
Tumpukan berkas-berkas Perusahaan itu sudah menggunung di atas Mejanya. Tatapan fokus dan sibuk mengotak-atik Laptop yang tengah menyala memperlihatkan sebuah Kurva Bisnis dan bagaimana tingkat kemajuan yang sudah di capai oleh Perusahaan.
Hasilnya memang sangat memuaskan dan tak heran lagi Perusahaan EMC bisa sepesat ini. Jika tak ada tangan kekar itu menjamah kertas di atas meja dan jika tak ada tatapan tegas dingin yang gila Kerja itu maka Gedung besar ini sudah lama runtuh karna persaingan ketat Dunia Bisnis.
"Master! Tolong tanda tangan Berkas ini."
"Hm."
Xavier menerima Dokumen yang di berikan Sekretarisnya. Tanpa perlu lama berfikir dan hanya melihat sekilas tetapi itu sangat mematikan. Ia langsung membumbuhi tanda tangan di sana hingga wanita yang berpakaian seperti seorang Sekertaris itu segera mengambil kembali Berkas dan pamit keluar.
Tanpa menjawab atau menoleh-pun Xavier tak perduli. Ia masih terkurung dalam Dunianya karna memang ini yang Xavier inginkan. Ia sengaja menumpuk pekerjaan yang seharusnya selesai beberapa hari yang lalu ia tumpuk menjadi satu hingga ia tak lagi pulang ke Villa.
Pikirannya selalu kacau ketika datang kesana bahkan sering kali Xavier lepas kendali ketika melihat tempat-tempat yang biasa wanita itu jamah dengannya.
"Master!"
Zion masuk membuka pintu ruangan. Ia membawa beberapa Surat dan itu sama sekali tak di lirik Xavier yang mempersibuk diri.
"Master! Ini.."
"Ada Jadwalku hari ini?" tanya Xavier ingin menghadiri Rapat penting yang ada di Luar Kota. Ia harus mengurus Perusahaan Cabang yang sudah lama tak di tinjau.
Mendengar itu Zion terdiam. Ia menatap Surat-Surat di tangannya ini dengan bingung dan cukup gelisah untuk mengambil Keputusan.
"Master! Jadwalmu memang sangat padat hari ini, kau harus menghadiri Meeting Direksi yang kemaren tertunda siang nanti dan Bertemu Perusahaan Tuan Dareen yang sudah ada janji temu sejak minggu kemaren. Mereka masih setia menunggumu."
"Hm. Aku akan selesai dengan ini." gumam Xavier membolak-balik kertas di tangannya lalu kembali melihat ke arah Laptop.
Saat merasa Zion ingin menyampaikan sesuatu. Xavier tanpa menjeda Aktifitasnya tetap bertanya.
"Ada lagi?"
"Ada Surat pengajuan Kerja Sama untuk turun ke Sekolah-Sekolah yang berencana mencari bimbingan dari Perusahaan-Perusahaan yang besar. Master!"
"Buang saja." jawab Xavier sama sekali tak tertarik. Ia tak ingin pergi ke Tempat seperti itu karna pasti akan menyusahkan.
"Kau yakin. Master!"
Seketika Xavier henti melihat ke Laptopnya hingga memberi kesan dingin lada ruangan ini. Zion jadi gugup karna ia tahu Sekolah yang mengajukan ini salah satunya tempat bernaung wanita itu.
"Kau pikir aku punya waktu sebanyak itu?"
"Baik! Akan-ku berikan pada Perusahaan lain."
__ADS_1
"Hm." acuh Xavier kembali melanjutkan pekerjannya. Zion menghela nafas dalam lalu ingin keluar dari ruangan tapi tiba-tiba Ponselnya berbunyi.
"Maaf. Master!"
Gumam Zion karna menganggu. Ia pergi ke dekat pembatas dinding kaca di sudut sana menjawab panggilan dari Tuan Darren.
"Tuan Zion! Maaf mengganggumu."
"Ada apa?" tanya Zion sangat cemas jika Masternya marah lagi. Tapi, Xavier tampak acuh dan masih fokus dengan pekerjaannya.
"Begini! Apa Perusahaan EMC mendapat surat undangan kerja sama?"
"Yah!"
"Kalau Master berkenan. Aku ingin mengambil ajuan dari Stetan Island, karna di sana ada Putriku."
Zion melirik kebelakang dan sepertinya Xavier memang sudah melupakan wanita itu. Tak ada alasan baginya untuk memberikan surat ini.
"Baiklah! Kau bisa ambil."
"Terimakasih. Saya menunggu kedatangan Master sore ini."
"Aku mengerti."
"Asisten Zion!"
"Kau kirim ini ke Perusahaan Tuan Darren!" pinta Zion memberikan Surat-surat di tangannya. Tanpa membantah Sekertaris Grach mengangguk membawa benda itu kembali ke ruangannya.
Zion menghela nafas lega. Akhirnya ia terbebas dari amukan sang Master yang beberapa hari ini menguji fisik dan mental.
"Aku rasa ini akan lebih baik." gumam Zion ingin kembali ke ruangannya tapi pintu ruangan Xavier terbuka memperlihatkan pria itu sudah keluar dengan balutan jas elegannya.
"Master!"
"Pergi sekarang!"
"Baik!" jawab Zion membiarkan Xavier melangkah masuk ke dalam Lift. Ia mengikuti dari belakang dengan suasana sunyi seperti biasa selalu menghampiri.
Raut wajah Xavier bahkan lebih dingin dari besi yang tengah lama terhempas udara ini. Bahkan, satu kata atau helaan nafasnya saja tak terdengar tetapi Zion sudah terbiasa.
"Apa Master masih memikirkan Stella? Tampaknya dia sudah lebih baik."
Batin Zion ingin menguji sedikit. Jika memang Xavier sudah melupakan wanita itu maka ia akan bersorak keras karna nyawa mereka sudah dalam arena aman.
__ADS_1
"Master!"
"Hm."
Xavier sibuk memainkan ponselnya tanpa melirik Zion yang ingin menyampaikan sesuatu.
"Tuan Darren sudah mengambil surat yang tadi kau tolak. Master!"
"Baguslah." jawab Xavier singkat.
"Yah. Putrinya ada disana. Staten Island!"
Degg..
Seketika mata Xavier termenggu kosong mendengar ucapan Zion barusan. Ia sangat-sangat tak asing dengan nama Sekolah ini karna..
"Stella!" Xavier kembali ingat nama Sekolah itu. Dari data yang di berikan Zion dulu tercantum alamat bahkan Sekolah Stella yang sudah bermasalah selama ini.
Melihat Masternya terdiam dengan tatapan hampa dan kosong Zion jadi heran. Ia harap pria ini tak menyuruhnya kembali mengambil Surat itu.
"Kau tenang saja. Master! Sekolah itu sudah di ambil Perusahaan lain dan.."
"Hm."
Xavier diam memejamkan matanya. Tiba-tiba dadanya berdegup sangat kencang dan rasa rindu itu bercampur sesak yang selama ini membuatnya menderita. Jujur Xavier berusaha menahan diri agar tak menemui sosok itu tapi ntah kenapa ia sangat kacau dan tak bisa menekan hatinya.
Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau masih membenciku dan tak ingin bertemu lagi?
Batin Xavier ingin menemukan jawaban ini sendiri. Ia selalu mencoba sibuk dan tak memikirkan hal itu tapi berulang kali berputar di kepala angkuh Xavier yang mulai tak tahan membendung Perasaan aneh ini.
Lama Xavier menekan pikiran dan hatinya hingga Lift ini terbuka menampakan Lobby khusus baginya. Zion diam saat Xavier tak bergerak sama sekali dari dalam benda ini.
"Master!"
Xavier tetap bungkam seperti mengendalikan sesuatu. Ia sampai berkeringat dingin melawan rasa membuncah di dadanya tapi tak cukup kuat hingga nafas Xavier menderu tak stabil.
"Ambil! Ambil surat itu kembali!"
"A..Apa?" tanya Zion cukup syok kala Masternya terlihat tak sabaran. Tadi, Xavier bertingkah seakan enggan dan tak perduli. Tapi sekarang bernafas saja dia susah.
"Kau tak dengar. Ha?? AKU MENGINGINKAN SURAT ITUU!!".
" B..Baik. Master!" gugup Zion segera menelfon Sekertaris Grach agar membatalkan pengiriman. Ingin rasanya Zion berkata kasar tapi apalah dayanya yang tunduk di bawah kekuasaan Pria angkuh ini.
__ADS_1
Vote and Like Sayang