
Kedatangan Nyonya Corlie membuat satu Staten Island geger. Pasalnya, setelah kemaren Stella di pilih oleh Presdir EMC untuk Magang mewakili nama Sekolah tiba-tiba saja hari ini Nyonya Clorie mengajukan pengunduran diri Stella dari Program itu.
"Stella tak bisa mengambil Program itu. Putriku menolaknya." tegas Nyonya Clorie menatap Tuan Wenet yang ada di hadapannya. Pria dengan kumis seperti leleh dan perut buncit itu tampak sangat syok mendengar ajuan Nyonya Clorie.
"Kenapa? Bukankah ini yang dinginkan Stella?"
"Tidak. Dia hanya salah memilih dan kau bisa berikan pada orang lain."
"Heey! Kau pikir kau siapa?" tanya Tuan Wenet sudah tak bisa berhadapan dan menentang keputusan dari Pria yang sudah menetapkan hal itu. Ia saja sangat takut dan cemas setiap kali berurusan dengan Presdir EMC.
"Program itu di jalankan atas kualitas dan pilihan dari Presdir Perusahaan. Aku tak ada hak untuk menentukan hal itu karna dia yang memeggang semua keputusan." imbuhnya dengan raut membantah.
"Aku akan membayar berapa-pun. Kau bantu Putriku melepas Program itu dan seperti biasa aku akan.."
"Ini bukan masalah uang." sela Tuan Wenet memijat pelipisnya yang berdenyut. Kursi itu ia mundurkan agar bisa mengambil nafas sesak ini.
"Lalu apa? Apapun akan ku lakukan?"
"Nyonya! aku tak bisa membantumu." decah Tuan Wenet melonggarkan Dasi yang mencekik lehernya.
Mendengar hal itu, Nyonya Corlie langsung terdiam. Wajah gelisah dan tak bisa tenang itu membuat Tuan Wenet iba tapi juga tak bisa membantu banyak.
"Jangan buat wajah cantikmu seputus asa itu. Aku tak tega melihatnya." suara buaya mulai keluar.
"Lalu aku harus apa? Putriku memang tak bisa pergi." jawab Nyonya Corlie sangat berharap mendapat jalan keluar.
Tuan Wenet mengambil nafas dalam mengingat apa jalan keluar dari masalah ini. Saat berfikir agak lama, Tuan Wenet baru ingat jika Presdir Xavier akan datang kesini untuk menandatangi surat Penyelesaian kunjungan.
"Ada satu cara tapi aku yakin ini tak akan berhasil."
"Maksudmu?"
Tuan Wenet menegakkan tubuhnya. Kalau ia yang menghadap Pria itu kemungkinan besar ia akan mati berdiri. Tapi, jika wanita ini maka ia selamat dari amukan yang sangat histeris.
"Temui Presdir dan katakan tujuanmu! Hanya dia yang bisa menentukan apa bisa atau tidak."
"Dimana Presdir itu? Aku akan menemuinya." sambar Nyonya Crolie sangat ingin membebaskan Stella dari hal ini.
"Aku rasa dia sudah akan datang. Kau tunggu saja di depan."
"Baiklah. Terimakasih!" ucap Nyonya Clorie pamit keluar ruangan. Tuan Wenet menggeleng saja karna begitu aneh. Jutaan orang berlomba-lomba untuk bekerja di Perusahaan itu tapi wanita ini malah mencabut Program putrinya.
"Anaknya pembuat masalah dan Ibunya si tukang semena-mena. Keduanya memang Ibu dan anak." gumam Tuan Wenet kembali melakukan pekerjaannya.
Di luar sana. Nyonya Corlie sudah kembali turun melalui tangga bawah. Ia berpapasan dengan anak-anak lain sampai ada salah satu laki-laki yang memanggilnya.
"Nyonyaa!!"
Spontan ia menoleh ke arah belakang. Nyatanya itu adalah seorang lelaki yang dulu pernah dekat dengan Stella tapi sudah menghancurkan hidup putrinya.
__ADS_1
"Nyonya! Dimana Stella?"
Tanya Devano berdiri di depan Nyonya Crolie yang hanya memandangnya datar. Jelas jika Nyonya Clorie tak pernah sudi melihat orang-orang disini yang sangat merendahkan Stella.
"Nyonya! Apa dia baik-baik saja? Dan..."
"Kau belum puas menjatuhkan Putriku?" tanya Nyonya Crolie dengan intonasi suara yang penuh dengan kebencian.
Melihat itu seketika Devano diam. Ia menunduk merasa sangat malu dan begitu menyesal melakukan hal itu.
"Aku.."
"Tak usah berdrama di hadapanku! Aku tahu niatmu ingin membuat Stella di maki seluruh dunia ini. Itu yang kau inginkan-bukan?"
Devano menggeleng cepat. Wajahnya begitu penuh dengan kecemasan dan sebuah penyesalan yang terdalam.
"Maafkan aku. Aku sangat menyesal melakukan hal itu. Awalnya aku pikir itu tak akan separah ini. Maafkan aku. Nyonya!"
"Cih! Kau pikir aku percaya?"
Devano langsung terbungkam. Nyatanya Stella dan Ibunya memang sangat mirip. Jika sudah mencampakkan seseorang maka sedikit saja ia tak akan menyentuh kembali.
"N..Nyonya! Aku mohon, aku sangat mencintai Stella! Aku ingin kembali dengannya."
"KAU TAK PANTAS UNTUK PUTRIKU!'
Di tengah langkah Nyonya Crolie. Ia melihat jika ada Audrey yang tengah memandangnya dengan marah. Jelas ucapan Devano tadi bisa ia dengar jelas.
"Dasar wanita malaam!!"
Umpat Audrey tetapi tak sampai ke telinga Nyonya Clorie yang sudah sampai di area depan pintu kaca. Ia menunggu kedatangan Presdir yang di katakan Tuan Wenet dengan hati harap-harap cemas.
"Semoga dia mengerti dan menerimanya." gumam Nyonya Crolie sangat berharap. Tak berselang lama Mobil mewah dari arah Gerbang besar sana datang.
Ia mulai keluar menunggu di dekat pintu dimana para pengawal memakai Stelan jas rapi ini mulai berjejer mengawal sesosok yang sudah menapakkan kakinya keluar Mobil.
Nyonya Crolie masih menunggu dan gelisah. Tiba-tiba saja ia merasakan aura yang tak asing dan selalu di miliki oleh satu Keluarga yang sangat ia benci dan jauhi.
"Tidak. Bagaimana mungkin mereka disini?!"
Batin Nyonya Clorie menepis pikirannya yang selalu mengarah kesana. Sesosok tinggi nan kekar berkharisma itu sudah Keluar dari Mobil tapi belum terlihat karna para penjaga mengerumuninya dari tatapan para anggota Sekolah yang selalu riuh.
Kumpulan pengawal itu mengiringnya naik ke atas teras Gedung dimana seorang pria bermata sipit dan kulit putih tergolong Tampan itu juga ada di belakangnya.
"Permisii!! Permisii. Tuan!"
"Menyingkir! Jangan menghalangi jalan." sangga para Pengawal mengamankan situasi agar tak riuh seperti sebelumnya.
Lihat saja banyaknya penghuni lantai atas yang melihat dari kejahuan dan tak pernah jera. Padahal sebagian dari mereka sudah terbaring di rumah sakit contohnya HERA.
__ADS_1
"Maaf. Aku hanya ingin bicara sebentar."
"Maaf. Presdir tak punya waktu." jawab mereka mengiring Xavier untuk pergi. Namun, Nyonya Corlie langsung menyela langkah merekah ke arah pintu.
"Hanya sebentar. Aku ingin bicara!"
"Nyonya kau.."
Ucapan salah satu Pengawal itu seketika terhenti kala Zion memerintahkan mereka untuk kembali ke dekat Mobil atas kemauan Xavier.
Tentu mereka langsung menurut kembali ke belakang sana untuk berjaga. Kala kerumunan ini mengurai. Nyonya Clorie terdiam melihat sosok Tampan bertubuh tinggi nyaris sempurna yang tengah berdiri dengan manik abu yang memandangnya datar.
Melihat ini saja Nyonya Clorie terdiam. Perawakan Xavier ada kemiripan dengan seseorang. Visual yang begitu gagah dan sangat berkuasa membuatnya tercekat.
"Nyonya! Kau kenapa?"
"K..kau.."
Nyonya Clorie segera mengalihkan pandangannya dari Xavier. Ia menggeleng menyingkirkan pikiran yang aneh tapi jelas aura Xavier lebih mendominasi.
"Nyonya!"
"Aku ingin mengajukan pemunduran diri Putriku Stella!"
Tak ada raut terkejut atau sebuah exspresi di wajah Xavier. Ia seperti sudah menduga hal ini dari sejak Stella menceritakan keanehan Mommynya.
"Maksud anda?"
"Putriku tengah sakit. Dia tak bisa ikut dalam Program itu. Sebaiknya Presdir berkenan untuk menggantinya dengan yang lain." jawab Nyonya Clorie sangat tegas menatap Xavier yang hanya diam tanpa tanggapan apapun.
"Presdir! aku akan membayar berapa-pun uangnya."
"Kami tak kekurangan uang!" tegas Zion tahu jawaban mematikan Xavier yang ia keluarkan.
Nyonya Clorie diam tak bisa berkata-kata memandangi Xavier yang sudah melangkah melewatinya. Aura angkuh dan arogan itu bisa di rasakan jelas membuat Nyonya Clorie sangat susah mengambil sikap.
"Suka atau tidak. Stella tetap tak akan pergi ke Perusahaanmu."
Seketika langah Xavier terhenti. Zion juga heran kenapa tiba-tiba exspresi wajah datar Xavier tadi berubah mendingin.
Bukan karna ucapan Nyonya Clorie. Ini lebih meneggangkan dari apa yang di bayangkan.
"Master!"
"Sialaan!" geram Xavier merasakan jika ada hawa panas di tangan kananya. Ia yakin Stella tengah tak baik-baik saja.
...
Vote and Like Sayang..
__ADS_1