YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Kekacauan mengejutkan


__ADS_3

Sesuai dengan dugaan Ester kemaren. Pasti para Penjilat di Perusahaan itu akan bergerak cepat untuk mengatasi Stella yang terang-terangan mengancam keberadaan mereka.


Alhasil semua Bukti Masa Lalu Stella di kirim ke Publik membuat guncangan besar bagi Stella yang tadi datang ke Perusahaan dengan perasaan semangat tapi ia di hadang oleh banyak Media di depan Perusahaan.


Untung saat itu para Keamanan langsung memblokir kerumunan dan Stella di bawa masuk ke dalam oleh Ester yang juga tak bisa diam saja.


"Kenapa ada saja penyebar berita palsu di dunia ini? Ada saja yang ingin mencoreng nama baik. Nona Stella!"


"Yah. Tak mungkin wanita secerdas dia bisa melakukan hal seperti itu."


Desas-desus para Karyawan Perusahaan tak menggubris Berita yang tengah tersebar. Mereka tak mau percaya begitu saja walau memang Buktinya terlihat begitu Real dan sangat menjanjikan.


Bukannya tenang dan lega. Perasaan Stella mendengar pembicaraan para Karyawan di sini semakin berkecamuk. Ia hanya bisa diam duduk di bagian kursi Resepsionis dan Staf Administrasi yang tadi memberikan air karena Stella sempat tak bisa berdiri.


"Nona! Anda tenang saja. Ini akan segera mereda. Asisten Zion juga sudah datang." Ucap Resepsionis yang berdiri di sampingnya.


Stella hanya diam. Jantungnya sudah berdebar kuat karena tadi melihat beberapa Pria yang dulu menemuinya di Club Madam Jen tiba-tiba saja membuat pernyataan tentang pekerjaan Stella selama disana.


Melihat Stella yang tak bicara sepatah-katapun membuat Ester yang tengah berbicara dengan Asisten Zion di dekat Lift sana menjadi cemas.


"Sekarang. Kau jangan dulu menunjukan Stella ke luar atau membawanya ke Masyarakat. Bisa saja ini akan membuatnya dalam bahaya."


"Aku akan MEMBUNUH mereka." geram Ester mengepal kuat. Ia sangat merasa muak dengan semua ini dan jika Stella memperbolehkan maka sudah sedari lama Ester membumi hanguskan mereka.


Melihat kemarahan Ester yang terlihat begitu berhasrat. Asisten Zion hanya bisa menghela nafas, masalah ini akan semakin merambat kemana-mana jika Ester gegabah.


"Tenangkan saja. Mommy-mu! Aku akan mengurus Beritanya."


Ester tak menjawab apapun. Ia melangkah mendekati Stella yang masih diam meremas jemarinya pertanda ia sangat gugup mendengar dukungan orang-orang di sekitarnya tapi itu membuat Stella benci dengan dirinya sendiri.


Saat Ester sudah berdiri dengan tubuh gagah di baluti Jaket hitam yang membuat tampilannya semakin muda barulah beberapa Staf itu pergi dari samping Stella.


Bukan karena hal mengejutkan tapi raut wajah datar penuh intimidasi dan hawa tak bersahabat Ester membuat mereka tak berani mendekat.


"Mom!" lirih Ester memegang bahu Stella yang seketika memejamkan matanya. Helaan nafas berat itu keluar pertanda Stella sangat tertekan.


"Aku tak apa."


"Aku akan mengurus mereka." tegas Ester tapi Stella hanya mengangguk ringan saja. Ia tahu jika berita ini bisa tersebar itu karena pengaruh besar dari seseorang.


"Aku ingin bicara dengan Zion!"


"Kau yakin?" tanya Ester memastikan Mommynya. Stella mengangguk berdiri dengan Ester yang siap siaga membelit pinggangnya melangkah ke arah Asisten Zion yang masih berbicara dengan seseorang di Ponselnya.

__ADS_1


"Hapus seluruh berita ini dan jangan sisakan satu-pun! bila perlu Blokir seluruh Media yang menyiarkannya."


"Zion!"


Suara panggilan itu membuat Zion menoleh. Ia segera mematikan sambungannya lalu menatap Stella yang terlihat bisa mengendalikan dirinya.


"Sudah-ku katakan bukan? Kau hanya akan membuat masalah."


Seketika tangan Ester berubah panas ingin menarik kerah Kemeja Asisten Zion tetapi Stella segera menggenggam tangan kekar itu.


"Jaga bicaramuu!!"


"Ester!" gumam Stella menekan pandangannya. Ester seketika membuang muka dengan nafas kasar terasa panas.


"Sudahi saja semua ini. Dia hanya akan mempersulit mu. Mom!"


"Ester! Tolong ambilkan air di Pantry." pinta Stella mengusap lengan Ester dengan pandangan penuh arti. Alhasil Ester pergi tapi dengan menahan rasa benci dan dongkol dalam hatinya.


Melihat Ester sudah pergi barulah Stella menatap tegas Asisten Zion yang tampaknya juga pucat melihat Ester ingin mencekiknya tadi.


"Aku peringatkan padamu! Jika kau tak mau membantu maka JANGAN. Dari pada kau tinggal nama." desis Stella tapi Asisten Zion langsung membuang nafas.


Jujur hatinya masih sakit kala Masternya sudah tak ada. Ia selama ini selalu mengabdi tapi sekarang hanya karena Stella ia tak lagi bisa bertemu pria itu.


Amarah sekaligus luka di mata Asisten Zion terlihat bercampur aduk. Stella tak menyangka jika Asisten Zion begitu menyalahkannya.


"Aku tahu ini semua bukan salahmu tapi entah kenapa aku benci denganmu! Hanya sejak kedatangan kau Master jadi melukai dirinya sendiri! Dia tak lagi memikirkan hidupnya!!" sesak Asisten Zion sampai mengepalkan kedua tangannya.


Stella hanya bisa diam dengan pandangan kosong. Yang di katakan Asisten Zion memang benar, kehadirannya terlalu sulit membawa kebaikan.


"Aku sudah berusaha menerimamu. Saat Master merubah setiap perlakuan dan cara pandangnya hanya untukmu itu membahayakan dirinya sendiri!! Kau tahu. Ha??" Dengan intonasi marah sedikit keras membuat beberapa Karyawan di sekitar sini terkejut.


Mereka menunduk kala melihat wajah marah Asisten Zion yang merah padam tapi segera di usapnya kasar lalu meninggalkan Stella yang hanya bisa diam.


Tak ada yang berani bersuara bahkan bernafas saja mereka harus menahannya.


"Apa yang terjadi?"


"Kelihatannya Asisten Zion marah besar."


Gumaman mereka berbisik bisu. Stella memejamkan matanya dengan nafas terasa sangat berat seakan ada sekangan batu di dadanya.


"Apa lagi yang ingin kau lakukan padaku?!" gumam Stella meremas tengkuknya yang terasa sangat berat. Ia ingin memaki Tuhan tapi jelas dayanya tak cukup untuk itu.

__ADS_1


Untuk sesaat Stella menenangkan diri menepis suara sorakan Media di luar sana. Ia bersandar di dinding Lift hingga pandangannya tertuju pada Ester yang datang membawa segelas air putih dingin.


"Tadi Nenek menelfonku!" gumam Ester saat susah di dekat Stella yang segera menegakkan tubuhnya.


"Astaga! Apa dia melihat berita itu?" paniknya sangat cemas.


"Yah. Dia bicara soal itu."


"Ya Tuhan. Apalagi ini?!" gumam Stella sangat takut jika hal ini berdampak pada Nyonya Clorie nantinya. Wanita itu juga tak boleh menerima tekanan terlalu kuat.


Ester memandang wajah gelisah Stella seraya menyerahkan gelas di tangannya. Ia semakin mengerti kenapa selama ini Daddynya begitu melindungi Stella yang Notabennya memiliki banyak masalah berat.


"Bagaimana kalau dia jatuh sakit? Ini semua karena aku. Aku.."


"Minumlah dulu!" pinta Ester tak ingin Stella tertekan. Ia harus hati-hati bertindak karena sekarang tak hanya para Penjilat itu yang berkonspirasi melawan mereka.


Stella menurut meminum air itu dengan perasan campur aduk. Di mata setiap orang ia hanyalah gadis tak bersalah tapi, sejujurnya bagaimana Stella bisa mengatakan jika hal itu benar dan apa mereka akan ikut memandang rendah padanya?!


"Pergilah ke Ruanganmu! Aku akan mengurus ini."


"Ester! Kau jangan gegabah. Salah-salah langkah kau akan berurusan dengan hukum." lirih Stella lalu menatap di sekeliling mereka yang mulai sunyi.


"Daddymu tak ada disini. Mommy tak mau kau terseret hal kriminal seperti ini. Mengerti?"


"Hm."


Ester hanya bergumam memasukan Stella ke dalam Lift. Ia menekan tombol menuju lantai atas lalu keluar tapi masih memandang wajah Stella hingga Besi ini menyatu.


Seketika nafas Stella menyandarkan tubuhnya ke dinding Lift. Kepalanya sangat sakit dan tak bisa tenang-tenang sana.


"Vee! Masalahnya terlalu rumit." gumam Stella tak tahu harus bagaimana lagi. Ia memejamkan matanya hingga dering Ponsel itu menyentak Stella.


Ia mengeluarkan benda pipih itu dari Saku celana panjang yang ia gunakan tetapi dahinya mengernyit kala ada Nomor tak dikenal masuk. Tak mau menebak-nebak akhirnya Stella mengangkatnya.


"Hallo!"


"Apa kabarmu? Sayang!"


Degg...


....


Vote and Like Sayangku..

__ADS_1


Maaf ya say.. Author lagi sibuk ujian praktek. Jadi up nya nggak nentu🄲


__ADS_2