YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Menolak kembali!


__ADS_3

Tatapan tak percaya dan seakan menolak untuk mengakui jika yang sekarang ada di hadapannya adalah Pria itu meruak. Stella sampai mematung kosong dengan kaki tangan mendingin tiba-tiba.


Tanpa berkedip-pun Xavier tahan untuk memandang sosok muda ini. Wajah cantik masih sama tetapi, tampak sangat pucat dan berkeringat dingin.


"K..kau.."


Stella lagi-lagi mundur membuat Xavier melemah. Jujur ia ingin segera memeluk wanita ini dan membawanya pergi dari ketidakadilan yang di rasakan tapi, keadaan tak bisa ia terobos karna Stella akan semakin membencinya.


Melihat Stella yang tampak menjauh dan tak memutus kontak mata itu, Mereka jadi saling pandang heran sekaligus merasa ada ikatan antara dua Mahluk ini tapi itu tak mungkin.


Bagaimana bisa Stella si wanita liar bisa dekat dengan Presdir ternama seperti Xavier? Itu sangat tak mungkin.


"Kau masih hidup??" geram Mrs Emma menyentak lengan Stella sampai tersadar. Ia melihat ke sekelilingnya dimana banyak mata memandang heran dan sinis antara merendahkan dan penasaran.


"Cepat minta maaf!!!"


"A..aku.."


Stella merasakan debaran dan sesak yang menjalar di dadanya. Ia lagi memandang Xavier seakan enggan dan tak kenal sama sekali. Padahal, Stella sudah kaku dan berdebar.


"Stella! Minta maaf. Kau tak sopan pada Presdir." imbuh Tuan Wenet cemas jika Kunjungan ini batal. Tetapi, Stella diam mengepalkan kedua tangannya merasa sangat muak jika lagi-lagi menyapa pria ini.


"CEPAAAT!!"


"Maaf!" ucap Stella singkat tanpa melihat Xavier dan Zion yang tampak bungkam. Mereka jadi geram kala Stella melangkah pergi kembali menaiki tangga menuju kelasnya.


Hal itu tentu sangat mempermalukan Tuan Wenet yang benar-benar menyesal karna sudah menyetujui Stella kembali ke sekolah.


"P..Presdir! Maafkan dia. Stella memang sudah lama ingin di keluarkan karna selalu membuat masalah. Tapi, kami kasihan karna dia tergolong dari Keluarga tak mampu dan tak ada yang mau berteman dengannya."


Bukannya mendapat aman. Ucapan Tuan Wenet barusan membuat kedua tangan Xavier terkepal sampai mereka kembali beku di tengah lantai yang mendingin.


Tatapan Xavier sudah begitu tajam sampai ada asap hitam yang mulai keluar dari permukaan lantai tanpa di sadari mereka semua.


Zion yang melihat itu syok segera menatap wajah kelam Masternya yang pasti sangat marah dan murka melihat keadaan Stella disini.


"Aaaaaa!!!"


Suara teriakan dari beberapa Siswi yang merasa kaki mereka di cakar oleh sesuatu. Deru angin tiba-tiba berubah sangat nyilu dengan aura mendung menutupi sekitar Sekolah ini.


"M..Master!"


Xavier hanya diam. Tatapan lurus kedepan tepat ke arah tangga yang tadi Stella lalui. Dadanya sakit dan jiwanya terluka merasakan betapa tertekannya hati dan pikiran Stella saat ini.

__ADS_1


Tak cukup sampai di situ saja. Teriakan seluruh anggota Sekolah mulai memekik termasuk Mrs Emma yang terpental ke pintu kaca sana sampai pingsan dan diikuti Warga sekolah yang lain.


Hal itu membuat semuanya kacau karna deru angin ini seakan mendorong tubuh mereka semua untuk membentur dinding bahkan, banyak dari mereka yang benar-benar kesakitan kala ada yang mencekik lehernya kuat tapi Makhluknya tak tampak.


Hal itu membuat Tuan Wenet panik tak menduga semuanya akan sekacau ini. Sementara anggota Xavier hanya santai tetap di tempat seakan tak perduli.


"Cepat kembali ke kelaas!! Mungkin Badai angin akan turun. Cepaaat!!"


"S..Siir ! L..leherkuu!!"


Teriak mereka mencekik leher sendiri. Audrey sampai pucat kala merasakan jika aura yang mengelilingi mereka begitu menakutkan dan aroma amis ini tercium sangat menyengat.


Devano yang tadi melihat dari atas segera turun mendekati Adurey yang berlarian tetapi tak bisa menerobos banyaknya Siswa dan Siswi yang menjerit kesakitan tapi tak ada darah.


"D..Dev! Dev Toloolng!! Toloong akuu!!"


"Kau jangan bergerak dari sana." jawab Devano berusaha mendekati Adurey dengan menerobos keramaian ini.


Saat ia sudah ingin sampai. Tiba-tiba saja mereka semua terpental sampai Adurey ikut terpelanting ke arah pintu kaca yang pecah karna hantaman tubuh kekarnya.


Hal itu spontan membuat keadaan semakin kelut bahkan Tuan Wenet berusaha menghubungi Polisi agar datang untuk menangani suasana Badai ini.


Sementara Xavier. Ia sudah tak ada di tempat bahkan Zion-pun tak menyadari jika Masternya sudah menghilang sedari tadi.


........


Sementara di dalam Toilet wanita sana. Stella masih mematung kosong menatap ke arah kaca yang ada di hadapannya. Suara riuh dari luar tak begitu terdengar karna Stella terjebak dalam dunianya sendiri.


Kenapa? A..aku tak sedang bermimpi-kan?


Stella meraba pipinya yang pucat sampai matanya mulai mengembun. Rasa sesak itu membuat Stella sulit bernafas dengan dada yang sakit.


Kenangan pahit waktu itu masih sulit ia lupakan. Bahkan, Stella tak menepis jika ia takut akan kedatangan Xavier yang tiba-tiba muncul.


A..apa dia akan melenyapkan a..anakku? Dia akan melakukannya!


Tangan Stella bergetar mengusap perutnya yang terasa sangat hangat. Genangan air di pelupuk netra biru laut Stella akhirnya luruh merasa sangat takut dan cemas jika ia akan kembali mengalaminya.


"T..tidak. Aku ..aku tak akan membiarkannya melakukan itu lagi.Kau.. Kau tenang saja. Aku akan menjagamu. Aku.."


"Menjaga dirimu sendiri saja kau tak bisa!"


Duaarr..

__ADS_1


Stella melebarkan matanya kala Sosok yang membuatnya terkejut dan sesak tadi sudah ada di belakangnya. Pantulan tubuh kekar dan wajah dingin itu membuat Stella meneggang di tempat bahkan sampai memeggang Wastafel di dekatnya.


"Apa kabar?"


Tanya Xavier cukup hangat melakukan kontak mata tak berkedip dengan Stella yang mematung bisu. Tiba-tiba saja tubuhnya tak bisa bergerak padahal sekuat tenaga Stella berusaha ingin pergi dari sini.


Bisa berdiri dengan jarak sedekat ini sudah membuat keduanya masuk dalam dilema. Xavier jatuh sejauh mungkin kala merasakan kembali hawa hangat dan aroma tubuh Stella yang sangat hafal di indra penciumannya


Rasa rindu yang selama ini ia tahan tiba-tiba berkobar menyala-nyala.


"K..Kenapa kau kesini? K..kita.. Kita sudah berakhir." tekan Stella mengepalkan tangannya yang kaku. Manik biru itu berair sampai mengigil menatap benci Xavier yang merasa sakit dan nyeri dengan pandangan kebencian ini.


"Aku ingin menjenguk mu."


"Aku bukan PELIHARAANMU." geram Stella dengan raut marah dan suara parau pertanda menahan isakan.


Mendengar itu Xavier hanya menipiskan bibir samar nyaris tak terlihat. Ia sangat merindukan suara tegas dan memberontak ini bahkan, Xavier sampai tak mampu beralih sedikit-pun menatap dari yang memperlihatkan wajah marah Stella.


"Lepaskan aku!! Aku tak ingin mengenalmuu!!"


"Tapi, aku ingin." jawab Xavier lirih tapi masih didengar Stella karna jarak mereka cukup dekat. Bahkan, punggung Stella bisa menyentuh dada bidang Xavier yang menghirup dalam aroma bunga di tubuh Stella.


Jawaban Xavier tak lagi Stella percaya. Ia sudah tak mau kembali bahkan walau sedetik saja. Hatinya sudah terlalu sakit dan tak mampu lagi menerima kata CINTA atau INGIN


"Aku ingin mengenalmu."


"C..Cukup! C..Cukup dan.. dan PERGI dari sini." geram Stella dengan air mata sudah keluar tak tertahankan. Bibirnya bergetar masih merasakan Trauma yang begitu berat sampai ia tak berani melihat kebelakang lagi.


"Aku ingin!"


"CUKUUUP!!! AKU BILANG CUKUUP!!" bentak Stella menggeleng tak ingin mengenang hal itu lagi. Ia tak mau jatuh kedalam lubang yang sama membuatnya mati berulang kali.


Melihat Stella bertambah tertekan dan semakin pucat Xavier jadi cemas jika nanti terjadi sesuatu yang tak ia inginkan.


Dan benar saja. Dalam beberapa detik Xavier berfikir tubuh Stella sudah tumbang ke belakang jatuh kepelukan Xavier yang kokoh.


"Shiit!"


Umpat Xavier merasakan sekujur tubuh Stella dingin. Ia merasakan jika Stella belum makan apapun dan darah rendah kembali muncul.


Apalagi kejadian tadi pasti sangat menekan emosional Stella sampai tak bisa bertahan lama di Sekolah ini.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2