YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Tak Mungkin dia!


__ADS_3

Suara riuh itu semakin terdengar heboh kala Sosok yang di idam-idamkan sudah masuk ke dalam pintu kaca Sekolah dimana Kepala Sekolah Wenet dan Majelis Guru lainnya sudah berkumpul menyambut kedatangan Pria itu.


Mereka sampai gugup dan terus berkeringat kala untuk pertama kalinya bisa melihat langsung Presdir angkuh tetapi begitu mempesona yang selama ini hilir mudik di Majalah Bisnis mereka.


"Selamat datang di Stetan Island, Presdir!"


"Hm." Jawab Xavier seadanya. Bentuk rahang yang tegas di lengkapi porsi wajah pas tak kurang dan lebih, Xavier mampu membuat mereka semua jantungan di tempat.


Bisa-bisanya ia berdiri di tengah orang-orang tak berguna ini hanya demi satu sosok wanita yang sudah mengobrak-abrik jiwanya.


Zion yang ada di samping Masternya tampak heran. Sebegitu inginnya pria ini bertemu sampai melenceng dari sifat sendiri. Keramaian, suara heboh dan orang-orang biasa ini hanya membuang waktu.


Para pengawal yang sudah berjaga mengelilingi mereka hanya bisa diam tetap menahan kerumunan yang ingin mendekat. Hal itu membuat Tuan Wenet pusing karna tak di sangka respon para Siswi akan membeludak begini.


"A..aku.. Aku rasa ini mimpi!"


"Itu Presdir Xavier! Dia sangat Tampaan!!"


Jerit mereka di lantai atas dan bisikan-bisikan kagum di sekitar Xavier. Tatapan dingin miliknya menyapu setiap kerumunan gadis-gadis ini membuat semuanya semakin pucat dan heboh karna berfikir Xavier menyukai salah satu dari mereka.


Terutama Audrey yang sudah tampak malu-malu memperbaiki tatanan rambutnya padahal, Xavier hanya mencari belahan jiwanya yang sudah membuatnya hilang akal dan kepribadian.


"Presdir! Maaf jika penyambutan kami tak berjalan lancar. Anda sangat populer sampai mereka keluar dari aturan." segan Tuan Wenet sesekali memelototi para Siswinya yang masa bodoh.


"Beri jalan dan Masterku tak suka keramaian seperti ini!"


"A.. Baik. Tuan bisa melakukan apapun agar nyaman." jawab Tuan Wenet menatap Zion yang juga sesak dan risih. Tak di sangka semuanya akan kacau dan memusingkan kepalanya.


Sementara Xavier. Ia tak menyapa siapapun selain berdiri tegap dengan aura tak terbantahkan, hanya matanya yang bergerak tajam tak merasakan keberadaan wanita itu dalam keramaian ini.


Tentu Xavier begitu gugup dan gelisah. Ntah kenapa ia tak sabaran tapi juga ikut berdebar membayangkan wajah itu ada di hadapannya.


"Silahkan! Master!"


"Siswi mu kurang." ujar Xavier membuat mereka semua saling pandang bingung. Para Majelis Guru ikut heran sampai Tuan Wenet menyikut Mrs Emma yang tersadar dari lamunannya.


"A...Ketua!"


"Jangan membuatku ingin menendangmu dari sini!" geram Tuan Wenet sudah sangat berkeringat dingin karna ia cukup paham dengan rumor dimana Xavier sangat tak menyukai hal yang tak sempurna.


"Ada..ada apa?"

__ADS_1


"Presdir mengatakan. Siswi disini ada yang kurang. Aku sudah menyuruhmu mengumpulkan mereka semua-kan?"


Mrs Emma spontan menelisik siapa saja dari kelasnya yang tak ada disini. Dalam beberapa saat Mrs Emma akhirnya paham dan langsung mengepal kala tahu sosok apa yang tak ada disini.


"Gadis sialan itu memang tak berubah"


"Siapa?" bisik Tuan Wenet tetapi segera mengerti kala raut wajah Mrs Emm seperti menahan amarah dan kegeraman.


Guru-Guru yang lain juga sama. Mereka takut jika acara penyambutan ini akan semakin gagal karna Presdir berubah pikiran.


"Maaf. Presdir! Memang ada Siswi yang belum turun dari Kelas Bisnis. Tapi, anda tenang saja. Kami akan memaksakan ke bawah karna penyambutan Anda sangatlah penting."


"Iya. Presdir!" jawab yang lainnya menimpali ucapan Tuan Wenet. Salah satu Guru laki-laki naik keatas tangga menuju lantai Kelas Bisnis.


Mereka jadi saling pandang. Apalagi yang mau di lakukan Stella sampai ingin selalu menjadi pusat perhatian?!


"Siall! Dia selalu saja membuat masalah. Bagaimana kalau Presdir berubah pikiran karna anggota Sekolah seakan meremehkannya." geram Audrey yang di angguki teman-temannya.


Xavier hanya diam mendengar umpatan banyak orang. Memangnya siapa yang mereka anggap sebagai biang Masalah? Ia hanya memancing agar Tuan Wenet menyuruh semua Siswinya untuk turun dan ia akan melihat apa ada wanita itu atau tidak?


"Master! Kau yakin ingin disini?" lirih Zion melihat Siswi-Siswi yang keluar itu bukanlah Stella melainkan beberapa gadis yang tampak baru bangun tidur.


Mereka juga syok akan kedatangan Xavier sampai ada yang pingsan membuat Zion risih. Tetapi, ia masih menunggu sampai sosok itu datang.


"Tak ada yang lain?" tanya Zion karna tahu maksud Masternya bagaimana.


Tuan Wenet saling pandang dengan Guru lainnya. Akan lebih baik Stella tak turun karna bisa saja akan merusak rencana dan keadaan yang sudah kacau ini.


"Tidak. Hanya itu, Tuan!"


Mendengar jawaban Tuan Wenet yang lugas, seketika Xavier berubah pikiran. Mungkin wanita itu tak lagi Sekolah disini apalagi ia sedang Hamil.


Aura keberadaan Stella di sekolah ini mungkin hanya bayang-bayang dari rasa yang selama ini ia tahan.


"Presdir! Apa kau masih membutuhkan sesuatu atau.."


"Aku akan mengirim orang lain!" tegas Xavier membuat mereka syok. Tuan Wenet tak tahu harus apa kala Xavier sudah berbalik dan melangkah pergi untuk meninggalkan Sekolah ini.


"P..Presdir!!! Presdiiir kenapa anda pergi? Kami.. Kami minta maaf jika melakukan kesalahan fatal dalam menyambut anda."


Ucap Tuan Wenet mengejar kepergian Xavier dan Zion yang sudah di kawal para anggotanya. Belum sempat kaki Xavier melangkah keluar pintu kaca, tiba-tiba suara Mrs Emma membuat mereka terdiam.

__ADS_1


"Kenapa kau turun setelah membuat masalah. Haaa???"


Lontaran kata-kata kasar itu membuat suasana hening. Xavier diam merasakan hawa keberadaan Stella begitu kuat dan aroma bunga Gardenia ini bisa menerpa wajahnya.


Ntah kenapa Xavier sampai meneggang di tempat dengan jantung berdegup sangat kencang dan keringat dingin keluar di keningnya. Matanya perlahan terpejam merasakan jelas hawa hangat ini sampai suara detakan sepatu wanita itu menuruni tangga bisa Xavier dengar jelas.


Stella yang tampak pucat dan tak sehat itu sudah turun ke lantai dasar. Ia tak memandang ke arah depan karna Mrs Emma sudah mendekat dengan tatapan penuh amarah.


"Baru beberapa menit yang aku memperingatkan mu. Tapi, sekarang kau berbuat sesuka hati. Apa mau mu. Ha??"


"Aku hanya sedikit sakit." jawab Stella membuat Xavier tercekat dengan suaranya. Dadanya semakin bergetar hebat sampai bernafas-pun Xavier harus hati-hati.


Bukannya perduli akan sakit Stella. Mrs Emma segera menarik lengan Stella kasar lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai tepat di belakang kaki Xavier yang mendengar suara itu langsung berbalik kebelakang.


"MINTA MAAAF!!" geram Mrs Emma keras dan memaksa.


Antara senang tetapi juga marah Xavier mengepalkan tangannya kuat melihat Stella sampai jatuh dengan dorongan kasar itu.


"Segera minta maaf. Pada Presdir dan akui kesalahanmu."


"Yah!! Kau selalu membuat masalah. Sangat baik jika kau tak ada di Sekolah ini atau mati saja."


Kalimat itu memupuk jiwa iblis Xavier yang sudah mendingin dengan aura membunuh keluar. Mereka semua sampai sulit bernafas dan merasa takut dengan wajah keras Xavier yang seakan menyerap keberanian semua orang.


"P..Presdir!"


Lirih semuanya memeggangi dada termasuk Zion dan para pengawal mereka yang sudah tak asing lagi dengan ini.


Begitu juga Stella yang merasa sangat Familiar dengan aroma Maskulin dan aura membunuh yang keluar dari tubuh kekar Xavier.


"T..tidak.. Tidak mungkin."


Batin Stella menolak akan keberadaan pria itu. Ia segera berdiri dengan wajah yang tadi tertunduk segera ia angkat ingin meminta maaf.


"Saya minta maaf jika.."


Duaarr..


Stella terkejut hebat kala yang berdiri di hadapannya ini adalah sosok yang sama sebagai Ayah biologis dari janin di perutnya.


Tubuh Stella meneggang hebat sampai mundur dua langka kebelakang seakan masih tak percaya jika ini Xavier.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2