YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Berdamai dengan keadaan


__ADS_3

Pandangan penuh kecemasan itu tertuju pada Sesosok wanita yang tadi berteriak sampai membuat Ester dan Nyonya Clorie berlari ke kamar ini. Saat sampai di dalam mereka melihat Stella menangis tanpa ada satu kata-pun keluar.


Hanya isakannya saja terdengar begitu pilu seakan baru saja mengalami hal yang paling buruk dalam hidupnya.


"Stella! Ada apa? Nak!" tanya Nyonya Clorie takut-takut jika Stella sakit. Mata sembab berair itu terus meratapi Cincin di jari tengahnya dan sontak Ester terdiam.


Cincin yang sama. Berarti dia sudah menemui Mommy dengan cara lain.


Batin Ester menduga jika Stella sudah bertemu dengan Pria itu dan jelas hal ini tak mudah bagi dirinya. Ntah apa yang terjadi sampai Stella terus menangis tak berhenti sama sekali.


Kecemasan Nyonya Clorie begitu memuncak kala makanan yang tadi ia letakan di atas nakas tak berkurang atau berubah posisi.


"Stella! Kau jangan seperti ini."


"D..Dia pergi. Mom!" lirih Stella menyandarkan kepalanya ke dada Nyonya Clorie yang saling pandang dengan Ester.


Untuk sesaat mereka membiarkan Stella meluapkan rasa sesaknya dengan menangis karna hanya itu yang bisa melegakan dadanya.


"D..Dia pergi. Hiks! Dia pergi!"


"Sudah. Ester tolong ambilkan air untuk. Mommymu!" pinta Nyonya Clorie yang diangguki Ester. Ia dengan berat hati meninggalkan kamar ini walau ia tahu Nyonya Clorie hanya ingin berdua dengan Mommynya.


Saat melihat kepergian Ester di depan pintu, Nyonya Clorie langsung menarik bahu Stella agar tegap dengan tangan merapikan rambut pendek ini.


"Kau pikir ini kemauannya. Hm?"


"M..Mom! Aku..aku bisa memberikan darahku untuknya asal dia kembali. Aku..aku akan melakukan apapun agar.."


"Apa kau tak memahami perasaannya?" tanya Nyonya Clorie membuat Stella terdiam. Sesaat pikirannya berkelana mencoba mencari jawaban.


"Xavier begitu mencintaimu. Dia rela kehilangan Wujud manusia dan separuh kekuatannya karna menentang Takdir sebangsa mereka hanya demi kau. Apa kau pikir setelah dia melakukan itu dia ingin mengambil darahmu untuk kebangkitannya?"


"T..Tapi. Mom! Aku tak ingin seperti ini, aku tak bisa." lirih Stella sangat menderita. Nyonya Clorie hanya bisa menghela nafas karna ia paham rasa sakit itu.


Stella mungkin tak tahu siapa Ayahnya dan bagaimana kisa pahit masa lalu yang menghadirkannya ke dunia ini. Tapi, Nyonya Clorie sudah mendecap rasa dari Takdir itu.


"Aku..aku juga bisa mengorbankan Nyawaku untuknya. Aku bisa. Mom!"


"Tapi, Xavier tak mau." tegas Nyonya Clorie mengusap kepala Stella yang pasti hanya memikirkan soal keselamatan Xavier sedangkan pria itu juga memikirkan hidup Istrinya.


"M..Mom!"


"Ini tak semudah yang kau pikirkan. Mungkin kau bisa membangkitkan-nya dalam wujud Manusia kembali, tapi untuk itu kau akan mengorbankan energi Tubuhmu bahkan lebih parahnya kau akan kehilangan nyawamu." jelas Nyonya Clorie memberi pengertian pada Stella. Beginilah kiranya gadis 18 Tahun menanggapi rasa sakit untuk Wanita 30 Tahun.


"Xavier bukan pria yang menjilat ludahnya sendiri. Dia bersumpah untuk melindungimu dan apa kau pikir dia akan menjadi Pecundang?"


"T..Tapi. .."


Stella tak lagi bisa berkata-kata. Membayangkan hidup tanpa kehadiran darinya saja sudah membuat Stella gila, ia tak bisa dan sangat tak mungkin.


"T..Tapi, aku merindukannya. Mom!" lirih Stella bergetar. Nyonya Clorie tersenyum simpul dengan hati yang sudah mantap.


Ia sudah tahu penyebab kepergian Sosok itu dan kesalahpahaman-nya itu sama sekali tak berdasar. Nyatanya selama ini ada dinding tebal yang memisahkan dirinya bersama Pria itu.


"Stella!"


"A..Aku tak bisa." gumam Stella dengan respon sama seperti dirinya dulu. Hanya saja, dulu hati Nyonya Clorie di penuhi kebencian dan dendam hingga bisa bertahan sampai saat ini.


Tapi Stella, dia punya kenangan indah dan perasaan hangat membekas. Jelas ini akan berkalilipat lebih sulit darinya.


"Kau ingin tahu satu hal?"

__ADS_1


"A..Apa Xavier bisa di ba.."


"Ayahmu juga sama seperti Xavier!"


Degg..


Stella terkejut mendengar pernyataan Nyonya Clorie. Ia memandang wajah pasrah Mommynya yang masih bisa tersenyum padanya.


"M..Mom! Kau.."


"Ayah-mu bukanlah Pria yang selama ini menyiksamu. Bukan dia."


Seakan masih belum percaya Stella terdiam cukup lama. Tatapannya kosong ke depan tapi jelas satu tangannya meremas lengan Nyonya Clorie yang menyiapkan keberanian untuk mengungkit masa lalu.


"Kisah kami sedikit mirip dengan kalian. Saat itu Dia memimpin Perusahaan EMC dan aku baru ingin bekerja menjadi Staf biasa. Hari pertama aku tak tahu kenapa masalah selalu berdatangan."


Gumam Nyonya Clorie untuk sejenak menjeda kalimatnya. Ia bersandar ke kepala ranjang mengusap kepala Stella yang masih bersandar ke dadanya. Stella diam pertanda ia mendengarkan dan tak mau menyela.


"Mereka semua membenciku karna seperti biasa, Wajah cantik dan Visual yang indah adalah malapetaka di Dunia Kerja. Kau merasakannya-kan?"


Dengan mata sama-sama berair keduanya mengangguk bahkan Stella kembali membayangkan apa yang sebelumnya terjadi.


"Hari demi hari ada saja yang mengacaukan pekerjaanku hingga harus bertemu dengan Atasan Direktur Perusahaan yang langsung mengambil alih keputusan. Aku pikir aku akan di marahi, mungkin akan di permalukan satu Perusahaan. Tapi, kau tahu apa yang terjadi?"


"Apa?" tanya Stella mulai menyatu dengan cerita Nyonya Clorie.


"Aku terkejut saat dia menyuruhku duduk lalu bertanya dengan suara yang tegas berwibawah tapi tak ada kesan Arogan sama sekali. Dia sangat lembut dan bijaksana. Untuk pertama kalinya ada yang ingin tahu kenapa bisa melakukan banyak kesalahan dalam satu hari? Apa kau nyaman di Perusahaan ku? Apa kendalanya?"


"A..apa itu .."


"Hm. Dia Ayahmu!"


Sela Nyonya Clorie tersenyum menyimpan malu membayangkan masa indah itu. Stella juga ikut tenggelam membayangkan Karakter Pria idaman Mommynya.


"Apa dia memarahi Mommy?" tanya Stella penasaran. Nyonya Clorie tersenyum simpul lalu mengusap pipi Stella yang tadinya basah.


"Tidak. Dia bahkan menatapku dengan pandangan geli dan seperti terhibur akan cerita yang ku sampaikan. Padahal aku tengah memaki Perusahaan."


"Mom! jika itu Xavier dia akan melempar mu keluar." sambar Stella bersemangat tapi sedetik kemudian ia diam.


"Xavier termasuk Pria yang sulit di dekati. Dia membuat banyak benteng di hatinya untuk spesies seperti kita. Sangat berbeda dengan Ayahmu."


"Yah. Bahkan dia pernah ingin membunuhku." gumam Stella mengigit bibirnya sendiri kala membayangkan duku Xavier begitu angkuh dan arogan padanya. Jebakan-jebakan kecil dan perdebatan keduanya terasa baru terjadi kemaren malam.


"Sejak saat itu dia selalu melindungi ku di manapun. Awalnya aku heran kenapa setiap aku dalam kesulitan dia selalu ada tepat waktu. Sama sepertimu kala tahu jika Xavier bukanlah Manusia."


"Lalu? Apa Mommy takut?" tanya Stella mencoba membandingkan hal itu.


"Awalnya iya. Tapi, dia menjelaskan dengan baik padaku dan seiringnya waktu aku jadi terbiasa karna dia jarang menunjukan Wujud aslinya padaku. Kami lebih sering pergi ke Pantai tepat di sini."


Stella tersentak. Berarti yang ia lihat saat di Pantai tengah bermain air itu adalah Mommynya. Ia sudah di perlihatkan dengan kejadian masa lalu tapi ia tak peka.


"Apa disini juga dulu Mommy di kurung?"


"Tidak di kurung. Lebih tepatnya di manjakan oleh Ayahmu." lugas Nyonya Clorie sedikit malu karna tadi Stella hampir salah paham.


Mendengar itu seketika kedua mata Stella menyipit memeggang dagu tirus Mommynya yang terlihat bahagia mengenang hal itu.


"Di manjakan?"


"A.. Maksudnya bukan itu. Tapi.."

__ADS_1


"Jangan bohong." sambar Stella sudah tahu maksudnya. Seketika wajah Nyonya Clorie bersemu tapi jelas Stella sangat bahagia karna baru kali ini ia melihat rona cerah di mata dan senyuman mekar itu.


"Mom! Kenapa tak cerita sebelumnya?"


"Mommy takut kau marah dan tak percaya." jawab Nyonya Clorie yang masih memperlakukan Stella bak anak-anak. Jika di lihat mereka memang seperti Kakak adik karna wajah yang belia dan awet muda.


"Hubungan kita tak sebaik ini dulu. Mommy takut memberitahu-mu karna selama ini kau selalu memberontak. Tapi Stella, Mommy melarangmu pergi jauh itu karna Mommy takut hal seperti ini akan terjadi padamu. Kau menangis, tak mau makan, putus asa dan itu sangat menakutkan bagiku." sendu Nyonya Clorie yang tak mau Stella sepertinya. Ia ingin Putrinya punya masa depan yang cerah bersama Kekasihnya nanti tapi nyatanya Takdir berkata lain.


"Saat Ayahmu tiba-tiba menghilang dan tersiar kabar dia akan menikah dengan orang lain. Saat itu Mommy langsung pergi dan tak pernah berharap untuk kembali. Tapi, hanya karna kau Mommy hidup sampai saat ini. Hanya karna ada kau. Nak!"


Stella diam dengan tatapan harunya langsung memeluk Nyonya Clorie yang juga begitu hangat dan selalu ada di setiap kondisi hidupnya.


"M..Maafkan aku!"


"Tidak. Ini adalah jalan hidup dan kita hanya perlu menjalankan. Kita tak bisa memiliki semua hal yang kita mau di Dunia ini. Stella!" gumam Nyonya Clorie mengusap kepala Stella yang seketika berat hati ingin merelakan.


"T..Tapi aku mencintainya. Mom!"


"Mommy tahu dan sangat paham. Tapi, Xavier punya alasan untuk tak kembali. Hargai keputusannya dan cobalah berdamai dengan keadaan."


"Tapi.."


Stella langsung merasa bergejolak. Ia tak sanggup menahan perasaan di dadanya karna ia hanya menginginkan Pria itu di sisinya.


"Kau mencintainya?"


Stella mengangguk dengan bibir bergetar menahan rasa sesak itu.


"Kau begitu menyayanginya?"


"I..Iya. Mom!"


"Maka luapkan itu pada Putramu!" ucap Nyonya Clorie beralih menangkup kedua pipi Stella yang menatapnya dengan sendu.


Nyonya Clorie berusaha menyelami batin Stella yang hancur untuk jangan larut dalam keadaan buruk selama ini.


"A..Aku.."


"Jika Cinta dan Kasih sayangmu sudah tak terbendung. Maka luapkan pada Putramu. Kau perlakukan dia sepenuh hati dan tumpahkan seluruh perasaanmu padanya. Maka yakinlah, saat kau sudah mengeluarkannya kau akan merasa sedikit lebih baik. Nak!" Jelas Nyonya Clorie mengusap kedua pipi Stella yang sembab. Ia ingin membangun Mantel Stella kembali agar tak mengecewakan siapapun.


"A..Apa aku bisa?"


"Bisa. Kau bisa, Sayang! Lihat jiwa Xavier pada Putramu. Jika kalian tak bisa bertemu secara nyata maka Perasaanmu pasti akan dapat dia rasakan juga. Jangan sedih dan menangis terus, dia juga akan terpuruk melihat kau selalu menyiksa diri sendiri. Hm?"


Stella hanya bisa diam mendengar dukungan dari Nyonya Clorie. Apa ia sanggup menjalani hidup seperti itu? Sekarang saja rasanya begitu berat dan tak tahan.


"Ester juga tertekan melihatmu begini. Jangan jadikan dia Lelaki Dewasa karna dia masih membutuhkan seorang Ibu. Stella!"


"A..Apa aku bisa? Biasanya Xavier yang selalu mengurusku. Apa aku bisa hidup hanya dalam kenangan ini?"


Batin Stella mencari jawaban dari penderitaannya. Pandangannya tertuju pada Pintu yang terbuka menampakan Ester yang masuk membawa Gelas air.


Dadanya menghangat kala melihat wajah Tampan belia ini sangat mengkhawatirkan keadaanya.


"Vee! Semoga kau selalu melihatku dan aku berjanji. Akan mengurus Putra kita dengan baik. Jangan kedipkan matamu walau sedetik saja."


Batin Stella tersenyum pada Ester yang merasa Mommynya terlihat aneh. Perasaanya begitu tak enak tapi lega karna ada Nyonya Clorie yang membantu disini.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


Kita end ya Say? 🤪


__ADS_2