
Seperti biasa. Pagi ini nuansa salju masih turun walau langit tak lagi gelap tapi hamparan awan gelap yang mendung masih saja tetap bertahan di tempat yang sama.
Pemukiman kecil dan jauh dari perkotaan ini selalu saja menjadi pusat kejahatan. Disini-lah banyak Bandit-bandit yang mencari kesenangan di berbagai Club ilegal dan para penjahat di perkotaan juga melarikan diri ke sini karna tempatnya cukup untuk menyembunyikan diri.
Tapi. Sepertinya hal itu sudah biasa bagi Stella yang baru saja keluar dari Rumah Nyonya Herley dan Tuan Bonat mengantarkan beberapa Makanan dari Rumahnya.
"Sudah lama tak melihat wanita malam itu."
"Aku pikir dia sudah tiada."
Pembicaraan kasar para penempa es batu yang tengah datang untuk bekerja. Mereka berselisih jalan dengan Stella yang hanya diam mengeratkan Mantel tebalnya pergi ke arah jalan rumah.
Sesekali Stella melihat jika ada gerombolan anak kapal yang tampaknya turun ke sini karna lautan pasti tengah membeku.
"Manusia sampah ini datang lagi." gumam Stella tak suka dengan kedatangan banyak orang-orang aneh seperti mereka.
Penampilan selayaknya preman dan suara bicaranya begitu keras seakan ingin menjadi pusat perhatian.
Namun. Ntah kenapa salah satu dari mereka bermata cukup tajam melihat Stella yang berjalan menjauh dari mereka.
"Dari belakang saja gadis itu sangat cantik."
"Kau bicara apa?" tanya pria paruh baya dengan kupluk masih setia di atas kepalanya. Hidung besar dan wajah berbintik merah karna dingin itu menatap Pemuda dewasa di sampingnya.
Dia adalah Teddy dan Tuan Jeff yang merupakan Ayah dan anak. Mereka berdua memang suka datang kesini saat terkendala pelayaran tapi jarang berkeliaran.
"Dad! Kau duluan saja."
"Kauu.."
"Aku akan menyusuul!!" jawab Teddy melambaikan tangannya ke arah Tuan Jeff seraya berlari ke arah Stella yang sudah hampir di penghujung mata.
Beberapa wanita yang ada di pinggir jalan sana menatap tajam ke arah Teddy yang sudah mengejar Stella.
"Kenapa wanita itu selalu menjadi objek perhatian?"
"Cih. Lebih baik dia tak kembali ke sini."
Umpat mereka tak suka akan kedatangan Stella. Bisa saja wanita itu akan kembali merebut Dunia malam dan mempengaruhi popularitas Nona di Rumah Bordir yang sudah populer saat Stella sudah pergi.
Sementara di dekat Rumah sana. Stella tersentak kala ada yang menyela langkahnya. Wings langsung menggonggong melihat kedatangan orang baru itu.
"Kauu.."
"Nona! Nonaa maaf." ujar Teddy sopan kala Stella menatapnya dengan pandangan tajam. Ia agak kikuk tapi matanya berbinar melihat kecantikan gadis muda ini.
Kulit putih bak Porselen, mata almond berwarna biru laut yang indah dan bibir mungil senada dengan hidung mancung kecilnya. Ia benar-benar mirip Boneka salju yang menggemaskan tapi juga singa betina beriringan.
Melihat Teddy yang diam termenung kosong. Stella langsung mengepalkan tangannya.
"PERGI DARI SINIII!!!"
"A.. M..maaf!"
Teddy terkejut dan segera berlari pergi. Jantungnya sudah tak aman melihat paras Stella tapi gadis itu nyatanya sangat Galak. Tak sejalan dengan visual lembutnya.
"Stellaa!! Ada apa? Naaak!"
"Cih." umpat Stella menatap jengkel ke arah sosok itu lalu segera naik ke tangga Rumah karna suara Nyonya Corlie sudah memanggilnya.
"Jika dia datang lagi. Kau harus menggonggong, hm?" mengusap kepala Wings yang diam karna belaian tangan itu.
"Stelaaa!!!"
__ADS_1
"Sebentar. Mom!!" jawab Stell masuk ke dalan Rumah. Terlihatlah Nyonya Corlie yang tampak berusaha berjalan keluar dari kamarnya membuat Stella terperanjat.
"Mom! Kenapa keluar?"
"Apa yang terjadi? Siapa yang bertengkar denganmu? Apa ada yang menganggu?" cemas Nyonya Corlie takut jika Stella di ganggu orang-orang jahat di luar sana.
"Tidak. Mom! Tadi ada Anjing liar yang nyasar ke sini, Wings jadi menggonggong sekeras itu jadi aku mengusirnya."
"Benar tak ada yang mengusikmu?" tanya Nyonya Corlie memastikan. Stella tersenyum kecil mendekati Nyonya Corlie yang sudah lepas infus karna mulai di atur pola makannya oleh Stella.
"Mom! Tak ada, aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Mommy cemas mereka datang mengganggumu. Nak! Apalagi Madam Jen sangat dendam padamu." jawab Nyonya Corlie mengusap kepala Stella yang menghela nafas mengiring Nyonya Corlie untuk duduk di sofa singel di ruang depan.
"Sudahlah. Mom! Duduk disini dulu, aku mau membersihkan dapur."
"Kau memasak?"
Tanya Nyonya Corlie cukup terperanjat. Ia memang mencium aroma saos dan roti panggang dari tadi dan nyatanya Stella memasak sesuatu di dapur.
"Hanya Roti isi! Aku tak bisa memasak yang lain. Itu-pun Dapur jadi berantakan."
"Mana? Mommy mau makan." ucap Nyonya Corlie bersemangat. Stella mengangguk pergi ke Dapur yang sudah bak kapal pecah.
Ia tadi ingin memasak sayur atau Seafood tapi tak bisa. Banyak potongan Kol dan Wortel yang berserakan di lantai.
Tetapi. Hanya piring berisi Sandwich sederhana ini saja yang tinggal di atas meja makan.
"Shitt! Kenapa perutku sangat mual?" gumam Stella menutup hidungnya tak mau mencium aroma bawang yang tadi membuatnya bergejolak.
Dengan susah payah Stella mengambil piring itu lalu berlari kecil kembali ke depan. Jaraknya memang tak cukup jauh bahkan Nyonya Corlie bisa melihat dari arah sana.
Ia menyeringit melihat Stella yang menutup hidung dan seperti mau muntah.
"Apa yang bau?" tanya Nyonya Corlie menerima piring Roti itu lalu menarik Stella untuk duduk di dekatnya. Sofa ini cukup untuk menampung setengah bokong Stella yang memilih berjongkok.
"Aku tak suka aroma bawangnya."
"Bawang?" tanya Nyonya Corlie keheranan. Stella yang tak tahu apa-apa soal keadaan wanita hamil hanya bisa menunjukan apapun yang ia rasakan.
"Iya. Mom! rasanya aku mau muntah, apalagi amis Kerang di dalam Kulkas. Hoeekmm.."
Membayangkannya saja Stella sudah mau muntah membuat Nyonya Corlie hanya tersenyum kecil menduga Stella hanya merasa jijik.
"Kau tak biasa mengupas Kerang yang masih mentah. Jangan lakukan lagi, Mommy akan memasak untukmu."
"Tidak usah. Aku tak lapar. Mom!" cegah Stella menahan lengan Nyonya Corlie yang terdiam sejenak. Tangannya tak sengaja menyentuh perut Stella dan tentu ia cukup keheranan.
"Stella!"
"Iya. Mom?" tanya Stella masih menetralisir rasa mual dengan menegguk air di atas meja.
Tangan Nyonya Corlie mulai meraba perut Stella yang melebarkan matanya.
Shiit! Apa Mommy tahu apa yang terjadi padaku?
"Stella! Kenapa perutmu agak berisi? Kau makan dimana saja?"
"A.. Itu.."
Stella gagu dan bingung. Ia tak mau memberi tahu Nyonya Corlie karna wanita ini pasti akan syok mendengar kabar apa yang terjadi padanya.
"A.. Itu Mom. Yah, aku memang banyak makan akhir-akhir ini. Dan sekarang aku mau Diet."
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja ketika di luar sana? Siapa yang berbaik hati menolong mu?" tanya Nyonya Corlie percaya itu.
Stella lega karna Nyonya Corlie tak mencurigainya. Jika wanita ini sampai tahu, pasti ia tak akan percaya mahluk seperti Xavier itu ada.
"Aku bertemu teman baru. Dia sangat baik dan seumuran denganku. Mom!"
............
Penampilan yang selalu mempesona dan rapi dengan balutan Jas berwarna abu tua itu semakin mendukung ketampanan wajah dinginnya. Seperti biasa Xavier kembali bersiap untuk ke Perusahaan yang selalu ia utamakan.
Namun. Sedari tadi ada saja yang membuatnya selalu memandang ke arah lemari di samping tempat bajunya dan hal itu sangat mengganggu Xavier.
"Untuk apa masih membiarkan pakaiannya disini?!" umpat Xavier membuka kasar Lemari besar ini hingga aroma bunga Gardenia khas tubuh Stella kembali menyapa indranya.
Netra tajam Xavier di perlihatkan dengan pakaian-pakaian Stella yang sudah di siapkan selama wanita itu tinggal disini.
"Jejak mu-pun akan ku hapuskan dari tempat ini." geram Xavier dengan rasa marah meruak segera menarik kasar Pakaian-Pakaian Stella dari gantungan lalu melemparnya ke lantai ruangan.
Ia mengobrak-abrik Lemari seakan-akan memperlihatkan pada Stella jika ia sama sekali tak perduli akan kepergiannya.
Aku tak akan di perbudak olehmu!! Kau pasti sudah merencanakan hal ini!! Kau ingin membalas dendam padakuu!!
Batin Xavier terus mengumpati Stella sampai tangannya melempar Dua Paper-bag yang ada di dalam Lemari ke lantai dingin di bawahnya.
Tapi. Pita Kucing yang keluar dari benda itu tersangkut di Jam tangan Xavier yang terdiam melihat benda itu.
Seketika ingatannya kembali tertuju pada Malam panas yang mereka lalui dengan berjuta perdebatan yang membekas di benda ini.
"*Pakailah!"
"Aku tak mau."
"Baik. Jika tidak berarti tawaranmu..."
"Baiklah!!"
Mata Xavier terpejam mencoba tenang. Hatinya terasa sangat gelisah dan tak pernah damai semenjak kepergian Boneka Salju itu. Tapi, Xavier tak ingin terus ada di dalam bayang-bayang kenangan ini.
Ia akan mencoba melupakan sosok pembangkang itu dan akan hidup seperti biasa. Tak ada yang namanya Stella dan yang ada hanya Pekerjaan dan Pekerjaan.
"Masteeer!!"
Suara Zion dari luar pertanda waktu sudah mendesak. Alhasil Xavier segera membuka matanya lalu menatap hamparan pakaian Stella yang sudah berantakan di lantai ini.
Ia meletakan Pita itu di dalam lemari lalu melangkah keluar ruang ganti. Wajah Xavier bertambah dingin kala melihat kondisi kamarnya sudah berubah oleh Stella.
Kondisi bunga-bunga di balkon dan Sprei tempat tidur yang tak sejalan dengan kebiasaan Xavier seperti biasa.
Kau lihat bagaimana aku membuang mu! Jangan terlalu percaya diri aku akan mencarimu!!
Geram Xavier segera keluar dari kamar. Zion menunduk menyapa Masternya yang tiba-tiba saja mengajak perang dengan raut wajah datar ini.
"Master!"
"Ubah kamarku seperti biasa!"
Zion segera menatap Xavier yang tampak begitu dingin pagi ini. Salah sedikit saja mereka akan merasakan alam kematian segera.
"Baik. Master!"
"Buang semua pakaian wanita itu dari kamarku. JANGAN SISAKAN SATU-PUN." tekan Xavier lalu melangkah pergi. Zion mengelus dadanya yang selalu tak aman saat Masternya sudah bicara.
Vote and Like Sayang..
__ADS_1