YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Kembali ke Sekolah!


__ADS_3

Sesuai dengan pendiriannya untuk kembali ke Sekolah, akhirnya Stella benar-benar memantapkan keputusan. Berkat dukungan Nyonya Corlie ia semakin yakin untuk kembali ke sana dan memulai hidup yang baru.


Walau tak di pungkiri Stella cukup gugup tetapi ia harus melawan rasa cemas di dalam dirinya untuk bertahan dan selalu tegar.


Nyonya Corlie juga tak mau meninggalkan Stella sendirian. Seperti sekarang, saat Stella kemaren pagi menyetujui untuk kembali ke sekolah maka Pagi ini Nyonya Corlie sendiri yang pergi mengantar Stella sekalian untuk menemui Kepala Sekolahnya.


"Kau gugup?"


Tanya Nyonya Corlie sudah menggenggam tangan lembut Stella yang terasa dingin. Stella hanya tersenyum kecil seraya menatap keluar Mobil.


Supir Taksi yang biasa mengantar Stella dulu sampai kebingungan. Kenapa Stella tiba-tiba Sekolah? Padahal selama beberapa bulan ini ia tak melihat wanita itu di dekat Pemberhentian. Bahkan, sosok wanita dengan wajah tak kalah cantik dari Stella itu membuat sang supir Taksi oleng.


Jika Stella dewi fase remaja, maka Nyonya Corlie adalah gambaran ketika gadis itu sudah Dewasa. Benar-benar elegan dan auranya juga sangat lembut berkelas.


Stella memakai seragam sekolahnya seperti biasa tetapi semakin cantik dan natural. Ntah kenapa ia selalu bisa membuat mata siapa saja terpana akan pesona yang di turunkan Nyonya Corlie padanya.


"Mom! Saat ke sana nanti Mommy tak perlu menggubris mereka."


"Mommy tahu. Kau tenang saja." jawab Nyonya Corlie melihat ke arah luar. Nyatanya Mobil ini sudah memasuki area Stetan Island/SI yang begitu elite dan megah.


Pantas jika biaya disini mahal karna Sekolahnya memang tak bisa di anggap remeh. Tentu hanya dari luar, jika di telisik dari dalam maka akan banyak keburukan Sekolah yang di dapati.


Setelah beberapa lama. Mobil ini terhenti di tepi jalan tak jauh dari Gerbang yang terbuka. Cuaca mendung ini masih terasa segar menegaskan rona paginya.


"Pak! Tunggu dulu disini. Ya?"


"Iya. Nyonya!" jawab Pria paruh baya itu kala Nyonya Crolie sudah keluar dari Mobil.


Ia memakai Long-Dress berwarna Moca tua sampai ke betisnya. Pakaian lengan panjang dengan Pita di leher yang sangat manis mengundang tatapan para Siswa dan Siswi yang baru masuk Gerbang dengan dua penjaga di sana saling pandang.


"Itu siapa?"


"Ntahlah. Tapi wajahnya tak asing."


Desas-desus mereka mulai meruak. Nyonya Crolie membuka pintu Mobil di samping Stella yang tampak mengambil nafas dalam.


"Ayo!"


"Iya. Mom!" jawab Stella menggenggam tangan Mommynya lalu keluar dari Mobil. Hal itu spontan membuat Dua penjaga Gerbang yang biasa mengusik Stella terperanjat kuat begitu juga Siswa-Siswi yang lain.


"I..itu.."


"Itu bukannya Stella senior kelas 12 Bisnis?!"


"Kenapa dia datang? Dan apa itu Kakaknya?"


Mereka semua bertanya-tanya dan sampai terhenti di dekat Gerbang. Stella dan Nyonya Corlie hanya menatap datar seraya berjalan masuk melewati mereka.


"Tunggu!!"


Langkah mereka di hentikan oleh dua penjaga Gerbang besar ini. Stella menatap tajam seperti biasa karna ia tahu dua Pria ini selalu mencari masalah dengannya.


"Kau siapa dan kenapa datang dengan anak ini?"


"Yah. Dia sudah lama tak datang ke Sekolah dan seharusnya dia.."


Nyonya Corlie segera menunjukan Surat Undangan dari Kepala Sekolah hingga mereka terdiam membisu. Salah satu penjaga yang bernama Bobs itu segera merampasnya dan membaca secara teliti berdua dengan rekannya.

__ADS_1


Dahi mereka menyeringit dan segera terkejut kala Wanita yang datang bersama Stella ini nyatanya bukan Kakak atau Bibi melainkan Ibu kandungnya.


"Dia Ibunya?"


"Yah. Aku Mommynya!" tegas Nyonya Corlie merampas kembali Kertas itu lalu kembali melangkah lebih jauh ke arah Gedung besar dimana ini tempat pembelajaran.


Ntah siapa yang melaporkan kedatangan Stella pada warga Sekolah hingga semua Siswa dan Siswi di Gedung ini sampai keluar ke Teras dan Loteng atas yang dipenuhi manusia.


Tatapan Nyonya Corlie menyelidik. Ia merasakan jelas pandangan tak bersahabat dan bahkan terkesan memusuhi Stella. Pantas jika selama ini Stella tak mau datang ke tempat ini jika yang membencinya seluruh angkatan.


"Dia datang lagi?"


"Yang benar saja. Hidupku sudah tenang beberapa bulan ini dan Wanita Malam itu kembali merusak suasana Sekolah."


"Lihat. Dia selalu mengundang perhatian semua orang."


Pembicaraan kasar dan mengumpat itu terdengar jelas di telinga Nyonya Corlie yang merasa sangat panas dan emosi. Bisa-bisanya mereka mengatai putrinya sekasar itu.


"Mom!"


"Mulut mereka memang tak seperti orang berpendidikan." geram Nyonya Corlie melihat ratusan Anggota Sekolah yang menyudutkan Stella.


Namun. Bukan Stella namanya jika terlihat takut atau malu. Ia justru menunjukan wajah datar tak perduli seakan yang memandangnya sekarang hanya segerombolan lalat.


"Stella! Mommy akan bicara dengan Kepala Sekolahmu. Ini tak bisa di biarkan."


"Dia hanya akan diam jika disumpalkan Uang." jawab Stella ringan masuk ke dalam Pintu kaca Gedung Sekolah.


Tepat di dalam sini semuanya kembali berkumpul dimana ada Devano yang berdiri di dekat tangga bersama Audrey yang menggandeng lengannya mesra seakan mengatakan pada Stella jika tak ada yang bisa mengambil Devano darinya.


"Nyonya Corlie!"


Suara seorang Pria berkemeja biru yang mendekat. Di adalah Staf sekolah yang turun untuk mengamankan situasi karna takut kembali ricuh.


"Nyonya Corlie Ibunya Stella. Bukan?"


"Yah. Saya!" jawab Nyonya Corlie mendekat tetapi masih belum melepas genggamannya ke tangan Stella yang hanya diam tak bersuara atau menunduk.


Pria dewasa ini melirik Stella kilas lalu mempersilahkan Nyonya Corlie untuk ikut dengannya.


"Mari keruangan Kepala Sekolah!"


"Stella!" gumam Nyonya Corlie mengusap kepala Stella yang mengangguk melepas genggamannya. Ia memandangi kepergian Nyonya Corlie yang sesekali melihat kebelakang memastikan putrinya aman.


Suasana yang tadi hening sesaat mulai kembali riuh kala Nyonya Corlie sudah tak ada mendampingi Stella.


"Heyy!! Kau wanita malaam!!"


Suara Audrey menggelegar sampai Siswa-Siswi yang berdiri di sepanjang lorong dan Lantai atas sampai menatap ke arah Stella yang tak merubah cara pandangnya.


Melihat semua orang yang mulai kembali berbisik soal Stella, Audrey bertambah puas dan senang. Ia akui Stella memang cantik dan lebih secara Visual tapi bukan berarti ia akan membiarkannya hidup tenang disini.


"Apa kau pelanggan mu kurang atau jadwal mu sepi hingga kembali ke Sekolah ini?"


"Audrey!" sangga Devano menatap tak suka Audrey yang hanya masa bodoh.


"Kenapa? Aku benar. Sayang! Dia pikir ini sekolah Ayahnya hingga bisa keluar masuk sesuka hati. Reputasi Sekolah kita bisa rusak karna Wanita murahan sepertinya!!"

__ADS_1


"Yaaahh!! Kenapa dia harus kembali?? Sudah jelas dia bukan wanita baik-baik!!!"


Sorak yang lainnya menghakimi Stella. Jelas sekali jika semua orang di Sekolah ini tak ada yang menyukai kedatangan Stella apalagi karna Provokasi Audrey yang selalu ingin bersaing.


"Vano! Kau harus balas rasa sakitmu padanya."


"Sudhalah. Untuk apa kau lakukan semua ini?" geram Devano mulai merasa tak enak dengan pandangan datar Stella padanya. Ntah kenapa ia senang mendengar kabar kedatangan Stella tetapi juga cemas karna akan di Bully lagi.


Melihat Devano membela Stella. Adurey bertambah panas dan cemburu. Ia tak terima jika Stella kembali mendapatkan apa yang sudah ia rebut sebelumnya.


........


Sementara di dalam Ruangan Kepala Sekolah sana. Nyonya Corlie sudah berhadapan dengan Tuan Wenet yang sedari tadi tak bicara bahkan sibuk memandanginya.


"Ehmm." dehem sedikit keras Nyonya Corlie menyadarkan Pria gempal ini. Tuan Wenet kembali bersikap normal padahal ia sangat tak percaya Nyonya Corlie memang cantik dan tak heran Stella mewarisi hal yang sama.


"Nyonya!"


"Pak! Bisa kita mulai?" tanya Nyonya Corlie merasa risih. Ia cukup emosi jika membayangkan Stella pernah di perlakukan lebih cabul dari ini.


Jika Stella tak kekeh untuk kembali maka sumpah demi apapun Nyonya Corlie tak sudi memasukan Putrinya ke sini.


"Baiklah. Sesuai dengan permintaan. Nyonya!"


"Aku harap anda memaklumi sikap Putri ku dan bisa melanjutkan pendidikannya disini." tegas Nyonya Corlie serius. Ia juga sudah membayar agar Stella bisa Sekolah lagi dan setidaknya sampai lulus sebulan ujian depan.


Tuan Wenet berfikir sejenak. Niatnya ingin memberhentikan Stella tapi ketika mendapat suguhan indah pagi ini dan bayaran lumayan dari Nyonya Corlie, ia jadi agak ragu.


"Nyonya! Kau tahu sendiri Stella sudah lama tak kembali ke Sekolah. Dia sudah jauh ketinggalan pelajaran."


"Aku mengerti dan sudah bicara dengan Putriku! Dia setuju untuk mengejar ketertinggalan dan akan berubah lebih serius di dalam pendidikan kali ini." jelas Nyonya Corlie menyampaikan keyakinannya pada keputusan yang Stella ambil.


Mendengar itu Tuan Wenet jadi diam. Ia juga merasa kepergian Stella beberapa bulan yang lalu membuat pemasukannya berkurang. Biasanya gadis itu yang selalu membuat masalah dan menyetor uang.


"Aku berjanji dan akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Putriku!"


"Bagaimana kalau Stella kembali bolos dan masuk sesuka hati?" tanya Tuan Wenet tetapi Nyonya Corlie sudah tahu akan hal ini.


"Tidak akan. Jika itu terjadi kau bisa mencariku."


"Woww! Ibu dan anak memang sangat berani." decah kagum Tuan Wenet tetapi exspresi wajah datar Nyonya Corlie tak berubah.


"Aku berani karna aku benar dan percaya pada Putriku!"


"Baik. Besok Anggota kelas Bisnis seangkatan dengan Putrimu akan mulai melakukan Seleksi dari Perusahaan yang bersedia bekerja sama untuk turun membimbing langsung ke Sekolah ini. Aku harap Stella tak membuat masalah."


Jelas Tuan Wenet membuat Nyonya Clorie lega. Akhirnya Stella bisa di terima kembali walau ia harus menguras Uang Tabungannya.


"Terimakasih. Akan ku pastikan Putriku belajar dengan baik."


"Bukan itu saja. Kami selalu mengajukan Kerja Sama dengan Perusahaan-Perusahaan besar walau tak semuanya bisa setuju tapi, Reputasi Sekolah ini sangat penting. Jangan sampai Stella merusak rencana Magang awal Sekolah dan membuat mereka tak nyaman."


Nyonya Clorie mengangguk. Dengan begini Stella bisa belajar dengan baik apalagi adanya bimbingan dari orang profesional.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2