YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Dimana dia?


__ADS_3

Hening damai dan menghanyutkan. Begitulah suasana Kamar seorang wanita yang kali ini terbaring senyap di atas Ranjang yang tak begitu luas itu. Wajah cantik yang lelap membiarkan angin yang lolos dari Fentilasi sana membelai pipinya seakan memanggil agar bangun.


Seharusnya kesan damai ini membuatnya semakin tenggelam dalam alam bawah sadar yang tak menyetujui. Syaraf di Tubuhnya merespon dimulai dari jemari bergerak pelan dan kelopak mata bergetar.


Beberapa saat kemudian, dahinya mulai menyeringit dengan kelopak mata biru lautnya terbuka memperlihatkan rona bingung dan tak mengerti.


"K..Kepala ku.." desisan muncul dengan tangan spontan memeggang kepalanya. Pandangan kabur perlahan berubah menjadi jernih kala ia sudah berusaha menormalkan penglihatan ini.


"K..kamar. Kenapa bisa?"


Stella kebingungan melirik kanan-kiri. Tak ada siapapun di dalam Kamar ini bahkan seperti tak terjadi apa-apa. Jelas Stella begitu tak yakin pasalnya pertempuran baru saja mengguncang tempat ini.


"T..tidak. Jangan-jangan ini Ilusi Musuh. Mereka menjebak ku dalam Dimensi yang berbeda."


Dugaan kuat Stella langsung menyibak selimut di atasnya lalu mengulur kaki turun menyentuh Lantai dingin ini.


Ntah ada Alarm atau Sinar X disini tiba-tiba saja Pintu Kamar terbuka dengan seulet tubuh seseorang masuk. Awalnya Stella tak begitu menghiraukan tapi ia segera tersentak kala ada Lelaki muda yang langsung menahan bahunya.


"Kauuu!!!"


Pekik Stella mendorong lengan kokoh Lelaki Muda itu agar menjauh sampai tubuhnya kembali duduk di atas Ranjang.


Stella segera menggulung tubuhnya dengan selimut lalu menjaga jarak aman. Ia belum menatap wajah Sosok ini tapi dari leher kebawah sepertinya dia rajin Olahraga.


"Jangan macam-macam dengan kuu!!!" geram Stella begitu waspada. Bahkan, ia tak membiarkan Tubuh orang asing ini bergerak dan ia menjadi CCTV untuk itu.


"A..aku.."


"Keluarkan aku disini!! Keluarkan akuu!!" pekik Stella benar-benar menganggap jika ini bukan kamarnya. Raut wajah memberontak dan keras kepala ini membuat Sosok itu terdiam cukup lama.


Stella merasakan hawa kagum, penuh kasih bahkan tatapan lembut yang tengah mengurungnya.


"Apa dia ingin mengurungku disini?"


Batin Stella sudah meremas Selimutnya. Ia bergumam lirih agar Xavier datang dan membawanya pergi dari tempat misterius ini.


"Vee.. Vee aku mohon!"


"Tunggu! Aku ini.."


Stella menepis tangan Jenjang yang ingin memeggang bahunya. Wajah Stella terangkat mendongak dengan tatapan tajam memberontak seperti biasa.


"Aku tak perduli kau siapa tapi KELUARKAN AKU DARI SINII!!" Teriak Stella begitu menolak. Namun sedetik kemudian ia menyipitkan matanya kala netra biru itu sama dengan miliknya.


"M..Mata mu.."


Stella sampai menunjuk wajah muda, tampan dan sangat memiliki aura yang sama dengan seseorang. Otak Stella berpikir keras karna perasaan aneh mulai membuatnya gelisah.


"K..Kau.. "


"Ini Aku!" jawab Ester dengan wajah berbinar yang tak pernah ia tunjukan pada siapapun. Untuk pertama kalinya ia berharap dan rela menunggu.

__ADS_1


"KAU BERUSAHA MENIPUKU. YAA??"


"A..Apa?" gugup Ester kala Stella tak mengenalnya. Harapannya seketika pudar dengan tatapan berubah sendu dan kecewa.


Kepalanya menunduk dengan wajah murung yang Stella hafal ini di miliki oleh siapa. Tapi, tak mungkin Putranya Ester. Ini terlalu Tampan dan mirip dengan..


Tunggu. Wajahnya ada kemiripan dengan Xavier dan matanya sepertiku, tapi apa iya ini bukan Ilusi musuh?


Stella mencoba meraba hatinya. Ia memang merasakan hawa hangat dan empati yang kuat seakan-akan ia membenci wajah murung ini. Ia terkurung dalam perasaan sayang yang perlahan meruak.


"K..Kau.."


"Kau tak mengenalku!" lirihan kecewa itu menusuk dada Stella yang mulai melunak. Ia seakan melihat Baby Ester yang tengah merajuk kala Xavier mengambilnya secara paksa.


Ntah apa yang membuat Stella menerobos keraguannya ia mulai mengulurkan tangannya memeggang pergelangan kekar ini. Walau agak kaku Stella tetap mencoba bertanya.


"M..Maaf. Tapi, A..Apa kau P..Putraku?"


Seakan ada angin sejuk yang menerpa hatinya. Ester langsung berhambur memeluk Stella yang mematung kosong kala tubuh yang bahkan lebih besar darinya ini memeluk dengan begitu erat.


"Mommy!"


Degg..


Jantung Stella seakan berhenti berdetak bahkan matanya sudah kabur mengembun. Dunia sesaat menjadi kosong bahkan bernafas saja ia hampir lupa.


"K..Kau.." bibirnya bergetar meraba Punggung belia nan kokoh ini. Setetes air mata itu turun dengan wajah sungguh tak menyangka.


"E..Ester? Kau.. Kau P...Putraku?" tanya Stella beralih menangkup rahang tegas nan Tampan ini. Ia menyelami pandangan sayu Ester yang sangat mirip dengan seseorang tak bisa lagi ia ragukan.


"E..Ester! Kau.. Kau sudah.."


"Hm. Aku Putramu. Mom!" jawab Ester membuat Stella langsung mati rasa. Ia kembali memeluk Estee yang juga membalas dekapan hangat Mommynya dengan tak kalah erat.


Stella merasa sangat tak menyangka jika Putra yang selama ini ia gendong sudah sebesar ini. Bayi yang dulu menangis di pangkuannya sudah bisa memangku tubuhnya.


"K..kau ..kau dulu masih ada di gendonganku. T..Tubuhmu masih kecil dan.. dan sekarang sudah sebesar ini. Hiks! Kau baik-baik saja-kan?"


"Iya. Aku masih bayimu. Aku belum dewasa." jawab Estee berubah mencair. Ia tak mau jauh dari Mommynya yang selama ini sudah berjuang melahirkannya.


Mendengar itu Stella hanya tersenyum. Ia mengecup lama kening Ester yang ia anggap sebagai si kecil Tampannya.


"Yah. Kau masih kesayanganku."


"Hm. Mommy sangat cantik." puji Ester sangat mengagumi pesona Stella. Saat kecil ia sudah jatuh hati dengan netra angkuh tapi menyimpan kehangatan ini dan jelas sekarang rasa itu semakin besar.


Pujian yang di lontarkan Ester hanya di jawab senyuman hangat Stella. Ia mengambil nafas dalam menggenggam tangan yang bahkan lebih besar darinya ini.


"Dimana Daddymu?" tanya Stella seakan bertanya pada anaknya padahal dalam kacamata orang lain mereka seperti Sepasang kekasih.


"Mom!"

__ADS_1


"Kau sudah menemuinya-kan?" tanya Stella mulai cemas kala melihat wajah bingung Ester yang terdiam sejenak. Tentu perasaan Stella langsung tak stabil segera berdiri dari duduknya.


"Dimana? Dia baik-baik saja-kan?"


"Mommy tenang saja. Dia tadi di bawa ke Kediaman Utama oleh anggotanya."


Sontak Stella langsung berbalik keluar dari kamar. Ester bangkit mengejar Stella yang pastinya tak akan tenang begitu saja.


"Efikaaa!!! Efikaa!!"


"Mom!" gumam Ester menuruni anak tangga yang tadi Stella lewati.


Keadaan Villa ini kembali stabil seakan tak terjadi apapun. Tak ada apapun yang rusak bahkan halaman Villa masih rapi dan bersih tak ada bekas pertempuran apapun.


"Efikaaa!!! Efikaa kau ..."


"Nona!"


Efika menghampiri Stella yang tampak menatapnya dengan tegas dan cemas. Jelas ini sangat membuatnya heran dan tak tenang.


"Dimana Mastermu?"


"Nona! Master tadi mengatakan dia ada urusan di Kediaman dan kemungkinan dia tak akan kembali beberapa hari ini dan.."


Tanpa menunggu kalimat Efika selesai. Stella sudah lebih dulu melenggang keluar mendekati Kakek Le-Yang di dekat Garasi Villa.


Melihat kedatangan Stella tentu mereka semua langsung khawatir dan tak bisa diam saja.


"Nona! Kau.."


"Antar aku ke Kediaman Master mu!" titah Stella dengan pandangan begitu keras dan berambisi.


Kakek Le-Yang mulai kebingungan beralih memandang Ester yang sudah berdiri di belakang Stella.


"I..itu.."


"Kau tak mau?" tanya Stella dengan mata sudah mengigil. Ia merasakan sesuatu yang tak beres disini bahkan hati Stella tengah gelisah di dalam sana.


"Nona! Master baik-baik saja dia.."


"AKU INGIN MELIHATNYA!! AKU TAK BUTUH JAWABAN KALIAN SEMUAA!!" Bentak Stella sudah tak tahan disini lagi hingga ia langsung membekap wajahnya yang sudah meluruhkan isak tangis.


"Mom!"


"A..aku.. Ingin melihatnya. Aku.."


"Baik! Aku yang akan pergi bersamamu." Tegas Ester tak mau melihat Mommynya menggila disini. Mendengar tangisan wanita itu saja sudah membuatnya ingin menghancurkan objek kesedihannya.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2