YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Pengganti?


__ADS_3

Langkah kaki cepat dan menghentakan kekesalan itu langsung menapak ke lantai Kediamannya. Ia baru saja turun dari Mobil tetapi, dari raut wajah yang begitu tak bersahabat dan nyaris membuat banyak penjaga disini hanya bisa diam tak ingin menegur Nonanya.


"Mommyy!!!"


Teriakan yang menggelegar di seluruh penjuru Kediaman. Mashion megah dengan arsitektur Modren itu menjadi saksi arogannya wanita ini.


"Mommyy!!!"


"Kenapa kau berteriak sekencang ini. Ha?"


Tanya seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekat keluar dari Lift yang ada di samping kanan ruangan.


Tanpa pikir panjang lagi. Ia mendekat dengan tatapan begitu marah sampai barang-barang di dinding yang menjadi hiasan Kediaman jatuh karnanya.


"Mommy! Aku sudah tak tahan lagi!!" geram Linnea sampai memunculkan guratan merah dengan mata mulai berubah menghitam.


Hal itu membuat wanita paruh baya berambut pirang dengan mata tajam itu menyeringit. Bibir berpoles lipstik tebal seketika datar.


"Ada apa?" tanya Nyonya Brillier yang merupakan Ibu dari Linnea. Keduanya sama-sama memiliki kemiripan dari segi mata yang picik.


"Mom! Dia selalu mengusirku, bagaimana aku tak marah. Ha?"


"Patriack?" tebak Nyonya Brillier yang sudah tahu apa penyebab Putrinya marah-marah pulang ke Kediaman Phanston . Untung saja Ayah Linnea tak disini dan keadaan masih bisa mereka tangani.


Kalau tidak, ntah apa yang akan terjadi jika pria itu tahu Putrinya lagi-lagi di permainkan oleh Xavier yang selalu mementingkan Pekerjaannya. Padahal, mereka tak kekurangan uang sama sekali.


"Mom! Kenapa dia selalu menolak ku? Selama bertahun-tahun aku berusaha tetapi tetap saja. Dia masih mementingkan pekerjaan dari pada hubungan kami. Mom!"


"Kenapa harus marah-marah tak jelas. Hm?!" Nyonya Briller mengusap surai emas panjang milik Linnea yang sudah tak bisa menahan rasa kesal.


"Aku harus apa? Dia sangat sulit di dekati."


"Jika begitu, kau jangan selalu mendesaknya. Nea!"


Linnea terdiam mendengar jawaban Nyonya Briller yang tampak sangat tenang. Jelas selama ini ia selalu meminta pendapat Mommynya dalam segala hal.


"Maksud Mommy?"


"Kau ini terlalu keras. Cobalah untuk mendekati Xavier dengan lembut sesuai apa yang dia minati."


Linnea masih diam seakan tak mengerti akan ucapan Mommynya. Jelas jika Linnea tak sabar dan terus bersaing dengan Pekerjaan pria itu.


"Mom!"


"Kau jangan membuat citramu jatuh. Sayang!" suara lembut Nyonya Brillier keluar seraya mengiring Linnea dengan elegan untuk duduk di sofa ruang Tamu yang terkesan mendukung aura mewah disini.


"Dia begitu sibuk akan pekerjaannya! Pria yang begitu optimis dan giat, tak akan mudah kau taklukan dengan cinta dan kasih sayang."


"Lalu aku harus apa? Mom!" gumam Linnea bersandar ke sofa dengan guratan putus asa.


"Bersainglah dengan pekerjaannya! Kau harus membuat dirimu ikut campur dalam pekerjaan yang selalu di urusi Putra Mahkota! Ingat, buat kau dekat tetapi salam konteks Pekerjaan."


"Pekerjaan?" gumam Linnea berfikir. Seketika ia paham kala membayangkan Xavier selalu mengutamakan Perusahaan di banding apapun. Bahkan, selama ini pria itu selalu menghabiskan waktunya untuk memperluas kekuasaan Elbrano ke semua penjuru.


"Benar. Mom! Selama ini Patriack selalu mengabdi pada pekerjaannya. Aku bisa membawa Perusahaan Daddy untuk bekerja sama dengan mereka. Jika dia menolak, Kakek Lucius akan membantuku."


"Ini baru putriku." puji Nyonya Brillier merekahkan senyuman mengusap lengan mulus putrinya.


Semangat yang turun tadi, seketika kembali naik di tubuh Linnea. Ia sudah membayangkan bagaimana Xavier akan selalu ada di dekatnya sesuai jam kerja kegilaan pria itu.


"Tunggu saja! Aku akan membuat kau bertekuk lutut padaku."


....... ..


Langit di atas sana sudah gelap mengganti kemilau jingga yang tadi sudah menyebar hilang. Lampu-lampu di jalanan mulai hidup berbanding kemegahan dengan gemerlap gedung-gedung tinggi yang saling berlomba memperlihatkan mana panorama malam yang indah dari silaunya kaca-kaca di atas sana.


Suasana malam sudah datang. Tentu saja hal itu membuat nuansa semakin meriah dan hangat sampai membuat sosok wanita yang asik menikmati kebebasan itu larut.

__ADS_1


"Disini sangat sejuk." gumam Stella bersantai ria.


Tempat ini begitu elegan dimana bahan-bahan kayu mengkilap di dinding dan menyediakan Lantai atas yang langsung menghadap ke area Taman Kota yang tampak indah dari sini. Kaca pembatas antara pagar dan tempat duduk mereka di lepas hingga semilir angin leluasa masuk.


"Ini pesanan anda. Tuan, Nona!"


Seorang Waiters datang membawakan Jus lemon dan Spicy Tuna Sandwich dengan Langgana Met yang menjadi menu andalan di Restoran ini.


"Tak ada Seafood?"


"A.. Apa?" tanya Waiters itu agak gagal fokus karna tadi kesadarannya telah di ambil oleh pesona Xavier yang hanya diam memakai Masker dan Topi menutupi wajahnya.


Walau tak begitu tampak, tapi aura dan tubuh kekar pria ini sangat memikat tapi juga mengerikan.


"Seafood. Apa ada?"


"A.. Ada. Tapi.."


Stella menghela nafas dalam. Sangat sulit berjalan bersama Xavier yang notabennya memang Tampan walau tak di tunjukan.


"Tak apa. Kau pergi saja!"


"Seafood!" suara berat Bass Xavier keluar membuat wanita itu memerah. Ia mengangguk kaku lalu melangkah pergi turun ke lantai bawah tak tahan akan aura Xavier.


Melihat itu, Stella segera melayangkan tatapan mematikan pada Xavier yang bersedekap dada angkuh.


"Apa?"


"Sedari tadi kau mengganggu mereka." geram Stella menyipitkan matanya tajam. Seketika Xavier menghela nafas beralih menaikan kedua lengannya ke atas meja makan.


"Maksudmu?"


"Kau membuat semua orang kagum dan takut beriringan! Bahkan, orang-orang yang makan di bawah sampai di suruh pulang karna kauu!!" ketus Stella yang memang kesal. Tadi Xavier datang dan seketika Manajer Resto langsung membubarkan orang-orang yang makan di bawah dengan alasan sudah tutup.


Padahal Stella tahu Xavier tak suka akan dentingan sendok dan suara riuh di bawah sana.


"Kau memang benar-benar menye.."


"Tampan!" potong Xavier dengan percaya diri level atas. Ia membuka satu tali Maskernya memberikan seringaian puas pada Stella yang sudah berapi-api membuang muka ke arah lain.


"Aku tahu aku sangat Tampan. Tak usah memuji berlebihan."


"Tampan kepalamu." Rutuk Stella hanya mendapat keangkuhan dari Xavier yang segera kembali memakai Maskernya.


Sedetik kemudian Stella terdiam cukup lama lalu kembali menatap Xavier yang nyatanya sedari tadi juga tak mengalihkan pandangan darinya.


"Vee!"


"Hm."


"Belikan aku Ponsel!" pinta Stella dan tak lama Xavier memberikan Ponsel di sakunya ke hadapan Stella yang heran.


"Itu!"


"Ini ponselmu! Aku mau punyaku sendiri, Vee!" rengek Stella dengan tatapan memelas dan mata polos di buat-buat, netra biru lautnya berubah seperti kucing meminta makan pada majikannya.


"Untuk?"


"Menelpon."


"Siapa?" tanya Xavier dengan ketenangan masih di perlihatkan. Ia ingin melihat apa keinginan Stella sebenarnya.


Jujur Stella ingin menelpon Mommynya untuk menanyakan kabar. Jika Xavier tahu pasti ia marah dan tak akan memperbolehkannya.


"A.. Untuk memeriksa bagaimana perkembangan Sekolahku." gumam Stella dengan sebuah elakan.


Xavier diam sejenak tak mau menjawab langsung. Waiters yang tadi pergi sudah kembali mendekat dengan Sepiring Kerang laut yang tampak lezat di sirami saos Tiram dan udang Tomat merah.

__ADS_1


"Ini. Nona!"


"Sudah lama aku tak makan ini." gumam Stella tampak berbinar seketika lupa akan permintaannya tadi.


Waiters itu pergi dengan malu-malu membiarkan Stella mencium aroma hidangan lezat malam ini.


Melihat itu Xavier menggeleng. Bisa-bisanya ada wanita begitu konyol di hadapannya.


"Jangan Kuno. Pakai sarung tanganmu!"


"Aku tahu." ketus Stella memakai sarung tangan plastik untuk membuka Kerang dan Cangkang Udang di dalam Piring besar ini.


Melihat Stella yang ingin mencicipi segalanya tapi susah membuka Cangkang Kerang itu, Xavier segera menarik Piring Stella mendekat ke arahnya.


"Kauu.."


"Makan dulu yang lain!" gumam Xavier menyodorkan piring Tuna Sandwich ke arah Stella yang terdiam saat Xavier ikut memakai Sapu Tangan yang sama dengannya.


"Kau juga makan-makanan manusia?"


"Hm."


Xavier hanya bergumam acuh seraya mengambil daging Kerang yang ia lepas dari cangkangnya lalu meletakan itu ke piring Stella yang terdiam memeggang Sandwichnya.


"K..kau.."


"Makan!" ujar Xavier tanpa mengalihkan pandangan dari Piring Kerang yang terus ia buka mengambil isinya dan lagi-lagi memasukannya ke piring Stella yang tampak termenggu lama.


Kenapa rasanya aku sangat senang?


Batin Stella cukup terenyuh. Pasalnya selama ini ia selalu di perlakukan kasar dan tak pernah mendapat perhatian yang lebih. Apalagi Xavier selama ini begitu menyiksanya tapi ntah kenapa semakin hari Stella mulai terbiasa.


"Vee!"


"Hm."


"Aku bingung."


Seketika tangan Xavier yang tadi sibuk melepas kerang seketika terhenti. Ia menatap Stella yang tampak dia memandangnya.


"Kenapa?"


"Kenapa kau baik padaku?" tanya Stella ingin Xavier menjawab, apa posisi dirinya sekarang bagi Xavier? Ntah kenapa Stella ingin menanyakan itu.


Namun. Xavier bukan pria yang pandai dengan urusan hati atau semacamnya. Yang ia tahu hanya sebuah hasrat dan rasa enggan melepaskan.


"Kenapa? Bisa kau.."


"Hanya ingin." jawab Xavier kembali melanjutkan kegiatannya. Stella terdiam mendengar jawaban Xavier yang begitu menggores hatinya.


Seketika senyum miris Stella muncul kembali memakan potongan Sandwichnya. Mata Stella berkaca-kaca tapi ia masih bisa tersenyum sesekali mengusap cairan bening yang jatuh sampai ia tak terasa lagi kelezatan Sandwich yang ia kunyah.


"A.. Iya. Aku sudah menemukan gadis itu, kau tenang saja." ucap Stella seakan bersikap baik-baik saja.


Respon Xavier sama sekali tak terlihat. Ia seakan tak mendengar Stella bicara dan hanya terus melepas Cangkang Kerang di piringnya.


"Dia manis dan cantik! Aku rasa dia masih suci dan cocok untukmu. Dan lagi.."


"Kau yakin ingin memberikannya padaku?" tanya Xavier dengan suara dingin yang begitu menikam tanpa menatap Stella.


"Yah. Jangan terlalu keras padanya, dia gadis yang baik jauh dariku."


Xavier hanya menyeringai di balik Maskernya. Ada tatapan iblis dan kejam yang tak bisa Stella lihat dengan mudah.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2