YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Tertangkap Basah


__ADS_3

Keadaan yang di ciptakan oleh Jenderal Petron barusan membuat suasana ruangan ini mulai terasa cukup panas bagi Stella. Ia merasa Pria ini benar-benar berbahaya dalam menyelidiki kasus ini.


Melihat Stella yang diam seringaian Jenderal Petron semakin naik. Ia berdiri dari duduknya hingga Stella harus meremas Tas di pahanya.


"Kau menyuruh seorang Supir untuk mendapatkan peluang masuk ke Perusahaan Direktur Forbieden. Apa tujuanmu datang kesana?"


"Aku datang dari.."


"Aku tak menanyakan asal mu. Kau cukup jawab sesuai pertanyaan ku." Sela Jenderal Petron membuat mata Stella melotot.


"Kau ini seorang Jenderal-kan? Aku masih belum tentu membunuhnya tapi kau sudah mencoba menekan ku." geram Stella ikut berdiri.


Kali ini Jenderal Petron melihat hawa Naga Betina di tubuh Stella yang tadi terlihat santai dan bersahabat sekarang mulai emosi karnanya.


"Kau panik?"


"Panik? Cih." decah Stella membuang muka ketusnya ke samping kanan. Ia kembali menatap wajah Dewasa Jenderal Petron yang terlihat juga sengit.


"Apa yang aku takutkan dengan JENDERAL GADUNGAN sepertimu."


Sontak perkataan Stella membuat dua Aparat di belakangnya tercekik tak bernyawa. Mereka tak percaya kalau Gadis belia ini memaki seorang Jenderal Atasan yang terkenal dengan sikap tegas dan emosian itu.


Dan tentu wajah Jenderal Petron langsung meradang. Kepalannya menguat dan mungkin jika ini lagi-lagi sudah lebih dulu ia beri salam perkenalan yang cukup ramah.


"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku terlihat takut?" imbuh Stella dengan senyuman sinisnya.


"Kau belum pernah merasakan dinginnya Jeruji besi-kan?" tanya Jenderal Petron mengetuk-ngetuk Meja di hadapannya dengan wajah mengeras.


"Oh, Yah! Tapi, aku rasa kau juga belum pernah merasakan bagaimana menjadi MANTAN JENDERAL, bukan?" balas Stella tak kalah menukik.


Karna emosinya cukup labil dan merasa Stella sangat berani melawan Aparat Negara. Ia langsung memerintahkan dua Ajudannya untuk membawa Stella ke dalam Penjara dalam 24 jam ini.


"Kurung dia 24 Jam."


"Kauu .." Geram Stella mendengar ucapan Jenderal Petron yang menyeringai. Alhasil dua Pria itu ingin menarik lengannya tapi Stella segera menjaga jarak.


"Jangan menyentuhku!!"


"Nona! Kau membuat keributan besar." desis keduanya ingin menarik Stella tapi kelincahannya wanita itu begitu membuat mereka kewalahan. Stella mendorong Meja ini mengapit Jenderal Petron lalu setengah mengelilingi benda ini menghindari jangkauan tangan dua Aparat Muda itu.


"Aku tak salah dan tak sudi di kurung sembarangaan!!"

__ADS_1


"Kau jangan membuat masalah lagi. Sampai kasus ini selesai kau tak di perbolehkan bertemu banyak orang!" geram Jenderal Petron ingin menarik bahu Stella tapi tangannya langsung di tepis kasar Stella.


Ia membuat barang-barang di atas Meja berantakan bahkan Komputer yang tadi menyala sudah jatuh kebawah dan itu membuat Stella menelan ludah kala wajah Jenderal Petron terlihat mendidih dan bisa saja asap itu keluar dari hidung dan telinganya.


"A.. Akan ku ..ku ganti."


"BAWA DIAA!!!" bentak Jenderal Petron hingga dua Pria itu langsung mengejar Stella yang tak bisa di tangkap dengan mudah. Ruangan ini cukup luas untuknya berkeliling hingga Jenderal Petron beberapa kali ia senggol dan sampai menjatuhkan buku-buku yang tadi tersusun rapi di atas Rak sudah berjatuhan begitu saja.


"Aku tak mau di kurung!!! Atas dasar apa kau mengurungku. Haa???"


Karna tak tahan lagi ia langsung menarik ujung lengan baju Stella lalu menyeretnya keluar dari ruangan. Makian maut Stella keluar sampai membuat Nyonya Clorie yang tadi menunggu di depan langsung berlari kecil menyongsong kedatangan Jenderal Petron yang menarik lengan baju Stella.


"Stella! Ini.. Putriku kenapa? Kau jangan membawanya!!!"


"Dia membuat kesalahan besar dengan melawan Hukum. Kurungan 24 Jam untuk sekarang menyadarkan pikirannya." tegas Jenderal Petron menarik Stella ke arah pintu Luar yang masih di padati Media.


Jika seperti ini maka Berita itu akan sangat menyulitkannya dan Perusahaan EMC. Ia tak bisa diam saja.


Pikiran Stella melayang hingga langsung menyentak tangannya kasar lepas dari tarikan Pria ini.


"Kau ingin menambah masa kurungan?"


"Kau ingin menyelesaikan Kasus Direktur Forbieden-kan? Maka, jangan membuang waktu lagi." desis Stella menepuk-nepuk kecil lengan bajunya menghilangkan jejak tangan Pria ini.


"Setelah melakukan pelanggaran kau ingin mengabaikannya. Cih, sangat tak disiplin."


"Kauuu.."


"Nona! Sebaiknya minta maaflah dengan hormat pada. Jenderal!" timpal salah satu Aparat dibelakangnya.


Seketika mata Stella membelo jengah sampai Anggota Kepolisian yang tadi berbaris di depan sana mendengar perdebatan mereka.


"Minta maaflah dengan sopan dan menyesali hal tadi. Nona!"


"Aku tak menyesal." jawab Stella dan sontak keadaan kembali memanas. Jenderal Petron menatap tajam Stella dengan wajah lebih serius.


"Sudah cukup kau bermain."


"Apa aku terlihat begitu menganggur hingga mau bermain di Dapartemen Kepolisian. Ha?" Tukas Stella tak terima.


Lama Jenderal Petron menatap manik biru ini dan ia tak menemukan guratan kebohongan tapi jiwa berani yang besar.

__ADS_1


"Aku ingin bicara tentang kenapa aku kesana? Dengarkan aku dan terserah kau ingin percaya atau tidak." imbuh Stella tak bermain-main.


Jenderal Petron terdiam sesaat lalu duduk di kursi tunggu dimana disini agak sepi. Ia mengisyaratkan para Anggotanya untuk pergi keluar pertanda ia mau mendengarnya.


"Mom!"


"Stella! Kau.."


"Mommy pergilah dulu ke Mobil. Nanti aku menyusul." pinta Stella lembut mengusap lengan Mommynya. Nyonya Clorie menatap Jenderal Petron waspada tapi Stella lagi-lagi memintanya keluar dulu.


Alhasil Nyonya Clorie dengan berat hati meninggalkan tempat ini. Jenderal Petron sempat melipat dahi kala mendengar Stella memanggil wanita tadi dengan sebutan MOMMY.


Kenapa gadis ini memiliki sesuatu yang unik? Dia juga sangat menarik.


Sadar di pandangi oleh Jenderal Petron, Stella segera menendang agak keras ujung kursi dengan kakinya. Tentu Jenderal Petron terperanjat dan segera berubah Cool.


"Jangan merusak Mood-ku." Stella duduk menyisakan jarak 2 kursi ditengah mereka.


"Katakan! Kenapa kau kesana?"


"Jangan memotong ceritaku!" tegas Stella sudah tahu memulai dari mana. Ia mengambil nafas dalam lalu mulai membuka suara.


"Aku Sekretaris Magang di Perusahaan EMC. Beberapa Bulan ini Presdir kami ada urusan di tempat lain jadi Sekertaris Grach mengambil kendali dibeberapa bagian. Dan hari itu mereka mengadakan Rapat Dewan Direksi membahas tentang keseriusan Presdir menjalankan Proyek besar EMC. Jadi, saat itu aku datang dan menjelaskan semuanya. Mereka tak terima dan masih terlihat ragu."


"Jadi?"


"Jadi, aku merasa ada yang aneh dengan Perusahaan mereka. Besoknya aku berusaha masuk ke Sistem Perusahaan dan aku juga sudah menemukan beberapa Bukti kuat Koruptor dan Mafia Judi itu. Semua datanya aku temukan di Gudang Perusahaan." Jelas Stella begitu rinci.


Jenderal Petron terdiam. Dari gaya Stella berbicara tampak meyakinkan dan perlu di pertimbangkan. Ia segera mengeluarkan Ponselnya yang menyala.


"Berikan Nomor Ponselmu!"


"Untuk?" tanya Stella tampak tak berminat.


"Jika nanti ada hal mendadak penting. Aku akan langsung menelpon-mu." jawabnya yakin.


Stella memberikan Ponselnya dengan niat tak macam-macam tapi saat tangan Jenderal Petron ingin mengambilnya tiba-tiba benda itu sudah di rampas tegas oleh tangan kekar seseorang.


Stella terperanjat mendongakkan kepalanya menatap sesosok pria yang tampak sudah mengibarkan hawa tak bersahabat. Wajahnya terlihat kelam dan membeku keras.


"K..Kau.."

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2