YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Masih ragu tapi sudah luluh!


__ADS_3

Keringat dingin itu keluar di sela pori-pori kulitnya. Wajah cantik yang pucat itu gelisah dengan mata terpejam rapat dan kedua tangan mencengkram selimut di bawahnya.


Rasa takut tiba-tiba saja mengalir hebat kala di dalam pikirannya ia melihat jika dua mahluk mengerikan itu dengan sangat kejam ingin membunuhnya.


Bibirnya sudah ingin bicara tapi suara itu tak mau keluar. Tubuh kaku seakan masih dalam pengaruh kekuatan Mahluk mengerikan yang mencoba menelannya.


"A.. V..Ve..e.."


Gagap Stella tak bisa bernafas hingga Xavier yang tadi ada di dalam kamar mandi segera Keluar langsung mendekat ke arah ranjang.


Dengan handuk masih membelit pinggang kekar dan tetesan air dingin masih bergulir ke sela ototnya Xavier segera mengusap wajah Stella agar segera sadar dari tekanan alam bawah sadarnya.


"Stella!"


Panggil Xavier memeggang pipi Stella yang sudah sadar. Deru nafasnya memburu menatap Xavier dengan tatapan penuh haru dan sangat takut.


"V..Vee hiks."


"Sssutt!! Tenanglah." bisik Xavier menerima Stella yang berhambur ke pelukannya. Tubuh Stella terasa dingin tetapi Xavier sudah menetralkan hawa buruk dari Connor dan Eliem hingga tak akan ada bahaya lagi.


"V..Vee! Mereka.. Mereka itu siapa? Dan.. Dan aku.. Aku takut dia.."


"Jangan takut pada mereka." jawab Xavier mengusap kepala Stella yang masih sesenggukan menangis. Hati Stella sangat cemas dan kacau kala ia merasa tak akan selamat bersama bayinya.


Jika ia mati tentu saja Stella tak masalah tapi jika si kecil di dalam sana meninggalkannya. Stella tak lagi bisa menerima kecerobohan terbesarnya.


"M..mereka.. Mereka menyemburkan tinta hitam p..padaku. Vee! Aku.. Aku takut b..bayiku .. "


"Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Aku melihatnya dan akan selalu ada untukmu. Hm?" tegas Xavier membingkai wajah Stella dengan tangan besarnya.


Mata Stella sudah mengigil berair dengan rasa yang tak bisa ia jabarkan. Ingin rasanya Stella berlari dan berteriak agar tak bertemu hal seperti itu lagi tapi kerongkongannya sangat berat dan hanya bisa menahan.


"J..jadi kau ada. Dan membiarkan aku seperti itu. V..Ve kau.. Kau sebenarnya mau apa? A..apa yang kau mau dariku. Hiks? Apa?" isak Stella sudah lelah di permainkan. Suara paraunya membuktikan jika batin Stella benar-benar sakit dan terluka akan sikap Xavier yang membuatnya serba salah dan ambigu.


Melihat hal itu Xavier tak langsung menjawab. Bukan keraguan atau sesuatu yang bingung tapi ia sangat tenang menanggapi pertanyaan Stella.


"A..apa? Aku.. Aku mohon. Aku.. Aku lelah. Vee! Aku.."


"Apa kau tak merasakannya?" tanya Xavier merapikan rambut pendek Stella yang berantakan. Mata berair Stella tertegun seakan tak pernah siap akan pertanyaan ini.


Apa kau mencintaiku? Benarkah? Tapi. Kenapa? Dulu kau ingin membunuhku dan anak ini. Kenapa? Vee!


Ribuan tanda tanya di benak Stella yang berkecamuk bagai benang kusut di gulung acak. Ia tak tahu harus menanggapinya bagaimana tapi yang jelas air mata Stella masih menggenang di sana.


"Aku tak bisa mengatakan hal lain yang romantis atau semacamnya. Aku hanya belajar bekerja dan bekerja. Ajari aku mengatakannya!"


"K..kau kenapa?" tanya Stella kaku dan gugup. Ia melepas tangan Xavier yang tadi menangkup kedua pipinya lalu membuang muka ke arah Balkon kamar.


Nyatanya ia kembali ke Apartemen ini lagi. Memang benar, jika hanya Xavier yang sudi menampungnya.


Melihat Stella yang tampak menghindar seketika helaan nafas Xavier keluar. Ia merasakan degupan jantung Stella sudah memberontak di dalam sana sampai agak menggelikan.

__ADS_1


"Kau ingin aku melakukan apa? Hm."


"A..apanya? Kau jangan aneh-aneh." ketus Stella membuat wajah yang tadinya pucat sekarang sudah agak merah itu segalak mungkin.


Wajahnya di tekuk masam dengan bibir merapat bak Lolypop rasa Berry. Xavier sampai tak bisa menahan untuk melabuhkan kecupan hangat di benda kenyal itu.


Cup..


Spontan Stella membelalakkan matanya kala Xavier sudah bergerak cepat memberi kecupan kilas yang menciptakan rona merah di kedua pipi putih Stella.


"K..kauu.."


"Hm. Apa? Kau juga suka, bukan?" goda Xavier menaikan satu alisnya dengan kepercayaan diri begitu tinggi dan sangat membuat Stella kesal.


Seperti biasa sikap angkuh dan percaya diri Xavier membuat Stella ingin muntah. Tapi, sialnya apa yang Xavier katakan itu benar.


"Aku benar? Jelas benar!"


"Salah! Kau SALAH." tekan Stella masih mempertahankan egonya. Ia mengusap bibirnya seakan menghapus jejak kecupan seksi Xavier yang tiba-tiba saja bersikap manis padahal sebelumnya selalu membuat Stella gemetar.


"Siapa yang menyukai Nyamuk sepertimu? Hanya orang-orang bodoh di Sekolahku saja yang melakukannya."


"Kau tak termasuk?" tanya Xavier dengan bibir menipis dan mata abunya menyipit dengan tangan beralih mengusap lengan Stella menghilangkan memar dan merah ini.


"Tidak. Aku wanita cerdas dan pandai memilih laki-laki."


"Benarkah?" tanya Xavier yang di angguki Stella. Ia menikmati pijatan Xavier ke lengannya dan terkesan nyaman.


Walau tangan Xavier kekar dan besar Stella merasa tak terganggu. Bahkan, rasa hangat itu membuatnya mengantuk dengan ketakutan sudah menghilang ntah kemana.


"Vee!"


"Hm?"


"Perutku berat." gumam Stella belum melihat ke arah perutnya. Tiba-tiba saja ia merasa sesak duduk tegap begini seakan ada yang mengganjal dadanya.


Sedetik kemudian Stella yang tadi menikmati pijatan Xavier ke lengan dan bahunya seketika sadar kala sudah melihat ke bawah.


"V..Veee!!" pekik Stella terperanjat melihat perutnya sudah besar bahkan lebih dari ukuran pertama. Ini seakan sudah berusia 5 bulan padahal baru berjalan 2 bulan saja.


Melihat keterkejutan Stella yang terdiam kosong menatap ke arah benjulan di tengah tubuhnya itu, tatapan Xavier hanya datar tapi sangat lembut.


"A..apa..apa yang terjadi? Kenapa begini? V..Vee.." tanya Stella dengan panik takut-takut ada hal aneh yang terjadi. Bisa saja Tumor atau Kangker tengah berkembang di dalam sana. Pikir Stella terlihat hampir ingin kembali menangis.


Emosinya begitu labil dan tak seperti Stella yang biasa. Ia tak berfikir dulu sebelum melihat atau menduga sesuatu.


"V..Vee! A..apa ini? Apa kau terkena Tumor atau.."


"Yah. Itu sejenis Tumor jinak."


"A..apa?" tanya Stella tertegun mendengar jawaban Xavier yang menatap Stella dengan pandangan gemas. Tiba-tiba otak wanita nakal ini tinggal beberapa persen tak bisa menela'ah kalimatnya.

__ADS_1


Karna rasa takut dan sesak di dadanya. Stella langsung diam mengusap perutnya, ia hanya bisa menahan isakan padahal jelas Xavier tengah menahan senyuman yang tak pernah terjadi sebelumnya.


"T..Tumor? Aku.. Aku kena Tumor? V..Vee aku..aku akan mati. Hiks! Bagaimana dengan bayinya? Mommy ku masih sangat membutuhkan aku. Vee!" isak Stella menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Xavier yang akhirnya mengigit bahu Stella meluapkan rasa gelisah nya.


"K..kauu.."


"Hm? Air matamu membuatku bahuku basah." desis Xavier tetapi Stella terdiam untuk sesaat.


Sedetik kemudian ia membelalakkan matanya kala Xavier hanya menggunakan taktik licik seperti biasa untuk mengerjainya. Hal itu membuat Stella naik pitam langsung menarik rambut lembab Xavier dengan kesal.


"Veee!!! Bohoong! kau bohooong. Dasar pembohoong!"


"Rambutku Sakit. Sayang!" desis Xavier meringis tapi itu hanya drama. Stella sama sekali tak menggubrisnya hingga dengan kesal bercampur sebuah rasa senang Stella menarik sesuka hatinya sampai tubuhnya langsung di dorong Xavier berbaring di atas ranjang.


Tubuh kekar Xavier sudah mengungkung Stella yang tiba-tiba saja terdiam dengan mata saling bertaut dengan netra abu ini.


Tatapan terpaku dalam bahkan menembus relung hati masing-masing. Ntahlah, baru kali ini Xavier merasa ia lupa dunia dan tak ingin melihat yang lain selain wajah cantik ini.


Begitu juga Stella. Ia terkurung dalam pesona ketampanan Xavier yang selalu bisa membuatnya melemah dimanapun dan kapan-pun Pria ini menginginkannya.


"Vee!"


"Kau masih marah?" tanya Xavier dengan suara lirih dan hidung nyaris bersentuhan. Stella hanya diam tak bisa jujur jika ia tiba-tiba merasa jika Xavier tak main-main kali ini. Tapi, apa benar dia sudah berubah?


Melihat masih ada keraguan di mata Stella yang masih membisu. Xavier segera melabuhkan satu kecupan lama di kening mulus wanita ini lalu menyatukan kening keduanya dengan panorama cinta yang besar dan membuncah.


"Kau marah?" lirih Stella kala Xavier juga ikut diam.


"Tak apa. jangan di jawab sekarang. aku akan selalu meyakinkanmu."


Mendengar jawaban itu Stella tersenyum segera memangut bibir Xavier yang tercekat sesaat karna ia masih tak percaya Stella melakukan hal ini. Ia kira Stella akan menolak dan membuatnya terus menunggu padahal Xavier termasuk Pria yang memang cukup mencintai hal seperti ini.


Seakan tak melewatkan kesempatan emas yang di berikan Stella. Xavier segera membalas pangutan penuh sensasi kerinduan itu sampai keduanya saling mencumbu tanpa ada jawaban pasti secara lisan.


Padahal. Dari tanggapan dan respon Stella yang tak lagi menolak, Xavier seharusnya paham jika hanya tinggal beberapa langkah lagi mereka akan segera memadu kasih kembali dengan suasana berbeda.


Suasana yang tadi penuh drama sekarang berubah panas dan mendidih. Xavier sudah lupa akan dunia sampai hanya fokus pada sosok molek yang tengah liar bak Singa betina yang berkuasa di wilayahnya.


Aku sangat merindukanmu! Aku menantikan saat-saat kau kembali bersamaku dan hanya aku. Stella!


Batin Xavier begitu posesif. Ia masih menahan diri agar tak bertindak terlalu kasar karna perut Stella sudah tak bisa diabaikan lagi.


Setelah menyerap kekuatan besar kala itu. Pertumbuhan dan Perkembangan Benih Premium Xavier meningkat apalagi tanpa Stella sadari, Xavier selalu mengalirkan kekuatannya agar Stella tak merasakan sakit yang terlalu parah saat si kecil itu ingin membesar.


Sampai sekarang-pun. Stella masih meragukan Xavier padahal tanpa Stella sadari jika Xavier-lah yang menjadikan nyawanya sebagai jaminan agar ia tetap hidup.


Pergumulan keduanya di atas ranjang sana sampai membuat suara decipan erotis dan erangan kenikmatan yang hebat. Di malam hari ini tak ada yang bisa mencegah tontonan Dewasa itu tayang tanpa sensor sama sekali.


Ntah karna begitu hanyut dan larut atau terlalu mendalami. Xavier dan Stella tak lagi sadar jika Ponsel yang ada di samping ranjang berbunyi.


Seperti biasa itu panggilan dari seseorang tanpa nama dan banyak pesan masuk tetapi tak di hiraukan keduanya.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2