YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Konsekuensinya!


__ADS_3

Sedari tadi Jubah yang di pakai sosok kekar dengan jambang memutih itu terus tergeletak berwibawah di atas kursi kekuasaannya.


Tubuh yang masih tampak bugar padahal umurnya tak lagi bisa di katakan Muda. Netra abu itu memandangi langit-langit tinggi ruangan yang berdesain Klasik dengan lapisan emas dan berlian murni berkilau menjadi lampunya.


Ntahlah. Sedari tadi sosok tua ini terus menatap kesana sampai dua kaki tangannya yang sedari tadi berdiri di belakang kursi hanya bisa membisu.


"Kediaman ini semakin berubah."


"Maksud anda? Yang Mulia!" tanya keduanya menunduk. Dua orang pria berkepala botak dengan pakaian rapi berjas itu selalu mendampingi kemana tempat.


Helaan nafas Tuannya seketika melambung. Ia beralih menatap lilin merah yang menyala di seluruh penjuru ruangan mengalahkan kilau lampu yang redup.


"Langit semakin tinggi. Gejolak api belum padam dan usai." gumamnya dengan wajah begitu tak terduga. Aura pria ini benar-benar luas sampai siapa saja yang ia tuju maka harus tunduk atau akan musnah.


"Yang Mulia! Semua pekerjaan sudah berjalan sesuai keinginan anda. Anak buah Elbrano bekerja sangat baik."


"Itu yang harus terjadi dan ketetapanku!" jawab sosok itu dengan sangat angkuh. Jari-jemarinya di lingkari cincin-cincin hitam bergiok merah dengan rambut sebahu yang berwarna coklat gelap.


Netra abunya melihat ke arah meja di hadapannya. Kaca tebal mengkilap ini samar-samar menunjukan bayangan wajah tuanya dan itu membuat kedua tangannya mencengkram peggangan sofa.


"Terlalu tua dan menyedihkan!"


"Yang Mulia! Anda tenang saja. Kami akan berusaha mencari Darah Murni untuk anda agar keadaan tubuh Yang Mulia bisa pulih seperti sedia kala." jawab Connor dan Eliem.


Mereka selalu mencari dimana-pun tempatnya tapi akhir-akhir ini mereka merasakan jika Darah murni itu ada dan semakin menjauh.


"Yang Mulia! Maafkan saya jika lancang bicara. Tapi, Prince Patriack pasti bisa menemukan jejak Darah itu."


"Penerusku memang sangat tak di ragukan." gumamnya menimpali ucapan Cornnor. Ada senyuman iblis terukir dan itu sangatlah bengis dan bercampur bangga.


Tetapi. Ada kilatan amarah di matanya kala membayangkan keadaan seperti ini hadir karna Pemberontakan Putranya.


"Aku sangat berharap dia tak seperti Pamannya!"


"Sangat mustahil. Jika Prince Patriack akan jatuh ke lubang yang sama sedangkan selama ini dia di bawah pengawasan anda. Yang Mulia!" Jawab Eliem menundukan kepalanya penuh hormat.


Respon sosok ini terlihat begitu tenang. Ia merasakan jika Xavier sudah mulai berubah. Pria itu jarang ke Kediaman Utama Elbrano dan lebih sering menginap di Villanya sendiri.


"Selidiki dia kemana dan laporkan padaku!"

__ADS_1


"Baik. Yang Mulia!"


Keduanya langsung menghilang bak asap hitam yang berterbangan ke jendela luar. Pandangan yang dingin bisa menjadi ancaman bagi siapapun tapi kali ini ia benar-benar merasa janggal.


Sudah berapa kali Linnea mengadu padaku. walau respon ini tak aneh darinya, tapi. Dia sudah mulai menunjukan gejala yang sama.


Sementara di dalam kamar yang kemaren sore menjadi saksi bisu perdebatan dua Mahluk keras kepala itu tampaklah seorang pria yang menatap jauh ke luar Balkon kamarnya.


Tatapan begitu intens tertuju pada hamparan pemandangan Kota yang terlihat indah dari sini. Dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana kerjanya dan satunya lagi menyesap secangkir air ntah itu darah atau apa yang jelas bisa di tebak.


Kharismanya keluar bebas tetapi pikirannya juga sudah melayang. Pagi ini akan terasa berbeda dan lebih membahayakan.


"Master!"


Zion datang tepat di belakangnya. Tanpa menoleh sama sekali, wajah datar itu masih lurus kedepan.


"Katakan!"


"Master! Kau ada pelatihan di Sekolah Stetan Island. Apa kau akan pergi?"


Tanya Zion agak bimbang. Pasalnya pekerjaan sangat menuntut untuk di selesaikan secepat mungkin sedangkan Xavier masih saja memprioritaskan kekasih hatinya.


"Waktumu sangat terbatas. Master! Jika terlalu lama disini, aku cemas Yang Mulia akan curiga akan keputusan mu untuk pertama kalinya setuju."


Spontan Zion mendongakkan wajahnya menatap punggung kekar Xavier yang dibaluti kemeja putih mewah dan elegan.


"M..Master! Kau.."


"Tentu dia akan mulai merasakan keberadaanya." gumam Xavier dengan suara berat datar yang khas. Zion mendekat dengan rasa cemas dan gelisah.


Ia takut jika Kakek Lucius murka dan menghukum Xavier akan apa yang telah terjadi?


"Master! Kau tak bisa meneruskan ini. Kau bisa terkena imbasnya bahkan tiada di.."


"Aku sudah lama tiada!" jawab Xavier tanpa menatap Zion yang bungkam. Ia sangat takut dan tak ingin Masternya mengalami hal yang akan lebih buruk bahkan mengerikan.


"M..Master!"


"Aku tak hidup atau mati! Semuanya berjalan sesuai keinginan darinya." imbuh Xavier tanpa ada keberatan sama sekali. Ia sudah terbiasa berjalan di jalur yang sudah di tetapkan Pria itu tapi kali ini, Xavier memilih jalan yang sulit.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Stella?"


Pertanyaan itu hanya mendapat kebisuan sesaat dari Xavier. Tak lama setelahnya sudut bibir pria ini terangkat samar nyaris tak terlihat oleh mata tajam Zion.


"Itu pengecualian!"


"Master! Jangan pernah melawan Yang Mulia. Aku tak ingin kau di binasakan dan tak akan bertemu dengan Stella lagi."


"Aku memilih jalanku sendiri." jawab Xavier menatap tegas Zion yang sungguh tak terima. Inilah alasannya selalu tak menyukai Stella karna akan membawa Masternya ke dalam jurang kematian jiwanya.


"Biarkan dia melakukan apapun yang dia mau dan aku.."


Xavier meminum satu tegukan lagi lalu memberikannya pada Zion yang dengan siaga menerimanya.


"Aku akan melindunginya sebisaku."


"Kau yakin? Master!" tanya Zion memastikan. Ia tahu Xavier tak pernah bermain-main dengan ucapannya.


"Hm."


Gumam Xavier kembali menatap kedepan. Wajah tegas dan serius seakan ia akan menentang Dunia ini hanya untuk melindungi wanita itu.


Kau tahu Stella! Kepergianmu membuatku sadar jika aku akan berakhir. Ketakutan tak pernah datang dalam diriku tapi satu yang membuatku merasakan ketakutan yang bahkan tak bisa ku tahan sedetik saja.


"Aku takut kau kehilangan Mahluk sepertimu."


Batin Xavier dengan dada berdesir hebat. Ia memang bukan pakar dalam masalah hati tapi Xavier tak bodoh untuk tahu kalau ia memang sudah merasakan hawa manusia di dalam dirinya.


Stella memanusiakan jiwa iblisnya dan rasa itu datang tanpa di pinta menguasai relung hati yang semula kosong, beku bahkan gelap.


Melihat tak ada raut gentar di wajah Tampan nyaris sempurna Masternya, Zion segera menghela nafas. Ia akan tetap tenang berfikir cukup lama.


"Master! Kau mau ke Sekolah itu lagi?"


"Hm. Dan kirim satu Mobil untuk menjemputnya! Aku tak ingin mendengar ada satu luka apapun."


Zion mengangguk. Ia melangkah pergi segera menelfon pengawal mereka yang ada di bawah. Mau tak mau dan suka tak suka Stella harus membiasakan diri dengan sikap posesif dan berlebihan Xavier yang seakan berubah menjadi orang lain.


"Ntah apa lagi yang akan dia lakukan pada Master? Kemaren ponsel dan hari ini Mobil. Stella memang sangat memanfaatkan keadaan." gumam Zion mengumpat kesal tapi ia masih menjalankan perintah Xavier.

__ADS_1


Ia tak mau menjadi samsak tinju atau tempat pelampiasan amarah pria itu lagi.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2