
Wajah-wajah cemas itu terlihat nyata menatap ke arah ranjang dimana Dokter Ryker tengah memeriksa keadaan Stella.
Wanita itu masih belum sadar sedari siang dan sekarang sudah sore dan belum juga membuka matanya. Wajah yang bertambah pucat dengan kulit yang terasa dingin, gejala yang di tunjukan Stella bukanlah hal yang bisa di tebak-tebak asal bicara.
Dokter Ryker-pun, harus hati-hati mendiagnosa Stella yang memiliki tubuh spesial.
"Apa dia sudah makan?"
"Sudah. Dokter! Tapi, hanya sedikit dan mungkin tak begitu berselera." jawab Efika memang tadi melihat Stella tak cukup banyak makan tak seperti biasanya.
Dokter Ryker menghela nafas ringan. Pria berkacamata itu memeggang pergelangan Stella merasakan denyut nadi wanita ini.
Detak jantung Stella terasa cukup tak stabil. Ada sumbatan di area pernafasannya dan penyempitan area peredaran darah.
"Tak biasanya dia mengalami ini." gumam Dokter Ryker mengeluarkan alat injeksi dari Tas kerjanya.
Ia harap tubuh Stella tak menolak pengobatan medis darinya. Ia yakin wanita ini sama seperti manusia pada normalnya, hanya ada beberapa hal yang janggal.
Untuk sementara ini. Dokter Ryker melakukan Injeksi Vitamin ke tubuh Stella dan beberapa obat untuk menstabilkan peredaran darahnya.
Bahkan, Dokter Ryker memejamkan matanya masih menekan nadi Stella dengan aliran tenaga darinya. Ia bisa melihat organ-organ yang bekerja di dalam sana tak ada yang cacat dan hanya seperti terdampak sesuatu.
"Dia dari mana tadi?"
"Tadi, Nona ingin pergi ke bibir pantai! Tapi, saya melarangnya dan hanya melihat dari jauh saja! Saat Nona ingin kembali dia langsung pingsan, Tuan Dokter!" Jelas Kakek Le-Yang lugas dan sedikit gugup.
Pasalnya. Mereka takut jika Masternya marah karna telah lalai menjaga wanita ini.
"Dokter! Apa Stella baik-baik saja?"
"Dia hanya butuh istirahat. Kalian bisa menjaganya di luar, aku akan menghubungi Master!"
Alhasil Kakek Le-Yang dan Efika bertolak keluar dengan harapan Stella segera sadar. Sementara Dokter Ryker, ia langsung membuka ponselnya untuk menghubungi Master.
"Tunggu. Apa dia akan perduli?" gumam Dokter Ryker merasa percuma saja mengatakan pada Xavier.
Hubungannya dan Stella juga tak sebaik itu untuk saling mengkhawatirkan. Tetapi, karna tak mau bertindak sendirian Dokter Ryker tetap menelfon Xavier tetapi tak ada jawaban.
Ia segera menghentikannya lalu kembali menyimpan ponsel karna seperti biasa Xavier pasti sibuk dengan pekerjaannya.
"M..Mommy!"
"Kau sadar?" tanya Dokter Ryker tersentak kala gumaman kecil di bibir Stella keluar. Keringat dingin di kening dan leher wanita ini membuat Dokter Ryker gelisah.
"M..Mommy!"
"Stella! Kau mendengarku?"
Dokter Ryker menepuk ringan pipi Stella lalu terhenyak kala suhu tubuh Stella naik begitu tinggi. Padahal, tadi ini dingin dan masih normal.
"M..Mommy!"
"Tubuhmu sangat panas." gumam Dokter Ryker lalu mencoba membangunkan Stella yang tampak masih meracau di bawah alam sadarnya.
Dokter Ryker berusaha untuk membawa Stella kembali sadar karna dalam keadaan seperti ini bisa saja tekanan darah Stella naik dan bisa dehidrasi karna terus berkeringat.
"Mommy!!"
"Stella!! Kau mendengarku? Ayo bangun!"
Usaha Dokter Ryker akhirnya berhasil. Stella sudah mulai membuka matanya sayu dengan tatapan lemah ke arah langit-langit kamar ini.
"Kau sadar?"
__ADS_1
"A..aku.."
Stella meringis hebat kala kepalanya begitu sakit. Ntah kenapa ia mengalami ini padahal sebelumnya ia tak merasakan sakit apapun.
Melihat itu Dokter Ryker segera mengeluarkan obat penurun panas dari Tasnya lalu mengambil gelas air di atas meja.
"Ini! Kau minum dulu."
"A... aku kenapa?" tanya Stella masih kebingungan. ia dibantu bersandar ke kepala ranjang dengan pandangan sedikit kabur dan ia merasa panas dingin.
"Tubuhmu tiba-tiba Drop! Apa Master begitu menyiksamu?"
"T.. Tidak. dia tak melakukan apapun padaku." gumam Stella menggeleng pelan. Dokter Ryker menghela nafas seraya membuka pembungkus obat di tangannya.
Ntahlah. Ia sangat cemas jika Stella akan di jadikan korban-korban pemasok darah seperti sebelumnya.
"Minum ini! Panas mu naik."
"Aku baik-baik saja." gumam Stella meliarkan matanya ke semua sudut. Ntah kenapa ia merasa kosong saat tak ada sosok yang biasa menemaninya semalaman. kemana pria itu sekarang?
Menduga Stella tengah mencari Xavier. Dokter Ryker langsung memberikan Pil itu ke telapak tangan Stella yang diam.
"Dia selalu sibuk. Aku sudah menelponnya dan tak diangkat. Ayo minum!"
"Apa sesibuk itu?"
Batin Stella merasa tak puas. Tiba-tiba saja ia merasakan hal yang sama kala dulu Devano juga seperti itu saat berhubungan dengan wanita lain di belakangnya.
Lama Stella terdiam sampai tepukan ringan dari Dokter Ryker di bahunya menyadarkan Stella sepenuhnya.
"Kau memikirkan apa?"
"Em.. Tidak." jawab Stella singkat lalu meminum obatnya. Dokter Ryker sigap memberikan gelas yang segera di minum Stella dalam dua kali tegukan ringan.
"Untuk apa?" tanya Dokter Ryker meletakan gelas di dekat nakas. Ia merapikan barang-barangnya dengan wajah hangat seperti biasa.
"Aku sudah banyak merepotkan mu!"
"Hey! Sudahi ucapan aneh mu ini, lagi pula ini tugasku." jawab Dokter Ryker tersenyum lembut. Ia memperbaiki letak kacamatanya lalu memeggang pergelangan tangan Stella.
"Cobalah untuk tidak depresi. Apa yang kau pikirkan. Ha?"
"Maksudmu?" tanya Stella dengan wajah yang tadinya pucat sekarang cukup berdarah.
"Kau merindukan Mommymu?"
Seketika Stella terdiam. Ia mulai menunduk karna memang tak bisa menyembunyikan perasaan yang membuatnya selalu merenggu.
"Aku hanya bisa merindukannya. Tidak untuk bertemu." jawaban disertai senyum tipis yang nanar.
"Dia pasti akan baik-baik saja dan.."
"Dari mana kau tahu?" sela Stella menatap Dokter Ryker yang terdiam membisu. Mata Stella mulai berkaca-kaca tapi ia tampak masih menguatkan diri.
"Aku merasakan sakitnya. dia sangat perduli padaku dan apa kau pikir dia akan tenang tanpa menerima kabar dariku?"
Tanya Stella dengan suara yang cukup serak terdalam. Ia meremas jemarinya seraya menatap ke arah Balkon yang sudah menampakan sinar jingga untuk ke barat.
"A..aku tak tahu kapan aku bisa bertemu dengannya."
Imbuh Stella memendam semua itu. Jika mengatakan hal ini pada Xavier maka ia hanya akan mendapat sebuah ancaman. Ia tak ingin mempersulit keadaan lagi.
"Aku akan bicara pada. Master!"
__ADS_1
"Kau jangan gila." jawab Stella menatap tajam Dokter Ryker yang juga merasakan apa yang Stella alami. Ia juga tak punya orang tua dan tahu bagaimana rasanya jauh begini.
"Aku sudah gila dari lama. Kau tenang saja."
"Kauu..."
Ucapan Stella terhenti kala ia kembali pusing. Spontan Dokter Ryker memeggang kepala Stella yang juga memegang lengan Dokter Ryker karna mereka juga sudah biasa begini.
"K..kepalaku.."
"Sebentar! Aku akan mengambil sesuatu di Mobil!"
Dokter Ryker bergegas melangkah cepat keluar kamar. Ia berjalan ke arah tangga dengan tergesa-gesa sampai ia hampir menabrak seseorang yang juga tadi melangkah begitu cepat menerobos pintu depan.
"Master!"
Ia sadar jika Xavier tampak sudah pulang. Raut wajah pria ini begitu tampak dingin dengan tatapan menusuk ke arahnya.
Merasa Xavier tengah melimpahkan intimidasi. Dokter Ryker langsung membuka suara.
"Stella tengah sakit. Aku.."
Kalimat Dokter Ryker terhenti kala Xavier sudah pergi ke atas tanpa memperdulikan mereka semua.
Zion menghela nafas merasa hari ini nasibnya sangat buruk.
"Ada apa dengan Master?"
"Tadi Nona Linnea ke Perusahaan." jawab Zion menepuk bahu Dokter Ryker yang menatapnya sulit.
"Wanita itu?"
"Yah. Kau tahu sendiri Master pria yang arogan, dia tak suka di atur-atur oleh orang lain." jawab Zion melangkah ke arah Sofa santai di sudut ruangan.
Dokter Ryker terdiam sejenak. Ia menatap ke arah tangga seraya mendekat Zion yang melonggarkan dasinya.
"Apa kau sudah tahu tubuh Stella bagaimana?"
"Belum! Sempel darahnya tak ada yang cocok dengan manusia manapun." jawab Zion cukup pusing memikirkannya.
Xavier tengah tak bisa di ajak berkomunikasi dengan baik. Tadi saja pria itu begitu membuatnya kewalahan. Xavier menghabiskan semua stok yang di punya dan terpaksa Zion akan berburu lagi.
"Temani aku berburu malam nanti!"
"Aku sibuk." jawab Dokter Ryker malas. lagi pula ia sudah punya dan tak kekurangan.
"Ini perintah Master! Kau mau darah Stella yang.."
"Baik." Dokter Ryker langsung menyanggupi. Tentu hal itu membuat Zion terdiam menarik alisnya heran dan bingung.
"Kauu..."
"Stella wanita yang spesial! Aku tak ingin dia mati sia-sia di tangan Master."
Zion menela'ah sejenak ucapan Dokter Ryker. Tak biasanya pria ini begitu perduli pada korban-korban Masternya.
"Kau mencintainya?"
Deegg...
.....
Vote and Like Sayang.
__ADS_1