
Mobil mewah itu sudah sampai ke area Villa. Seperti biasa para penjaga selalu sigap berdiri dengan tubuh membungkuk menyapa kedatangan Masternya.
Kakek Le-Yang sudah berdiri di dekat teras pintu masuk melihat Xavier yang sudah keluar dari Mobil membawa tiga Paper-bag di tangannya.
Sedangkan Zion membawa tas kerja Xavier yang tampak masih sama sedia dengan raut datar membeku itu.
"Master!"
"Hm."
Xavier hanya melewatinya dengan angkuh. Ia sesekali melihat di sela Paper-bag dengan senyum samar yang begitu mengherankan dan sangat langka.
Efika yang tengah ada di dekat tangga sana hanya diam membawa nampan berisi cangkir seperti biasa.
"Master!"
"Dimana dia?" tanya Xavier seraya mengambil cangkir Tehnya. Dahi Efika menyeringit dengan pertanyaan Masternya tapi sedetik kemudian ia paham siapa yang di tanyakan.
"Itu.. Nona tadi ada di kamar atas. Master!"
Tanpa ada ucapan lagi. Xavier langsung melangkah menaiki tangga menuju lantai kamarnya. Ia berjalan seraya menegguk Cangkir di tangannya dengan satu tangan masih menenteng beberapa Paper-bag yang ia beli tadi.
Rasa tak sabaran itu tentu membuat Xavier merasa kurang waras. Ia tak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya tapi, ia sangat ingin melihat Stella memakai ini.
Saat pintu terbuka. Mata Gray Xavier menelisik ke seluruh sudut kamar. Tak ada tanda-tanda kehadiran Stella di sini.
"Dimana dia?" gumam Xavier mempertajam indra penciumannya hingga ia merasakan aroma darah Stella di dekat kamar mandi.
Ia menyimpulkan wanita itu ada disana hingga Xavier memilih untuk meletakan cangkir di tangannya ke meja dekat Sofa lalu paper-bag itu ia taruh di atas ranjang.
Sesekali Xavier melihat ke arah pintu kamar mandi seraya melepas Jas yang membalut tubuh kekarnya.
"Kau pulang?"
Xavier tak langsung menoleh. Ia membuat dirinya sibuk melonggarkan dasi yang ada di lehernya lalu melepas kancing lengan kemeja.
Melihat Xavier yang menaikan kedua lengan kemejanya ke atas hingga memperlihatkan otot kekar itu Stella langsung membuang pandangan. Ia pura-pura tak tertarik sama sekali.
"Kenapa harus pulang? Seandainya saja dia tak datang sampai pagi. Betapa nyenyak tidurku."
Batin Stella berharap dan cukup kecewa. Ia yang tampak sudah berganti pakaian dengan Piyama tidur itu melangkah ke arah ranjang.
Dahinya menyeringit melihat tiga Paper-bag ini tapi Stella malas bertanya.
"Nanti matikan lampunya!" pinta Stella lalu mulai berbaring di atas ranjang.
Xavier masih diam menahan rasa kesal melihat Stella yang tak berniat untuk bertanya atau sekedar memancingnya seperti malam itu.
"Cepatlah!! Kalau ingin tidur matikan lampu.. Aaaa!!!"
Pekik Stella di akhir kalimatnya kala Xavier menarik kedua kakinya ke bawah sampai jatuh ke lantai.
Hal itu tentu membuat Stella meringis karna punggungnya terbentur ke lantai. Ia langsung berdiri mendongakkan kepalanya menatap tajam Xavier yang dengan santai bersidekap dada angkuh.
"Kauu memang benar-benar menyebalkaan!!"
"Aku?" tanya Xavier menaikan satu alisnya sinis.
"Yah! Kau NYAMUUUK!!" geram Stella menunjuk-nunjuk hidung mancung Xavier yang naik pitam.
"Sepertinya kau tak serius dengan tawaran itu?"
"Tawaran a.."
Stella seketika tercekat kala ingat jika pagi tadi ia memulai tawaran dengan Xavier. Kenapa ia bisa lupa? Ntah apa yang sekarang di rencanakan Nyamuk iblis ini.
"A.. Y..yah. Lalu kau mau apa?"
"Aku tak berminat." jawab Xavier seakan tak lagi menginginkannya. Hal itu spontan membuat Stella gelagapan mencoba untuk memperbaiki kesalahannya.
"A.. J..jangan begitu. Kau sudah setuju tadi."
"Hm."
Acuh Xavier memilih untuk mengeluarkan ponsel di saku celananya. Ia tak memperdulikan Stella yang terlihat menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"K..kau tak boleh begini. Aku.. Aku hanya bercanda tadi."
"Ada yang salah dengan proyekku." gumam Xavier seakan tak mendengarkan Stella yang begitu cemas.
Xavier melangkah ke arah sofa diikuti oleh Stella yang begitu gelisah dan terus mencoba bicara.
"Hey! ayolah, tetap pada kesepakatan kita."
"Hm."
"Siall! kalau bukan karna ingin bertemu Mommy aku tak akan begini."
Batin Stella mengumpati Xavier yang duduk bertopang kaki di sofa singel ini. Ia terlihat sibuk bermain ponsel padahal semua gerak-gerik Stella terpantau dari ekor matanya.
Stella duduk di dekat sofa panjang didekat Xavier lalu kembali berdiri mencari cara agar Xavier mau membahas ini.
"Kau ingin aku melakukan apa. Ha? Mencuci atau mengepel lantai?"
Tetap saja membisu sama sekali tak menangapi. Tangan Stella sudah terkepal gatal ingin meninju wajah tampan pria ini.
Hanya ada satu cara lagi dan Stella begitu muak melakukan hal ini tapi ia tak bisa terjebak begitu lama di tempat ini.
"Tenanglah. Kau cukup merendahkan sedikit harga dirimu. tak ada orang yang akan melihatnya."
__ADS_1
Batin Stella menghela nafas dalam mencoba tetap tenang. Xavier heran dan agak penasaran apa yang tengah di pikirkan otak dangkal itu sampai ia tersentak saat Stella naik ke atas pahanya.
Dengan kedua kaki berkoala ke pinggang kokoh Xavier yang meneggang kuat. Walau Stella memakai Piyama yang tertutup tapi tubuhnya sudah tak berdaya akan pesona wanita ini.
"Satu kesempatan lagi!"
Pinta Stella mengalungkan kedua tangannya ke leher jantan Xavier dengan dada sekang membusung hampir menyentuh wajah merah Xavier yang menelan ludah.
Tangan lentik Stella seperti biasa berlayar ke rahang tegas dan kokoh Xavier yang mencengkram peggangan sofa di kedua sisi tubuhnya.
Shiit. Wanita ini benar-benar sangat beracun.
Umpatan Xavier mencoba tetap tenang. Ia berusaha tak menatap wajah cantik Stella yang begitu memikat bahkan bibir pink segar itu seakan memanggil-manggil dirinya.
"Ayolah! Sekali ini saja. Ya?"
"Ehmm."
Xavier berdehem kala aroma bunga Gardenia yang menguar dari tubuh Stella membuatnya mulai hilang akal.
"Vee!"
"Vee?" tanya Xavier mulai menatap tajam Stella yang menipiskan bibirnya mengusap bagian daun telinga Xavier yang menahan sengatan alami ini.
"Yah. Vee! Apa bagus?"
"Untukku?" sinis Xavier agak bergidik mendengar panggilan itu. Terkesan sangat manja dan begitu lembut tak cocok dengannya.
Melihat raut agak geli Xavier. Stella ingin memanggil dengan kasar tapi ia tertekan oleh keadaan.
"Kalau tak suka tak usah. Nyamuk lebih ba.."
"Lumayan!" sela Xavier tak ingin di panggil Nyamuk. Hal itu membuat senyum Stella meruak beralih ingin turun tapi tangan Xavier sudah menahan pinggangnya.
"Kauu.."
"Tugasmu di mulai malam ini." sambar Xavier sudah tak sabar dan enggan menunggu lebih lama.
Stella menyeringit heran. Ia melirik kanan kiri tak ada melihat hal yang perlu di kerjakan.
"Apa? Aku bisa membereskan pakaianmu dan.."
"Tak perlu." sela Xavier dengan jemari terangkat menyelipkan helaian rambut pendek Stella yang tadi agak berantakan ke belakang telinga wanita itu.
Tatapan misterius Xavier sungguh membuat Stella gugup takut ada hal yang begitu ekstrem lagi seperti malam itu.
"K..kau tak ingin berci.."
"Puaskan aku!"
Stella membelalakkan matanya mendengar titahan Xavier yang mengusap bibir Stella dengan jempol besarnya dengan sensual.
"Kau begitu memperhatikanku."
"Y..yah. Tentu! Ayo tidur!" ajak Stella ingin bangkit tapi lagi-lagi ia tertahan.
Tatapan Xavier berubah tegas menarik dagu lancip Stella mendekat ke arahnya hingga nafas keduanya saling berbenturan.
Bahkan, bibir itu akan menyatu jika Stella bergerak sedikit saja.
"Ingat tawaranmu?"
"A..aku.."
"Jangan menolak ku!" bisik Xavier meremas pinggul Stella yang memucat. Sumpah demi apapun jantungnya tengah tak aman di dalam sana.
"A..aku.."
"Hm." Xavier menunjuk ke arah Paper-bag dengan lirikan matanya. Spontan Stella menoleh belum mengerti apapun.
"Itu apa? Kau jangan aneh-aneh."
"Buka!"
Titah Xavier melepaskan kurungannya. Stella dengan kaku turun dari pahanya lalu melangkah ragu-ragu ke dekat ranjang.
Sesekali ia melihat ke belakang dimana Xavier masih tampak menyeringai ke arah sini. Dari situ saja Stella sudah tahu benda ini bukanlah hal yang baik baginya.
"Apa yang dia rencanakan?" gumam Stella ragu-ragu membuka Paper-bag berwarna Cream ini.
Seketika dahinya menyeringit melihat pita kelinci dan ada pakaian yang berbahan bulu halus yang tampak begitu mini.
Ada Bera yang begitu transparan dengan bagian daleman yang berekor kecil selayaknya Kostum Kelinci yang di pakai beberapa Model di Majalah Dewasa.
"T..tidak.."
Gumam Stella spontan melihat Paper-bag yang lain. Ia syok kala Pakaian mini Kostum Kucing dan Rubah ini juga sama seperti yang ia lihat, bahkan tampak sangat-sangat hot dan ketat.
"T..tidak.. Kau kau tak memintaku untuk memakai ini-kan?" tanya Stella menatap syok Xavier yang menyeringai mesum.
"Otakmu cukup pintar!"
"Tidak!! Aku tak mau!!" bantah Stella menggeleng. Tahu akan penolakan Stella, Xavier hanya cukup kembali fokus ke ponselnya membuat Stella lemas.
"Kita sudah melakukannya semalam. apa sekarang kau tak lelah? Ini sudah larut malam."
"Kalau tak mau tak usah." enteng Xavier pura-pura tak perduli. Tentu saja Stella tak bisa menolak hal ini.
Bajingan ini memang sangat ingin dikubur hidup-hidup.
__ADS_1
"Kau ingin aku pakai yang mana?" tanya Stella dengan tatapan nanar ke semua Paper-bag ini.
Xavier merasa begitu senang dan terlihat sangat tak sabaran.
"Kucing!"
"Bagaimana dengan Rubah? Ini cukup bagus." tawar Stella karna Kostum Rubah lumayan membuatnya bernafas.
Saat tak ada jawaban dari Xavier. Stella akhirnya pasrah membawa Paper-bag Kostum Kucing itu masuk ke dalam kamar mandi yang ia tutup keras membuktikan rasa kesalnya.
"Cih. Kucing sesuai karaktermu." gumam Xavier mengulum senyum simpul. Ia kembali melihat-lihat data-data Perusahaan sesekali melihat jam karna Stella begitu lama.
Lama Xavier menunggu dengan gelisah. Ia sampai menduga jika Stella mempermainkannya.
"Lupakan tawaranmu!!" kesal Xavier naik darah.
"Sabaar!! Kau pikir ini mudaah!!"
Sambaran Stella dari dalam kamar mandi di iringi suara tendangan di pintu. Xavier hanya membuang nafas kasar lalu kembali memeriksa ponselnya.
Tak berselang lama. Xavier mulai hanyut dalam pemeriksaan data bisnisnya. Ia tak menyadari jika sosok yang ia tunggu sudah berdiri tepat di dekat ranjang dengan kaki merapat menutupi sesuatu.
"Ehmm!"
Stella berdehem menarik perhatian Xavier yang segera mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Deegg...
Ponsel di tangan Xavier spontan jatuh begitu saja di atas lantai. Kedua mata elangnya terpaku kosong dengan tatapan begitu kagum dan tersihir oleh sosok yang sekarang berdiri di hadapannya.
Stella berusaha menutupi bagian bawahnya yang tampak begitu menggemaskan dibaluti oleh daleman ketat yang begitu tipis.
Ada separuh Legging yang membalut kedua kaki jenjang Stella sampai ke pertengahan paha sedangkan ekor panjang yang menyatu dengan Daleman itu menjuntai ke lantai.
Xavier sampai menelan ludah berat terus menerus melihat Stella begitu tampak seksi dan sangat menggemaskan.
Apalagi dua Pita seperti kucing di atas kepala cantik ini menyempurnakan penampilan Stella yang juga memakai sarung tangan bercakar seperti kucing dan Bera hitam yang juga tampak menerawang.
Melihat Xavier yang sudah melangkah tanpa berkedip ke arahnya. Stella langsung gelisah.
"A.. Aku akan mencoba pakaian yang lain! Kau.."
Ucapan Stella terhenti kala suasana berubah drastis. Kesunyian ini membuatnya terasa sangat gugup apalagi tatapan Xavier begitu dalam padanya.
"K..kau.. Kau ingin.."
"Cantik!"
Pujian terlontar ringan dengan sendirinya. Xavier sangat terkesima akan pesona Stella yang bisa menyempurnakan sesuatu yang ia pakai.
Kala melihat wanita lain memakainya. Aura itu hanya biasa saja terkesan murah dan menjijikan. Tetapi, jika tubuh seksi dan indah ini memakainya, Xavier merasa sangat terpikat dan enggan berkedip.
"A..aku.. Aku ingin ke kamar mandi!!"
Stella ingin pergi tetapi pinggangnya sudah lebih dulu di raih Xavier sampai kembali jatuh masuk dalam belitan erat lengan kekar ini.
Tatapan mata keduanya bertemu seakan ada sihir yang kuat membelenggu agar tak berpaling.
Kenapa dia sangat tampan?
Batin Stella tanpa sadar memuji pesona Xavier. Ia tak bisa menepis jika pria ini memang memiliki daya tarik yang kuat. Bahkan, Stella sering kecolongan akan dirinya.
Sama halnya dengan Stella, Xavier juga tenggelam dalam kecantikan Stella. Ia tak pernah merasakan sebuah kehangatan yang begitu membekas seperti yang di berikan Stella padanya.
"You Are Mine. Miss Stella!" bisik Xavier langsung meraup liar bibir Stella yang memasrahkan dirinya.
Menolak pun ia tak akan bisa karna jika Xavier sudah menetapkan maka tak akan ada yang bisa memberontak.
Ciuman yang begitu panas dan bergairah. Stella tak munafik jika ia juga menginginkan hal yang sama.
Sensasi bercinta yang begitu panas membuat Stella selalu lupa tujuannya.
Xavier menggerayangi semua yang ingin ia rasakan. Stella hanya bisa menggeram meremas rambut Xavier yang bermain dengan begitu liar.
Dreet..
Ponsel Xavier yang ada di lantai berbunyi. Mereka tak mendengarnya sampai berulang kali berdering membuat Stella segera melepas ciuman panas mereka.
Nafas keduanya memburu dengan wajah merah meradang. Tatapan penuh damba Xavier tampak masih ingin melakukannya.
"P...ponselmu!"
"Abaikan!" jawab Xavier serak kembali menautkan bibirnya. ia tak membiarkan Stella lepas atau berjarak satu senti saja dari tubuhnya.
Seakan menuli. Keduanya sudah tenggelam dalam dunia sendiri. Hanya suara-suara lenguhan yang keluar tanpa mau menyapa siapa yang tengah menelfon sana.
Deretan pesan mulai masuk dengan pertanyaan jelas terpampang di layar benda pipih itu.
Petriack!
Kapan kau pulang?
Kau sudah tak sibuk-kan?
Sayang! Kau disana?
.......
Vote and Like Sayangku..
__ADS_1