
Mentari di atas sana sudah naik kepermukaan. Kemilau emasnya menyebar tapi tak begitu panas sampai ingin membakar.
Lebih tepatnya terkesan hangat dan bersahabat. Cuaca ini cocok untuk bersantai dan penuh ketenagan tapi, bagi Bumil yang tengah bersemangat itu tak ada yang namanya bersantai jika sudah ada tujuan awalnya.
"Vee!! Cepatlaah!!"
Suara hebohnya terdengar dari dalam ruang ganti. Ia sudah rapi dengan god plaything store yang tampak mahal dan elegan di tubuh seksi Stella.
Terbuat dari bahan voile, akan memberikan sentuhan halus dan lembut ketika melekat pada kulit putihnya. Dekorasi kerutan bagian kain membuat dress ini tampak elegan dalam gaya kasual menambah pesona Stella yang menata rambut pendeknya dengan jepitan kecil berwarna hitam menonjolkan bagian leher jenjang dan bahu putih yang menggiurkan.
Jelas Stella sedikit berpose dengan satu tangan mengusap perut besarnya. Ia tak sadar jika ada sesosok iblis jantan yang sedari tadi mengawasi tingkah centil Stella yang suka berlama-lama di depan cermin.
"Ini baru Stella Amoena!"
"Ehmm!" deheman Xavier membuat Stella menoleh. Tubuh kekar Xavier bersandar ke ambang pintu dengan stelan kerja sudah rapi di tubuh kekarnya. Tatapan dingin dan terlihat menghakimi ke arah Stella yang dengan enteng memberi senyuman secerah mungkin.
"Sudah?"
"Sudah?!" jawab Xavier menirukan intonasi santai Stella yang dengan polosnya menyengir kuda tak memperdulikan kekesalan Xavier yang memuncak.
"Vee! kenapa kau marah? Aku berdandan seperti ini di hari pertama bekerja. Itu sangat wajar-kan?" tanya Stella kembali melihat ke cermin di hadapannya. Ia sangat puas dengan gaun hamil ini bahkan aura mudanya terlihat keluar sempurna.
Tapi. itu jadi masalah besar bagi Xavier. Jika ia berjalan dengan Stella pasti orang-orang akan mengira mereka Kakak adik bahkan lebih tepatnya Paman dan ponakan.
Xavier memang masih terlihat muda dan gagah perkasa tapi. Auranya sudah dewasa dan tak bisa di bantah begitu saja.
"Untuk apa kau berdandan sampai begini?"
"Kenapa? Gaunnya bagus di tubuhku." jawab Stella berpose dengan dua jari di dekat pipinya. Mata biru itu disipitkan dengan lidah sedikit keluar menunjukan sikap centilnya.
Semua itu membuat jiwa posesif Xavier memberontak keluar. Dengan cepat ia menarik lengan Stella masuk ke dalam pelukan eratnya.
"Vee!! Kau ini.."
"Kau selalu menguji kesabaran ku." desis Xavier mencengkram ringan pipi Stella hingga bibir merah Cherry ini membuatnya sangat ingin mencumbu gemas.
"V..Ve kau.. Emm!!"
Stella terpekik kala Xavier menyambar bibirnya dengan penuh rasa gemas bercampur kesal. Perlahan Xavier menekan Stella di dinding ruang ganti dengan satu tangannya di belakang kepala Stella agar tak terjadi benturan sekecil apapun.
Kedua tangan Stella beralih mencengkram pinggang kekar Xavier yang benar-benar menghisap bibirnya dengan lapar.
Ini hanya milikku. Semuanya hanya untukku. Tak ada yang berhak mengambilnya dariku!
Jiwa kelelakian Xavier menjerit sekeras mungkin. Ia mencumbu agak kasar membuat Stella sedikit melenguh ringan merasakan ini terlalu liar.
Cengkramannya ke bahu Xavier perlahan mengendur beralih menjadi sebuah belaian. Gigitan kecil yang Xavier lakukan di bibirnya mengisyaratkan Stella agar membalas tak kalah panas.
Ntah setan apa yang merasuki Stella, ia mulai membalas pangutan liar Xavier dengan cukup ganas. Belitan lidah keduanya menyatu dengan tegukan Saliva mengalir di kerongkongan masing-masing.
Shitt. Aku tak bisa berhenti.
Batin Xavier sulit mengendalikan diri. Tangannya yang tadi membelit pinggang Stella beralih turun meremas lembut bokong kenyal padat Stella yang mengerang lemah mengguncang hasrat Xavier.
Perut besar itu tak jadi halangan keduanya saling mengeksplor Cinta dan kasih sayang yang menciptakan percikan hasrat dan suara decapan erotis mengalun ringan.
"V...Vee ehmm.."
__ADS_1
Stella meremas tengkuk kokoh Xavier yang beralih mencumbu lehernya. Satu tangan kekar itu bergerak nakal merayu tubuh Stella agar mau merespon sentuhan darinya.
Rasa panas dan darah mendesir hebat itu membuat nafas keduanya memburu dan terlihat sama-sama menginginkan.
Namun. Kala ciuman Xavier begitu liar di bagian leher, Stella membuka mata sayu dan lemah karna ingat tentang pekerjaan pagi ini.
"V..Vee i..itu.."
Xavier tak menghiraukan rintihan Stella yang menggeliat mencoba mendorong bahu Xavier agar berhenti menghisap lehernya hingga menyisakan bekas merah yang tak asing lagi bagi Stella.
"V..Veee s..sudah.."
Desis Stella terengah mendorong Xavier yang akhirnya melepas ciumannya. Wajah tampan ini sudah merah padam dengan deru nafas memburu seakan baru lari berkilo-kilo meter.
"Aku ingin." serak Xavier dengan tatapan sangat mendamba. Hasrat itu melambung tinggi dan terbukti dengan bagian intinya yang sudah mengeras siap tempur.
Melihat telinga Xavier sudah merah menahan desakan dahysat itu, Stella jadi tak tega. Tapi, mereka akan terlambat ke Perusahaan jika melanjutkan ini kembali.
"Vee! Kita akan terlambat jika di lanjutkan."
"Perusahaanya milikku." lirih Xavier meraih dagu Stella agar kembali menautkan ciuman. Tetapi, Stella menurunkan halus tangan Xavier hingga tatapan netra abu itu tertuai hampa.
Jelas Xavier sangat kecewa tapi ia tak mau memaksa Stella. Dengan berat hati Xavier memejamkan matanya untuk sekedar kembali merilekskan tubuh yang sudah mendidih.
"Baiklah! Aku akan mandi sebentar. Kau tunggu di.."
Xavier terdiam kala ia merasa ada yang membuka resleting bawahannya. Alhasil netra itu kembali terbuka dengan mata tajam terpaku menatap Stella yang tampak memandangnya lembut.
"Kau.."
"Kau atasanku. Nilai ku akan buruk jika tak memuaskan-mu. Hm?" desis Stella perlahan berbisik di telinga Xavier.
Atmosfer di ruangan ini semakin menipis kala Stella benar-benar menjelma menjadi seorang wanita liar yang selalu menjadi fantasi hebat banyak lelaki. Ia mengeluarkan semua pesona dan daya pikatnya menundukan keangkuhan Xavier yang tak pernah bisa ditaklukan siapapun kecuali seorang STELLA.
"Apa kau ingin aku melakukannya?" bisik Stella dengan tangan sudah terulur bebas di bawah sana. Ia memberikan pijatan lembut dan penuh sensasi membuat wajah Xavier mengadah menikmati semua ini.
"S..Stella .." erang Xavier terengah. Sepanjang sejarah hidupnya baru Stella yang bisa mengimbangi hasratnya. Stella punya sesuatu yang membuat Xavier selalu meminta lebih.
"Kau ingin?"
"Hmm." gumam Xavier agak lirih dan tak jelas. Stella hanya mengulum senyum mulai mengeluarkan benda perkasa itu dari persemayamannya.
Jantung Stella berdebar merasakan aura perkasa dari benda tegap kokoh ini. Milik Xavier memang selalu membuatnya malu karna terlalu sempurna dan menggiurkan.
"C..Cepatlah!" desak Xavier kala Stella sangat mempermainkannya.
"Aku tak bisa. Vee!" kelakar Stella seakan masih polos. Melihat hal itu Xavier dengan tak sabaran menarik pinggang Stella menghadap ke cermin panjang di depannya.
Stella mengulum senyum melihat Xavier sudah gemetar memeluk tubuhnya dari belakang dengan tangan sibuk membuka resleting di belakang punggung Stella.
Kala benda ini sangat rumit baginya dengan kasar Xavier merobek asal tapi tak menggores kulit Stella.
"Vee!! Kau inii.."
"Aku akan membeli Perusahaanya untukmu." desis Xavier melempar pakaian itu ke sembarang arah. Alhasil Stella hanya memakai Bera merah dan Daleman senada yang tampak sangat seksi di mata lelaki manapun termasuk Xavier yang sangat menggilainya.
"Kau sangat seksi." desis Xavier mengigit telinga Stella yang hanya tersenyum kecil memeggang tangan Xavier yang membelit perut besarnya.
__ADS_1
"Kalau aku tak begini. Mana mungkin seorang Prince sepertimu mau padaku. Bukankah begitu Yang Mulia?" goda Stella mengedipkan satu matanya ke arah cermin yang bisa di lihat Xavier dengan jelas.
Melihat senyuman nakal Stella melambungkan Xavier untuk mengingat keputusan Kakek Lucius semalam. Ia tak sanggup menghilangkan raut centil dan bahagia ini walau hanya sekejap.
"Vee!"
"Hm?" gumam Xavier untuk sejenak memeluk Stella yang merasa cukup penasaran apa yang terjadi semalam. Tiba-tiba saja Xavier sudah tidur memeluknya dan ada memar di bagian dada Xavier tapi pagi ini sudah menghilang.
"Semalam kau melakukan apa?"
"Tidak ada." jawab Xavier mengendus tengkuk mulus Stella yang hangat. Ia memang menyukai aroma tubuh Stella apalagi darah murni wanita ini. Tapi, Xavier sudah bisa mengendalikan dirinya untuk tak menancapkan taring ke leher mulus Stella.
"Kenapa semalam dada mu memar? Apa terjadi sesuatu?"
"Hatiku tengah sakit." racau Xavier tak masuk akal. Ia sendiri hanya ingin berbagi pagi dengan gairah dan cinta untuk sejenak melupakan tekanan semalam.
"Baiklah. Yang mana yang sakit?"
"Ini!" Xavier menekan benda keras itu membuat Stella terkekeh kecil berbalik berjinjit mengecup kilas rahang Xavier yang juga menghangat.
Akhirnya Stella menuruti keinginan Xavier yang di buat gila akan pelayanan Stella. Ia tak menyangka dengan perut besar yang seharunya menyulitkan Stella untuk bergerak nyatanya hal itu menambah kesan liar dan pesona Stella yang meluluh-lantahkan batin seorang Xavier.
........
Sementara di bawah sana. Nyonya Clorie yang tadi tengah menyiram bunga di dekat Villa mulai merasa jika ada yang aneh dari atas langit yang tadinya biru tiba-tiba berubah mendung.
Cuaca yang cerah tadi bergeser menjadi laksana embun yang ingin turun secepatnya.
"Ada yang mengawasi dari atas sana." gumam Nyonya Clorie sangat hafal hawa ini. Ia belum amnesia untuk tahu hal yang dulu selalu terjadi setiap saat di tempat ini.
Mata coklat Nyonya Clorie menyipit memfokuskan diri untuk tahu mahluk apa itu. Ia hanya beterbangan di atas tanpa berani masuk seakan ada dinding pembatas yang menghalangi mereka untuk datang kesini.
Merasa semuanya sudah tak beres. Nyonya Clorie segera melangkah masuk ke Kediaman dimana Mobik dari arah Gerbang juga beriringan masuk ke halaman Villa.
Nyatanya itu Zion yang baru membawa sesosok pria berkacamata dengan keadaan pucat dan bagian lengannya di perban. Tubuhnya tampak lemah dan bernafas saja terlihat susah.
"Kau yakin bisa?"
"Yah. Setidaknya aku ingin melihat Stella." gumam Dokter Ryker masih berani mengatakan hal itu. Saat tahu Stella sudah kembali, semangatnya untuk sembuh seketika berkobar. Padahal, sebelumnya Dokter Ryker sudah pasrah jika harus di bumi hanguskan.
"Cih. Kau masih saja berani. Ntah apa yang akan Master lakukan padamu saat mendengar ini."
Dokter Ryker hanya diam melihat keluar. Seketika matanya terpaku pada langit di atas Villa yang sepertinya sudah di kelilingi oleh Pasukan Arthas.
"Ada apa?"
Tanya Zion melihat Dokter Ryker yang terus melihat ke luar sana.
"Master dimana?"
"Di dalam. Memangnya kenapa?" tanya Zion yang tak melihat apa-apa. Pantas Dokter Ryker bisa melihatnya karna ia juga sebangsa dengan Xavier.
"Hey! Kau jangan aneh-aneh."
"Apa Yang Mulia Lucius sudah tahu keberadaan Stella hingga mengirim pasukan sebanyak itu?!"
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..