
Kilatan petir itu sudah menyambar keras di atas sana. Nuansa gelap yang pekat ini semakin mencekam menyambar ke arah Pohon besar yang tengah di kelilingi pasir hitam pantai. Gelombang bergejolak seakan ingin menerkam sesosok pria yang telah di ikat dengan rantai hitam di Pohon besar yang ikut menyerap energi Mahluk ini.
"M..Masteerrr!!!" jeritan hebat Dokter Ryker pecah kala petir di atas sana seakan menyengat seluruh tubuhnya dan pasir yang mengelilingi Pohon ini membuat nafas Dokter Ryker tercekat kuat.
Tubuh Dokter Ryker tak lagi memakai atasan hingga darah hitam yang keluar dari luka sabetan kilat yang menyambar ke arahnya melebar hingga membuat keadaan yang mengerikan.
Bagaimana tidak? Xavier benar-benar lepas kendali hingga memberikan penyiksaan tingkat Lightning Blood atau lebih di kenal Darah Petir.
Penyiksaan itu sama dengan ujian ke tahanan tubuh seorang Vampir sebelum masuk ke Dunia manusia. Memang Dokter Ryker sudah melewatinya tapi yang di berikan Xavier kali ini berkalilipat lebih menyakitkan dari apa yang di alami sebelumnya.
"M..Masteeerr!!!"
"Hapuskan rasa suka-mu padanya." desis Xavier yang berdiri kokoh dengan taring terjulur tajam. Separuh wajahnya sudah berubah menjadi tengkorak dengan mata merah bak lentera.
Aura intimidasi dan kekuasaan dari Tubuh Xavier tak lagi ia tahan hingga keluar menggempur lautan yang juga memaksakan diri bertahan di tengah amukan sang penguasa.
lalu. Siapa yang akan menolong Dokter Ryker? Pertanyaan itu belum ada jawaban. Tak ada yang berani mendekat termasuk Zion dan para bawahan lain hanya bisa menunduk di depan Villa dengan kaki yang mengigil.
"Tuan Dokter akan mati. Kenapa bisa seperti ini?" resah Efika sudah berjongkok menutup kedua telinganya karna suara dentuman dari atas sana begitu mengerikan.
Zion dan Kakek Le-Yang hanya bisa membisu merasakan tanah yang mereka pijaki sudah bergetar. Keringat dingin yang terus keluar membuat sensasi panas menjalar.
"Tuan! Jika di teruskan. Maka semua yang ada disini akan hancur."
"Iya. Tuan! Lakukan sesuatu agar Master bisa tenang."
Panik para pengawal yang mulai kesulitan bernafas. Melihat keadaan yang sudah tak memungkinkan untuk mahluk biasa seperti mereka Zion memberanikan diri mendekat ke arah Xavier yang masih saja menguarkan aura membunuh membuatnya terasa sesak.
"M..Master!"
Panggil Zion melawan deru angin yang berputar hebat. Malam ini untuk pertama kalinya seorang Xavier mengeluarkan kekuatan besar hanya untuk satu wanita.
Dan sedari tadi jiwa pembunuh Xavier tak pernah surut untuk melenyapkan Dokter Ryker yang sudah mulai bermandikan lendir hitam panas itu dengan geraman sakit mengalun keras.
"M..Masteeeerr!!!"
"Sakit. Hm?" desis Xavier tak menghiraukan jerit Dokter Ryker yang merasa kulitnya terkelupas saking begitu panasnya.
Ia tetap menahan padahal lebih baik ia mati dari pada mendapat siksaan sekeras ini. Ia tak sanggup bertahan lebih lama.
Melihat hal mengerikan itu Zion langsung mencari akal agar Masternya bisa tenang walau hanya untuk sesaat.
"M..Master! Kau tenang saja, dia akan kembali padamu!!"
"Kembali?" gumam Xavier dengan rahang mengeras dan kepalan menguat. Ia tahu betul bagaimana Stella dan wanita itu akan selalu kekeh dengan keputusannya.
__ADS_1
"DIA TAK PERNAH INGIN KEMBALIII!!!"
Geram Xavier dengan auman bak Singa yang mengamuk di kegelapan. Melihat bagaimana Dokter Ryker rela mendapatkan penyiksaan ini hanya demi Stella, membuat dada Xavier panas sampai membeludak ke ubun-ubunnya.
Kenapa kau begitu dekat dengan pria ini? Seharusnya kau hanya memandangku. Hanya aku yang bisa menyentuhmu. Stellaaa!! Hanya akuu!!
Jerit keras Xavier yang terbakar api cemburu kala melihat Stella lebih nyaman di pelukan Dokter Ryker. Ia tak terima dan sangat benci jika apa yang ia inginkan tak ia dapatkan dengan mudah.
"M..Master! J..jangan sakiti S..Stellaa.. K..kau bisa m..membunuhku."
"Kau yang meminta." desis Xavier ingin mengeluarkan pedang dari tangannya setelah mendengar ucapan Dokter Ryker barusan.
Langit semakin murka seakan ikut tunduk sampai akhirnya kilatan cahaya merah itu terlihat di tangan kekar Xavier yang menarik otak Zion untuk segera bertindak atau tempat ini akan hancur.
"Masteeer! Stella sudah meracunimu!!"
Teriak Zion spontan membuat Xavier terhenti mengeluarkan Pedangnya. Melihat itu Zion segera mendekat walau tak bisa terlalu jauh.
"Master! Stella punya kekuatan yang bisa menyihir mata siapapun. Kau pasti sudah terkena pengaruh Sihirnya."
"Sihir. wanita itu bukan penyihir." desis Xavier dengan tatapan tak beralih dari Dokter Ryker yang masih saja belum di lepas dari jeratan rantai itu.
"S..Sihir yang lain. Banyak yang sudah terkena bahkan Dokter Ryker juga."
"KAU JANGAN MEMBUAAALL!!!" Bentak Xavier membuat gelombang air laut sana semakin menjauh seakan mengigil hebat.
"M..Master! apa kau t..tak merasa jika Stella sudah menyihir matamu?"
Mendengar itu Xavier berfikir. Stella bukan seorang penyihir tapi jelas Xavier merasakan aura Stella memang bukan dari manusia biasa.
"S..Sebaiknya. Master harus m..menghukum S..Stella. Bukan k..kami semua."
"J..Jangaaaan!!!" geraman sakit Dokter Ryker menyela membuat Zion mengumpat. Ia sudah berusaha untuk meredakan keangkuhan dan amarah pria ini tapi lihat apa yang dia lakukan?!
"M..Master! Kau..kau bisa membunuhku. K..kau bisa menghukum ku."
"Kau gila. Haa??" sambar Zion tetapi memang benar adanya. Dokter Ryker tak ingin Stella jatuh kembali pada sosok tempramen dan angkuh seperti Masternya.
Mendengar kalimat yang di lontarkan Dokter Ryker terdengar cukup tulus. Seringaian iblis Xavier tertarik bagai sabetan pedang bagi leher mereka.
"Akan ku KABULKAN."
"Master!! Master jangaan!!" cegah Zion kembali panik dengan mereka yang memucat. Tak tanggung-tanggung Xavier benar-benar sudah hilang akal sampai membuat bencana sebesar ini hanya demi wanita.
Pedang berkilat merah di tangannya mulai terbentuk dengan langit menggulung seakan membentuk sebuah Portal hitam yang pastinya akan di sadari oleh Kakek Lucius.
__ADS_1
"Kembalilah ke ASAL MUU!!!"
"Yang Mulia Lucius akan membunuh Stella. Masteer!!!"
Teriak Zion langsung terpental ke belakang sana karna pedang di tangan Xavier berkilat ke belakang.
Xavier baru sadar jika sampai ia menggunakan kekuatan dari level yang tinggi maka Yang Mulia Lucius akan menyadari hal itu dan pasti tak akan tinggal diam akan keberadaan darah murni Stella.
"B..Bunuh.."
Dokter Ryker memohon agar cepat melakukan itu karna ia sudah tak tahan di siksa seperti ini. Ntah apa yang membuat Xavier kembali merubah wujudnya seperti Manusia biasa lalu berbalik pergi kembali ke Villa.
Melihat hal itu mereka semua langsung bersujud ke tanah karna aura intimidasi Xavier menarik kaki mereka untuk berlutut.
"M..Master!"
Xavier hanya diam dengan wajah keras mengerikan itu jelas terlihat masuk kembali ke dalam Villa.
Efika yang sudah mau pingsan bersama pelayan yang lain mulai merasa tanah ini tak lagi bergetar dan langit mulai tenang. Angin kembali menarik diri dengan petir lenyap kembali ke balik awan.
"B..Badai nya hilang. Badai nya sudah hilaang!!"
"Benar. semuanya sudah kembali."
Sorak pelayan sudah bisa melihat di area sekitar yang kembali tenang. Kakek Le-Yang segera berlari ke arah Pohon yang tadi mengikat Dokter Ryker bersama Zion yang juga sudah terpongoh-pongoh karna merasa ada luka dalam di tubuhnya.
.......
Sementara Xavier. Ia sudah ada di dalam kamarnya dengan lampu kamar tak di hidupkan sama sekali. Hanya suara gemericik air dari kamar mandi pertanda sosok itu tengah membersihkan diri.
Tanpa melepas kemeja di tubuhnya Xavier berdiri di bawah Shower dengan kedua tangan bertumpu ke dekat pembatas tengah dinding.
Ia memejamkan matanya membiarkan tetesan air dingin ini membasahi tubuh kekarnya yang sangat panas dan kosong.
Jelas ada sesuatu yang hilang dari jiwanya tapi ntah kenapa Xavier tak cukup paham dalam masalah ini. Ia tak bisa mengatasi rasa sakit di dadanya dengan kekuatan apapun.
"*A..aku membencimu!"
"Aku membenci muu!! Veee*!!"
Cengkraman Xavier ke pembatas dinding menguat. Dadanya berdenyut nyeri dan sakit tapi tak bisa Xavier jabarkan bagaimana ia bersikap sekarang.
Ada keinginan ingin membunuh siapapun yang mencoba mengambil wanita itu darinya tapi kenapa? Kenapa harus sesesak ini padahal banyak wanita lain selain Stella?
"Apa yang kau lakukan padaku?!" gumam Xavier tak bisa mengendalikan dirinya. Ini hal yang paling memalukan tapi juga saat-saat menyesakan yang pernah ia alami.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..