
Pandangan waspada yang dilemparkan Stella pada sosok Tengkorak berjubah tinggi ini membuat Xavier yang sudah berhadapan dengan Eliem itu hanya diam tak berniat mendekat atau menarik Stella ke sisinya.
Tatapan dingin Xavier yang tengah ringan mengambang ke atas udara itu melayang bak tebasan pedang yang ia peggang ke arah Eliem yang terlihat sangat murka.
"Prince! Kau menghancurkan CONNOR."
"Bukan urusanku." tegas Xavier menebaskan pedangnya ke arah Eliem yang jelas langsung menangkap dengan Tentakelnya. Tapi, Sabetan ini sangat kuat mendorong angin yang menyingkirkan Kelelawar beracun ini dengan kilauan merahnya memotong Tentakel Eliem yang jelas tak bisa menandingi Xavier.
"P..Prince!"
"Pergi!" titah Xavier tak ingin membunuh Eliem karna ia tahu Sosok ini hanya menjalankan tugas dari Yang Mulia Lucius.
Tapi, kesetiaan Eliem sangatlah tinggi apalagi Connor sudah meledak dengan tragis tadi. Ia harus mengemban resiko yang juga akan besar jika hidup sendiri.
Ditengah Tentakel yang hanya sisa satu dan cairan kental hitam busuk itu terus meleleh dari tubuhnya. Eliem menatap Xavier dengan pandangan tegas.
"Jika memang kau ingin membunuhku. Maka hancurkan jika kau bisaa!!"
"Veee!!!" pekik Stella kala Eliem langsung menyemburkan cairan hitam kental berasap itu ke arah Xavier yang dengan sigap menghempaskan tangannya ke arah datangnya serangan lalu menyabetkan Pedang yang ia peggang ke arah Eliem yang menghilang di tempat tapi ada di dekat Stella yang terkejut kala Tentakel Eliem sudah ingin menusuk perutnya.
"Enyahlah kauuu!!!"
Geram Eliem sangat nekat menghunuskan Tentakelnya dengan Tubuh membesar seperti Connor tadi yang ingin meledak.
Melihat Tentakel itu sudah melesat ke arahnya begitu cepat Stella tak bisa menghindar.
"Veee!!!"
Teriak Stella kala lengannya kembali di tarik sosok tengkorak bertubuh tinggi ini menghindar dengan Xavier yang segera mengarahkan Asap hitam di sekelilingnya menghantam tubuh Eliem yang langsung meledak di atas langit sana.
Cairan hitam itu berjatuhan membakar atap Gedung bahkan mengikis beton kokoh ini membuktikan betapa berbahayanya benda itu jika mengenai kulit Manusia.
Tak mau Stella dalam bahaya, Xavier membuat Portal pelindung kembali agar tetesan kental itu tak jatuh ke arah mereka.
Sementara Stella. Ia masih tak percaya jika keadaan ini akan terjadi bahkan ia merasakan hal-hal mengerikan dalam satu waktu.
"Semua orang di dalam sana ketakutan. Mereka sudah terkena ilusi Mahluk-mahluk ini sampai berteriak karna Gedung akan terbakar dalam pandangannya." cemas Stella tapi tak sadar jika tangannya masih di genggam jari keras tengkorak seseorang.
Xavier hanya diam. Rupanya kembali berwujud manusia dengan Pedang Ranah Pembantaian itu sudah hilang berganti sebuah gumpalan cahaya berwarna merah yang menerangi sedikit kegelapan nuansa mendung berangin ini.
"Vee! Tolong mereka!"
"Hm."
Xavier menghentakkan telapak tangannya ke lantai Atap Gedung hingga sinar kemerahan itu langsung memancar menyeluruh ke semua sudut bangunan ini menormalkan kembali keadaan yang semula kacau.
"Kau.."
"Mereka akan baik-baik saja," jawab Xavier hang kembali menegakkan tubuhnya. Urat hitam yang tadi menjalari dada Xavier sampai ke rahang itu terlihat semakin erat mengikat kulitnya.
"V..Vee! Dadamu.."
Gumam Stella menatap Xavier cemas tapi sedetik kemudian ia baru sadar jika lengannya masih ada dalam genggaman Mahluk menyeramkan ini.
Dengan cepat Stella menyentak tangannya lalu berlari kecil ke arah Xavier bersembunyi di balik bahu kekar Atletis ini.
"D..dia siapa?" bisik Stella tak mau memandang Mahluk itu. Ia jelas merasa gugup tiba-tiba tapi juga penasaran.
"Apa dia salah satu anggota dari .."
"Menurutmu?" tanya Xavier menarik lengan Stella lembut untuk masuk kedalam pelukannya. Stella terlihat kaku karna ia merasa tengah di awasi oleh Mahluk berjubah ini.
"V..Vee! Aku tak kenal dia karna dia terlihat menakutkan."
Gumam Stella tapi bisa di dengar oleh Sosok di belakangnya. Xavier melihat dan merasakan ada kesedihan dan luka yang mendalam kala mendengar ucapan Stella barusan.
Dalam perjalanan kesini tadi, Xavier sudah memberi tahunya tentang siapa Stella tapi hanya secara singkat karna waktu yang tak banyak.
"Kau ingin memperkenalkan dirimu?" tanya Xavier pada Mahluk di hadapannya tapi tampaknya sosok itu hanya diam menunduk tanda ada sesuatu yang tengah melanda jiwanya.
__ADS_1
"Vee! Kau jangan membuatku bingung."
"Mommymu lebih pantas menjelaskannya dari pada aku." jawab Xavier mengusap keringat di rahang Stella dengan jarinya.
Karna sentuhan ini Stella langsung memeggang bagian dada kekar Xavier hingga rasa sakit itu kembali membuat Xavier memejamkan mata.
"Kenapa begini? Apa yang terjadi denganmu?"
"Aku tak apa."
"Panas. Kenapa tubuhmu panas? Vee!" cemas Stella merasa suhu tubuh Xavier sangat panas bahkan ia bisa merasakannya.
Melihat kekhawatiran Stella padanya, Xavier segera mengalihkan fokus wanita ini pada yang lain.
"Kita harus cepat ke Villa. Putramu bertarung sendirian."
"T..tapi kau.."
"Hey!" lirih Xavier menggenggam tangan Stella yang meraba rahangnya. Jelas Stella panik karna wajah Xavier tampak pucat dan ini tak wajar dari sebelumnya.
"V..Vee.."
"Aku baik-baik saja. Hm?" tegas Xavier mengecup pelipis Stella tak menghiraukan Mahluk di hadapannya.
Ia bertindak sesuka hatinya seakan tak takut jika sosok itu akan marah karna lancang melakukan ini.
"Vee!"
"Pejamkan matamu!" pinta Xavier karna ingin segera ke Villa. Tapi, belum sempat Xavier membawa Stella tiba-tiba saja suara seseorang membuat Xavier terhenti.
"Stellaa!!"
Sosok itu datang ntah dari mana dengan pandangan cemas ke arah Stella tapi ia segera mematung dengan mata melebar kala melihat Mahluk apa yang ada disini selain mereka.
"Dokter." gumam Stella melihat Dokter Ryker mematung diam.
"M..Master."
"M..Master kau melawan.."
"Bagaimana dengan Putrakuu??" desak Stella tak perduli apapun lagi. Yang ia cemaskan sekarang Baby Ester yang sudah ia tinggal terlalu lama.
Melihat Stella yang baik-baik saja tapi Xavier terlihat menyembunyikan sesuatu dari wanita ini membuat Dokter Ryker terbungkam.
Ia tak menyangka Xavier akan senekat ini sampai melepaskan sesuatu yang akan membuat amarah Kakek Lucius menjadi-jadi.
"Jawaab!! Bagaimana Putraku Ester?"
"D..dia.."
"Apa yang terjadi?"
"Dia dikepung bawahan Yang Mulia Lucius yang juga telah ada di sana."
Degg..
Mendengar hal itu Stella sangat syok. Berarti sekarang Putranya tengah diancam oleh para Bangsa Elbrano bahkan budak-budak mereka.
"E..Ester dia.. V..Vee.. Aku..aku ingin kesana!! Aku ingin bertemu Putrakuu!!"
"Dia menginginkanmu Stella."
"Aku tak perduli." jawab Stella tak mengutamakan dirinya. Ia hanya ingin anaknya baik-baik saja dan berharap pasukan Xavier membantu disana.
Melihat hal itu Dokter Ryker langsung menjatuhkan lututnya ke lantai dengan kepala tertunduk pada Xavier.
"Master! Biarkan aku menjaga, Stella!"
"Maksudmu apa. Ha?? Aku ingin menemui Putraku!! Bukan ikut dengan muu!!"
__ADS_1
"Tapi, hanya Masterlah yang bisa menghalangi Yang Mulia! Jika kau ada bersamanya maka kau hanya akan jadi umpan. Stella!" sambar Dokter Ryker sangat yakin ini akan terjadi.
Mendengar hal itu Stella menggeleng. Ia memeluk lengan kekar Xavier yang juga tahu keadaan disana tengah tak menentu.
"Vee! Ayo cepat kita kesana. Putra kita pasti tengah terancam."
Lirih Stella menatap dalam manik abu Xavier yang terlihat menyimpan banyak hal. Tangan kekar itu mengusap pipinya yang terlihat masih saja lembut dan halus.
"Dia juga mengutamakan mu!"
"Tak akan ada yang terjadi padaku. Aku tak perlu kau utamakan seperti ini. Vee!" gumam Stella menggeleng tapi Perang ini terjadi tak luput karna dirinya
"Mengertilah!"
"Tidak. Aku tetap kesana, jika kau menolak aku juga akan pergi." tegas Stella kekeh dan keras kepala.
Melihat itu sosok di belakangnya terus diam. Ia tampak menguarkan aura tak bersahabat ntah kenapa Stella juga tak tahu.
"Kau tetap disini!"
"Tidak. Aku mau ikut."
"Aku akan menjaganya. Master!" jawab Dokter Ryker siaga.
Stella menggeleng tak setuju tapi Xavier sudah lebih dulu menghilang bersama Sosok yang tadi ada di belakangnya.
"Vee!!! Veee kau..kau jangan membuatku begini!! Ester membutuhkan aku. Dia masih keciil!!"
"Stella!" gumam Dokter Ryker berdiri mendekat kala Stella terlihat frustasi mencari Xavier yang sudah menghilang.
"Bagaimana kalau Ester terluka? Dia masih kecil, walau-pun dia bagian dari Xavier bukan berarti dia akan kuat menahan serangan ribuan Mahluk mengerikan itu."
"Dia keturunan Master. Pasti bisa melindungi diri sendiri." jawab Dokter Ryker menenagkan Stella yang sangat gelisah.
Perasaanya sangat tak enak bahkan bernafas saja Stella gusar. Ia terus hilir mudik menatap ke langit gelap ini dimana angin masih bergejolak.
"Aku..aku ingin ke sana!"
"Stella kau.."
"Aku ingin ke sanaa!!" desak Stella tak bisa diam saja disini. Melihat itu Dokter Ryker termenggu tampak diam sejenak.
Kacamata yang bertengger di hidungnya itu ia rapikan dengan suasana wajah begitu serius.
"Kau begitu ingin kesana?"
"Yah. Ajak aku kesana." pinta Stella begitu berharap. Dokter Ryker menghela nafas dalam lalu kembali memandang Stella yang mengusap wajahnya kasar.
"Ada satu cara yang bisa menyegel kembali semua Mahluk itu."
"Maksudmu?" tanya Stella kala Dokter Ryker melihat kiri-kanan yang tak ada siapapun disini.
"Hanya kau yang bisa menghentikan Pertikaian Elbrano dan menyelamatkan Master dari Hukumannya."
"H..Hukuman?" gumam Stella kembali teringat dengan dada Xavier. Pasti itu sangat sakit dan menderita.
"Yah. Master mendapat ganjaran dan hukuman atas ke tidak setiaanya pada Keluarga Elbrano. Akibatnya, dia akan kehilangan Wujud manusianya."
Sontak Stella langsung terkejut bahkan tubuhnya meneggang sempurna. Tatapan kosong dengan wajah pucat tampak jelas mengukir di pahatan cantiknya.
"T..tidak itu.."
"Master mengorbankan kekuatan dan jiwanya untukmu. Dia sangat berani mengambil resiko sebesar ini." gumam Dokter Ryker tampak iba.
Stella masih diam seakan semua ini Xavier rancang hanya untuk melindunginya. Bahkan, tak memperdulikan konsekuensi di balik itu.
"Cara satu-satunya hanya dengan membayar ke tidak setiaan Master dengan hal besar yang kau punya. Stella!"
Degg..
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..