YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Di Takdirkan bersama!


__ADS_3

Kata-kata Zion dan ingatan kala Xavier terlihat serius menelfon pagi tadi terus berputar di kepala Stella yang tengah duduk diatas meja makan.


Ia mengaduk-ngaduk Sup di mangkuknya tanpa ingin memasukannya ke dalam mulut. Ada beberapa ekspresi kesal yang di tunjukan Stella membuat Efika yang berdiri di sampingnya jadi heran.


"Kau kenapa?"


Tak ada jawaban. Stella seakan terkurung dalam dunianya sendiri melupakan Efika yang semakin di landa kebingungan.


"Apa ini dampak dari penyerangan semalam? Jiwa Stella tak stabil."


Batin Efika menerka-nerka. Ia begitu cemas jika sampai Stella benar-benar mengalami sakit berat dan Masternya akan marah besar seperti semalam. Itu sangatlah mengerikan.


"S..Stella!"


"A.. apa?" tanya Stella terperanjat kala Efika memeggang bahunya. Wajahnya yang tadi sudah jauh berkelana kembali terlihat normal.


"Apa kau sakit?"


"A..apa terlihat?" tanya Stella asal. Tetapi, Efika langsung memeggang dahi mulus Stella yang terhenyak.


"Tubuhmu tak panas. Apa kau merasa sakit di bagian lain?"


"Hanya bagian lutut ku yang nyeri. Mungkin karna terbentur semalam." jawab Stella mengusap-ngusap lututnya. Ia tak terlalu memikirkan kesehatannya karna Stella merasa baik-baik saja.


"Stella! Apa perlu aku memanggilkan Dokter untukmu?"


"Tidak. Ini hanya nyeri, lagi pula tak begitu sakit."


Jawaban Stella sedikit menyingkirkan beban berat di dada Efika yang benar-benar takut. Mereka harus selalu berjaga dan hanya Efika yang di perbolehkan masuk ke Villa bersama Kakek Le-Yang karna untuk mengantisipasi alasan lainnya.


Tentu sekarang ini Stella juga tak tahu apa yang harus ia lakukan. ada rasa agak ngeri jika kembali ke tepi laut bahkan keluar Villa saja Stella kembali dihantui bayang-bayang malam itu.


"Efika!"


"Yah? Kau butuh sesuatu?" tanya Efika kala Stella tampak menimbang-nimbang sesuatu.


"A.. Itu.. Aku.."


"Makanlah! Kau butuh asupan." sela Efika menambah Sub di mangkuk Stella yang antara yakin dan tidak untuk bertanya.


Apa Efika akan menjawab jujur atau wanita ini akan mengejeknya karna bertanya tentang Xavier?


"Apa Master mu suka bermain wanita?"


"Tambah yang ini!"


Efika mendekatkan piring sosis dan roti di piring satunya lalu mendekatkan itu ke Mangkuk Sub Stella yang masih penuh bahkan hanya kurang beberapa sendok saja.


"Kau bicara sesuatu?"


"A.. Tidak. Aku rasa ini cukup." jawab Stella enggan bertanya kembali. Ia menghirup Sub yang ia aduk tadi sesekali melihat Efika yang sangat sulit untuk di tanyai.


Efika yang tak menyadari keinginan Stella hanya selalu menyodorkan makanan sampai akhirnya Stella memilih untuk selesai dan pergi keluar untuk sekedar membuang nafas sesaknya.


Tak ada siapapun disini termasuk para penjaga yang biasa berdiri seperti Manekin hidup. Tetapi, lingkungan sekitar Villa sangat bersih dan rapi.


"Apa yang dia lakukan pada Pekerja disini?!" gumam Stella melihat-lihat semua sisi Villa yang tampak hijau dan segar.


Tempat ini begitu santai dan bagus untuk merilekskan pikiran. Kaki jenjang Stella yang tak beralas menapaki rerumputan di samping Villa.


Netra biru laut itu berbinar melihat banyak bunga-bunga indah di dekat pagar yang tampak begitu kokoh dan terurus. Hutan-hutan disini lebih bersahabat dibanding saat malam hari.


"Pantas Xavier sering kesini. Pemandangannya juga indah. Dan tak terdengar riuh perkotaan, lumayan."


"Nona!"


Stella segera menoleh. Terlihat pria tua bermata sipit itu mendekat membawakan Blazer hangat untuk Stella yang masih saja memakai pakaian terbuka.


"Kau pekerja disini-kan?"


"Yah. Perkenalkan Saya Le-Yang! Nona bisa memanggil apapun pada Saya."

__ADS_1


Stella mangut-mangut mengerti. Ia menerima Blazer dari Kakek Le-Yang lalu kembali melihat bunga-bunga yang tadi ia sapa.


"Kemaren aku tak melihat bunga-bunga ini. Kenapa bisa begitu lebat dan indah?" seraya membelai beberapa kelopak Gardenia yang sangat wangi nan lembut.


"Ini baru ditanam. Nona!"


"Secepat itu?" tanya Stella agak syok. Kakek Le-Yang mengangguk mengulum senyum akan exspresi wajah cantik Stella yang begitu muda.


Masternya memang sangat hebat bisa menaklukan apapun tetapi Spesies satu ini masih dipertimbangkan.


"Tanah disini sangat subur. Bahkan, dalam beberapa hari saja tumbuhan yang di tanam bisa tumbuh dan berkembang lebih cepat dari masa normal."


"Benar juga. Hutan-hutan disini juga sangat lebat dan hijau! Master-mu pandai memilih tempat bersantai."


Kakek Le-Yang hanya mengangguk tak mau menjelaskan hal lebih. Ia tak mau membuat Masternya terlalu tak nyaman dengan identitas terbuka lebar.


Lama Stella diam sampai terselip rasa ingin tahu dari Kakek Le-Yang tentang jawaban pertanyaannya tadi.


"Emm.. sepertinya Master mu itu Pemain yang handal."


"Pemain?" tanya Kakek Le-Yang agak ambigu. Ia tak mengerti maksud pertanyaan Stella bagaimana?


"A.. Iya. Secara dia itu punya segalanya, pasti banyak wanita yang sudah tertipu olehnya." jawab Stella agak sinis tapi ia cukup menunggu. Dadanya tengah terasa di cubit jika itu benar.


"Master memang sangat sempurna! Dia juga pria yang bisa diandalkan."


"Yah. Tentu saja! Wanita mana yang tak akan tunduk di bawah kakinya."


"Maksud Nona apa.."


"Lupakan!" sela Stella sudah tak nyaman. Kakek Le-Yang mengusap tengkuknya merasa agak heran. Seumur-umur ia belum pernah berhadapan dengan wanita yang terlihat penasaran tapi menjatuhkan harga diri Masternya.


"Nona! Jika ingin bertanya tentang hal pribadi. Silahkan Nona tanya lan.."


"Langsung padanya. Benarkan?" potong Stella menyambar. Ia sudah tahu apa lanjutkan kalimat menjengkelkan itu dan sering ia dengar.


Kakek Le-Yang hanya tersenyum kaku. Ia masih belum beranjak mengikuti Stella yang berjalan ke luar pagar.


"Kek!"


"Iya. Nona!"


"Kenapa Lautnya berasap?" tanya Stella merasa aneh dengan asap panas yang keluar dari permukaan air laut padahal susana pagi menjelang siang ini tak begitu menyengat.


Kakek Le-Yang agak segan menjelaskan. Apalagi, Stella melihat jika garis pantai tampak berubah dengan air laut menyusut. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Aku ingin ke sana!"


"Nona!"


Kakek Le-Yang menghentikan langkah Stella yang menekuk alisnya penuh tanda tanya pada Kakek Le-Yang.


"Ada apa?" ujar Stella heran.


"Airnya sangat panas. Kulit Nona bisa melepuh."


"Kenapa? Itu bisa bahaya untuk Biota-Biota laut di dalam sana." cemas Stella tetapi pemahaman wanita ini sangat berbeda dengan hal yang tengah terjadi.


"Disana tak ada Ikan. Nona!"


"Kau jangan bercanda. Jelas-jelas itu luas dan pasti banyak hewan-hewan di dalamnya. Ini pasti pekerjaan Xavier-kan?" geram Stella merasa ini terlalu berlebihan.


Kakek Le-Yang berusaha memberi pengertian agar Stella tak melakukan apapun akan hukuman Masternya untuk para Mahluk bawah itu.


"Nona! Itu peraturan Master. Mohon Nona menghargainya."


"Tapi..."


"Ayo masuk ke dalam. Tak baik di luar terlalu lama." sela Kakek Le-Yang mempersilahkan Stella kembali ke area dalam Villa.


Akhirnya. Mau tak mau Stella masuk kembali ke pekarangan dengan beribu tanya di benaknya.

__ADS_1


"Nona! Sebaiknya anda istirahat dan.."


"K..Kepalaku.."


Stella merasa kepalanya sangat berat dan tiba-tiba berputar langsung ingin jatuh tetapi sigap Kakek Le-Yang menangkap tubuhnya.


..........


Sementara di ruangan kerja khusus Presdir itu tengah di landa aura beku dan mendingin hebat. Tak ada yang berani bersuara untuk menyapa sosok yang tengah sibuk di meja kerjanya sana termasuk seorang wanita berambut panjang keemasan yang tadi datang cukup lama menunggu.


"Kau masih sibuk?"


Xavier tak menjawab selain anggukan tanpa ekspresinya. Ia seakan mengabaikan Linnea yang datang karna tak mau menunggu terlalu lama.


"Sayang! Kau terlihat semakin tampan? Apa kau terlalu bersenang-senang tanpa aku?"


Xavier tetap diam tak menanggapi apapun. Tentu hal itu membuat Linnea merasa cukup marah tapi ia tak bisa berbuat ceroboh pada Xavier.


"Aku.."


"Pergilah! Aku tak sempat keluar denganmu!" sela Xavier tanpa mengalihkan pandangan dari layar Laptopnya.


Linnea mengepal menahan rasa kecewa dan muak akan sikap dingin Xavier padanya. Ini sudah bertahun lamanya tapi Xavier belum bisa berubah.


"Sayang! Kakek bilang kita harus banyak menghabiskan waktu bersama. Kau tahu sendiri jika.."


"Master!"


Tiba-tiba saja Zion masuk dan spontan ia menatap Linnea dengan pandangan sopan.


"Nona!"


"Kalian tampak sangat sibuk." jawab Linnea menahan kesal karna Zion masuk begitu saja. Ia benar-benar merasa terganggu.


"Berkasnya!"


"Ini. Master!"


Zion melangkah ke arah meja Xavier yang memeriksa lembaran kertas itu lalu melihat ke arah Laptopnya kembali. Seakan-akan di ruangan ini hanya ada mereka berdua yang memburu waktu.


"Siall!! aku harus membuat Xavier memperhatikanku."


Batin Linnea mencari akal untuk merebut perhatian Xavier dari lembaran-lembaran kertas tak berguna itu.


Saat melihat Xavier masih begitu sibuk. Linnea langsung mendekat seakan-akan ingin melihat.


"Sayang! Ada yang bisa-ku bantu?"


"Keluar!"


Linnea terperanjat kala Xavier lagi-lagi bersuara kasar dan dingin. Bahkan, Linnea belum sempat mendekat ke meja Xavier yang memberikan intimidasi yang kuat padanya.


"Sayang! Kau ingin membuat Kakek marah dengan mengabaikan ku?"


Spontan Xavier berhenti membalikan kertas di tangannya. Wajah begitu kelam menyimpan hawa panas yang akan meledak kapan saja.


"Ingat! Kita sudah di takdirkan bersama. Hanya aku Keturunan yang bisa bersamamu. Ingat harapan Kakek pada kita."


Ucap Linnea mengingatkan. Ia melangkah pergi ke luar ruangan merasa Xavier sudah mulai menguarkan aura mencekik.


Zion hanya biasa diam tak berani melihat raut wajah Masternya. Ia sendiri juga tak bisa melakukan apapun.


"P..Permisi Master!"


Zion memilih pergi kala manik elang Xavier berubah merah dengan kilatan amarah yang besar. Bahkan, barang-barang disini mulai bergetar menahan tekanan darinya.


Praankkkk..


Dinding pembatas kaca di samping sana pecah tak kuat menahan tekanan Xavier yang membekukan suasana.


.......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2