YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Jahui Ryker!


__ADS_3

Sunyi, hening dan begitu damai. Tak ada suara apapun di ruangan ini kecuali dentingan jam yang beradu dengan suara semilir angin dari arah luar masuk dari cela Fentilasi kamar.


Cahaya rembulan yang mulai semakin meninggi pertanda malam ini akan segera berakhir.


Lihatlah. Apa sepasang mahluk yang ada di dalam selimut sana tahu akan keadaan ini? Pakaian berserakan di lantai dan satu bantal juga tergorok ke bagian bawah kaki ranjang.


Keduanya tampak begitu lelap sampai tak menyadari posisi saling berpelukan. Tubuh polos merapat bahkan, Stella yang tadi sudah tumbang karna keperkasaan pria ini. akhirnya pasrah berlabuh di dada bidang berotot milik Xavier yang sudah membawanya dalam pelukan hangat itu.


Tubuh Stella sudah tak begitu terlihat lagi karna pahatan kekar Xavier bisa menghalangi pandangan pada si boneka saljunya.


"Ehmm."


Suara geraman keluar kala merasa suhu kamar begitu dingin. Ia menggeliat dengan tangan semakin erat memeluk punggung berotot itu.


Xavier sangat peka merasakan jika Boneka kecil yang tadi menerima serangan buas darinya itu tengah mencari tempat yang hangat.


"Mommy!"


Mata Xavier spontan terbuka. Ia merasakan kehangatan tubuh Stella yang sudah menyatu dengan kulitnya.


Di tatapnya wajah damai Stella yang tampak gelisah menghindari cahaya rembulan yang lolos memancar ke arah ranjang.


"Mommy!"


Stella semakin gelisah membuat Xavier segera mengangkat tangannya menutupi sinaran keabuan itu untuk sesaat.


Melihat wajah Stella yang begitu manis bersembunyi di belahan dada bidangnya memantik senyum samar Xavier yang mengibaskan tangannya hingga Tirai itu tertutup menghalangi cahaya masuk.


"Tidurlah!" gumam Xavier mengeratkan pelukannya lalu menarik selimut tebal ini untuk menutupi tubuh keduanya.


Tentu Stella semakin tenggelam dalam alam bawah sadarnya tak perduli lagi akan apa yang Xavier lakukan.


Pada saat momen inilah Xavier berfikir ia bisa menguji sesuatu ke tubuh Stella. Wanita ini tak menyadari keanehan dalam tubuhnya dan itu harus tetap di rahasiakan.


"Ini akan sedikit sakit! Kau bisa tidur agak lama." bisik Xavier mengusapkan tangannya ke wajah Stella agar wanita ini tak begitu merasakan apa yang akan dilakukannya.


Xavier perlahan-lahan dengan posisi yang tak berubah menyibak rambut Stella kebelakang agar ia mudah melihat leher wanita ini.


"Shiit!"


Umpat Xavier kala aura darah murni Stella masih bisa mempengaruhinya. Bahkan, kelas tertinggi seperti Xavier bisa terpancing untuk menyantapnya apalagi anggota bawah milik Xavier yang malam itu menyerang Stella.


Mereka tak bisa menahan hasrat Vampirnya kala Stella menunjukan aura yang begitu murni.


Xavier berusaha mengendalikan dirinya dengan mata sudah berubah merah menyala dan urat-urat merah keluar dari pipi Xavier yang sudah mengeluarkan taring tajamnya.


"Tahanlah sebentar."


Batin Xavier dengan hati-hati sedikit mengangkat tubuhnya. Ia sangat pelan mengendus leher Stella mencari titik pembuluh darah terbesar kedua itu.

__ADS_1


Saat sudah menemukannya. Xavier memeggang bahu Stella segera menancapkan kedua taringnya tanpa aba-aba.


"Ehmmm!!"


Stella merespon. Ia tak sadar tapi tubuhnya bisa merasakan serangan fisik yang di lakukan Xavier.


Jika racunku juga tak mempan padanya berarti darah yang di miliki Stella memang Darah Murni teratas.


Aku harap kau tak memiliki darah seperti itu. Kau hanya Mutasi.


Xavier harap-harap cemas menyalurkan racun pembunuh darinya ke aliran darah Stella. Ia ingin melihat apa Stella menunjukan reaksi lebih besar dari yang pertama di kenai bawahannya.


Saat gigitan Xavier semakin dalam. Darah itu keluar merembes ke leher Stella yang tampak mulai memucat.


Keringat dingin itu keluar pertanda jika racun yang sudah Xavier berikan sangat cepat bereaksi.


"D..Dingin." lirih Stella meremas pinggang Xavier yang paham. Racun ini memang membuat tubuh penderita merasa sangat beku sampai jantungnya pecah menahan tingkat kebekuan.


Dirasa tubuh Stella sudah begitu dingin. Xavier segera melepaskan gigitannya dengan darah masih tersisa di bibirnya.


"D..Dingin." gumam Stella dengan nafas tak stabil. Ada rasa kasihan di batin Xavier tapi ia tak bisa menunggu lebih lama untuk membuktikan ini.


"Aku ada disini. Itu tak akan membunuhmu."


Batin Xavier mengusap keringat di kening Stella. Urat-urat biru itu muncul menjalar di leher Stella membuat cengkramannya menguat ke pinggang Xavier.


"S..Sakitt!!"


Xavier dengan wajah begitu menunggu. Saat melihat leher Stella sudah dijalari urat membiru sampai ke rahangnya. Xavier seketika lega karna Stella tak memiliki Darah Murni yang sebenarnya.


"Kau akan aman. Kau hanya Gen Mutasi!"


Batin Xavier merasa beban pikirannya beberapa hari ini mulai menipis. Jika sampai Stella mempunyai Darah Murni yang hanya bisa di miliki oleh percampuran dua Gen dari Ras berbeda maka, Stella akan menjadi incaran banyak Mahluk di dunia ini.


Ia lega jika sampai Stella hanya memiliki darah bermutasi yang bisa saja di dapat dari gigitan Vampir lain.


"S..Sakit."


Rintihan Stella menyadarkan Xavier dari lamunannya. Ia ingin kembali mengeluarkan racunnya dari tubuh Stella tetapi mata Xavier terpaku melihat luka gigitannya tadi berubah.


Darahnya menghitam.


Sungguh rasa lega yang tadi Xavier rasakan sekarang berganti dengan sebuah kekhawatiran. Ia melihat jelas jika tadi tubuh Stella tak mampu menahan racunnya tapi sekarang, racun itu keluar dengan sendirinya melalui luka yang ada di leher jenjang wanita ini.


Kenapa kau bisa memilikinya? Kenapa?


Xavier benar-benar terkejut sampai ia tak sadar jika Stella telah lepas dari pengaruh tidurnya tadi. Mata wanita itu terbuka sayu menatap Xavier yang masih belum beralih dari lelehan darah di leher Stella.


"V..Vee."

__ADS_1


Spontan Xavier sadar. Ia menatap Stella dengan pandangan rumit bahkan, ia tak tahu lagi bagaimana cara agar menepis kenyataan ini.


"Ada apa?" tanya Stella dengan suara serak khas bangun tidurnya. Sedetik kemudian ia terperanjat kala merasakan ada sesuatu yang mengalir dan cairan kental berbau busuk di lehernya telah merembes ke Selimut.


"I..ini..."


Xavier menahan bahu Stella agar tak bergerak. Lelehan racun itu seharusnya membuat Stella tak bisa bernafas dan tiada tapi nyatanya dia masih bisa sadar dan bertanya-tanya.


"K..kau melakukan apa? I..ini.."


"Jawab pertanyaanku dengan jujur!" tekan Xavier menatap tajam Stella yang menyeringit tak mengerti. Ia masih merasa sangat kantuk tapi Xavier begitu membuatnya heran.


"Ada apa?"


"Apa kau pernah di gigit sebangsa-ku selain aku?" tanya Xavier dengan intimidasi yang kuat. Ia masih ingin jika ini semua di bantah dan jangan sampai terjadi.


Tentu Stella berfikir. Ia tak pernah merasakan hal seperti ink selain Xavier yang melakukannya.


"Tidak!"


Duaaarr...


Jawaban itu benar-benar membuat Xavier termenung kosong. Semua yang ia duga itu ternyata benar. Stella adalah Manusia tapi memiliki Darah Murni yang selalu di cari oleh siapapun dari Ras manapun untuk memperkuat diri.


Xavier sudah merasakannya. Kekuatannya terasa berkalilipat saat meminum darah Stella tapi bagaimana dengan Mahluk-Mahluk lain di luar sana termasuk Yang Mulia Lucius.


Melihat Xavier yang diam. Stella jadi bingung segera menepuk bahu Xavier agar kembali normal.


"Kau kenapa? Jangan bilang kau memikirkan hal yang aneh-aneh." kesal Stella tetapi Xavier hanya diam.


Tatapan begitu rumit Stella artikan sampai baru kali ini Stella merasakan sebuah rasa aneh yang Xavier tunjukan padanya.


"Vee!"


"Hm."


"Kau butuh darahku?"


Tanya Stella menawarkan diri. Tiba-tiba saja ia ingin melakukannya karna menduga Xavier mengigit lehernya sampai begini karna kehausan.


Xavier tak menjawab. Ia mengusap leher Stella dengan tangannya yang menyerap kembali racun yang sudah menetes kemana-mana.


"Aku salah apa lagi? Tadi kau marah tak jelas. Sekarang kau begini, apa kau memang.."


"Jauhi Ryker!"


Degg...


.......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2