
Kobaran api itu menyala-nyala. Gejolak si jago merah yang begitu lapar menggerogoti setiap sendi Rumah tak perduli jika ada salju yang terus turun.
Beberapa orang di sekitarnya bukannya membantu memadamkan api dsn berusaha menolong seorang wanita yang terkunci di dalam sana. Mereka malah terus menyiramkan minyak ke dinding rumah membuat Wings yang merasa kepanasan langsung menggonggong.
Aungan Anjing itu terdengar tapi tak ada satu-pun yang ingin membantu. Mereka semua seakan suka melihat kobaran api itu melahap Rumah Nyonya Clorie yang tengah tak ada di tempat.
"Karuk saljunya dulu agar apinya tak padam!"
"Area belakang sudah. Aku rasa ini cukup." jawab seorang pria yang tengah membawa Sekop penggaruk.
Ada 5 orang disini dan mereka tak perduli dengan suara minta tolong dari dalam sana. Kejam dan sangat tak berperasaan.
"Ayo pergi! Sebelum banyak orang datang!"
"Aku mengerti."
Mereka semua bergegas meninggalkan Api yang tengah menunjukan keperkasaannya. Ia benar-benar tak perduli hujan salju yang terus mencoba memadamkan dengan lamban.
Sementara di dalam sana. Ada sesosok wanita yang terus memukul pintu dan berteriak agar ada yang membuka benda ini.
Asap sudah memenuhi setiap penjuru kamar membuatnya lemas dengan mata berkunang. Bagian jendela kamar sudah terbakar dan itu membuat luka di lengan Stella yang juga memar karna memukul-mukul Pintu di hadapannya.
"M..Mommyyy uhuukk!!"
Stella terbatuk tak bisa lagi mengambil udara yang segar selain asap. Ia berjalan tertatih-tatih ke arah kamar mandi tapu, saat kaki Stella yang gemetar melangkah ke sana tiba-tiba saja runtuhan Atap yang sudah roboh itu nyaris menimpa Stella yang mundur karna waspada.
Dadanya yang panas dan sakit karna tak bisa mendapatkan oksigen membuat Stella semakin pusing dan berkunang.
Ia memeggangi perutnya takut jika hal seperti ini akan mempengaruhi janin yang ada di sana.
"V..Veee.." gumam Stella dengan nafas yang tersendat dan sangat susah. Ia mundur untuk mencari tempat yang bisa melindungi tubuh berkeringat karna panas itu.
"A..apa ada ..o..orang uhuukk! T..Tolooong!!" panggil Stella tak mampu berdiri terlalu lama. Perutnya yang besar membuat Stella sulit untuk melakukan apapun. Ia hanya bisa duduk di lantai menatap ke atas dimana masih ada atap yang belum rubuh tepat di atas kepalanya.
Apa aku akan mati sekarang?
Yah. Hal itu selalu membuat Stella berfikir pendek. Jika ini penjahat ia bisa lari ia bisa membela diri. Tapi, ia terjebak di dalam lingkaran api yang akan membakarnya hidup-hidup.
Di kondisi seperti ini. Stella ingat dengan Xavier, mungkin saja kali ini ia akan mati. Dan tak sempat memberi jawaban atas pertanyaan waktu itu.
Mata Stella berair merasa jika terlalu banyak di dunia ini orang yang ingin membunuhnya. Dan ini yang terakhir baginya.
"A..Aku me..mencintaimu. V..Vee!"
Suara patahan kayu di atas sana bisa Stella dengar. Ia melihat benda itu akan jatuh menimpanya dan segera ia meringkuk tak bisa lagi menghindar.
Hanya pasrah dan berharap jika anaknya bisa selamat walau ia akan tiada sekarang.
Namun. Tiba-tiba saja Stella tak merasakan apapun menimpanya. Bahkan, hawa panas yang ia rasakan di sekelilingnya tadi berubah jadi dingin.
Mata Stella yang tadi terpejam mulai sedikit membuka sayu melihat ada Kaki kokoh bersepatu seseorang yang berdiri tepat di dekatnya.
Aroma Musk ini sangat familiar bagi Stella. Tangannya perlahan terulur bergetar karna sudah lemas ingin menyentuh kaki kokoh ini namun tangan kekar seseorang langsung menyambar lengannya.
"V..Veee!" gumam Stella dengan suara sangat rendah. Api yang tadi menyala tampak sudah padam karna hembusan angin kuat yang tiba-tiba datang menggulung hawa panas itu dan membawanya ke suatu tempat.
Wajah tampan Xavier sudah berubah mengeras dengan urat merah menjalar di pipinya. Taring itu keluar menandakan ia benar-benar murka kala melihat lengan Stella sudah terluka dan tangan wanita ini memar.
"V..Vee!"
__ADS_1
Xavier mengepalkan tangannya kuat. Tanah ini sampai bergetar dan dapat di rasakan sampai ke seluruh penjuru Pemukiman yang terdengar heboh di luar sana.
Melihat mata Xavier mulai ingin berubah merah dan ada asap hitam yang keluar dari sekeliling tempat ini pertanda Xavier ingin menghancurkannya.
"T..tidak.. J..jangan.." pinta Stella menggeleng. Namun, amarah Xavier sudah tak terbendung. Tiba-tiba saja ada Kelelawar yang menyerbu dari atas sana dengan suara memekik seakan sangat bersemangat.
Mahluk-mahluk berbentuk asap hitam tetapi bertengkorak samar itu juga beterbangan ke semua penjuru seakan memang ingin memusnahkan seluruh manusia disini.
Stella menggeleng dengan tatapan cemas tetapi Xavier hanya diam menahan diri agar tak berubah di hadapan Stella. Taring itu masih keluar pertanda ia memang benar-benar marah membuat Stella agak takut melihatnya.
"V..Vee.."
Tanpa menjawab apapun Xavier segera menggendong Stella ringan. Ia memberikan waktu sejenak untuk Stella bernafas karna tadi pasti sangat sesak.
"Aaaaaa!!!!"
"Toloooong!!"
Suara teriakan dari luar sana membuat Stella sangat yakin jika mereka tengah di buru mahluk-mahluk ganas itu. Jeritan yang histeris dan memekik beriringan dengan suara Kelelawar yang pasti sangat kejam mencabiknya.
"V..Vee.. Vee jangan.. Jangan b..bunuh mereka. Aku..aku mohon."
"Pejamkan matamu!" suara berat yang sangat khas dari Xavier yang tampak masih menahan amarahnya. Saat Stella tak kunjung melakukan hal itu, mata Xavier langsung berubah merah dan segera Stella memejamkan matanya dengan satu tangan meremas bahu Xavier.
Ia diam dan membisu. Tak ada yang ia rasakan selain hawa hangat yang segar seakan mengusir rasa panas di seluruh penjuru kakinya.
Hembusan angin sepoy yang membuat Stella rileks sampai tak sadar menyandarkan kepalanya ke dada bidang Xavier yang terasa mulai berjalan ke suatu tempat.
Tapi, tunggu. rasa hangat dan segar ini ..
Stella segera membuka matanya dan lagi-lagi ia di buat syok kala mereka sudah ada di kamar Apartemen.
"V..Vee!"
Tubuh Stella di baringkan. Dengan hati-hati Xavier meluruskan kaki wanita itu lalu duduk di samping Stella melepaskan baju Daster yang sudah berbau asap dan sedikit terbakar di ujung bawah.
Nafas Stella masih tergolong sendat. Ia berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya membiarkan Xavier melakukan apa yang ia inginkan.
"Mana yang sakit?"
"D..Dadaku." jawab Stella mendongakkan wajahnya agar bisa menghirup nafas lebih leluasa. Ia hanya memakai Bera dan daleman saja tentu itu tak canggung lagi di antara keduanya.
Dada sekang putih Stella terbalut rapi oleh Bera Hitam. Xavier mengambil nafas dalam menepis hal yang selalu membuatnya tersengat setiap menyentuh kulit wanita ini.
"Perutmu sakit?"
"Agak nyeri." jawab Stella hanya bisa pasrah. Tangan kekar itu menekan sedikit dadanya dan Stella bisa merasakan jika rasa dingin ini seakan mengusir kesesakan di dalam sana.
"Tarik nafas perlahan. Jangan terburu-buru."
"Baiklah." gumam Stella mengikuti arahan Xavier. Dalam beberapa menit saja rasa sakit di dadanya perlahan hilang di gantikan dengan hangat yang lembut.
Melihat wajah Stella sudah rileks. Xavier beralih ke perut besar ini. Ia mengusapnya dengan lembut agak kaku karna memang belum terbiasa.
"Apa bayi kita baik-baik saja?" tanya Stella melihat Xavier yang perlahan juga memandangnya. Ada secercah mentari di hati Xavier kala mendengar ucapan Stella barusan.
Bayi kita? Yah. Dia memang bayi kita.
Begitulah hal yang sekarang Xavier dambakan. Stella akhirnya mengakui jika ini memang buah dari cinta mereka dan bukan kesalahan yang pernah Xavier lakukan sebelumnya.
__ADS_1
Melihat Xavier yang menatapnya dalam. Stella heran dan tak mengerti.
"V...Vee! Kau tak suka aku.."
"Aku suka!" sela Xavier lugas langsung melabuhkan kecupan cukup lama di kening Stella yang merasa di cintai dengan sangat besar.
Rasa bahagia itu sangat berbeda dari saat Devano melakukan hal yang sama padanya dulu. Saat bersama Xavier ia merasa jika tak ada yang bisa menyakitinya di seluruh dunia ini.
"Vee!"
"Mau memulai denganku?" tanya Xavier menyatukan kening keduanya. Tak perlu lama berfikir Stella mengangguk hingga membuat dada Xavier terasa bergetar dan di aduk oleh kegembiraan.
Rasanya ia ingin menjerit mengatakan pada dunia jika BONEKA SALJUNYA sudah kembali.
"Kau mau?"
"Emm. Mau!" jawab Stella agak lirih tetapi bisa di dengar Xavier. Tak bisa menahan gejolak Cinta di dadanya. Xavier menyambar bibir Stella dengan ciuman sangat lembut seakan ini adalah Berlian murni yang harus ia jaga.
Stella juga tak sungkan membalas tak kalah syahdu. Ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Xavier yang menjaga luka di lengan Stella tetap kering dulu.
Ciuman yang tadinya lembut agak berubah rakus kala rasa Cinta tadi mendorong hasrat di antara keduanya. Tangan Xavier sudah meraba punggung mulus lembut Stella yang menggeliat kala kaitan Beranya dilepas hingga dua Squishi kenyal itu bisa bebas dari rasa sesak.
Saat Xavier sudah ingin bermain tiba-tiba saja Ponsel di sakunya berbunyi. Ia tetap mengabaikan hal itu dan terus mencumbu bibir Berry ini sampai akhirnya Stella terganggu menarik diri.
"S.. Sayang!" lirih Xavier serak dan nafas memburu hebat.
"Angkat dulu Ponselmu!"
Jawab Stella juga menginginkannya tapi ia tak nyaman akan suara itu. Dengan rasa dongkol yang besar Xavier mengeluarkan ponselnya dan ada nama Zion di sana.
Amarah yang menggebu membuat Xavier tak bisa menahan suara kerasnya.
"AKU AKAN PASTIKAN KAU MATI SAAT INI jUGA."
Geram Xavier dengan wajah merah menahan hasrat dan marah. Stella hanya mengulum senyum kembali memakai Beranya yang nyaris lepas dari tubuhnya.
"M..Master! Maaf aku mengganggumu. Tapi, Mommy Stella jatuh pingsan saat tahu Rumahnya terbakar dan Stella masih di sana."
Mendengar hal itu Xavier terdiam. Stella juga mematung karna ia mendengar suara takut-takut Zion yang sepertinya merasa terancam.
"V..Vee! Apa yang terjadi pada Mommyku? Apa dia.."
"Dia akan baik-baik saja. Hm?" jawab Xavier mengusap kepala Stella yang sangat gelisah. Ia cemas jika terjadi sesuatu yang buruk pada Mommynya.
"Dia ada di Rumah Sakit Pusat. Master!"
"Hm. Aku datang ke sana!"
Xavier mematikan sambungan lalu menatap Stella yang ingin bangkit karna tak bisa menunggu di sini saja.
"Ayo kesana!"
"Bersihkan dulu tubuhmu lalu kita pergi!"
"Tapi..."
"Kau tak percaya padaku?" tanya Xavier membuat Stella terdiam. Ia akhirnya mengangguk membiarkan Xavier menggendongnya ke arah kamar mandi.
Pastinya semua hal akan Xavier lakukan agar si cantik ini nyaman bersamanya dan akan selalu baik-baik saja.
__ADS_1
.......
Vote and Like Sayangku..