
Pagi ini mereka kembali beraktifitas seperti biasanya. Sebelum mentari menampakan diri para Pelayan Villa sudah menyelesaikan pekerjaan mereka karna itu memang aturan yang mutlak disini.
Xavier tak menginginkan satu Pelayan-pun yang melakukan pekerjaan di hadapannya karna itu sangatlah menganggu.
Tentu mereka sangat patuh. Tak ada lagi yang berkeliaran di Villa ini kecuali seorang wanita yang tengah tertatih-tatih turun dari atas tangga dengan wajah pucat dan rutukan terus keluar di bibirnya.
"Siaall!! Pinggangku sangat sakit." umpat Stella berjalan dengan memeggang pinggangnya.
Untung saja tak ada orang di bawah sini jadi ia lega untuk turun sekedar menjahui Monster gilla yang tengah berbenah di dalam kamarnya sana.
Stella memilih pergi tanpa mengucapkan kata apapun pada Xavier menandakan ia tengah tak baik- baik saja.
"Ntah terbuat dari apa Nyamuk sialan itu. Bisa-bisanya dia bertahan sampai selama itu, haiisss.. Ini yang terakhir."
Gumam Stella akhirnya sampai di anak tangga terakhir. Tiba-tiba saja Zion masuk dari arah pintu utama berpapasan dengan Stella yang membuat dahinya menyeringit.
Tak ada sapaan sama sekali karna Zion tak cukup akrab dengan Stella yang juga tak memandangnya. Tatapan wanita itu selalu sinis membuatnya enggan untuk berdekatan.
Namun. Tak berselang lama Xavier muncul dari atas tangga sudah rapi dan begitu mempesona dengan Stelan kerjanya membuat Zion yang baru sampai kesana terhenti.
"Master!"
"Hm."
Jawab Xavier seadanya. Ia terhenti di atas tangga menatap ke arah Stella yang tengah berjalan pelan ke arah Sofa yang ada di dekat jendela yang biasa Xavier duduki.
"Aku akan mengurusnya!"
"Biarkan!" titah Xavier membuat Zion terhenti. Niatnya ingin menegur Stella segera di urungkan karna perintah pria ini.
"Master! Semua berkas yang perlu kau tanda tangani sudah ku siapkan."
"Letakan di atas meja kerjaku!"
"Baik. Master!" jawab Zion segera kembali turun untuk mengambil berkas di ruang kerjanya. Ia hanya melirik kilas Stella yang tengah memijat pinggang di atas Sofa sana.
Bahkan. Wajahnya terlihat sangat kesal dan tengah tak mood untuk membuat masalah pagi ini.
"Jangan sampai terjadi dua kali." gumam Stella memukul-mukul pinggangnya ringan.Ia yang tadi fokus ke arah jendela seketika sadar jika ada Cangkir Teh Xavier yang kemaren membuatnya tekanan jiwa.
"I.. Ini.."
"Kau ingin mencobanya?" tanya Xavier turun mendekat ke arah Stella yang seketika membuang wajah kesal. Ia tak akan memaafkan sikap egois pria ini.
"Cobalah!"
"Ada yang bicara tapi orangnya tak ada. Memang Mahluk aneh." gumam Stella memberikan senyum culas yang tak bersahabat.
Xavier hanya menipiskan bibirnya samar melihat tingkah konyol Stella yang tak ada hentinya.
"Seharusnya kau merasa bangga."
"Bangga???" syok Stella dengan tatapan tak percaya Xavier mengatakan hal ini. Bahkan, wajah tampan penuh keangkuhan itu kembali Xavier tunjukan padanya.
"Hm, Yah! Tak sembarang orang bisa bercinta secara nyata denganku."
Stella langsung menggeram mendengar pujian sombong Xavier lada dirinya sendiri. Benar-benar iblis tak tahu diri.
"Heyyy. Nyamuuk! Aku sudah bersabar dengan kelakuanmu selama ini dan jangan sampai aku membakarmu."
"Bakarlah!" jawab Xavier dengan enteng. Ia mengambil gelas Tehnya dengan ringan seakan tak menghiraukan wajah penuh amukan Stella.
__ADS_1
"Kau memang sudah bosan hidup rupanya." Stella berdiri menaikan kedua lengan bajunya ke atas.
"Hm. Kau bisa melakukan apa?"
"Kauuu.."
Stella ingin menjambak rambut Xavier tetapi tiba-tiba tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Seringaian licik Xavier tercipta seakan mengejek Stella yang mematung.
"Kau takut? Kenapa diam?"
"Kau yang membuatku begini!!!! Dasar brengseek!!" Maki Stella sekuat tenaga memberontak tapi tak bisa. Hal ini bahkan membuat pinggangnya bertambah sakit dan sangat nyeri.
"Awas kauu!! Aku akan membalasmu.. Kau tunggu saja.. Tunggu." geram Stella berapi-api dengan gigi saling merapat menahan luapan emosi. Baru kali ini ia bertemu pria yang benar-benar tak bisa ia kendalikan.
"Aku menunggu. Hm?" gumam Xavier menegguk penuh kharisma gelas di tangannya dengan tatapan licik yang memantik amarah Stella.
"It's ok. Kau tunggu.. Tunggu aku mencekikmuu!!!"
"Sure!" jawab Xavier masih saja menyeringai membuat Stella serasa ingin mengunyah kepala keangkuhan Xavier. Wajahnya sudah merah meradang sampai kedatangan Zion dari belakang sana tak mereka hiraukan.
"Aku do'akan kau mati secepatnya!"
"Kau juga." bisik Xavier kembali meletakan Cangkirnya. Zion mendekat kala mendengar umpatan Stella yang begitu kasar.
Kalau bukan karna Misteri tubuh Stella. Wanita ini pasti sudah tiada sejak lama.
"Apaa?? Kau ingin menelanku. Ha?" ketus Stella pada Zion yang hanya diam tak mau melayani Stella.
"Master! Semuanya siap."
Xavier tak menjawab. Ia memilih pergi membuat Stella naik pitam dan tak mau tinggal disini lagi.
"Bebaskan aku maka aku akan melayanimuuu!!"
Tentu saja langkah Xavier terhenti. Wajah datarnya tak begitu merespon lebih ucapan Stella yang berharap Xavier menyetujuinya.
"Master! Kau hampir terlambat." gumam Zion melihat jam di pergelangan tangannya.
"Aku seriuus!! Aku bosan disinii!!"
"Wanita ini benar-benar."
Batin Zion merasa Stella terlalu lancang. Mereka ada pertemuan besar nantinya dan tak ada waktu untuk bermain-main.
"Master!"
"Dia sangat percaya diri." gumam Xavier lalu berbalik menatap Stella yang menunggu jawabannya.
Ia melangkah mendekat dengan tatapan tak terduga dan sangat sulit Stella tebak apa makna dari semua ini.
"Kau serius?"
"A.. yah. Aku..aku bersedia melakukan apapun yang kau mau asal kau membebaskanku." jawab Stella membuat tawaran.
Xavier tak langsung menjawab membuat jantung Stella terasa di aduk-aduk. Siall, lebih baik dia menjawab ocehanku dari pada diam begini. Apa yang dia pikirkan?
Benak Stella menerka-nerka isi kepala Xavier yang begitu misterius. Ia belum sepenuhnya mengenal bagaimana watak pria ini.
"A..aku.. Aku juga akan melayani mu sampai kau.. Kau puas. Yah, aku.. Aku bisa melakukan apapun." imbuh Stella agak malu mengatakan hal itu tapi ia sudah kebablasan.
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Yah. Aku berjanji!" jawab Stella menyanggupi hal itu.
Xavier terdiam sejenak. Keinginan Stella untuk lepas darinya begitu besar, bahkan rela melakukan hal yang bertolak belakang dengan prinsipnya.
"K..kau bebas menyiksaku atau.. Atau kau mau melakukan hal gila manapun tapi, kau harus berjanji untuk.. "
"Baik!"
Stella tertegun mendengar jawaban Xavier yang begitu singkat. Ia tak percaya pria ini langsung setuju tanpa ada perdebatan sengit seperti biasa.
"K..kau.."
"Kau harus menuruti apapun kemauanku." sela Xavier membuat Stella menelan ludah. Ia tak bisa membayangkan hal gila apa yang akan Xavier lakukan padanya.
Tidak.. Dia sudah setuju dan aku tak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Baiklah! Aku setuju."
"Hm. Persiapkan dirimu!" titah Xavier dengan senyum yang begitu mengherankan. Stella mengabaikan hal itu karna ia berharap untuk cepat pulang melihat Mommynya.
Sementara Zion. Ia merasa terkejut kala Xavier menyanggupi hal itu, ini benar-benar aneh.
"Master! Kau.."
"Itu tak akan mudah." gumam Xavier melewati Zion yang menatap Stella yang sudah bisa bergerak. Wanita itu tampak kegirangan karna akan segera menyudahi semua ini.
Dokter Ryker yang baru datang terlihat menyapa Xavier yang hanya melewatinya. Ia menatap Zion yang menepuk bahunya tanpa sepatah katapun.
"Master kenapa?" gumam Dokter Ryker agak merasa merinding dengan seringaian Xavier barusan.
Ia memilih untuk melangkah menuju ruang utama dimana Stella tampak senang dari biasanya.
"Kau baru saja mendapat berlian. Nona?"
Stella menoleh hingga senyumnya seketika mengembang melihat Dokter Ryker yang mendekat ke arahnya.
"Kau datang?"
"Yah. Aku ada urusan dengan Kakek Le-Yang. Sepertinya kau sangat senang, berbagilah denganku." jawab Dokter Ryker sudah berdiri di hadapan Stella yang selalu tampil cantik dengan kaos pendek dan Hotpants sepaha ini.
"Ada apa? Katakan!"
"Aku akan segera bebas." jawab Stella belum merubah raut wajah cerahnya. Dokter Ryker agak ragu dan sama sekali tak percaya.
"Maksudmu?"
"Aku akan bertemu Mommyku jika aku menurut pada Nyamuk itu. Ini kesempatan emas yang tak datang dua kali." jawab Stella benar-benar tak sabar.
Dokter Ryker agak terhenyak. Ia tahu bagaimana Xavier dan otak pria itu sangatlah licik.
"Stella! Sebaiknya kau.."
"Temani aku ke pasir pantai!" sela Stella menarik lengan Dokter Ryker ke arah luar. Untuk sesaat Dokter Ryker memilih tak berfikir negatif dulu.
"Kau belum mengenal sepenuhnya sifat Master. Stella!"
Batin Dokter Ryker cemas jika Xavier bertindak yang membahayakan. Mau bagaimanapun Stella masih muda dan begitu ceroboh.
....
Vote and Like Sayang.
__ADS_1