. Mereka tengah berdiskusi dengan keadaan cukup tergesa-gesa seakan ingin kembali menyerang.


Hal itu hanya di amati oleh Stella dari balik kacamata berwarna Coklat tua itu, Ia memakai Jaket dan Topi dengan separuh wajah di tutupi Masker. Stella membuat Supir di depannya keheranan tapi juga sudah mulai yakin.


Ia takut-takut jika Stella bisa mengancam Pekerjaannya.


"Nona! Sebenarnya kau siapa?" tanya Pria paruh baya ini gelisah.


Bukannya menjawab Stella mulai menyiapkan Ponsel dan tas di tangannya. Ia sudah mengambil rekaman kecil dari Ruangan Elektronik Perusahaan tadi dan segera ingin menyusup.


"Nona!"


"Kau ingin dapat uang lebih?" tanya Stella tanpa melihat padanya. Masih fokus pada objek diluar sana.


"M..Maksudmu kau.."


"Ini!"


Stella melepas jam di tangannya lalu melemparkan benda itu ke arah Pak Supir di depan sana. Sontak Pria itu menangkapnya hingga Jam seharga Milyaran merek ternama ini membelalakkan matanya.


Seketika jiwa miskin dan melaratnya memberontak segera menggenggam benda berkilau ini.


"N..Nona apa kau ini.."


"Itu untukmu jika kau mau membantuku." jawab Stella tanpa menunggu lagi menerima anggukan dari Pria ini.


"Baik. Apa yang harus saya lakukan?"


"Kau pergi ke sana! Ambil satu Kartu Identitas Kerja Media untukku." Pinta Stella tegas dan Pria itu melihat ke arah luar.


Matanya menyusun rencana lalu segera keluar. Hal itu membuat helaan nafas Stella muncul karna uang memang pengendali segalanya.


"Pantas Xavier bisa memijak kepala mereka." gumam Stella yang sangat hafal bagaimana menjijikkannya dunia ini.


Ia menunggu seraya melihat bagaimana usaha Pria itu. Awalnya cukup susah karna mereka berkerumun apalagi Pria paruh baya itu bertanya jalan sebagai alasan. Dengan hati-hati ia pura-pura pingsan sambil menarik Kartu Identitas kerja seorang wanita berambut pendek di sampingnya lalu tumbang dalam bopongan mereka.


Stella menggeleng saja melihat bagaimana taktik lincah ini berjalan hingga ntah apa yang terjadi tapi Pria itu sudah berjalan ke sini dengan pelan seperti menahan sakit. Beberapa orang di belakangnya memandang prihatin tapi segera pergi ke Mobil Medianya masing-masing.


Pria itu masuk ke Mobil lalu mengeluarkan Kartu Identitas salah satu wanita tadi.


"Ini. Nona!"


"Kerjamu cepat juga." puji Stella mengambil benda itu. Ia membaca semuanya hingga foto yang tertera disini terlihat mendukung Rambut pendek dan tinggi badan agak sama.


"Apa tugasku lagi? Nona!"


"Tunggu disini! Aku akan masuk sebentar."


"Siap!" jawab Pria itu sangat semangat. Stella keluar dari Mobil lalu mengambil nafas dalam barulah ia melangkah ke arah Gerbang menyebrangi jalan ini.


Kondisi Perusahaan yang cukup ramai membuat ancaman bagi Stella tapi ia tak mundur. Langkahnya tetap maju dengan Tas yang ia pegang erat seraya satu tangan memasang Tali Kartu ini di lehernya.


Ada para penjaga yang tampak baru datang kembali kesini dan Stella harus berhati-hati.


"Tunggu!!" Pria itu mencegat Stella kala ingin memasuki Gerbang.


"Kau dari mana dan kenapa kesini?"


"Saya bekerja disini." jawab Stella menunjukan Kartu di dadanya. Pria itu melihat jika rambut Stella memang pendek. Tapi, kenapa memakai Topi dan Masker.

__ADS_1


"Buka Maskermu?"


"Siall!"


Umpat Stella mulai gugup. Ia diam seraya menatap ke pintu besar di depan sana mencari cara agar cepat pergi.


"Bukaa!!"


"Saya ada pekerjaan penting. Ini panggilan dari Tuan Forbieden untuk datang ke Perusahaanya." jawab Stella tapi pria ini tak percaya. Pandangannya masih saja menyelidik hingga Stella langsung memutar otak.


"BUKA MASKERMU!"


"Aku.."


"Penjagaaaa!!!"


Suara teriakan dari dalam mengejutkan keduanya. Seorang Wanita dengan penampilan seperti Sekertaris itu berlari dengan wajah pucat mendekat panik.


"Ada apa?"


"Itu.. Itu Tuan.." gemetar Wanita dewasa ini sudah lemas bahkan berjongkok menahan berat tubuhnya.


"Ada apa? Apa yang terjadi?"


"D..Di ruangannya!" lirihan penuh ketakutan. Sontak Penjaga tadi langsung berlari ke dalam dan Stella memanfaatkan ini untuk masuk ke Perusahaan juga ikut terlihat mengejar seraya membuntuti Pria ini.


Beberapa Karyawan yang Stella lihat tampak juga kacau seraya berbisik-bisik akan kehebohan di Perusahaan ini.


Stella naik ke Lift yang juga dinaiki beberapa orang dan penjaga tadi dengan pura-pura ikut khawatir.


"Apa yang terjadi padanya? Aku sudah membawa informasi baru yang ia perintahkan kemaren." gumam Stella gelisah.


"Apa yang terjadi sampai mereka sepanik ini? Dan menghubungi Ambulans?"


Batin Stella melihat Wanita di sampingnya menelpon pihak Rumah Sakit. Ia keluar mengikuti Pria tadi hingga sampailah mereka ke sebuah ruangan yang langsung di masuki semuanya.


Belum sempat kaki Stella menapak ke dalam tiba-tiba saja wanita tadi langsung Muntah keluar dan itu membuat Stella syok.


"Hoekmm. I..itu.."


Stella segera masuk dan seketika matanya terbelalak melihat Separuh tubuh seseorang yang tergantung di atas langit-langit Ruangan yang separuh retak karna kepala Pria itu di benamkan kesana.


Darah bercecer bahkan bagian kepala Pria itu tak lagi utuh terjepit ke area retakan Beton ini. Tetesan cairan kental merah itu terus mengalir amis membuat Kerongkongan Stella berputar dan Tubuhnya langsung lemas.


Kondisi ruangan seperti Kapal-pecah dimana kertas berserakan dan Komputer hancur di atas lantai. Semua ini sangat di luar nalar.


"Tinggalkan area ini!!"


Suara Aparat Kepolisian yang sudah tiba langsung mengiring mereka keluar. Stella bersandar di dinding pintu dengan menormalkan nafas serta jantungnya.


"Kenapa bisa begitu? Baru beberapa menit tadi aku mengantarkan Dokumen. Tapi sekarang Tuan Forbieden sudah tewas dengan mengerikan."


"Ini sangat menakutkan."


Bisikan para Karyawan yang tadi terduduk di luar. Stella hanya diam tapi ia sadar jika hal ini tak bisa di kaji dengan logika. Pasti Ester yang sudah membuat hal seperti ini.


"Ester sangat pemarah. Aku sudah katakan jangan bertindak gegabah."


Batin Stella sungguh cemas. Setelah beberapa saat ia mengendalikan dirinya, barulah Stella berjalan ke arah ruangan lain.

__ADS_1


Ia memanfaatkan ketidakstabilan Perusahaan untuk pergi mencari beberapa peluang disini. Stella melewati beberapa tempat sampai ia terhenti di satu Pintu yang sedikit terbuka kecil.


"Ruangan apa?"


Gumam Stella melirik kiri kanan dan sepertinya ada CCTV di bagian dalam. Ia ingin mengurungkan niatnya masuk tapi saat ia hampir ingin pergi tiba-tiba saja ia ingat jika Ester pasti tak seceroboh ini.


"Tadi juga ada CCTV. Tapi tampaknya tak hidup. Jangan-jangan..."


Stella langsung kembali masuk ke dalam ruangan itu hingga matanya tertuju pada bagian atas Langit-langit dimana ada Kamera pengintai. Tapi, tak hidup dan tentu Stella bersorak girang.


"Benih mu memang tak di ragukan. Sayang!" gumam Stella bangga. Ia menatap banyak Lemari disini dan ada Deretan Rak-Rak buku dan Kertas-kertas yang tampaknya di tumpuk.


"Gudang?" tebak Stella berjalan mendekat. Ia mengamati segalanya sampai membuka beberapa Kertas yang terlihat berdebu.


Ia membaca Surat menyurat lama Perusahaan dan semuanya data-data pengeluaran dan hasil Kontrak.


"Hanya tumpukan barang bekas. Aku tak akan menemukan apapun disini." gumam Stella ingin segera pergi tapi mata jelinya tak sengaja menangkap Kotak besi di bawah Rak tinggi ini.


Sontak Stella segera berjongkok menyingkirkan beberapa tumpukan Map hingga ia melihat ada Brangkas yang di sembunyikan di bawa sini.


"Ini sudah usang. Tapi..."


Stella diam sesaat. Ia mengamati bentuk dan debu yang bertebaran disini pertanda belum di jamah manusia.


Ia terlihat kebingungan. Beberapa kali mencoba mengotak-atik angka disini tapi ia melihat ada bekas tekan di bagian Tombol yang terkena debu.


Stella menekan sesuai arahan sampai suara Klik itu terdengar barulah senyumnya mengembang.


"Kau sangat cerdas. Stella!" gumamnya langsung melihat isi benda ini. Ada beberapa surat dan Amplop tua yang membuat dahi Stella menyeringit.


Ia membaca beberapa lembaran kertas ini hingga wajahnya mulai serius. Data dan Bukti Transaksi Di luar Perusahaan yang di lakukan oleh Tuan Forbieden dan satu Pemilik No Rekening yang masih belum tertera namanya.


"Ini.. Ini Bukti Transaksi Ilegal." gumam Stella mulai mengobrak-abrik semuanya.


Amplop kuning ini berisi beberapa Lembar Note Transaksi dengan nama beberapa Klien yang Stella kenal. Ada Perusahaan Tuan Darren yang Stella kenal adalah Klien penting EMC sejak dulu.


"Mereka sudah melakukan kecurangan selama bertahun-tahun. Bahkan mengambil keuntungan dari Perusahaan EMC." geram Stella yang panas melihat nominal angka disini.


Ini pasti terjadi saat Kepemimpinan Ayahnya dulu. Karna Tahun Transaksi ini sudah begitu lama tapi sangat banyak dan Besar.


Mata teliti Stella terus mengamati Nomor-Nomor Rekening ini dan ia yakin jika Direktur Luther dan Monnar-Du terlibat.


"Kau ingin menghancurkan-ku. Bukan?" desis Stella segera Mengambil gambarnya. Ia membereskan semuanya tak lupa mengambil Surat menyurat ini.


Saat Stella ingin ke arah Pintu tiba-tiba saja Ponselnya berdering. Nomor tak di kenal ini sudah hafal oleh Stella siapa bajingannya.


"Hello. Sayang! Apa kau baik-baik saja?"


Stella diam tapi ia tak lagi ada tekanan. Rasanya ia ingin segera membungkam mulut Pria.


"Kenapa? Kau butuh bantuan ku? Datanglah! Aku sangat menantikan mu."


"Aku akan datang." jawab Stella dengan intonasi yang tegas dan ketus.


"Benarkah? Ayolah. Kita harus menjelajahi Club di Kota ini. Bagaimana?"


"Baiklah." jawab Stella mematikan panggilan. Ia melangkah pergi keluar dengan langkah cepat dan terus maju kedepan tak lagi pergi ke Ruangan Mayat tadi.


...

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2