YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Dimana Dokter Ryker?


__ADS_3

Mentari diatas sana sudah menunjukan panorama indahnya. Nuansa Kota maju dengan berbagai bentuk Gedung pencakar langit ini kembali terlihat oleh mata.


Penghijauan yang begitu segar di jalanan menjadi khas Kota Melbron. Disini sangat mengutamakan keindahan dan kenyamanan para Masyarakat Kota yang tak pernah berhenti beraktifitas baik Mentari sudah tergelincir ke arah barat-pun.


Hal ini sangat membuat Stella bersemangat. Seperti biasa ia selalu menyempatkan diri untuk melihat ke luar jendela Mobil yang melaju stabil ke suatu Tempat.


"Vee! Kita mau kemana?" tanya Stella tanpa menatap Xavier yang tengah duduk di sampingnya. Xavier menjadikan lengan kekarnya sebagai tumpuan dagu Stella di pinggir Jendela agar wanita ini tetap aman melihat keluar.


"Kau maunya kemana?" seraya memandangi wajah cantik Stella yang tertiup angin. Kulit bening dan porsi wajah muda ini membuat mata siapa saja betah melihatnya.


"Ke Villa?"


"Sesuai keinginanmu." jawab Xavier memang ingin membawa Stella ke sana. Lagi-pula itu satu-satunya tempat yang cukup aman untuk sekarang.


Sementara Nyonya Clorie yang tengah duduk di kursi depan sana terdiam. Villa? Apa Villa yang sama?


Ia bertanya-tanya dan cukup hafal dengan jalur yang di lewati. Nyatanya ini pergi ke area Hutan dimana Villa yang dulu tempat ia dan pria bajingan itu tinggal dengan sebuah kepalsuan.


Raut wajah kelam Nyonya Clorie di depan sana bisa di tangkap jelas oleh netra abu Xavier yang masih menjadi tanda tanya kenapa Nyonya Clorie terlihat tak suka mendengar nama Villa di sebut?!


Ntah apa lagi anggapan wanita itu tentang dirinya yang di kira hanya memanfaatkan Stella. Padahal, jika Xavier mau ia sudah membawa Stella secara paksa tanpa izin atau kehadiran Nyonya Clorie.


Setelah beberapa lama melajukan benda mewah ini. Akhirnya Zion sudah membawa mereka memasuki Jembatan besi Hutan yang tampak lembab seperti biasa.


Suasana rimba dan purba ini terasa kental dengan Pohon-pohon Gaharu menebar aroma harum yang khas. Stella tak asing lagi dengan panorama Hutan yang kerap menyesatkan langkahnya.


Tetapi, Nyonya Clorie terlihat sangat waspada menatap penuh ancaman semua yang ada disini.


"Vee!" gumam Stella tiba-tiba mengingat sesuatu kala Mobil sudah mendekat ke area pertengahan jalan dimana dulu di tengah gelapnya malam seorang pria membantunya untuk lari.


Dimana dia sekarang? Apa kabarnya dan mungkinkah masih hidup?


Pertanyaan yang Stella tahan di ujung lidahnya. Ia tahu Xavier memang sangat arogan. Tapi, apakah dia sudah melenyapkan Dokter Ryker? Atau mungkin pria itu telah di hukum?


Melihat kebingungan dan raut khawatir Stella akhirnya menimbulkan suara tanya di benak Xavier.


"Kau butuh sesuatu?"


"Jujur padaku tentang satu hal." pinta Stella serius. Xavier tanpa ragu mengangguk karna ia juga tak berniat untuk merahasiakan apapun.


"Katakan!"


"Kau apakan Dokter Ryker?"

__ADS_1


Deegg..


Pertanyaan yang Stella ajukan sampai membuat Zion tercekat kuat. Wajahnya memucat dengan kedua tangan memeggang kemudi agak gemetar. Ia tahu betapa besar jiwa posesif Xavier sampai Dokter Ryker-pun tak bisa lagi menggunakan seluruh kekuatannya untuk penyembuhan.


"Kau apakan dia? Kenapa aku tak melihat dia ada bersamamu?"


Imbuh Stella dengan berani. Raut wajah Xavier sudah mendingin hebat tapi ia belum menunjukan amarah yang memang cukup mudah terpancing dengan masalah ini.


"Vee! Jawaab!"


"Kau merindukannya?" tanya Xavier dengan intonasi suara yang sangat mengintimidasi. Tangannya yang tadi ada di pinggir jendela mengepal tapi belum menurunkannya karna Stella masih menyandarkan pipinya ke sana.


"Vee! Kau tak melukainya-kan? Dia baik-baik saja-kan?"


Xavier hanya diam tak menjawab. Ia menatap keluar dengan raut tak suka akan pembicaraan yang Stella mulai.


Mendapat kebisuan Xavier memancing Stella untuk menegakkan tubuhnya lalu berbalik ke arah Zion yang seakan-akan tak tahu pembicaraan apa ini.


"Zion!"


"Kita sudah memasuki Villa. Master!" ucap Zion mengabaikan panggilan Stella.


Ia memasukan Mobil ke dalam Pagar yang sudah di buka oleh para Penjaga disini. Netra biru Stella menyapu semua orang yang menyambut kedatangan mereka.


Ada Efika yang tampak tersenyum bahagia atas kepulangannya dan Kakek Le-Yang masih begitu ramah berdiri di pinggir teras Villa.


"Dimana Dokter Ryker? Aku ingin berterimakasih padanya. Vee!"


"Sebaiknya kau diam. Karna kami yang akan mendapat konsekuensinya."


Batin Zion sangat takut jika sampai Masternya murka. Yang jadi pelampiasan Xavier pasti mereka-mereka yang ada disini. Padahal, yang terlalu berani itu Stella.


"Vee! Dimana dia?"


"Mati!' jawab Xavier singkat dan tak bisa di anggap gurauan. Stella spontan menatap Xavier dengan tajam dan begitu menghakimi.


"Kau mengatakan apa?"


"Dia sudah Mati." jawab Xavier dengan tatapan cemburu beradu dengan netra marah Stella yang tak terima dengan jawaban Xavier barusan.


"MATI APANYA. HA?? KAU JANGAN MAIN-MAIN. VEE!!"


"Dia memang sudah mati. Dan kau mau apa?"

__ADS_1


"Kauuu.."


Geram Stella ingin menjambak Xavier tapi rasa kesalnya terlalu besar dan tak lagi bisa terbendung. Kala Mobil sudah terhenti, Stella dengan kasar membuka pintu Mobil lalu berjalan mendekati Kakek Le-Yang dan Efika yang terkejut saat melihat perut Stella sudah besar.


"N..Nona kau.."


"Dimana Dokter Ryker?" sambar Stella sangat ingin tahu. Keduanya yang masih kebingungan hanya bisa menelan ludah kala melihat raut wajah dingin Xavier yang sudah turun dari Mobil.


"Kenapa diaam?? Dia dimana?? Aku tak ingin terjadi sesuatu pada Pria baik seperti diaa!!"


"Masuk!"


Xavier menarik lengan Stella untuk masuk ke dalam Villa. Suara racauan Stella masih terdengar sampai keluar menanyakan tentang Dokter Ryker. Jelas Xavier tak menyukai hal itu dan selalu ingin menghancurkan seseorang yang Stella khawatirkan lebih dari dirinya.


"Veee!!! Dimana Dokter Ryker? Kau jangan melukainya!!"


"Bisa tidak jangan membahas dia di hadapankuu???"


"Tidak!!! Kau pasti melakukan sesuatu padanya.. Jawab pertanyaanku. Vee!!"


Perdebatan keduanya begitu terdengar sama-sama keras kepala dan begitu arogan. Suara barang-barang terdengar di lempar ke arah tangga membuat Nyonya Clorie yang mendengar dan melihat pertengkaran Xavier dan Stella tadi langsung cemas.


"Stella!!"


"Nyonya!" Efika menghalangi langkah Nyonya Clorie untuk masuk. Seketika wajah Nyonya Clorie berkabut murka karna ia takut terjadi sesuatu pada putrinya di dalam.


"Putriku dalam bahayaa!! Biarkan aku masuuk!!"


"Master sangat menjaga Nona Stella. Dia tahu apa yang harus di lakukan." tegas Efika masih dengan intonasi suara yang tenang.


Nyonya Clorie mengumpat kala para penjaga disini juga sudah mengelilingi area teras untuk tak ikut campur dalam Pertengkaran biasa dari dua Mahluk itu.


"Nyonya! Mereka sudah biasa seperti itu. hal kecil saja selalu di perdebatkan." ucap Kakek Le-Yang memberi pengertian.


"Aku tahu bagaimana putriku! Dia masih polos dan tak tahu apa-apa."


"Tapi. Master adalah pemilik Nona. Dia tahu segalanya tentang Nona." jawab Kakek Le-Yang membungkam Nyonya Clorie.


Tak ia sangka tempat ini masih sama tapi hanya berubah bagian desain Villa saja. Lautan luas itu pernah menenggelamkannya dan Villa ini menjadi saksi bisu luka lama itu di buat.


Melihat keras kepala dan ketangguhan Nyonya Clorie. Zion yang tadi mengamati segalanya jadi heran. Masih jadi tanda tanya kenapa saat di perjalanan tadi Nyonya Clorie sudah tak asing lagi dengan tempat ini bahkan tahu apa yang tersembunyi di balik gelapnya Hutan.


"Dia memang tak main-main dengan ucapannya."

__ADS_1


...


Vote and Like Sayang..


__ADS_2