
Suasana remang ini terasa sangat Familiar. Bayang-bayang pernik kamar seperti lukisan di dinding dan ada Patung kepala Rusa yang masih abadi di atas sana begitu membuatnya kembali ke masa lalu.
Perlahan tangannya yang terasa bebas meraba tempat di sampingnya. Ada taburan kelopak bunga mawar dan aroma harum Gardenia yang dulu sangat menenagkan.
Netra buru laut itu mencari-cari diantara gabungan remang ini. Ia perlahan duduk dari tempat tidur meratapi area di sekeliling.
Sama! Ini keadaan yang sama saat ia pertama kali datang ke kamar ini.
Hanya saja tak ada rasa takut seperti dulu bahkan ada rona bahagia yang menarik sudut bibirnya untuk tersenyum simpul.
"V..Vee!" gumam Stella menyibak selimut lalu turun. Tapi, belum sempat ia melangkah ke arah Pintu kamar tiba-tiba hujan kelopak bunga mawar ini langsung jatuh menimpa tubuhnya.
Stella terkejut sekaligus senang. Ia mengangkat kedua tangannya menampung deraian lembut dan manis ini jatuh ke jemari lentiknya.
Senyuman itu tak lagi usai bahkan ia terlihat sangat menikmati Momen ini. Tak ada perasaan takut dan gelisah ingin lari seakan-akan ia sudah sangat yakin jika ini perbuatan Kekasih hatinya.
Seakan tak puas memanjakan wanita itu dengan deraian Bunga indahnya, tiba-tiba saja Stella di kejutkan dengan gemerlap Lilin yang menyala di beberapa sudut kamar bahkan ada Lilin yang berbentuk pola hati di lantai dekat Balkon dengan taburan Mawar merah memenuhi lantai dan beberapa Buket Bunga Gardenia di pajang begitu indah.
Stella sangat terkesima sampai matanya berkaca-kaca seraya menutup mulutnya yang terperangah.
"I..Ini.."
"Kau menyukainya?"
Suara berat seseorang muncul di belakang tubuhnya perlahan melingkarkan kedua lengannya ke perut Stella yang tercekat. Nafas hangat seseorang dengan aroma Musk yang begitu ia rindukan bahkan membuat air matanya kembali jatuh.
Untuk sesaat Stella tak berani berbalik takut-takut jika Sosok itu akan pergi lagi dari hadapannya. Ia tak berani sampai bernafas saja harus di tahan.
"Aku sangat merindukanmu."
Bibir Stella bergetar mendengar bisikan halus di telinganya. Tangan tak sabaran itu meraba gemetar pada lengan kekar yang begitu erat memeluknya seperti ini.
"Sangat!" imbuhnya lagi dengan lirihan kecil menyandarkan dagu ke bahu Stella yang tak lagi bisa menahan langsung berbalik cepat.
Wajahnya yang sudah berlinang air mata langsung mengadah pada Sosok tinggi kekar di hadapannya. Seorang pria bermata abu elang masih memakai Kemeja hitam dan celana kerja seperti biasa persis seperti saat itu.
"V..Vee.."
"Kau merindukanku?" pertanyaan konyol muncul membuat Stella langsung berhambur memeluk erat tubuh kekar Xavier yang begitu membuatnya merindu. Rasa sakit dan sesak tadi lepas seakan-akan ia tengah terbang sejauh mungkin tanpa ada beban.
"V..Vee hiks. Aku..aku takut. Aku takut!" isak Stella meremas punggung Xavier yang merasakan pelukan Stella kali ini begitu kuat sampai bergerak saja ia tak akan bisa.
Untuk sesaat Xavier membiarkan Stella menangis dengan pelukan hangat terbalas tak kalah erat dan semuanya tak lagi di pedulikan. Susah bernafas atau bergerak tak menjadi masalah sedikit-pun.
"J..Jangan menakuti ku. Jangan pergi dariku!"
"Siapa yang pergi. Hm?" gumam Xavier mengusap hangat penuh kasih kepala Stella yang terbenam di dadanya.
Perlahan ia menarik wajah sembab ini untuk memandangnya hingga kedua mata penuh cinta itu saling tatap menembus remangan kamar.
"Siapa yang pergi?"
"K..Kau.." lirih Stella membiarkan Xavier menangkup kedua pipinya dengan dua tangan besar ini. Rasa hangat dan nyaman kembali membungkus hati Stella yang semula tercabik hebat.
"Aku akan selalu bersamamu. Tak ada yang berubah."
"T .tidak. Kau..kau pasti merahasiakan sesuatu dariku-kan?" tanya Stella menatap serius Xavier yang mengambil nafas dalam.
Pembawaannya begitu tenang tapi percayalah. Ia takut dan sangat tak tenang jika waktu ini kembali berjalan begitu cepat.
"Aku belum ingin membahas itu."
"Tapi.."
"Sustt!" desis Xavier membekap mulut Stella dengan satu tangannya. Terlihat jelas Xavier begitu ingin menikmati Momen ini tanpa ada air mata atau isak tangis penuh luka itu.
"Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu." lirih Xavier melepas bekapan lembutnya tadi dimana Stella tampak diam antara bingung tapi juga tak ingin menolak.
"Boleh?"
"Ehm." Stella mengangguk memberi senyuman indah dan tulusnya memberi sapuan hangat ke dada Xavier yang langsung bergetar karnanya. Ntahlah, ia sangat tenang melihatnya.
__ADS_1
"Kau bebas meminta apapun dariku."
"Apapun?" tanya Xavier dengan artian berbeda tapi Stella mengangguk beralih mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh ini dengan kepala mengadah karna memang Xavier lebih tinggi darinya.
"Yah. Apapun untuk S-U-A-M-I-K-U." Jawab Stella menekan kata di ujung kalimatnya.
Sontak hal itu membuat hati Xavier berbunga langsung menarik pinggang Stella merapat ke tubuhnya. Kontak mata keduanya tak terputus dan bahkan jarang berkedip.
"Suami?"
"Hm. Aku menyerahkan semuanya padamu. Kau bebas untuk saat ini." jawab Stella sejenak melupakan masalahnya.
Xavier juga belum mau mengungkit soal masalah itu karna sekarang ia ingin meluapkan perasaan yang tengah meledak-ledak di dalam sana.
Perlahan Xavier mengiring Stella ke arah Balkon kamar yang terbuka dengan sendirinya melewati Pola Hati yang tampak masih menyita perhatian Stella.
"Kau membentuknya sangat indah. Vee!"
"Itu belum seberapa." bisik Xavier langsung menutup kedua mata Stella dengan satu tangan kekarnya seraya mengiring wanita itu ke arah tepian Pagar Balkon.
"Vee! Jangan macam-macam."
"Hanya satu macam." jawab Xavier dengan suara khas datarnya menghentikan langkah di posisi yang benar. Stella sangat penasaran tetapi Xavier belum melepasnya.
"Vee!"
"Sebentar." gumam Xavier mengambil nafas dalam lalu menurunkan tangannya hingga perlahan kedua mata Stella terbuka dengan rasa Syok segera datang.
Pupil matanya melebar dan bibir terperangah menatap ke atas sana.
"V..Vee! Itu.."
Stella benar-benar tak percaya ada Naga seindah itu tengah mengelilingi Bulan. Ribuan Lampion menerangi langit gelap yang seketika bak Pasar Bintang karna sinaran dari benda itu.
"V..Vee!"
"Jangan berterimakasih dulu." desis Xavier menjentikkan jarinya hingga lagi-lagi Stella di buat terkesima kala ada letusan Kembang api yang begitu pecah meriah di atas sana.
"Bentuk Kembang apinya beragam. Vee!!" pekik Stella menunjuk ke arah pijaran Kembang Api yang membentur wajah seseorang tersenyum, ada yang menangis dan bergurat masam.
Setelah di pikir-pikir Stella jadi sadar jika itu semua adalah exspresi wajahnya selama ini. Dan benar saja, Stella berbalik menatap tajam Xavier dengan kedua mata menyipit intens.
"Kenapa hanya wajahku. Punya-mu mana?"
"Wajahku tak pernah berubah." jawab Xavier mengurung Stella dalam hapitan kedua sisi tangannya di pagar ini.
"Oh, iya! Aku baru sadar kalau kau hanya punya satu exspresi."
"Satu?" alis Xavier naik menukik.
"Yah. Seperti ini."
Stella menunjukan wajah datar dengan mata tajam dan bibir segaris Xavier yang biasa di tunjukan.
"Jadilah berguna. Menurutmu? Apa aku terlihat perduli?" tanya Stella menirukan intonasi suaranya.
Sontak itu membuat tawanya pecah karna puas memperagakan gestur dingin Xavier yang hanya tersenyum simpul mendapat ejekan dari Stella.
"Vee! Terkadang aku heran. Apa bibir ini tak bisa tertarik lebar sampai matamu tenggelam. Hm?"
"Itu bukan gayaku." angkuh Xavier lagi-lagi membuat Stella tergelitik. Ia belum bisa menghentikan kekehannya sampai Xavier diam cukup lama menikmati wajah ceria Stella.
"Kenapa menatapku begitu?"
"Aku senang melihat kau tertawa karna-ku." jawab Xavier yang selama ini merasa tak cukup mahir. Ia selalu emosi kala Stella tertawa bebas dengan lelaki lain dan ia tak bisa melakukan itu.
Sadar akan hal itu Stella segera diam. Ada rasa bersalah di hati Stella kala mengingat kejadian masa lalu.
"Maafkan aku. Aku tak mengerti tentang perasaanmu. Vee!"
"Hm. Tak usah di bahas lagi." jawab Xavier mengecup kilas bibir Stella yang menipiskan bibirnya. Keduanya kembali larut dalam dunia sendiri sampai suasana hangat ini sangat mendorong jiwa posesif itu.
__ADS_1
"Jangan pernah menangis lagi."
"Tergantung padamu." tegas Stella dengan jarak yang begitu tipis. Alhasil Xavier segera mengangkat tubuh Stella ringan duduk di atas Pagar Balkon hingga tinggi mereka tak menyulitkan.
Xavier langsung memangut bibir Cherry manis Stella lembut dan hangat. Tak ada hasrat di sana tapi lebih pada Cinta dan Perasaan. Stella juga sama, ia membalas tak kalah lembut bahkan ini sangat syahdu.
Xavier seakan menenggelamkan Stella dalam lautan ilusi Cinta yang ia ciptakan dengan Bulan menjadi saksi bisu bagaimana meluapkan hati dua Mahluk itu.
Aku akan sangat merindukanmu! Duniaku sudah tak bisa di gabungkan denganmu. Aku hanya bisa melihatmu dari kejahuan. Sayang!
Batin Xavier benar-benar terlihat enggan melepas pangutan ini. Stella mulai merasa aneh karna tak biasanya Xavier terlihat begitu memaksakan diri seperti ini.
"Ehmm.. Vee!!" gumam Stella menarik diri hingga ciumannya terlepas. Tatapan sendu Xavier muncul seakan ia sangat tak rela untuk pergi.
Perlahan Xavier mengeluarkan sesuatu dari Sakunya. Itu adalah Kotak Cincin yang dulu tak jadi Xavier berikan.
"V..Vee.."
"Boleh aku memasangkannya?" tanya Xavier dengan suara begitu membuai dan sedikit parau. Stella hanya mengangguk kala Cincin berlian murni itu sudah tampak sangat menawan.
"Vee!"
"Walau aku tak sempat Menikahimu dalam Prosesi Duniawi. Tapi, sejatinya kita sudah menikah sejak pertama kali bertemu." ucap Xavier menatap dalam Stella yang menyeringit.
"M..Maksudnya?"
"Dalam Ritual Sebangsaku. Pernikahan akan terlaksana kala Ada Penggabungan darah, janji dan sumpah. Kita sudah berjanji untuk saling memulai dari awal dan hasilnya adalah seorang Putra. Benar?"
Stella baru sadar itu. Nyatanya selama ini Xavier memanggilkan ISTRI itu bukan omong kosong atau bualan semata.
"Untuk itu. Aku ingin kau selalu tahu jika aku tak pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu ada untukmu. Sayang!" imbuh Xavier memasangkan Cincin itu ke jari tengah Stella yang seketika menghangat kala Xavier beralih mengecup jemarinya lembut.
"Jangan selalu merasa sendirian. Hm?"
Mata Stella kembali berair mengusap kepala Xavier yang menikmati belaian jemari lentik ini.
"Berjanjilah kau tak akan meninggalkanku!"
"Aku janji!" jawab Xavier tapi dalam konteks yang berbeda. Stella sudah sangat bahagia tapi ia diam kala merasakan ada yang janggal disini.
Sedari tadi Xavier seperti menahan sakit di tubuhnya terutama kala Stella menekan bagian dada.
"S..Sayang! Kau.."
"Aku tak bisa lagi kembali ke duniamu!"
Degg....
Stella terkejut setengah mati mendengar ucapan Xavier barusan. Sontak Xavier segera menangkup wajah kosong Stella yang termenung kosong.
"Aku mohon. jangan tunjukan wajah ini padaku." lirih Xavier sangat cemas kala Stella diam saja. Air mata Stella turun tak lagi menggambarkan kebahagiaan, ia hanya seperti Mayat hidup saat tahu makna dari Pesta Perpisahan ini.
"Stella! Aku.."
"T..Tak bisa m..melihat?" lirih Stella tersenyum nanar. Jadi ini semua hanya Mimpi? Ini hanya sebuah Ilusi padahal semua ini menipu matanya.
Mendapati respon kacau Stella perasaan Xavier semakin berkecamuk.
"S..Sayang!"
"V..Vee! B..Bukankah darahku bisa m..mengobati luka separah apapun?" gumam Stella dengan suara bergetar. Xavier langsung menggeleng menolak hal itu.
Ia memeggang kedua bahu Stella agar tak melakukan hal yang akan membuatnya menyesal seumur hidup.
"Tak ada hubungan dengan itu. Biarkan seperti ini, kita masih bisa merasakan keberadaan masing-masing. Hm?"
"T..Tidak." jawab Stella masih menolak. Tapi sayangnya energi Xavier tak lagi kuat untuk membangun Mimpi seperti ini hingga dalam sekejap mata Stella kembali di perlihatkan oleh nuansa gelap tanpa ada siapapun disini.
... ..
Vote and Like Sayang..
__ADS_1