YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Aku sudah memperingatkanmu!


__ADS_3

Setelah mengisi perut cukup banyak di Resto tadi, akhirnya Xavier membawa Stella kembali ke Villa karna Malam juga bergulir ke puncak tertinggi.


Namun. Sedari keluar dari Resto tadi Stella tiba-tiba diam tak ada mengeluarkan celotehan yang berisik seperti biasanya. Bahkan, ia terus melamun dengan tatapan ke luar jendela Mobil yang sudah mau memasuki Hutan rimbun menuju ke Villa.


Xavier-pun merasa cukup tak nyaman. Ia merasa Stella mulai murung dan begitu tak bersemangat.


"Kau tak mau melihat jalan keluar dari sini?"


"Ha?" tanya Stella tersadar dari lamunannya. Xavier menghela nafas ringan melajukan Mobil stabil masuk ke area Jembatan beton yang menjadi penghubung sungai kecil di bawahnya masuk kembali ke dalam Hutan Gaharu yang menguarkan aroma harum menenagkan.


"Kau..kau bicara sesuatu?"


"Ada apa?" tanya Xavier masih menatap ke depan. Ia tak lagi memakai Masker atau Topi karna sudah ada di Mobil.


"Ada apa, apanya?"


"Kau mulai gila?"


Stella tak menjawab dan hanya menaikan bahunya seakan tak mengerti pertanyaan Xavier barusan.


Tentu respon biasa Stella membuat Xavier bungkam. Ia tak suka kemurungan Stella yang membuat suasana hatinya ikut terbawa.


Nyatanya. Hanya itu dialog yang terjadi diantara keduanya. Stella tiba-tiba saja banyak diam dan terkurung dalam lamunannya sendiri hingga tanpa ia sadari sudah mendekat ke area Villa dimana lampu-lampu Neon di pagar sana sudah berpijar dari sini.


Pintu Pagar terbuka. Suara deru ombak dan angin dingin disini menyadarkan Stella yang melihat ke area luar Mobil.


"Sudah sampai?"


Tanya Stella tetapi Xavier hanya diam memasukan Mobil ke dalam Pagar dimana para penjaga seperti biasa Stand-by menunggu.


"Master!"


Sapa mereka menunduk saat Mobil mewah Xavier sudah terhenti di dekat Teras lebar Villa. Tanpa banyak bicara Xavier melepas Sealbeth di tubuhnya lalu turun meninggalkan Stella yang mengerutkan dahi.


"Ada apa lagi dengannya?!" gumam Stella ikut turun dari Mobil. Kakek Le-Yang segera mendekati Stella sesekali melihat kepergian Masternya.


"Nona!"


"Ada apa?"


"Apa kalian bersenang-senang?" tanya Kakek Le-Yang penasaran. Ia agak canggung tapi cukup heran melihat Masternya pulang tanpa Zion dan tak memakai pakaian kerjanya.


"Kelihatannya wajah Master tak senang. Apa Nona merusak suasana hatinya lagi?"

__ADS_1


"Ntahlah. Aku tak mengerti." jawab Stella merenggangkan otot lengannya. Ia berjalan dengan lunglai karna memang tubuhnya ingin segera istirahat dan berbaring sepanjang hari.


Namun. Belum sempat Stella melangkah ke arah tangga Efika yang seperti biasa menunggu dengan nampan sudah kosong pertanda Xavier sudah mengambilnya itu mendekati Stella.


"Apa yang terjadi?"


"Apanya?" tanya Stella malas mengusap tengkuknya yang terasa dingin.


"Apa ada kemajuan? Master melakukan sesuatu yang kasar atau.."


"Sssuuuttt!!" Stella segera mendorong pelan bahu Efika agar jauh dari jalannya. Stella dengan gontai mendaki tangga meninggalkan Efika dengan beribu tanda tanya di benaknya.


Ia sangat berharap jika Stella bisa mengambil hati Masternya walau kesempatan itu tak cukup besar terjadi. Yah, mungkin begitulah yang Efika pikir melihat hubungan Stella dan Masternya.


Sementara di atas sana. Stella sudah membuka pintu kamar dimana lampu sudah di matikan dan hanya tersisa cahaya rembulan yang biasa lolos dari sela Fentilasi.


Suara gemericik air di dalam kamar mandi sana membuat Stella membuang nafas ringan menduga jika Xavier mandi.


"Cepatlah!! Aku juga mau mandi!!" teriak Stella agak keras lalu melangkah ke arah ranjang yang memang tak begitu besar tetapi nyaman.


Mungkin. Xavier bukan tipe yang suka hal yang tak begitu penting sampai disini hanya ada beberapa barang itu-pun sangat kuno.


Stella duduk di tepi Ranjang melepas Boots di kakinya. Ia merenggangkan pergelangan kaki seraya memukul-mukul pelan betisnya yang terasa pegal karna menaiki tangga tadi.


"Kenapa masih lapar?" gumam Stella mengusap perutnya yang terasa perih. Padahal di Resto tadi ia sudah makan cukup banyak dan Xavier hanya memandang dan membantunya mengupas Cangkang Kerang. Tapi, kenapa sekarang masih lapar?


Karna malas untuk turun ke bawah. Stella memilih untuk memendam rasa laparnya. Ia berbaring dengan kedua kaki menjuntai ke bawah seakan malas untuk ke atas.


Ntah karna memang lelah atau Stella begitu nyaman dengan nuansa gelap remang ini, rasa kantuk itu membuat matanya begitu berat sampai terpejam rapat.


Ia tetap mengusap perutnya yang terus berbunyi tetapi Stella mengabaikannya hingga Pintu kamar mandi terbuka dengan cahaya di dalam ruangan itu lolos keluar memperlihatkan tubuh kekar Xavier yang hanya dibaluti handuk melingkar di pinggang kekarnya.


Bagian atas terpampang begitu seksi dengan tonjolan otot menggiurkan dari Tubuh atletis gagahnya.


Dengan handuk kecil di tangannya Xavier mengusap rambut yang basah. Samar-samar Stella bisa melihat bayangan tubuh kekar Xavier sampai ia ikut merasa hanyut.


"Malaikat mana yang turun menjengukku?!" gumam Stella asal menikmati pemandangan indah ini sampai akhirnya handuk sedikit basah itu terlempar ke wajah Stella yang terperanjat.


"Kauu!!"


"Mandi!" titah Xavier lalu melangkah masuk ke ruang ganti. Stella yang tadi mulai emosi tapi rasa kantuk berat itu membuatnya cukup mengikhlaskan perilaku bejat Xavier malam ini.


"Semoga besok aku sudah ke kamar lamaku." gumam Stella memejamkan matanya kembali dengan handuk masih menutupi wajah cantiknya. Aroma Shampo maskulin yang khas dan Musk ini membuat Stella nyaman sampai tertidur.

__ADS_1


Setelah beberapa lama. Xavier keluar dari ruang ganti memakai pakaian santai dengan baju kaos lengan pendek yang membentuk otot kekarnya dan celana Jogger panjang yang sangat menunjang aura maskulin Xavier.


Namun. Langkah Xavier terhenti kala melihat Stella masih disana dan dalam keadaan belum berubah sesenti-pun.


Dengan cepat Xavier mendekat dan tanpa basa-basi menarik kedua lengan Stella bangkit dari baringannya.


"Mo..Mommy!" gumam Stella sudah separuh jalan bermimpi. Wajahnya linglung dengan mata berat terbuka ingin kembali berbaring di atas ranjang.


"Bersihkan tubuhmu dulu!"


"Aku mau tidur." gumam Stella melemaskan tubuhnya tak mau bangkit dari tempat tidur.


Hal ini membuat Xavier menyeringit. Biasanya Stella yang tak bisa tidur karna belum bersih-bersih tapi sekarang wanita ini mengabaikan kebiasaan sendiri.


"Mandi dulu!"


"Nanti." jawab Stella masih bergumam tak jelas. Karna tak ingin Stella mandi lebih larut dari ini jika terbangun nanti, Xavier segera mengangkat tubuh Stella ringan melangkah ke kamar mandi.


Stella hanya pasrah. Matanya begitu berat di buka hingga hanya dia membiarkan Xavier membawanya ke kamar mandi.


"Gunakan air hangat!"


"Hmm." gumam Stella tak bergerak sama sekali. Ia bahkan merengkuh leher kokoh Xavier yang mengambil nafas dalam menatap wajah Tampannya di arah cermin depan.


Rasanya baru kali ini direpotkan oleh sesosok wanita dan itupun seperti Boneka salju ini.


"Mandilah sendiri! Atau kau akan menyesal." bisik Xavier karna akan sulit mengendalikan dirinya. Apalagi hari ini ia tak dapat menggerayangi Stella yang sibuk dengan urusannya sendiri.


Seakan tak perduli. Stella bahkan tak menggubris satu kalimat-pun dari ucapan Xavier barusan. Ia masih saja terpejam dengan suara perut kelaparan.


"Kepiting, Cumi, Udang. Emm.." igauan Stella sampai meneteskan air liurnya membuat Xavier menyeringit. Ia segera mendudukan Stella ke atas meja Wastafel lalu segera melepas satu persatu pakaian wanita ini.


Xavier sudah berusaha untuk tak menggubris tubuh Stella yang tampak semakin seksi dengan bagian dada sekang berisi begitu ranum. Bahkan, tangan Xavier sampai bergetar melepas Bera Stella yang sudah tak sadar apapun. Ntah tak sadar atau memang malas untuk bangun.


Tiba di bagian terakhir itu. Xavier memejamkan matanya dengan Shower mengalir hangat di kakinya. Wajah Xavier berubah merah padam kala visual tubuh Stella menghantui benaknya.


"Shiit! Masa bodoh denganmu." gumam Xavier segera menyambar bibir Stella yang hanya diam bak Boneka yang tak menanggapi apapun.


Tak apa. diam saja sudah cukup membuat Xavier puas untuk melepas kerinduan akan sensasi bercinta itu.


"Aku sudah memperingatkan mu. Jadi, **jang**an menyalahkan ku!"


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2