YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Melepaskan diri!


__ADS_3

Dokter Ryker tampak cemas kala kedatangan Masternya membawa Stella dalam keadaan cukup membuatnya jantungan. Wajah pucat Stella dan aroma amis di tubuhnya membuktikan ia baru saja berkecimpung dalam kejadian hebat dan tragis.


Namun. Xavier tak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam kamarnya baik itu Zion maupun Kakek Le-Yang. Ia seakan membatasi semua orang dan hanya ingin berdua di dalam ruangan itu.


"Apa yang terjadi? Kenapa Stella begitu?"


Tanya Dokter Ryker berdiri di anak tangga atas seraya menatap cemas ke arah lantai kamar Stella. Zion yang juga tampak kelut hanya bisa diam berdiri di samping Kakek Le-Yang.


"Zionn!!!"


"Aku tak mengerti kenapa Master jadi seperti itu? Dan jangan tanya padaku." jawab Zion sudah pusing. Belum lagi urusan gadis yang tadi sore mengalami luka karna terbentur aspal dan sekarang ia harus menghadapi sikap tak mengenakan Masternya.


"Apa Stella melakukan kesalahan lagi?"


"Tuan Dokter! Nona Stella tadi pagi tampak bersikap dingin pada Master. Keduanya tak seperti biasanya. Saya juga tak tahu apa yang terjadi diantara keduanya." Ujar Kakek Le-Yang ikut cemas.


Mendengar itu Dokter Ryker mengusap wajahnya kasar. Bisa-bisanya ia kecolongan memantau Stella yang ia kira akan aman bersama Masternya. Nyatanya wanita itu semakin bertambah buruk dari hari ke hari.


"Aku akan memohon pada Master untuk melepaskannya!"


"Kau ingin mati. Ha?" tanya Zion menggeram marah. Keadaan serumit ini tapi Dokter Ryker malah memperparah. Sudah jelas Masternya tak suka akan kedekatan Dokter Ryker dan Stella tapi, dia masih saja membuat ulah.


"Master tengah tak bisa di pahami! Dia bisa menjadi pria aneh yang menjaga Stella tapi juga menjadi iblis secara beriringan. Tak akan ada yang bisa mencegahnya melakukan apa yang dia mau dan.."


"Lalu, aku harus membiarkan Stella seperti itu sampai mati. Haaa???" tanya Dokter Ryker rela melakukan apapun. Ia tahu Stella wanita yang baik dan masih terlalu muda untuk ada di dekat Pria seperti Masternya.


Melihat perdebatan dua pria berkuasa ini Kakek Le-Yang memilih untuk mundur karna takut jika hal yang tak diinginkan akan terjadi.


.......


Sementara di dalam kamar sana. Xavier tengah mengobati luka yang ada di sekujur tubuh Stella. Ia membersihkan aroma darah yang pekat ini dengan kembali menetralkan energi dan hawa tubuh Stella kembali normal.


Tetapi. Kali ini Xavier terdiam cukup lama melihat perut Stella yang sudah mulai sedikit membesar. Energi cukup besar dari kawanannya tadi membuat perkembangan janin ini semakin cepat bahkan bisa melebihi batas waktu Dunia nyata.


Tangan kekar Xavier menekan sedikit lebih kuat dengan mata terpejam mengalirkan hawa dingin ke perut Stella.


Sensasi beku yang Stella rasakan membawanya kembali ke alam sadar. Mata birunya terbuka dan melebar kala melihat Xavier tengah menyentuh perutnya.


"Lepaasss!!!"


Stella menepis kasar tangan Xavier dan segera beringsut menjauh. Tatapan Stella begitu tajam dan penuh dengan luka dan kebencian.


"K..kau..kau mau apa?"


Xavier hanya diam. Wajah dingin dengan mata berkilat rona merah itu tetap menghunus ke arah perut Stella yang segera menurunkan kembali pakaiannya.


Hal itu membuat Xavier memandang dengan sorot mata tak biasa. Rasa sesak di hati Stella jelas ia rasakan tapi Xavier tak bisa mengungkapkan apa yang sekarang mengaduk-aduk jiwanya.


Karna tak tahan untuk tetap disini. Stella segera turun ingin pergi keluar tapi Xavier segera menahan lengannya.


"Lepaaass!!!"


"Kau pikir kau bisa pergi?" tanya Xavier mencengkram kuat lengan Stella sampai rasa sakit itu sangat terasa.


Sikap arogan Xavier yang begitu menyiksanya membuat mata Stella kembali berkaca-kaca dengan dada desak dan sangat nyeri.


"Kau tak akan bisa melakukan apapun tanpa SEIZINKU."


"Kenapa?" tanya Stella dengan suara bergetar dan parau.

__ADS_1


"KENAPA KAU TAK MEMBUNUHKU SAJAA??? KENAPAAA???" bentak Stella sejadi-jadinya. Air mata yang sedari tadi ia tahan langsung lolos dengan tatapan begitu kecewa dan sangat terluka.


Melihat itu seketika cengkraman Xavier terlepas ke lengan Stella yang sudah menahan isakan. Wajah penuh sayatan batin itu tak sanggup Xavier tatap dan hanya bisa mengalihkan pandangan ke arah lain.


"K..Kenapa? Apa yang k..kau mau dariku? Apa hiks? Aku..aku lelah!! Kau mau apaa???"


"Lepaskan janin itu!"


Plaaakk..


Seketika mata Xavier terpaku kala pipinya terasa panas dan perih tertolak keras ke arah samping. Suasana kamar berubah sangat dingin dengan udara menipis menepi ke sudut ruangan.


Mata Stella sudah mengigil hebat dengan kepalan tangan menguat setelah melayangkan tamparan kerasnya ke pipi Xavier.


"Jaga BICARAMU."


"Kenapa kau mempertahankannya?"


Seketika senyum culas Stella muncul. Walau hatinya sangat sakit dan perih tapi ia berusaha untuk tetap bertahan di kondisi seperti ini. Ia tak mau Xavier memandangnya lemah dan terus ingin menindasnya.


"Aku.. tak sepertimu."


"Kau jangan mengelak" geram Xavier sama sekali tak perduli dengan anak itu. Ia hanya ingin Stella tetap disini dan semuanya akan baik-baik saja.


"Jika anak itu sampai tumbuh nyawamu akan melayang."


"Aku tak perduli!!" bantah Stella memeggang perutnya. Ia merasakan kehadiran si kecil ini dan itu-lah yang membuat Stella sekuat tenaga mempertahankannya.


"Terserah kau ingin atau tidak. Ini tak ada urusannya denganmu. Kau tahu?"


"Cih."


Xavier berdecih angkuh melihat jawaban tegas Stella. Lagi-lagi sikap arogannya memang tak bisa di kendalikan tapi itulah Xavier. Ia punya keangkuhan yang tak bisa di tahlukan siapapun.


"Aku?" tanya Stella lalu terkekeh kecil tapi air matanya terus lolos. Sungguh Xavier nyatanya benar-benar menganggapnya hanya sebutir debu yang sama sekali tak berguna.


"Kau sangat benar Tuan Xavier yang terhormat! Aku memang wanita yang LEMAH."


"Yah." jawab Xavier masih mempertahankan egonya. Jelas jika itu hanya kata-kata kasar tapi tak sejalan dengan hatinya sekarang.


"Lalu kenapa kau mau memperbudak wanita lemah ini?" tanya Stella dengan kepalan tangan semakin menguat.


Xavier juga menahan diri tapi ia tak cukup bisa untuk menundukan egonya. Selalu tatapan dingin arogan yang tak bisa ia kendalikan.


"Kenapa. Ha? KENAPAAA???"


Bentak Stella seraya mendorong bahu Xavier agar jauh darinya. Tetapi, Xavier tak bergerak. Lagi-lagi kekuatan Stella kalah oleh pertahanan pria ini.


"Jika kau memang tak menginginkan anak ini. Aku bisa melahirkannya sendiri!!! Aku tak perlu pria sepertimuuu!!! Bajingaaan!!!"


Maki Stella sejadi-jadinya meluapkan rasa sakit yang sedari tadi ia tahan. Sumpah demi apapun luka yang di berikan Xavier lebih besar di banding sayatan yang selama ini Devano lakukan.


"S..Salahku apa? Pernah aku memintamu untuk bertanggung jawab?? Apa pernaaah???"


"Kau.."


"DIAAAM!!!" teriak Stella mundur menjauh. Wajahnya sudah sembab dengan isak tangis tertahan begitu menyakitkan.


Sumpah demi apapun Xavier tak bisa bernafas normal bahkan ada rantai yang membelenggu lehernya.

__ADS_1


"K..kau diam. J..jika kau mengusiknya lagi. A..aku..aku bersumpah. Aku bersumpah atas nama Mommyku aku akan MEMBENCIMU. Aku akan MEMBENCIMUU!!!"


"Dengarkan aku! Aku hanya.."


Stella melempar Vas bunga di atas nakas ke lantai sana membuat Xavier terdiam. Tatapan Stella padanya benar-benar dingin dan kecewa.


"T..tidak. Kau..kau tak ada hak untuk menahanku. Dan akuu.."


Stella berangsur pergi ke arah pintu. Tangannya yang gemetar mencoba meraih gagang pintu tetapi tak melepas tatapan waspadanya ke arah Xavier.


"Kauu.."


"Aku tak ingin bertemu denganmu lagi!" gumam Stella lalu keluar dengan cepat berjalan ke arah tangga.


Hal itu spontan membuat Xavier mengepal segera mengikuti Stella keluar. Dokter Ryker yang ada di bawah terkejut melihat Stella dengan wajah sembab itu turun.


"S..Stella!"


Stella hanya diam melewati Dokter Ryker yang saling pandang dengan Zion. Karna tak bisa menahan rasa cemasnya, Dokter Ryker mengikuti Stella yang sudah keluar dari Pintu utama Villa.


Para penjaga disini saling pandang kala melihat Stella melewati mereka sampai keluar pagar Villa tak memperdulikan malam yang pekat ini.


"Stella!! Stella berhenti!"


Stella hanya diam menutup mulutnya yang hampir meloloskan isakan itu dan segera berlari ke arah jalan di depan Villa.


Dokter Ryker terus mengejarnya sampai tak beberapa jauh dari Villa. Akhirnya Dokter Ryker bisa menarik lengan Stella untuk berhenti.


"Hey! Ada apa?" tanya Dokter Ryker lembut beralih memeggang kedua bahu Stella yang menundukan kepalanya.


Air mata itu jatuh tapi Stella masih berusaha menahan isakan sampai bahunya bergetar dan nafas tersendat.


"P..Pulang!"


"Kau.."


"Aku ingin pulang. Hiks! p..pulang!" isak Stella menatap pilu Dokter Ryker yang tertegun membisu. Ada banyak goresan luka yang tersebar di wajah Stella membuat Dokter Ryker segera membawanya dalam pelukan hangat itu.


"P..pulang hiks! Aku.. Aku tak mau disini. Aku ingin pulang!"


"Tenanglah." gumam Dokter Ryker mengusap kepala Stella yang memeluknya erat. Tangis Stella pecah bahkan suara isakannya terdengar ke seluruh penjuru Hutan.


Dokter Ryker terus menenagkan Stella sampai ia merasa hawa disini sangat dingin bahkan membuat kakinya terasa kebas.


"Shiit! Aku harus membawa Stella pergi dari sini sebelum Master kehilangan kendali."


Batin Dokter Ryker tak berani melihat ke arah pagar Villa dimana Xavier berdiri dengan menunjukan wujud aslinya.


Udara yang terasa beku dengan aura membunuh dari sosok kekar itu membuat seluruh penjuru Hutan gemetar sampai Kelelawar di atas sana beterbangan panik.


"A..aku.. Aku benci dia. Aku..aku benci!"


"Pejamkan matamu!" bisik Dokter Ryker mengumpulkan kekuatan yang ia bisa untuk melawan tekanan kuat dari Xavier.


Ia tak yakin bisa keluar dengan selamat dari Hutan ini tapi asal Stella bisa lolos ia akan mengkerahkan seluruh tenaganya.


"Saat kau keluar dari sini. Jangan melihat ke belakang, Ingat itu!"


"A..aku.."

__ADS_1


Dokter Ryker segera menghentakkan kakinya ke tanah menciptakan sebuah kilauan emas dari arah kegelapan. Stella ia dorong masuk ke dalam sana sekuat tenaga kembali menutupnya tetapi, beriring dengan itu hantaman kuat dari arah depan membuat Dokter Ryker harus terhempas keras tapi untung saja Kilauan emas itu telah hilang dengan cepat.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2