YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Pertemuan


__ADS_3

Terdengar jelas suara riuh di dalam sana. Perdebatan sengit tiba-tiba terjadi karna mereka sudah lama menunggu dan Presdir EMC ini belum juga muncul. Semua Dewan Direksi berkumpul membicarakan hal ini dan tentu sasaran utama adalah Sekertaris Grach yang sangat sulit menjelaskannya.


"Dari beberapa hari ini kami berusaha menemui Presdir. Tapi kenapa jawabanmu masih saja sama."


"Direktur Forbieden! Presdir tengah tak ada di Perusahaan, ia ada urusan penting." jawab Sekertaris Grach yang berhadapan dengan Direktur Forbieden dan Direktur Manor-Du yang menjadi Otak dari kerusuhan ini.


Dua Pria paruh baya itu tampak yakin dan terlihat tak ada menyimpan rasa takut lagi. Ntah siapa yang telah membuat mereka seberani ini padahal sebelumnya satu kata tinggi saja tak pernah terdengar kala berhadapan dengan Masternya.


"Kami tak ingin tahu. Perusahaan harus Profesional dan tak bisa mengutamakan kepentingan satu pihak saja. Jika begini, akan ada keraguan bagi kami para Dewan Direksi yang sudah melihat bagaimana kinerja Perusahaan EMC selama ini."


"Saya tahu dan terimakasih atas kemurahan hati anda. Tapi, sekarang Presdir tak bisa hadir dan mohon di mengerti."


"Jika tidak, kami akan melaporkan ini ke Dapartemen SHE!" ancam Direktur Monar-Du dengan wajah bulat dan berisi tampak begitu mendesak Perusahaan.


Pengelolaan SHE (Safety and Healthy Environment) adalah rangkaian proses dan prosedur untuk mengetahui adanya potensi bahaya pada lingkungan kerja perusahaan.


Tuan Horneo dan Mr Franzer yang hadir untuk membahas soal Proyek besar itu hanya bisa diam. Mereka sama sekali tak ada daya dan kekuasaan untuk membantah para Dewan yang begitu tak sabaran kali ini.


Tapi, yang sedari tadi diam adalah seorang Pria dewasa dengan wajah oriental dan alis tipis itu terlihat memainkan Bolpoin di atas meja dengan pandangan cukup malas untuk ikut campur.


"Direktur Luther! Bukankah anda yang termuda diantara kami. Dan selama ini banyak mengkritik tentang Perusahaan. Kenapa anda diam?" tanya Direktur Monar-Du menaikan alisnya.


Sontak mereka semua langsung memandang ke arah Sosok Pria yang tampak berdarah China itu. Mata sipit namun sangat teliti itu sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Bolpoin yang ia pegang alhasil Asisten-nya langsung menjawab.


"Kami tak bicara karna kalian sudah menyampaikannya!"


"Ouh. Sangat arogan." desis Direktur Forbieden dengan intonasi kecil tapi sama sekali tak membuat Pria itu menoleh.


Sikap malasnya sudah terkenal di mana tempat tapi jangan heran. Ia adalah Fans fanatik Perusahaan EMC dan perlu di garis bawahi kata FANS itu.


Mereka semua ini begitu rumit, Sekertaris Grach menatap ke arah Mr Franzer yang berdiri di sampingnya. Jelas mereka menghadapi tekanan besar dari para Petinggi Perusahaan ini.


"Maaf, kami tak bisa membantu."


"Yah. Mereka terlalu kuat, jika ada Presdir pasti sudah sedari tadi diam semuanya." imbuh Tuan Horneo hanya berbisik.


Melihat keadaan yang semakin memanas Direktur Monar-Du dan Direktur Forbieden saling pandang dengan seringaian yang sangat licik. Keduanya berdiri dan sontak di ikuti oleh 2 Dewan lain kecuali Direktur Luther.


"Kami ingin meminta kembali Saham di Perusahaan ini!"


"D..Direktur Monar kami.."


"Kalian sangat mengecewakan." desis Direktur Monar-Du meluapkan kekecewaannya. Masing-masing Laptop yang tadi terbuka di atas Meja Bundar itu di tutup kembali membuat Sekertaris Grach langsung cemas.

__ADS_1


"Kami akan menjawab semua ke ketidakpuasan Kalian dan katakan saja apa yang perlu kami berikan!"


"Kau yakin?" tanya Direktur Monar-Du yang menunggu hal ini.


Melihat situasi Perusahaan yang tak stabil mereka jadi tahu jika memang ada masalah dengan hilangnya Presdir Xavier.


"Yah. Kami akan berusaha menghilangkan keraguan kalian semua."


"Kami ingin bertemu dengan Presdir atau bisa berbicara secara Virtual?"


Sontak permintaan inilah yang membuat Sekertaris Grach gelisah. Direktur Luther melirik dengan mata heran tapi juga bahagia. Memang inilah yang ia nantikan selama ini.


"Masalah itu kami masih belum bisa menghubungi. Presdir!"


"Sekertaris Grach! Apa kau begitu mempermainkan kami?" tanya Direktur Forbieden dengan intonasi sedikit marah.


"Tidak. Tapi.."


"Sudahlah. Ini sangat membuang waktu." Tukasnya begitu kasar melangkah ke arah pintu keluar dan diikuti dengan yang lainnya.


Sekertaris Grach sudah putus asa mencoba menghentikan mereka tapi ia masih di tikam oleh pandangan kecewa semua orang.


Saat gagang pintu ingin di buka tiba-tiba saja Pintu itu sudah di dorong lebih dulu hingga mereka semua terhenti melangkah san diam di tempat.


Sontak kepala Sekertaris Grach yang tadi menunduk sekarang seketika terangkat langsung menoleh kebelakang.


Pandangan mereka tertuju pada seorang Gadis Belia memakai Stelan kerja Jas wanita berwarna biru tua dengan bagian dalam cukup memakai Blush hitam yang senada dengan Rok Mini sepaha yang ia pakai. Kaki jenjang itu di perlihatkan dengan postur tubuh pas dan terkesan elegan.


Riasan Natural wajahnya menguarkan rona super cantik dan polesan lipstick Pink jambu itu bisa membuat pandangan semuanya tertegun.


"Kau.."


"Saya Sekertaris pribadi Presdir. Dan baru pulang dari Perjalanan Bisnis beliau." jawab Stella memberi senyuman tegas dengan berdiri begitu elegan.


Ia menjadi objek perhatian dan suaranya membuat Direktur Luther yang tadi masih duduk di tempat segera menatap kedepan. Tapi, sayangnya pandangan matanya terhalang oleh Tubuh Direktur Forbieden yang berdiri tepat di depan wanita itu.


"Kau jadi Sekertaris Pribadi?"


"Yah. Aku baru beberapa hari Magang disini dan langsung di Rekomendasikan oleh Presdir sendiri. Ada masalah dengan itu?" tanya Stella menarik satu alisnya ke atas pertanda begitu tenang.


Mereka diam saling pandang heran tapi juga masih belum mundur untuk membuat alasan.


"Dimana Presdir?"

__ADS_1


"Dia ada Pertemuan di Perusahaan Cabang luar Kota. Jika kau tak percaya aku bisa menghubunginya." tegas Stella mengeluarkan Ponselnya. Mereka semua menatap dengan penuh keraguan tapi juga takut-takut karna wajah Stella benar-benar serius.


"Aku tak menyangka hanya karna Presdir tak ada kalian membuat kerusuhan di Perusahaanya."


"Kami hanya bertanya, kalian yang terlalu gugup." sangkal Direktur Monar-Du pucat saat Stella sudah mengarahkan Ponsel itu ke telinganya.


"Sore Presdir! Maaf menganggu anda tapi disini semua Dewan Direksi mendesak anda untuk pulang kembali ke Perusahaan. Mereka sedari tadi berkerumun dan.."


"Jaga bicaramuu!!" sambar Direktur Monar-Du langsung ingin merampas Ponsel di tangan Stella tapi sudah lebih dulu Stella turunkan.


Pandangan manik biru itu bergulir tajam dan terkesan mengintimidasi.


"Kenapa? Bukankah kalian ingin bertemu dengan Presdir?" menaikan alisnya sinis.


"Kami hanya meminta kepastian dan.."


"Ayo bicara dengannya!! Aku akan memohon untuk kalian." sambar Stella menyodorkan Ponselnya dengan layar menghadap ke bawah.


Sontak wajah mereka semua langsung pucat kecuali Direktur Luther yang masih diam menganalisis suara ini.


"Ayo!! Kenapa diam? Apa perlu aku membuka panggilan Vidio atau.."


"Kami permisi!" sela Direktur Monar-Du keluar lebih dulu melewati Stella di ikuti yang lainnya. Sekertaris Grach langsung mendekati Stella yang hanya diam tak menghilangkan pandangan tegas itu.


"Nona Stella! Apa.."


"Jangan takut pada orang seperti itu." gumam Stella sangat kesal. Untung saja ia sudah punya Mental baja hingga bisa menentang seperti itu walau pada kenyataannya Stella masih awam.


Merasa disini masih ada orang lain mata Stella bergulir ke Meja Rapat. Dan seketika dahinya menyeringit melihat sesosok pria yang terasa tak asing.


Pria itu juga terkejut melihat Stella yang begitu berbeda. Pandangan keduanya bertemu sampai satu kilatan wajah seseorang langsung membuat Stella syok dengan tubuh meneggang.


"Stella! Ini adalah Direktur Luther. Dia salah satu Dewan Direksi disini." perkenalan yang di lakukan Sekertaris Grach membuat wajah Oriental Direktur Luther mulai bergurat aneh.


Pandangan telitinya memindai penampilan Stella yang sangat berbeda dari yang dulu pernah bersamanya.


"Tak ku sangka kau lari ke sini!"


Batinnya dengan pandangan begitu dalam membuat Stella pucat di tempat.


....


Vote and Like Sayang

__ADS_1


__ADS_2