
Setelah mendapat arahan dari Nyonya Clorie yang sangat mendukung perkembangan Mental Stella, akhirnya perlahan tapi pasti Stella mencoba untuk menenagkan dirinya.
Ia tak bisa terus menangis meratapi nasib tanpa tahu apa yang harus ia lakukan dan bagaimana kondisinya sekarang?! Di samping hal itu, Ester juga selalu menemani Mommynya yang tak pernah ia tinggalkan sendiri.
Dan kali ini, Stella ingin bertemu dengan Zion yang kala itu di Kediaman langsung datang ke Villa karna mendapat panggilan dari Stella melalui Ponselnya. Tak lupa Ester juga setia mendengarkan apa yang ingin Stella lakukan saat tahu semua keadaan Keluarga Elbrano sekarang.
Apalagi Zion telah menjelaskan tentang Pengkhianatan Dokter Ryker yang sekarang nasibnya ntah dimana. Terakhir kali hanya Masternya yang mengurus Pria itu.
"Di sisa kekuatannya. Master mengurus Dokter Ryker tapi tak tahu apa yang terjadi setelahnya. Aku hanya di suruh ke Kediaman karna saat itu dia tahu jika kau akan ke sana."
"Bagaimana dengan Kakek Xavier?" tanya Stella membuat Zion melempar pandangan ke hamparan Pantai di depan sana. Mereka berdiri di pasir abu ini karna menuai sedikit ketenagan.
"Aku rasa dia tak selamat."
Jawab Zion dengan wajah begitu murung. Jelas ini berat baginya karna untuk pertama kalinya Zion berpisah dengan sesosok Pria yang selama ini mengarahkan langkahnya.
"Master hanya berpesan untuk menjaga Perusahaan dan membimbing Ester untuk Memimpin sementara."
"E..Ester!" gumam Stella tersentak. Ia beralih menatap wajah Tampan khas Lelaki muda ini pertanda belum meyakini itu.
Tahu akan keraguan Mommynya Ester segera menggenggam tangan Stella yang jujur bukan tak percaya tapi ia tak mau merenggut kehidupan muda Ester yang harus mengemban tanggung jawab sebesar itu.
"Aku bisa. Mom!"
"Baby! Perusahaan itu besar dan hubungan didalamnya sangat rumit. Kau masih muda dan kau punya kehidupan sendiri. Bagaimana mungkin kau mengemban tanggung jawab sebesar ini?"
Ester mengambil nafas dalam. Ia tak pernah memikirkan tentang hidupnya karna yang Ester tahu Dunianya hanya Stella saja.
"Mom! Aku akan berusaha beradaptasi dengan cepat, aku tak ingin membuat usaha besar Daddy jadi terbuang sia-sia."
"Tapi.."
"Stella!" panggil Zion menarik kembali perhatian Gadis satu anak ini. Pandangan tegas itu ia pertahankan karna sedari pertama Zion juga punya prinsip sendiri.
"Ester masih sangat muda. Dia.."
"Sekarang Master tak ada sementara Perusahaan sangat membutuhkan kehadirannya. Jika membiarkan Kursi Presdir itu kosong maka Dewan-Dewan yang semula tunduk pada kekuasaan Suamimu seketika akan memberontak karna merasa aneh dengan menghilangnya Presdir." jelas Zion memang sangat hafal dengan lingkungan Perusahaan yang penuh dengan Tipu muslihat.
Belum lagi musuh-musuh Xavier yang dulu tak berani untuk gigi sekarang pasti tengah menunggu berita besar itu.
__ADS_1
"Apa teman-teman Xavier tak ada?"
Seketika Zion menyunggingkan senyum tipis. Nyatanya Stella tak pernah paham dengan yang namanya Dunia Bisnis dan Lingkungan Haram Eksekutor.
"Beginilah jadinya jika Master terlalu memanjakanmu."
Seketika tatapan Ester menukik hebat mendengar kalimat ketus Zion barusan. Hawa disini begitu tak enak bahkan Zion tahu jika Ester mulai naik darah.
Tapi, Zion tak suka dengan sikap Stella yang seakan meremehkan Dunia kerja ini. Ia tak seperti Masternya yang selalu pasang badan dimana-pun.
"Jaga bicaramu!"
"Dan kau."
Zion beralih pada Ester yang sama saja dengan Masternya. Dua pria ini selalu menjadi tameng bagi Stella yang seakan-akan begitu lemah disini.
"Kau harus menghormati Masterku! Dia jadi orang bodoh menentang Takdir hanya karna kalian dan untuk itu, jangan kecewakan dia."
"Kauu.."
"Cukup!" tegas Stella menghentikan perdebatan ini. Ucapan Zion barusan memang ada benarnya juga. Selama ini Xavier tak pernah membiarkan Stella melihat Kekejaman asli di Dunia ini dan selalu menghadang lebih dulu. Jika seperti itu, kapan ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri?
"Aku tahu dan paham apa yang kau katakan! Selama ini dia memang selalu membatasi mataku dan langkah kaki ku."
"Siapa saja Musuh Perusahaan?"
"Kau akan tahu saat sudah menerima salam hangat mereka!" jawab Zion tanpa menghentikan melangkah kembali ke arah Villa.
Semua ini membuat Stella cukup heran dan sedikit merasa kebingungan. Salam hangat dari siapa? Raut wajah Zion terlihat begitu serius.
"Mom!"
"Apa Musuh Kerja Daddy-mu itu juga bukan Manusia?!" gumam Stella menimbang-nimbang pemikirannya.
Ester hanya diam tapi di balik wajah datar itu ia sudah menelisik dengan logika dan kepekaan dari instingnya yang kuat.
"Selama aku masuk ke Perusahaan memang ada beberapa Karyawan yang terlihat arogan tapi apa mereka itu cukup mengancam?"
"Mom! kau pernah ikut bertemu para Petinggi Perusahaan?"
__ADS_1
Tanya Ester juga harus mencari tahu tentang orang-orang dalam ini. Belum tentu semuanya adalah Kawan dan bisa saja mereka memanfaatkan ketidakhadiran Daddynya.
"Tidak pernah. Tapi, ada satu Proyek yang tengah berjalan dan keuntungan dalam Proyek itu sangat besar. Saat Daddy-mu dulu masih ada dia selalu mengawasi ketat semua Uang yang masuk dan keluar termasuk bagaimana para pekerja di dalamnya. Aku rasa mereka akan membidik satu Proyek ini."
"Hm. Aku akan mengurusnya. Mom!" gumam Ester yang mengusap bahu Stella dengan hangat. Mereka persis seperti sepasang kekasih karna tampilan selayaknya Remaja 18 Tahunan.
Dalam beberapa saat mereka saling bertukar pikiran tapi tiba-tiba saja suara Zion memanggil dari belakang sana. Terlihat wajahnya begitu serius dibanding tadi.
"Stellaa!!"
"Ada apa?" Ia berbalik melihat Zion yang tampak berjalan kesini dengan menenteng Tablet miliknya.
Angin Pantai ini menerbangkan rambut dan pakaian mereka yang cukup tenang menghadang tekananya.
"Aku baru saja bicara beberapa menit yang lalu dan sekarang sudah ada contohnya."
"Maksudmu?" tanya Stella kala Zion sudah berdiri di hadapannya menyerahkan Tablet di tangannya.
Mata Stella membaca laporan Sekertaris Grach yang mengatakan jika ada Pertemuan mendadak dari beberapa Dewan Direksi yang meminta kehadiran Xavier secepatnya.
"Ini.."
"Mereka sudah bergerak. Baru beberapa hari Master tak ada dia langsung menunjukan taringnya." desis Zion muak dengan para penjilat ini.
Stella mengambil nafas dalam lalu melirik wajah datar Ester yang tampak tak ada respon berlebih. Tanpa ketegangan dan rona gugup itu Ester berani tampil berbeda.
"Mereka ingin mengadakan Pertemuan karna merasa aneh Master tak datang ke Perusahaan. Jika informasi tentang kepergian Master tersebar, sangat di pastikan mereka akan menguasai Proyek ini."
"Aku tahu. Tapi, masalahnya mereka tak tahu jika Ester adalah Putra Xavier dan saat Ester menduduki kursi Kepemimpinan pasti tak akan ada yang setuju. Apalagi Ester masih sangat Muda." gumam Stella memutar otaknya mencoba berfikir. Apa yang bisa ia lakukan agar meredam ketidakstabilan Perusahaan?!
"Itulah masalahnya. Wajah Putramu dan Master memang ada kemiripan, tapi ini akan membuat guncangan Media bahkan dalam keadaan seperti ini belum waktu yang tepat memberi tahu mereka."
"Aku mengerti." gumam Stella memahami itu. Sialnya Xavier tak ada disini dan jika ada pasti para penjilat itu tak akan berani menunjukan wajah buruknya.
"Keputusan ku serahkan padamu! Hati-hati dengan Rekan Bisnis. Mereka hanya ingin keuntungan, aku harap kau bisa menyelesaikannya."
"Pasti." jawab Stella menatap tajam Zion yang seperti meremehkannya. Pria dengan wajah selalu menyebalkan itu kembali pergi setelah mengambil Tablet di tangan Stella.
Dari kejahuan sana Zion menyunggingkan senyuman kecil. Ia menatap lurus kedepan berharap Masternya melihat semua ini.
__ADS_1
"Lihatlah. Master! Seberapa pantas dia di sampingmu." desis Zion agak menyimpan kesal pada Stella. Ia tak mau ikut campur dulu karna masalah yang lain masih menunggunya.
Vote and Like Sayang..