YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Sangat tak berperasaan!


__ADS_3

Kedatangan dua sosok yang tadi membuat satu Villa waspada tampak sudah berdiri tepat di depan teras Villa dimana Kakek Le-Yang menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya besarnya kemari.


Tatapan kedua sosok itu mengamati setiap senti Bangunan yang tak begitu luas ini tapi sangat elegan dan terkesan segar. Tak pernah mereka ketahui jika selama ini Xavier memilih Villa seperti ini untuk menyendiri.


"Selamat datang. Tuan dan Nyonya besar!"


"Dimana putraku?" tanya Nyonya Margretta dengan intonasi sangat halus dan mendayu. Tuan Atticus hanya diam fokus pada bagian atas Villa seakan-akan ada hawa yang menarik mereka ke atas sana.


Nyonya Margretta juga mencium aroma yang begitu lezat sampai urat hitam di bagian lehernya ingin keluar tapi ia langsung tersadar.


"Dimana Patriack? Kami ingin bertemu dengannya."


"Master masih ada di dalam. Tuan dan Nyonya silahkan duduk di.."


"Biarkan kami masuk!" tegas Tuan Atticus tampak terburu-buru. Jelas ini menarik tatapan tajam Nyonya Margretta yang seketika mengulas senyuman halus.


"Sayang! Putra kita pasti sangat sibuk. Biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu."


"Tapi ini sangat darurat." bantah Tuan Atticus mendorong bahu Kakek Le-Yang lalu menerobos masuk ke dalam Villa.


Efika yang tadi ada di dalam langsung menghadang langkah Tuan Atticus yang terkesan cepat.


"Tuan!"


"Dimana Mastermu?"


Efika merasakan jika aura dua mahluk ini sangat jahat. Ia tak pernah tahu apa yang mereka lakukan disini dan bagaimana bisa masuk?


Melihat Efika yang diam. Tuan Atticus mulai naik emosi karna sebuah kekacauan besar telah membuat keadaan di Kediaman sana berantakan.


"DIMANA DIAA???"


"Jangan marah-marah di Villa putraku." sarkas Nyonya Margretta mendekati Tuan Atticus yang benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya semenjak penolakan Xavier saat di Kediaman waktu itu.


"Ini tempat penuh ketenagan! Mungkin dia tengah ada pekerjaan. Tunggulah sebentar."


"Aku tak bisa menunggu selama itu."


"Kau.."


Ucapan Nyonya Margretta terhenti kala ekor matanya sudah melihat Tubuh kekar Xavier yang berdiri di atas tangga atas. Tatapan netra abu dingin itu masih sama bahkan terlihat sangat terganggu akan kedatangan keduanya.


"Prince!"


"Master!" gumam Efika mundur kala Xavier sudah melangkah turun dengan Zion juga ikut di belakangnya.


Nyonya Margretta mendekat dengan tatapan sangat lembut dan hawa rasa sayang menyebar kemana-mana. Jelas jika hal ini tak bisa menyentuh Xavier yang sedari lama sudah tak bisa di dekati.


"Prince! Bagaimana kabarmu? Kenapa di Villa ini suasananya tengah malam. Kau benar-benar aneh. Nak!"


"Pergilah!" titah Xavier tanpa intonasi yang lembut. suara beratnya berucap menjadi ultimatum menakutkan membuat Tuan Atticus mengepal.


"Kau ternyata bersembunyi disini!"


"Maksud Daddymu itu. Ternyata kau punya tempat senyaman ini, kenapa tak pernah bilang. Hm?" timpal Nyonya Margretta tapi seketika tercekat kala mata Xavier benar-benar seakan menelan mereka hidup-hidup.


"Pergi!"


"P..Prince! Kami hanya ingin membawamu kembali ke Kediaman. Kakek mu tengah sakit dan dia butuh kau di sampingnya." jawab Nyonya Margretta sendu dan mengiba. Hal itu membuat Zion terdiam cukup lama dengan pikirannya sendiri.


Apakah karna Proses penyerapan jiwa tadi berdampak pada Yang Mulia Lucius? Jika benar. Berarti mereka tengah mencari darah murni yang dulu di tugaskan pada Xavier untuk membawanya.

__ADS_1


"Prince! Kakek mu sangat membutuhkanmu. Setidaknya temani dia sebagai seorang Putra Mahkota karna hanya kau yang ia percaya menjadi penerus Elbrano. Nak!"


"PERGI!" tekan Xavier tak menghiraukan hal itu. Ia sekarang tengah di landa rasa gelisah yang besar karna menunggu Proses persalinan Stella dan tak ada waktu untuk menunggu Kakek Tua itu.


Melihat Xavier yang sama sekali tak mengindahkan ajakan istrinya. Tuan Atticus langsung mendekat dengan wajah sama-sama punya batas tersendiri.


"Kau tak perduli pada Kakek mu?"


"Perduli!" jawab Xavier masih dengan intonasi yang sama. Tuan Atticus mengambil nafas dalam memandang Xavier dengan penuh arti.


"Tunjukan keperdulian mu! Jangan sampai Keluarga kita hancur hanya karna Perasaan tak masuk akal mu itu."


"Aku tak mengerti." tegas Xavier seakan tak tahu. Hal itu membuat kekehan kecil Tuan Atticus keluar benar-benar merasa aneh dengan sosok pria di hadapannya ini.


Dulu. Xavier sama sekali tak pernah membantah bahkan melanggar aturan yang di buat oleh Yang Mulia Lucius. Bahkan, Xavier bisa mengemban kepercayaan yang begitu besar dari Kakeknya untuk memeggang kekuatan Keluarga dengan syarat yang sudah di sepakati dari dulu.


"Kau masih ingat dengan Sumpahvmu saat menjalani Tantangan menjadi Penerus. hm?"


Xavier hanya diam tetapi Zion baru menyadari hal itu sekarang. Ia tercekat kuat merasa jika hal ini nyatanya sangat menekan posisi Xavier.


"Jika kau lupa. Cobalah ingat kembali. Prince! Bagaimana kau bersumpah untuk bersedia menjadi Penerus Keluarga Elbrano setelah KAKEKvMU."


"Dan kau menyanggupi syarat yang dia ajukan sebelumnya. bukan-kah begitu, Nak?" imbuh Nyonya Margretta dengan suara halus yang mendayu.


Kedua tangan Xavier terkepal kuat. Nyatanya dua Mahluk menjijikan ini hanya ingin mengingatkannya akan Sumpah menjadi seorang Penerus yang sejak kecil di tanamkan padanya.


"Kau jangan menjadi seperti Pamanmu! Jangan bodoh. Kau mengerti?"


Tak ada jawaban apapun dari Xavier. ia tetap diam membisu belum ada guratan menerima atau menolak karna ini bukan waktu yang tepat.


Nyonya Margretta sangat berharap jika perubahan Xavier ini hanyalah sebuah tipu daya. Ia mengatakan itu pada seluruh Keluarga agar tak melakukan perkelahian yang besar.


"Prince! Mommy yakin kau cerdas dan tak pernah berubah. jangan kecewakan Kakekmu. Hm?"


Alhasil keduanya berbalik ingin pergi tapi sebelum itu langkahnya terhenti kala deru angin mulai masuk menerpa dengan sangat kuat. Hal ini spontan menarik tatapan Nyonya Margretta dan Tuan Atticus ke arah tangga kamar Xavier.


Aroma darah ini sangat memancing jiwa mereka untuk segera kesana tapi Xavier sudah melindungi area kamar hingga suara Stella tak akan terdengar tetapi, aroma darah murni itu sangatlah harum dan menyengat di hidung Mahluk sebangsa mereka.


"Prince! Kau harus cepat menyerahkannya!"


"Kami percaya padamu!"


Gumam mereka dan menghilang begitu saja. Sedetik kemudian suara jeritan dari atas sana membuat mereka semua terkejut.


Xavier berlari cepat ke lantai atas dengan Zion yang juga sama. Ia mendobrak pintu kamar beriringan dengan pecahan kaca Balkon.


"Ssssakiiiittt!!!!" teriak Stella tampak sudah pucat pasih menjerit kuat mengejan untuk kesekian kalinya. Nyonya Clorie tampak begitu fokus ke area jalan lahir mana kepala si kecil itu sudah keluar.


"Stella!! Sedikit lagi. Ayo kau bisa. Nak!"


"M..Mommy hiks!" isak Stella sudah tak sanggup melakukannya lagi Sekujur tubuhnya terasa sangat nyeri bahkan ia merasa tulang-tulangnya hampir patah apalagi dibagian bawah sana.


Melihat Stella sudah hampir pingsan Xavier segera mendekat dengan Zion yang langsung pergi untuk mengambil air hangat dan handuk yang tadi masih di bawah.


"Kau.. Kau dorong perutnya dengan pelan!"


"V..Vee!" lirih Stella sudah sayu-sayu menatap Xavier yang segera duduk di sampingnya. Perintah Nyonya Clorie tadi masih terngiang-ngiang di kepala Xavier.


"Kau kuat. Kau bisa melakukannya."


"A..aku.."

__ADS_1


Nafas Stella tersendat bahkan wajahnya sudah sepucat kapas. Bibir itu hampir membiru tak berdarah lagi. Sungguh Xavier merasa sangat cemas dan tak bisa tenang.


"Tarik nafasmu pelan. Aku akan membantu mendorongnya."


"A..aku.."


Stella menuruti bisikan Xavier yang menggenggam tangan dinginnya. Stella mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya tetapi matanya masih bertaut dengan Xavier yang memberikan hawa kenyamanan untuk Stella.


"Sekarang. Stella!!"


"Emmm!!!!" geraman Stella kembali mengejan mencengkram tangan Xavier sekuat-kuatnya sampai urat leher Stella muncul karna menjerit sekuat itu.


Tangan Xavier mendorong dari atas sesuai arahan Nyonya Clorie yang tengah gemetar kala tubuh mungil itu sudah perlahan keluar diiringi darah yang terus membanjiri selimut di bawah paha Stella.


"Sedikit lagi. Kau bisa. Stella! Kau bisa. Nak!!" harap-harap cemas Nyonya Clorie dengan stabil menarik bagian tengkuk lembut lengket akan darah itu keluar hingga pada dorongan terakhirnya Stella berhasil mengeluarkan tubuh kecil itu sepenuhnya.


Sedetik kemudian suara petir diatas sana saling bersahutan membuat kegelapan semakin menimpa area Villa. Nyonya Clorie berusaha untuk tenang padahal ia sudah tak fokus.


"S..Stella!" gumam Nyonya Clorie kala kedua tangannya sudah memeggang kulit lembut dan sangat lunak ini. Sesosok mahluk suci selayaknya bayi pada umumnya tapi tak ada tangisan apapun.


Sementara Stella. Ia sudah tak sadarkan diri di pelukan Xavier yang tengah memeriksa keadaan Stella yang sudah kehabisan energinya. Sekujur tubuh wanita ini dingin dan terasa sangat beku.


"B..bayinya lengkap. Ini.." Kalimat Nyonya Clorie terhenti kala tiba-tiba tubuh si kecil yang penuh darah dengan tali pusat masih menyambung dengan Stella itu diselumbungi asap hitam yang muncul dari permukaan lantai.


Bukan itu saja. Nyonya Clorie merasa ada yang di tarik keluar dari tubuhnya dan hal itu membuat Xavier segera menghempaskan tangannya ke arah Nyonya Clorie agar tak terhisap oleh kekuatan si kecil ini.


"Berikan dia padaku!"


Nyonya Clorie memberikannya pada Xavier yang tanpa belas kasihan atau berhati-hati memeggang tengkuk si kecil itu dengan cengkraman tangan kekarnya.


"Kau ingin membunuhnya. Haa?? jangan memeggangnya seperti itu."


"Hm."


Xavier hanya acuh. Ia sama sekali tak ada perasaan haru atau bagaimana selayaknya seorang ayah. Yang jelas, Xavier memperlakukan bayi ini sesuai dengan apa yang ia pahami saja.


Nyonya Clorie semakin syok kala Xavier memutus Tali Pusat itu dengan satu cengkraman dari kukunya yang tiba-tiba panjang dan sangat tajam. Hal itu ternyata juga di lihat oleh Zion yang tadi membawa Mangkuk berisi air hangat dan handuk seketika menelan ludah di depan pintu.


"APA LAGI YANG KAU TUNGGUU?!!!"


"B..baik. Master!" gugup Zion masuk dengan seiring dengan tubuh Stella sudah di tutup dengan selimut yang ntah datang dari mana siapapun tak akan tahu kecuali Xavier.


Tak cukup membuat Nyonya Clorie dan Zion jantungan di tempat. Xavier semakin membuat mereka menutup telinga kala Xavier membalikan tubuhnya lalu mulai mengeluarkan kedua taring tajam itu.


"M..Master!"


"Aku tak punya banyak waktu." desis Xavier mengigit bagian leher lembut itu hingga tangisnya langsung pecah. Hal itu membuat Villa berguncang bahkan barang-barang di luar sana terpental tak karuan.


Suara petir menyambar keras seiring dengan tangisan bayi kecil yang ada di tangan kekar dan kasar Xavier. Ayah mana yang tega mengigit putranya sendiri dan sampai menjerit sekeras itu bahkan menggulung Pantai di luar Villa? Jawabannya adalah XAVIER.


Tangisannya sangat keras merusak telinga mereka bahkan menerbangkan Kelelawar yang terusik dengan ketajaman suara ini.


Tetapi. Mata Xavier berubah menjadi merah darah menghempaskan tangannya ke arah Stella hingga angin dingin itu langsung membungkus masuk ke dalam selimut.


Nyonya Clorie hanya melihat bagaimana Xavier menyalurkan energinya pada Stella dan taring itu masih menancap gagah di leher anaknya yang tak berdaya dibawah kekuasaan sang Ayah.


"Ntah apa yang besok akan terjadi. Dia sama sekali tak berperilaku baik pada anaknya."


Batin Nyonya Clorie menutup mulutnya menahan rasa cemas dan gemetar yang tadi masih tersisa di tubuhnya.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2