YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Kekesalan Xavier


__ADS_3

Suasana Villa yang semula gelap dan tak bisa di kondisikan perlahan berubah kembali seperti biasanya. Tak ada lagi Rembulan merah atau langit hitam menggulung dan petir bersahutan. Hanya kilauan Mentari pagi yang sudah berganti secerah mungkin dan tak biasanya hal itu terjadi di langit Villa yang biasanya Mendung dan sedikit berawan.


Dengan suasana seperti inilah membuat mereka lega. Setidaknya belum ada sesuatu yang mengerikan akan terjadi lagi.


"Apa dia sudah sadar?" tanya Dokter Ryker pada Efika yang tadi baru keluar dari kamar Stella. Ia terlihat tak begitu sehat terbukti dengan wajah pucat dan lemahnya tapi ini lebih dari cukup.


"Tuan Dokter! Nona belum sadar tapi keadaannya sudah membaik."


"Master ada di.."


"Di dalam. Tuan!" sela Efika langsung mendapat anggukan Dokter Ryker yang memperbolehkannya pergi. Sekarang, Dokter Ryker hanya memandangi pintu ini tanpa ada keberanian untuk masuk tak mau membuat kemarahan Pria itu semakin menjadi-jadi.


"Kau tak ingin masuk?"


Suara di belakangnya terdengar. Nyatanya itu Nyonya Clorie yang membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas susu coklat yang tampak segar.


"Nyonya!"


"Masuklah!" gumam Nyonya Clorie tegas karna ia juga merasa Dokter Ryker tak memiliki niat jahat apapun. Pria ini juga telah menyelamatkan Putrinya beberapa kali dari Xavier dan itu membuat Nyonya Clorie sangat bersyukur.


"Tidak. lagi pula Stella belum sadar. Aku akan menunggu."


"Kau seorang Dokter. Bukan?"


Dokter Ryker mengangguk dengan senyuman hangat terangkat agak lebar. Nyonya Clorie menghela nafas dalam mencoba untuk tetap tenang.


"Maka masuklah! Periksa putriku!"


"Tapi Master.."


"Masuk saja!" tegas Nyonya Clorie mendorong pintu kamar ini dengan tangannya hingga terbuka memudahkan dirinya masuk.


Sementara Dokter Ryker masih ragu-ragu melangkahkan kakinya ke dalam hingga hal pertama yang ia lihat adalah seorang wanita berwajah cantik tak sepucat yang semalam itu tengah memejamkan mata di atas Ranjang.


Sprei sudah berganti begitu juga pakaian yang di kenakannya. Tampak jelas jika wanita ini sangat di rawat oleh sang punya kamar.


"Itu Stella! Coba kau lihat!"


"Baik. Nyonya!"


Dokter Ryker mendekat dengan hati bergejolak. Ia hanya melihat dari kejahuan sedari semalam tapi sekarang ia akan memandang sedekat itu.


Kala langkahnya sudah sampai di dekat ranjang dan tangannya ingin menyentuh leher Stella seketika ada suara berat bass seseorang yang menahan tangannya untuk turun.


"JANGAN MENYENTUH ISTRIKU!"


Tekanan kuat di sertakan dalam intonasi bariton ini. Dokter Ryker akhirnya mengurungkan niatnya kembali berdiri tegap tapi Nyonya Clorie mendekat padanya.


"Kau berdiri di sini. Aku akan mewakilkanmu!"


"Baiklah!"


Dokter Ryker diam kala Nyonya Clorie memeriksa leher Stella. Sedikit panas tapi ini sudah lebih baik dari semalam.


"Agak panas dan denyut jantungnya stabil. Hanya saja panas tubuhnya naik turun dalam beberapa jam saja."

__ADS_1


"Ini karna Faktor tubuh Stella terlalu lelah. Apalagi Luka yang terjadi pada saat Persalinan bisa berdampak demam. Nyonya!"


"Aku rasa begitu. Tapi, dia tak kunjung sadar." gumam Nyonya Clorie mengabaikan Xavier yang tampak sudah menunjukan raut dingin dan kelamnya akan kehadiran Dokter Ryker.


Namun. Beberapa saat kemudian ada pergerakan dari jemari Stella yang di tangkap oleh mata tajam Xavier yang segera menerobos diantara Nyonya Clorie dan Dokter Ryker yang sengaja ia jauhkan dari sekitar ranjang.


"Sayang!" lirih Xavier menggenggam jemari lentik Stella yang perlahan bergerak dengan wajah terlihat gelisah dan kelopak mata sedikit bergetar pertanda ia akan sadar.


"V..Vee!"


"Bukalah matamu! Sudah cukup tidurnya." gumam Xavier sangat menanti Stella bangun. Bahkan, ia tak tidur semalaman hanya karna menunggu wanita ini bangun dan selama itu pula Xavier mengobati beberapa luka Stella.


Saat genggaman tangan kekar Xavier terasa begitu hangat, Stella merasa tertarik untuk membuka kelopak mata indah dan sendunya perlahan. Bayang-bayang kabur terlihat belum memperjelas pandangannya hingga saat Xavier mengusap wajahnya dan barulah Stella bisa melihat jelas wajah Tampan nyaris sempurna Xavier yang pertama memandangnya dengan datar tapi lembut.


"V..Vee!" serak Stella karna suaranya sudah habis karna menjerit semalam.


"Hm. Aku disini!"


"I..itu.a...asss!" ringisan Stella mulai keluar kala merasa nyilu di bagian intinya. Pinggang ini masih terasa nyeri dan kepalanya sedikit pusing tapi tak separah semalam.


Melihat Stella yang mendesis sakit Dokter Ryker jadi kelut. Ia ingin memeriksa wanita ini tapi jelas Xavier tahu apa yang haru ia lakukan sendiri.


"Lukamu memang sudah tertutup tapi masih perlu pemulihan dari tubuhmu. Untuk sekarang kau jangan banyak bergerak dan cukup katakan apa yang kau rasakan. Mengerti?"


"I..Iya." jawab Stella mengangguki itu. Ia beralih menatap Mommynya dan beralih pada Dokter Ryker yang tersenyum kearahnya.


"Cepatlah sembuh!"


"K..kau.. Baik-baik saja?" tanya Stella dengan bibir agak pucat menipis hangat.


Seketika kepalan Xavier menguat dengan rahang mengeras dan hawa panas di tubuhnya bisa mencekik Dokter Ryker yang mulai merasakan sakit di dadanya.


"Vee! Ada apa?"


Xavier hanya diam tapi wajah tampan dingin itu sudah membuktikan ia tak suka dengan kedekatan dan perbincangan singkat ini.


"Master! Saya tak akan menggangu Stella!"


"NO..NA!" Geram Xavier melayangkan lirikan mematikan dari sudut netra abunya. Hal itu membuat Nyonya Clorie membelo jengah begitu juga Stella yang menepuk dahinya pusing.


"Dia istriku dan dia Nonamu. Jangan coba-coba memanggil NAMANYA!"


"Vee! Ayolah, jangan mempermasalahkan hal itu." jawab Stella sangat tak bisa menyangka akan respon Xavier yang selalu berlebihan.


"Kenapa? Kau suka di panggil seperti itu?"


"Bukan. Tapi kau terlalu berlebihan. Dokter Ryker temanku dan dia pantas memanggilku dengan sebutan Ste.."


"Tapi aku tak suka!!!" bantah Xavier sedikit meninggikan suaranya dengan exspresi marah dan tak terima. Jelas hal itu tak bisa di selamatkan lagi dari Pria pencemburu seperti Xavier ini.


"Vee! Ayolah. Kau.."


"Terserah padamu!" jawab Xavier bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi. Hal itu membuat Stella membuang nafas kasar dengan kepala bertambah pusing.


"Dia selalu saja semaunya. Padahal tak ada apapun antara aku dan Dokter Ryker!" gumam Stella masih tak mengerti kecemburuan yang Xavier tunjukan.

__ADS_1


Tapi. Nyonya Clorie mulai paham dan sedikit menghangat kala melihat bagaimana semalam Xavier merawat Stella sendirian tanpa memperbolehkan mereka ikut campur.


Dia yang membersihkan tubuh Stella dan juga mengurus Bayinya. Dan tunggu..


"Mom!"


Lirih Stella kala pemikiran Nyonya Clorie dan ia agak tersambung. Stella melihat ke sekeliling tempat tidur tak ada Keranjang Bayi atau si kecil yang semalam tangisannya ia dengar samar.


"M..Mom! B..bayiku.. Bayiku mana?"


"Semalam Suamimu itu yang mengurusnya!" jawab Nyonya Clorie membuat Stella agak syok.


"Mom! Xavier itu tak pernah memeggang Bayi. Kenapa di berikan padanyaa??" cemas Stella sangat khawatir.


Ketiganya mulai cemas tapi seketika ketiganya menatap ke Pintu kamar mandi kala tangisan melengking itu berasal dari sana. Mata Stella segera melebar kala Xavier tadi juga ada di dalam sana keluar begitu saja.


"Mooom!! Lihat ke sana!! Bayiku.. Bayikuu!!"


"Astaga ya Tuhan!" gumam Nyonya Clorie bergegas mendekati pintu kamar mandi. Ia ingin mendorong gagang pintu tapi benda itu sudah terbuka memperlihatkan Xavier yang tengah berdiri dengan baju kaos di tubuhnya agak basah.


Tapi. Yang membuat mata mereka melebar adalah apa yang tengah ia tenteng santai di tangan besarnya.


"Veeee!!!! Apa yang kau lakukan. Ha???" Syok Stella jantungan melihat Xavier memandikan bayi mungil merah itu sampai kulitnya hampir memucat. Handuk lembut yang di balutkan ke pinggang mungil itu seakan-akan menjadikannya Xavier junior yang asli.


Dengan santainya Xavier melangkah mendekati Stella. Wajah datar tak berekspresi itu menyodorkan boneka di tangannya. Yah, cara Xavier memeggang dengan begitu enteng seakan Bayi itu tak bernyawa dan hanya benda mati.


"Dia menangis. Aku pikir ingin mandi!"


"Kauu.."


Amarah dan kekhawatiran bercampur menjadi satu. Stella mengiba pada Nyonya Clorie agar mengambil Bayinya dari tangan kasar Xavier.


Tangis si kecil itu masih terdengar membuat Nyonya Clorir menatap tajam Xavier yang hanya diam membiarkan Bayi itu di ambil.


"Sutt! Kau kedinginan. Hm?"


"Berikan padaku. Mom!" pinta Stella sedikit beringsut bersandar ke kepala ranjang di bantu Dokter Ryker yang membuat Xavier kembali bergejolak.


Nyonya Clorie dengan hati-hati membungkus tubuh si kecil ini dengan handuk di pinggangnya tadi secara penuh. Mata biru Stella berubah sendu kala netra bening mungil seperti berlian ini menuruni netranya.


"Mom!" gumam Stella sampai berkaca-kaca melihat wajah tampan ini sangatlah menggemaskan.


Dengan kaku dan sesuai arahan Nyonya Clorie Stella menggendongnya sangat hati-hati. Ia tak melepas pandangan dari wajah merah karna menangis ini terlalu tampan dan sangat mempesona.


Ada hawa keberadaan Xavier yang lekat di tubuh Putranya. Apalagi, wajah Bayi ini sangat menjiplak Xavier yang tengah membeku di ujung sana.


"Suut! Ini. Mommy sayang! Hm? Jangan nangis. Nanti suaramu habis." bisik Stella mengusap pipi gembul itu dengan jari telunjuknya hingga tangisan melengking tadi langsung reda.


Bibir yang mungil semerah Cerry dan lidah yang sama. Netra biru beningnya menatap Stella dengan kedua tangan mungil menggeliat terlihat sangat mengagumi wajah cantik Mommynya.


"M..Mom!" suara bergetar Stella merasa sangat haru dan tak menyangka bayinya akan sesehat dan setampan ini. Ia melewati proses panjang persalinan tapi membuahkan hasil yang memuaskan.


Nyonya Clorie hanya bisa tersenyum mengusap punggung Stella yang mengecup hangat setiap senti wajah Tampan menggemaskan ini. Nyonya Clorie jiga ikut kagum sedari semalam akan kharismatik Xavier turun pada putranya sendiri.


Tapi ia berharap. Sikap tak senonoh Xavier jangan sampai di turunkan pada Bayi ini, sudah cukup sedari semalam membuat mereka terus berpacu jantung melihat apa yang dia lakukan pada Bayi yang ia anggap Boneka hidup di tangannya.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2