
Deru Mobil mewah mengkilap berwarna hitam itu melaju stabil melintasi jalur utama Kota yang tampak begitu maju dan mewah.
Di sepanjang Tol yang menampung berbagai jenis angkutan roda empat ini, berdirilah Beton tinggi yang tampak mengkilap kala terkena cahaya mentari.
Hijaunya pepohonan yang di tanam di pinggir Tol dengan rerumputan hijau sengaja di rawat menjalar di permukaan tanah di bawah sana. Pemandangan begitu indah dan sangat-sangat bergengsi. Ini bahkan lebih bagus dari pada Kota dimana ia sekolah.
"Itu apa namanya?" tanya Stella bersemangat menatap ke luar jendela. Udara disini sangat segar jauh dari jangkauan asap.
Penghijauan begitu di utamakan sampai Stella tak bisa mengalihkan pandangan dari berbagai penjuru Kota Melbron.
Kala tak ada jawaban dari Xavier yang duduk di sampingnya. Stella akhirnya bersikap abai, ia lebih memilih mengeluarkan tangannya dari Jendela Mobil membuat Xavier segera menariknya cepat kembali masuk.
"Kau.."
"Kau ingin mati?!" tanya Xavier dengan tatapan masih begitu dingin. Sejak bertolak dari Villa yang jalannya begitu membuat Stella pusing, wajah Xavier masih seakan menelannya hidup-hidup.
"Aku hanya mengeluarkan tanganku."
"Kau tak lihat peraturan Jalan ini?" geram Xavier menarik dagu Stella ke arah Papan Elektronik yang biasa di gunakan untuk mengingatkan pengendara agar tak melakukan hal yang membahayakan.
Mata Stella terpaku melihat gambar-gambar ilustrasi yang melarang untuk membuang sampah disini, berhenti sembarangan dan salah satunya mengulurkan kepala atau tangan keluar dari Mobil saat melaju di jalanan.
"A.. Aku tak tahu. Aku pikir boleh."
"Jangan terlalu kuno disini." ketus Xavier membuat Stella melebarkan matanya. Wajah cantik ini itu seketika merah padam merasa di rendahkan.
"Kau pikir sendiri berapa lama kau mengurungku??? Nyamuuuk!"
"Waktu selama itu tak mungkin membuatmu Amnesia." balas Xavier dengan wajah datar menyebalkan masih bertahan selama ini.
"Kau memang benar-benar. Ha??"
"Aku memang selalu benar." jawab Xavier masih begitu angkuh membuat telinga Stella sudah berasap dengan kedua tangan terkepal kuat.
"Nyamuuuuk!!! Nyamuuuk!!!"
Teriak Stella menguarkan suaranya ke luar Jendela Mobil sampai para pengendara yang melaju di samping mereka tampak keheranan.
Zion begitu malu. Ia menutup jendela Mobil membatasi Stella bertingkah kekanak-kanakan disini.
Bukannya memarahi Xavier justru acuh. Ia tak perduli pandangan para pengemudi lain padanya apalagi jelas Bemper Mobil mereka ada logo Perusahaan. Sangat memalukan bukan?
"Buka jendelanya!!"
"Kau menganggu pengemudi yang lain." jawab Zion dengan intonasi suara rendah takut-takut Xavier marah karna ucapannya barusan.
"Bukaa!! Aku hanya ingin melihat keluar."
__ADS_1
"Kau menaiki Mobil Perusahaan. Jaga sikapmu." tekan Zion tak lagi tahan.
Melihat wajah Stella yang merah padam menahan emosi, Xavier hanya menarik sudut bibirnya sinis menurunkan kaca jendela di sampingnya.
"Ehmm."
Xavier berdehem menatap ke arah luar. Stella menatapnya tajam lalu tetap fokus menatap ke depan. Ia menjaga jarak dengan Xavier yang menaikan sikunya ke dekat jendela Mobil.
"Ehmm."
Stella tetap diam mengabaikan Xavier yang melirik respon acuh Stella dari ekor matanya. Ego wanita ini begitu tinggi membuatnya selalu tertarik.
"Kau yakin tak mau melihat ini?"
"Tidak." jawab Stella singkat bersandar ke kursi Mobil. Ia sesekali melirik Xavier yang tampak menikmati pemandangan di luar Mobil.
Hembusan angin yang menerpa wajah tampan itu membuat Stella ingin sekali merasakan duduk disana.
"Tidak. Dia akan mengejekku berulang kali nanti."
Batin Stella kekeh untuk bertahan. Wajahnya terlihat cuek seakan tak perduli tetapi, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam Stella tengah menahan hasutan untuk merapat ke arah Xavier.
"Cukup bagus." gumam Xavier memejamkan matanya menikmati semilir angin yang masuk. Hal itu membuat Stella tak tahan agak sedikit melirik Xavier yang tampak begitu damai.
"Aku rasa dia tak akan sadar jika ku tunggu sedikit lebih lama."
Batin Stella menunggu. Sesekali ia menarik diri mendekat ke tempat Xavier yang tampak belum menyadari pergerakannya.
"Dia sudah tidur? Secepat ini ternyata!"
Stella perlahan mendekat hingga pahanya sudah merapat ke paha Xavier yang masih diam menunggu apa yang akan Stella lakukan selanjutnya.
"Sustt!" bisik Stella menguji apa Xavier mendengarnya. Kala tak mendapat respon apapun Stella berbinar dengan hati-hati membungkukkan tubuhnya ke samping mengintip keluar Jendela.
Benar saja. Mata Stella di suguhkan dengan pemandangan indah jalanan yang sudah keluar dari Tol. Lihatlah betapa indahnya pemandangan dari banyak patung air pancur yang ada di dekat beton di seberang sana.
"Ini lebih indah dari Pancuran di Sekolah." gumam Stella merasa tak percaya jika ia akan menyaksikan ini.
Suara riang Stella membuat mata Xavier perlahan terbuka. Tatapan pertama di suguhkan akan kecantikan gadis belia ini.
Senyum indah terukir di bibir seksi Stella yang belum menyadari jika Xavier sudah menatapnya tak berkedip. Rambut Stella ringan terbelai angin menyapu wajah Tampan Xavier yang bak patung hidup menatap penuh kagum sosok ini.
Sempurna.
Satu kata itu menjabarkan pesona Stella yang menyihir mata Xavier untuk tak berpaling. Ntah kenapa tiba-tiba ikut merasakan suasana hati Stella padahal selama ini ia tak pernah merasakan yang namanya bahagia, sedih atau sebuah kegundahan.
Merasa di pandangi dengan Intens Stella segera menoleh hingga matanya terkurung dengan netra Grey Xavier yang sudah tak perduli daerah di sekitarnya.
__ADS_1
"K..kau.."
Stella begitu gugup berdekatan dengan jarak setipis ini. Ia langsung ingin kembali duduk tetapi Xavier dengan cepat menarik pinggang Stella hingga jatuh ke atas paha kokohnya.
"V..Vee.." gugup Stella mencengkram bahu Xavier yang tampak menatapnya dengan aneh.
"Kau di larang membicarakan orang lain di hadapanku!"
"M..Maksudmu?" tanya Stella tak mengerti. Sejak keluar dari Villa tadi Xavier tampak tak bisa di ajak bercanda. Tapi, sekarang ia kembali membuat Stella seakan mau menghilang secepatnya.
"Di larang memuji, dan mengagumi orang lain."
"Kau ..kau kenapa? Dasar aneh!!" kaku Stella ingin turun dari pangkuan Xavier tetapi tengkuknya sudah di tekan Xavier hingga ciuman itu kembali tercipta.
Mata Stella melebar dengan jantung begitu memberontak.
Apa aku akan mati? Aku akan segera tiada.
Jeritan batin Stella menahan degupan dadanya. Xavier mendengar itu tapi, sikap Stella tak pernah menunjukan ketertarikan padanya. Hal itu membuat Xavier gundah dan gelisah.
"Menurutlah!"
Bisik Xavier mengusap kepala Stella yang merasa terenyuh. Tak ada yang bisa selama ini memberikan usapan halus ini karna ia hanya terus merasakan pukulan dan sikap kasar dari Ayahnya.
Binaran mata Stella mulai berair. Ntah kenapa Xavier tiba-tiba berubah bagaikan seorang Pangeran yang begitu bijaksana padahal ia adalah seorang Monster kegelapan.
"Cukup aku yang kau layani."
"K..kau.."
Xavier segera membungkam Stella dengan ciuman yang begitu mesra darinya. Kali ini Xavier tak ingin memaksa Stella melayaninya tapi justru ingin menyalurkan rasa hangat darinya.
Zion merasa panas dingin di kursi kemudi yang mulai menjadi panas. Ia benar-benar tak mengenal siapa pria yang ada di belakang sana.
Master! Kenapa kau berubah secepat ini? Aku sama sekali tak mempercayai Stella. Dia bisa saja menjelma dari Ras lain untuk menghabisimu.
Batin Zion masih waspada. Pasalnya selama ini tak pernah ada wanita yang berani dan bisa sedekat itu dengan Masternya. Tetapi, apa yang Stella lakukan ini di luar nalar manusia.
Beberapa lama Zion menahan pertanyaan di benaknya sampai suara ponsel itu membuat Zion buyar.
Ada beberapa pesan masuk dan ini dari seseorang yang kemaren membuat amarah Masternya membeludak.
Jangan katakan pada Mastermu jika aku sudah ada di depan Perusahaan.
Spontan saja Zion terkejut. Ia menatap kedepan dimana Mobil ini sudah memasuki wilayah Perusahaan sedangkan Xavier masih sibuk membuai Kucing kecilnya di belakang sana.
"Shitt! Ini buruk."
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..