YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Aku Harap Ini Tak Mimpi


__ADS_3

Sudah beberapa menit ia terus menahan gejolak aneh dalam tubuhnya. Wajah merah meradang dengan jalan tak tentu arah pergi keluar dari Club kala tak ada lagi anak buah Direktur Luther di sana.


Ia merasakan sekujur tubuhnya terbakar dan terasa sangat sensitif. Di remangan bulan malam ini ia hanya bisa melarikan diri dari keramaian Kota.


Ntah jalan mana yang ia lewati Stella tak tahu lagi harus kemana. Ia hanya berharap jika wilayah ini tak berbahaya baginya.


"V..Vee!" gumam Stella memeluk dadanya sendiri. Dingin di malam ini sama sekali tak terasa. Keringatnya terus membanjir keluar hingga Stella harus melepas Jaket yang tadi membalut tubuhnya.


Suasana jalan sangat sepi. Banyak pohon-pohon rindang di pinggiran Aspal dengan lampu-lampu beberapa Bangunan seperti berkedip menyapa Stella.


"V..Vee..".


Hanya nama itu yang bisa Stella panggil. Ia terus berjalan walau terkadang ia harus berhenti menahan gejolak di dalam tubuhnya.


Alih-alih merasa aman. Nyatanya jalan yang Stella lalui ini mengarah ke tempat terpencil tak jauh dari Club.


Lebih tepatnya ia datang ke sarang Buaya dimana banyak Tongkrongan anak muda yang terlihat berkeliaran di depan sana. Awalnya Stella kira itu hanya masyarakat biasa tapi lama-kelamaan ia berhenti hanya sekitar beberapa meter saja.


" S..Siapa?"


Gumam Stella dengan mata sayu dan agak kabur. Ia merasakan bau alkohol yang kuat dan ini tak bisa lagi di anggap remeh.


Saat Stella ingin berbalik tiba-tiba saja ia di seru dari belakang oleh segerombolan Lelaki Jalanan itu.


"Ada Tamuuu!!!"


Sontak Stella langsung panik. Ia berlari tertatih-tatih kembali ke jalan awal tapi deru langkah kaki cepat dari belakang mengejar Stella yang sudah panik bukan main.


"T..Tolong!!!" teriak Stella karna tubuhnya juga tak lagi bisa di kendalikan. Ia terus berlari tanpa alas kaki karna tadi terlepas di Club.


Sekuat tenaga ia mencoba lari tapi tetap saja. Jalannya langsung di kepung oleh 4 Laki-laki seumuran Ester. Tentu mereka sangat berbinar melihat wajah cantik meradang dan Kulit Putih Stella yang nyatanya begitu terlihat halus dan lembut.


Kemeja lengan panjang yang Stella pakai sedikit memberinya ruang untuk menutupi dadanya.


"Kenapa Bidadari secantik kau bisa lepas ke Sarang ini. Hm?"


Mereka tertawa tapi cukup membuat bulu-kuduk Stella merinding. Ia hanya bisa waspada tapi beberapa kali Stella harus merapatkan pahanya agar bagian inti sana tak meminta hal menjijikan dari para Buaya ini.

__ADS_1


"P .Pergi!!"


"Kenapa dengan wajahmu?" tanya salah satunya ingin menyentuh pipi Stella yang merah tapi segera Stella tepis langsung mundur.


Tubuhnya mulai mengigil dan ini membuat 4 laki-laki muda itu saling pandang dan tahu apa yang tengah di rasakan oleh tubuhnya langsung menyeringai.


"Kami akan membantumu!"


"T..tidak. P..pergi.. Pergii!!!" racau Stella terus mundur. Ia menggeleng takut kala tempatnya sudah di kepung dan mundur Stella tak bisa karna ada dua lelaki di belakangnya.


Ntah setan apa yang membuat mata mereka begitu ingin melahap Stella akhirnya mereka langsung menarik Kemeja yang Stella pakai di bagian bahunya dan tentu itu langsung koyak.


"Veee!!!" pekik Stella langsung menutupi bagian dadanya. Ia berjongkok memeluk tubuhnya sendiri karna setengah bahu dan punggung indah Stella terlihat sangat menggiurkan.


"J..Jangan hiks. Jangan!" isak Stella menggeleng. Bukannya mengerti mereka bak kesurupan langsung ingin menyentuh bahu mulus Stella yang menjerit kuat hingga hembusan angin yang tadi stabil langsung berputar hebat membuat tubuh mereka terpental.


Lampu-lampu di sekitar tempat ini langsung mati hingga deritan Pepohonan tampak saling beradu berebut lari.


Badai itu terjadi tapi Stella tak menyadarinya. Ia hanya menekuk kedua kakinya dengan wajah di sembunyikan diantara jepitan lutut itu.


Sedangkan para Lelaki muda tadi tampak gemetar kala merasakan hawa intimidasi dari sosok yang tampak sudah berdiri di depan Stella yang masih belum berani membuka matanya.


Sosok tinggi bertubuh kekar dan kedua mata merah menyala itu membuat mereka semua langsung lari terbirit-birit seakan kesetanan.


Jeritan mereka terdengar di telinga Stella yang mulai mengangkat wajahnya dari tekukan ini. Ia melihat jika tak ada lagi para Predator tadi tapi Sosok yang membelakanginya ini membuat Stella segera berdiri.


Tubuh kekar dan remang-remang menyerupai seseorang. Hati Stella bergetar menatap nanar mencoba menyingkirkan khayalan palsu ini.


"B..Bukan.."


Lirih Stella menggeleng tak ingin melihat orang lain. Ia perlahan berjalan melewati Sosok ini dengan mata hanya fokus ke depan.


Ia berjalan tapi berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlihat. Batinnya terus memerintahkan Stella menoleh kebelakang tapi Stella sekuat tenaga tak ingin.


"B..Bukan." gumam Stella mengusap air matanya. Ia tak mau lagi di buai oleh Mimpi indah itu dan lebih baik ia pergi.


Langkah kaki Stella terus maju tapi pikirannya tertinggal di belakang. Ia merasakan hawa keberadaan seseorang yang selama ini membuat hidupnya hambar tapi juga takut jika ini hanya hasil pemikirannya saja.

__ADS_1


"B..Bukan.. Bukan dia." gumam Stella bergetar dengan air mata terus menetes. Di kegelapan ini ia hanya bisa menangis tapi kakinya terus melangkah ke depan.


Tak ada yang bisa Stella lihat dan beberapa langkah kemudian Stella mulai tak bisa menahan jeritan batinnya. Ia mengepalkan kedua tangan lalu dengan cepat berbalik.


Matanya mencari-cari Sosok yang tadi tak jauh di belakang sana tapi sekarang sudah tak ada. Remangan bulan ini tak lagi menerangi mata Stella untuk melihat untuk kedua kalinya.


"B..Bukan!" isak Stella langsung meremas dadanya yang sakit. Rasanya ia tak tahan lagi dengan semua ini dengan dunia yang terus mempermainkannya.


"V..Veee hiks!! Veeee!!!!" teriak Stella sejadi-jadinya melepaskan semua rasa sesak yang tadi memberatkan nafasnya.


Hasrat yang melambung tinggi dan keputusasaan yang ia rasakan membuat Stella ingin membenturkan kepalanya ke Aspal ini.


"A..aku.."


Ia tak bisa menahan ketidakwarasan di kepalanya lagi. Akal sehatnya mulai hilang karna pengaruh obat ini semakin kuat.


Alhasil. Stella langsung mengigit bagian nadi lengannya sekuat tenaga tapi sedetik kemudian lengannya langsung di tarik tangan kekar seseorang hingga tubuh Stella langsung masuk ke dalam pelukan hangat seseorang.


Stella diam dengan pikiran kosongnya. Untuk sesaat ia memejamkan mata meresapi sensasi hangat dan nyaman yang sangat Familiar dan ia begitu merindukan ini.


"V..Vee.." lirih Stella membenamkan wajahnya ke ceruk leher kokoh ini sampai nafas hangat itu terdengar membuat Stella langsung meremas punggung kekar berbalut Kemeja ini.


A..Apa ini kau? Kau tak akan meninggalkan aku-kan? Kau tak akan pergi lagi-kan?


Batin Stella menjeritkan pertanyaan itu. Ia memeluk erat tubuh kekar ini seakan-akan tak mau di tinggalkan. Sekuat tenaga ia peluk dengan perasaan yang tak bisa di artikan sepele.


"B..Bawa aku.. Aku.. Ingin denganmu." lirih Stella tak mau berjarak sesenti-pun. Nafasnya mulai berat dan pergerakannya juga tak bisa Stella kontrol.


"V..Vee.." serak Stella menarik tengkuk Sosok ini menunduk karna Tinggi mereka berbeda. Alhasil Stella langsung menautkan ciuman berhasrat yang terlihat begitu liar dan sangat mendamba.


Air mata Stella lolos dengan mata terpejam mengalungkan kedua lengannya ke leher Pria ini. Untuk sesaat tak ada balasan darinya tapi setelah Stella meremas tengkuknya barulah ada balasan yang tak kalah menyambung Rindu yang begitu mendalam.


Tangan Stella sudah berkeliaran membuka kancing kemeja di tubuh kekar ini jingga ia menyusupkan tangannya meraba dada bidang yang sangat ia kenal. Jemari lentiknya menghitung berapa Kotak perut kekar ini dan semuanya masih sama bahkan terasa semakin seksi.


"Aku harap ini tak mimpi."


Batin Stella tak lagi perduli dimana mereka sekarang. Hasrat dan kerinduannya sudah melambung hebat sampai ia sulit sadar jika memang ini ilusi.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2