YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Hanya Milikku!


__ADS_3

Ciuman panas dengan rona hasrat yang membara itu terkibar di area kamar mandi yang masih saja menjadi saksi bisu panasnya hubungan mahluk yang sama sekali belum berikrar sumpah Pernikahan itu.


Tak ada satu patah-katapun yang lolos selain sebuah alunan rendah dan lemah dari sesosok wanita yang sekarang hanya pasrah duduk di atas meja Wastafel membiarkan sang pemilik raga untuk mengeksplore kenikmatan duniawi.


"Vee ehmm." erangan Stella muncul dengan mata masih terpejam rapat. Hanya bibir basah yang sudah dicumbu habis oleh Xavier yang tampak terus terbuka kecil.


Bagaimana dengan Xavier? Tentu pertanyaan itu sudah jelas jawabannya bukan?! Xavier tengah memberikan lebel kepemilikan menambah beberapa lebel yang masih belum hilang di tubuh Stella.


Ia menghisap puncak bukit sekang itu seraya sesekali menatap wajah cantik Stella yang nyatanya menikmati permainan lembut Xavier kali ini.


"Kau pasrahkan saja padaku." serak Xavier bergumam lalu mengangkat tubuh Stella ringan keluar dari kamar mandi.


Suasana remang kamar kembali menyapa tapi ini membuat gelora bercinta terpacu exstrem. Xavier membaringkan dengan hati-hati tubuh polos Stella di atas ranjang dengan tatapan begitu mendamba dan sangat ingin.


Ntah apa yang merasuki Xavier sampai ia lupa akan dunia ketika sudah ingin dan candu dengan wanita ini.


"Vee!"


"Kau sangat tak sabaran." desis Xavier melepas kaos di tubuh kekarnya dengan tatapan tak berkedip pada wajah Stella yang gelisah mencari sentuhannya.


Tak seperti biasanya. Stella lebih manja dan tak mau di lepas walau matanya belum juga terbuka.


"Veee!"


"Hm?"


Xavier melempar asal bajunya lalu membuka bagian bawah dan hanya menyisakan Boxer membalut bagian yang membengkak itu. Dari ketegangan dan kekokohan sang pusaka sudah di tebak betapa besar hasrat Xavier sekarang.


"Veee. Sayang!" rengek Stella meraba tempat di sampingnya dengan panggilan yang begitu sangat-sangat membuat Xavier melemah.


Ia segera naik ke atas ranjang menindih tubuh Stella yang sudah bak cacing kepanasan mulai merespon semua gerakannya.


Wajah gelisah dengan tangan mulai terangkat meraba dada bidang berotot Xavier yang memejamkan matanya menikmati belaian tangan lembut ini.


"Vee!" gumam Stella tanpa sadar melakukan segalanya sesuai naluri kewanitaannya. Ia mengagumi setiap jengkal lekukan otot ini sampai pada pembengkakan di bawah sana membuat Xavier meloloskan desisan merasa tersengat hebat.


"Sss sayang!"

__ADS_1


"Vee!" gumam Stella kala Xavier menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher jenjang milik Stella yang tengah memanjakan pusaka bertuah itu.


Elusan lembut penuh kasih sayang dan genggaman yang erat tapi tiba-tiba renggang mempermainkan jiwa Xavier yang di buat gila akan semua ini.


Aku tak sudi memberikanmu pada orang lain. Aku tak sudi!


Batin Xavier menjadi panas kala membayangkan Stella melakukan ini pada pria lain. Rasa cemburu di dadanya mendorong Xavier untuk menyambar kasar bibir Stella yang cukup terhenyak tapi sudah tak lagi terkejut.


Ia membiarkan Xavier melepaskan rasa kesal, marah dan candu itu sementara tangannya bekerja di bawah sana.


Suara decapan erotis mengalun sangat buas. Xavier benar-benar menguasai bibir Stella sampai bernafas saja wanita itu harus sesuai izin Xavier yang mencengkram kedua pipi Stella dengan satu tangan agar lebih bisa mengulum Berry kenyal manis ini.


Bibir ini hanya milikku. Kau tak di izinkan memberi senyuman yang lebih indah pada orang lain! aku tak akan mengampunimu!


Batin Xavier menggila. Ia sudah tak bisa menunggu hingga mengigit bibir bawah Stella nakal lalu menariknya beberapa senti menahan rasa gemas sekaligus kesal darinya.


"Vee!"


"Ayo kita mulai!" bisik Xavier merapatkan dahi keduanya dengan satu tangan turun membuka helaian terakhir dari tubuhnya.


Jika Stella melihat pastinya rona merah dan bergidik manja itu akan terlihat. Tetapi, tak perlu membuka mata Stella hanya bermain dengan alam bawah sadarnya.


"Are you ready? Baby!" serak Xavier sangat berat dengan deru nafas memburu hebat. Ia memposisikan tubuh Stella akan siap menerima serangan darinya.


Stella yang merasa ada sesuatu yang membuat rayuan permisi untuk masuk di bawah sana mulai menunjukan sebuah persetujuan.


Ia membuka jalan masuk tetapi Xavier masih ingin memberikan perkenalan cukup intens.


"Kau tak akan mendapatkan ini dari orang lain." bisik Xavier dengan tatapan mata begitu lemah tetapi mendominasi.


Ia sengaja hanya menekan-nekan ringan membuat Stella mulai tak bisa dan merengek tak tahan.


"Vee!"


"Hm?" gumam Xavier masih belum bertamu. Ia hanya menunggu di luar tetapi terus memancing agar sang pemilik rumah sendiri yang mengajaknya masuk.


Ntah apa yang merasuki Stella sampai ia tak bisa menunggu Xavier bertamu sendiri. Kedua kakinya mulai berkalung ke pinggang Xavier berniat untuk menarik agar cepat memulai penyatuan Cinta itu tapi Xavier masih saja sangat jahil tak bergerak sama sekali membuat Stella gelisah meremas rambut sang pemilik raga.

__ADS_1


"S..Sekarang!"


"Kau yakin?" tanya Xavier mempermainkan hasrat Stella yang sudah mengendus lehernya. Melihat itu Xavier tak lagi bisa menahan lebih lama hingga mulai mengambil posisi tak sopan untuk bertamu.


Keduanya saling menggenggam dengan perlahan dan sangat pelan Xavier menekan masuk begitu sopan untuk bertamu tak seperti biasanya ia hanya menerobos sesuka hati.


"V..Vee.." desis Stella membuat Xavier yang tengah mengigit bibir bawahnya itu kembali mengeratkan genggaman keduanya.


"S...Sem..pit akhhs!" akhirnya Xavier meloloskan suara serak nikmat itu kala pusakanya sudah terbenam setengah ke liang duniawi yang selalu membuatnya hilang akal.


Melihat Stella yang ingin dirinya sepenuhnya masuk, Xavier langsung menghentak satu kali dorongan membuat Stella terpekik nikmat.


"V..Veee!!"


Deru nafas Xavier benar-benar sangat berat seakan ada sekangan batu di dadanya. Wajah merah terkadah meresapi sensasi bercinta yang begitu epik membelah batinnya.


"Vee! Ehmm!"


"K..Kau...kau milikku!" desis Xavier mengecup setiap senti wajah cantik Stella yang berkali-kali membuatnya mabuk.


Selama ini ia bercinta hanya menggunakan sebuah bayangan mimpi dengan wanita-wanita yang melayaninya tapi, saat bersama Stella ia tak bisa bersembunyi di balik sebuah bayangan karna itu sangat merugi besar.


Jika kau begitu ingin lepas dariku. Sebaiknya singkirkan itu karna aku tak akan membiarkanmu jatuh ke tangan orang lain.


Terserah kau mau mengatakan apa? Kau mau mengganggu atau merencanakan pembunuhan terhadapku tapi yang jelas..


Xavier memandangi wajah Stella yang masih dalam pengaruh eforia sentuhannya.


Aku tak sudi milikku di ambil orang lain! Dan berhentilah bertanya tentang perasaanku.


Aku tak akan bisa menjelaskannya. Stella!


Batin Xavier berkecamuk dalam. Sumpah demi apapun ia mulai merasa takut padahal selama ia hidup kata itu tak pernah ada dan terlintas di benaknya


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2